rss
email
twitter
facebook

Monday, December 31, 2007

Opportunities of Next Year

"If someone prays for patience, you think GOD gives them patience? Or does HE give them the opportunity to be patient?

If they pray for courage, does GOD give them courage? Or does HE give them opportunities to be courageous?

If someone prayed for their family to be closer, you think GOD zaps them with warm, fuzzy feelings? Or does He give them opportunities to love each other?"

-- GOD in "Evan Almighty" –

Jadi, ketika kamu membuat wishlist tentang keinginanmu tahun depan, apakah kamu juga mengirimkan wishlist itu kepada Tuhan? Jika ya, cobalah untuk mengubah sudut pandangmu dan mulai melihat segala sesuatu sebagai kesempatan. Dengan demikian, jika kesempatan itu datang, kamu sudah siap tempur untuk merengkuh kesempatan tersebut.

Happy New Year!!!

Wednesday, December 19, 2007

Inevitability Of Change


_The most constant thing in life is CHANGE_



Yep. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap mili detik, seseorang mengalami perubahan dalam hidupnya. Think about it, setiap hitungan waktu yang berjalan pasti akan menambahkan satu detik pengalaman kepada setiap individu. Seringkali pengalaman tersebut hanya berupa pembicaraan di telepon, ataupun mimpi dalam sebuah tidur lelap. Namun, jangan remehkan setiap kejadian kecil yang terjadi dalam hidup seseorang. Tentunya kamu paham benar kan dengan jargon "Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit"? Hal yang menggesek kita sekecil apapun, jika dilakukan secara terus-menerus, pastinya akan mampu membuahkan hasil.

Dan ketika hal itu mulai terjadi, cara seseorang menyikapi masalah perlahan-lahan akan berubah. Lama kelamaan, cara pandangnya akan kehidupan pun akan mulai bergeser. Prioritas-prioritas yang dahulu berada di urutan teratas sedikit demi sedikit lengser dan berganti dengan prioritas yang baru. Maka, ketika si tertuduh ini suatu ketika bertemu dengan seorang kawan yang sudah dalam hitungan tahun tidak bertemu dengannya, dengan gampang term "kamu berubah ya" meluncur.

Padahal, aku tidak melihat ada yang salah dengan perubahan. There is nothing wrong with being changed. It's part of life, dude! U cannot expect someone to be the same as they were, say, 5 years ago. You just can't. Life goes on, and change is part of what u called living a life. It's a natural process which you cannot stop from happening.




Permasalahan yang kemudian muncul di permukaan adalah, bisakah seseorang menerima perubahan orang lain? Dalam permasalahan hubungan antara laki-laki dan perempuan misalnya. Sering sekali aku melihat seseorang merasa kecewa hanya karena ia merasa sang kekasih telah berubah dan tidak lagi seperti dahulu. Well, so what? Jika kamu menghendaki sesuatu yang konstan, menikah saja sana dengan mayat yang sudah dibalsam. Kujamin, mereka tidak akan pernah berubah.

Dan hey, tidakkah pernah terbersit dalam pikiranmu bahwa kamu juga berubah? Jika saja semua orang menuntut orang yang sama untuk berada dalam perkawinan mereka, semua pernikahan akan berakhir dalam perceraian dong? How sad... Nah loh, terus gimana dong solusinya?

Let's try this simple thing : berusahalan untuk menerima perubahan itu. Cobalah untuk memahami hukum sebab dan akibat dari perubahan seseorang. Dengan demikian, aku yakin, kekecewaanmu akan banyak berkurang.

Bagaimana? Will u do that for the sake of human race?

_U will never walk in the same river, twice_

Tuesday, December 18, 2007

Tentang Kehilangan

Kamu pernah kehilangan? Barang yang sangat kamu sayangi tiba-tiba hilang, mungkin? Yang tidak bisa digantikan meski dengan barang yang sama? Bisa jadi, barang yang hilang tersebut memiliki nilai yang lebih dari sekedar materi, namun kenangan. Atau misalkan, hasil kerja kreatif yang tidak bisa diganti meskipun dengan waktu yang tercurah.

Atau, pernahkah kamu kehilangan seseorang yang kamu sayangi? Seseorang yang sangat dekat di hati kamu? Seseorang yang mungkin selalu bersamamu untuk mengatasi hari yang mendadak mendung. Bahkan mungkin seseorang itulah yang membuat mendung menjadi hujan. Namun, pernahkah kamu sadari bahwa setelah mendung dan hujan tersebut, yang muncul adalah pelangi?

Apapun bentuknya, semua orang kiranya pasti pernah merasakan kehilangan. Yang menjadikan perbedaan adalah, bagaimana kamu menyikapi kehilangan tersebut? Apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasi perasaanmu? Dan kemudian yang paling penting adalah, langkah seperti apa yang kamu ambil untuk mengusir perasaan kehilangan itu?

Saat pertama kali kesadaran akan sesuatu yang hilang dari hidup kita menghantam, biasanya sesuatu yang klise lah yang muncul, DENIAL. Bawah sadar kita secara otomatis akan menyangkal bahwa apa yang hilang dari diri kita itu sesuatu yang permanen. Misalnya, saat kehilangan dompet, kita akan melakukan penyangkalan sederhana seperti : "Ah nggak ah, paling ketinggalan di rumah..."

Later on, ketika penyangkalan itu menabrak tembok, barulah aura kepanikan akan menyelimuti. Saat itu, semua perasaan akan bercampur baur menjadi satu. Penyesalan, kehilangan, kemarahan, penyangkalan, kesedihan, dan juga keinginan untuk berhenti meratap dan berharap akan sesuatu yang lebih baik muncul. Di sinilah, pilihan dan sikap hidup seseorang diuji.

Ada seseorang yang menyikapinya dengan penuh kepasrahan. Bahwa segala kehilangan yang dihadapinya hanyalah cobaan dari apa yang ia percaya sebagai Si Empunya Hidup. Tipe ini cenderung menghubungkan segala sesuatu yang menimpanya dengan religi. Maka, dari luar tipe ini akan terlihat tabah, sabar, dan terus menjalani hidup dengan baik tanpa mengeluh.

Lain tipe dengan si pemarah. Ia dengan kepala panasnya akan selalu meledak-ledak saat mengalami kehilangan. Akibatnya, ia terus menyalahkan diri sendiri, orang lain, bahkan Tuhan atas kejadian yang menimpanya. Sedikit banyak, tipe ini sama dengan si cengeng yang bawaannya nangis melulu saat menghadapi kehilangan. Si cengeng akan merasa bahwa tanpa sesuatu yang hilang ia akan semakin lemah.

Nah, termasuk tipe yang manakah dirimu?

Menurutku, tidak ada yang salah dengan ketiga tipe ini. Bagaimanapun juga, salah dan benar kan juga sangat subjektif. Yang paling penting dari kehilangan adalah bagaimana cara mengatasi perasaan tersebut untuk kemudian tetap bisa terus melangkah dan menjelang kehidupan baru yang terbentang di depan.

Namun, bagaimana kalau yang hilang adalah kepercayaan, semangat atau tujuan untuk bertahan? Bukankah itu berarti bahwa kamu harus mulai untuk keluar dari zona nyamanmu dan mencari tujuan yang baru?


Note. Untuk kejadian hari ini yang membuatku sadar bahwa aku telah kehilangan banyak. Fortunately, pelajaran hari ini membuat mataku terbuka bahwa aku tidak lagi mampu menahan kehilangan lebih banyak lagi dari sekedar satu tahun yang terbuang percuma. Dan ya, aku adalah tipe kedua, SI KERAS DAN PANAS KEPALA.

Tuesday, October 23, 2007

Sebelum Cahaya by Letto

ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta

perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

kekuatan hati yang berpegang janji
genggamlah tanganku cinta
ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
temani hatimu cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta

perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta


Sumber: LirikLaguIndonesia.Net

Monday, September 10, 2007

Me Versus Myself In The Head


I am lost, totally lost. I dunno where I am heading. Clueless, that’s what I am. Can anybody give me a way where I should go?

Entah kenapa akhir-akhir ini otakku serasa buntu. Aku nggak merasakan yang seharusnya kurasakan. Aku nggak melakukan sesuatu yang harusnya kulakukan. Aku kebingungan sendiri dengan diriku, dengan kedua orang tuaku, dengan kakak-kakakku. Ah, bullshit, itu namanya kamu hanya peduli dengan dirimu sendiri, DOGOL!! Ya, udah, aku ngak mengerti dengan diriku sendiri, puas kamu??!! Aku tidak mengerti kemana harus melangkah. Di balik semua keributan yang aku juga nggak mengerti dari mana asal mulanya dan bagaimana mengakhiri buletan benang yang tersimpul terlalu erat ini. Aaahhh….

Apa sih yang sedang kurasakan? Kok rasanya hampa-hampa saja? Aku mau marah? Sama siapa? Kok rasanya aku sudah capek marah. Sekali lagi, marah sama siapa? Sama diriku sendiri? Sama keadaan? Sama situasi? Sama TUHAN? Oh Tuhan, aku nggak tahu harus bagaimana lagi. Aku sudah lama berpaling daripadaMU. Namun aku terus menerus mengatasnamakanMU akan banyak hal. Nista ya aku? Aku sendiri nggak tahu lagi TUHAN, mana yang harus kupercayai dan yang tidak. Mana yang harus kupasrahkan dan mana yang harus kuperjuangkan. Untuk aku, untuk diriku sendiri.

Aku bertanya, pada siapa aku juga nggak tahu. Aku hanya berjalan, menyusuri jalan setapak yang sudah ada di depanku. Tanpa berpikir lagi, jalan pintas mana yang sebenarnya bisa kuambil. Aku hanya berjalan bak zombie, yang tak tentu arah kemana ku pergi. Hanya melangkah, dan melangkah, semakin jauh, tanpa kutahu kapan ku bisa kembali.

What life means? Apa yang bisa kamu tanyakan dari sebuah kehidupan? Untuk apa kamu dibawa ke kehidupan ini? Untuk merasakan yang namanya sakit, untuk mengetahui inti dari pahitnya kehidupan? Wait a sec, kamu bahkan belum menjawab pertanyaanku, apa sih sebenarnya idup itu? Kamu bisa jawab nggak? Jangan keburu mengarah ke sesuatu yang kamu anggap sok dalem dong, wong pertanyaan substansialnya aja kamu masih belum bisa jawab kok!

Keterlaluan!

Jawab dulu, baru kamu bisa berdebat di dunia sinting ini!

Tuesday, August 14, 2007

Malang – Jogjakarta – Surabaya : Berkabung

Dalam keadaan seperti ini, secara tidak terduga saya dan keluarga melakukan perjalanan ke Jogjakarta. Perjalanan yang sama sekali bukan untuk piknik, apalagi bertamasya. Satu-satunya alasan yang membuat kami harus menginjak pedal gas sampai ke Jogjakarta adalah keinginan Embah Putri yang minta dimakamkan menjadi satu dengan Embah Kakung.

Embah Putri memang sudah beberapa lama ini menjadi topik yang sangat dibicarakan oleh ibu saya. Bahwa Embah yang jatuh sampai harus dirawat di rumah sakit, menjalani operasi sampai yang paling anyar ini dinyatakan koma. Terus terang saja, saya ndak begitu dekat dengan beliau. Namun, melihat ibu dari ibu saya tergolek lemah tanpa sadar di atas ranjang rumah sakit, saya trenyuh juga. Sekurang-kurangnya ada tiga saluran pipa melalui tubuh Embah saya itu. Satu untuk infus, satu untuk pernafasan serta satu dimasukkan ke dalam mulut.

Yang paling membuat saya kepingin menangis melihat keadaan Embah adalah keadaan beliau yang terus menerus bernafas dengan tersengal-sengal. Persis seperti orang yang habis dikejar-kejar anjing sampai mengitari kompleks perumahan sebanyak lima kali. Melihat bibir embah yang terus menerus menghembuskan nafas sengal-sengal serta melihat dada beliau yang naik turun dengan cepat, refleks saya menyingkap selimut dan mulai mengelus-elus tangan beliau. "Tuhan, berikan yang terbaik untuk Embah," pinta saya.

Melihat Mama yang dengan setianya terus berada di samping beliau, berbekal jaket tebal dan leher berbebat syal hitam, saya tambah ngenes lagi. Ya, Mama memang sampai jatuh sakit merawat Embah. Sakit yang lebih banyak dikarenakan capek, stress serta perasaan tidak berdaya.

Melihat Mama yang juga sudah kepayahan itu, malam itu Papa meminta Mama untuk pulang dan beristirahat. Sebagai gantinya, Mas Rio-lah yang akan menjaga Embah di rumah sakit. Esoknya, sepulang mas Rio, saya dan Mama yang gantian ke Rumah Sakit. Pukul 09.40 kami ya melangkahkan kaki di kamar Embah yang juga dipakai bersama dua orang lainnya. Saat itu, saya cukup kaget melihat sebuah benda menambah koleksi alat yang dipakai Embah. Benda itu berbentuk seperti dot terbalik, yang dihubungkan melalui selang menuju sebuah alat yang lebih besar. Kata perawat, itu adalah penyedot riak Embah.

Kala itu, Embah sudah tidak lagi terlalu tersengal-sengal dalam bernafas, meski masih tetap lebih cepat dari normal. Tanpa berkata-kata, saya kembali mendekati sisi kanan Embah. Saya singkap sedikit bagian selimut yang membungkus tubuhnya, dan saya mulai mengelus-elus tangan Embah. Di sisi satunya, Mama sudah berdiri di sana dan mengajak saya untuk berdoa bersama bagi Embah. Tepat ketika saya mengangguk, seorang perawat menyingkap tirai dan mulai mengajak Mama berbicara. Mama pun lantas berpindah tempat duduk di sebelah saya dan meladeni pertanyaan si suster.

Lamat-lamat, saya mendengar Mama membicarakan bahwa semua keluarga sudah ikhlas dan pasrah. Jika hal terburuk terjadi pun, semua sudah disiapkan dengan baik. Dan sesuai permintaan Embah, beliau akan dimakamkan di Jogajakarta, dijadikan satu dengan makam Embah Kakung. Kala itu, saya agak marah pada Mama. Habis, Embah kan masih bisa mendengar. Mbok ya kalau ngomongin masalah itu di luar aja. Namun, saat itu saya juga bisa melihat makin lama nafas Embah mulai mereda dari sengal-sengalnya. Wah, Embah sudah mau sembuh nih, pikir saya rada girang.

Tak berapa lama dari pikiran saya itu, seorang perawat Embah yang khusus didatangkan dari Surabaya berteriak, “Mbak Wied (ibu saya maksudnya, Red.) iki wes garek sedilut maneh. Ayo ndang dituntun Embah iki.” Mendengar hal itu, sontak Mama melangkah ke samping kiri Embah.

"Ayo Put, kita doa bersama untuk Embah!" perintah Mama sembari mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Embah. Saya yang masih belum pulih dari keterkejutan, hanya bisa memandang Mama sambil ikut mendekatkan bibir ke telinga Embah.

Tuhan, ampunilah dosa-dosaku....

.....


Saya tidak begitu sadar apa yang Mama doakan sebenarnya. Saat itu saya hanya bisa memandang Mama dengan mata yang mulai buram karena kelopak yang hendak jebok diterjang air mata. Baru ketika Mama melafalkan doa Bapa Kami saya mulai ikut berdoa meski dengan suara terbata-bata.

Bapa kami yang ada Surga, dimuliakanlah namaMu

Datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu

Di atas bumi seperti di dalam Surga

Berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami

Seperti kamipun mengampuni kesalahan yang bersalah kepada kami

Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat

Amin.

Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu

Terpujilah Engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus

Santa Maria bunda Alllah, doakanlah kami yang berdosa ini

Sekarang dan waktu kami mati.

Amin.

Saat berdoa saya merasakan nafas Embah semakin lama semakin melemah. Ketakutan kemudian membuat saya menutup mata sambil terus berdoa dalam tangis. Saat saya membuka mata di doa Salam Maria yang ketiga, saya melihat Embah dagu Embah terangkat cukup tinggi seperti hendakmengambil nafas untuk terakhir kalinya. Tak kuat melihat pemandangan itu, saya menutup mata dan meneruskan doa dengan bercucuran air mata. Setelah menyelesaikan Salam Maria untuk yang kelima kalinya, Mbak Anna—perawat keluarga itu berkata, "Wes Mbak Wied, Embah wes nggak ono."

Saat saya membuka mata, Embah sudah tidak lagi bernafas. Saya lihat dada beliau, tidak juga ada tanda-tanda tarikan atau hembusan nafas di sana. Embah benar-benar sudah pergi...

Saya tercenung, tercengang, dan terlongong. Saya masih nggak percaya ada orang yang meninggal tepat di depan mata saya. Dan orang itu bukan orang lain, itu Embah saya! Terus terang, ini adalah kali pertama saya mengalami kehilangan orang-orang yang cukup dekat. Dan yang jelas, ini adalah kali pertama pula saya mendampingi seseorang sampai nafas terakhirnya.

Thursday, July 12, 2007

Kutub

Hanya butuh satu perbincangan di hari yang lelah
Tuk tampar hati terpatah
Dan kala kubertanya pada ragu yang tak kunjung menyerah
Tak jua terjawab hampa yang terus menggugah

Dan kala tetes suci itu terjatuh
Sisakan gerung tawa menjauh
Hempaskan rasa aman yang berlabuh
Munculkan resah gelisah bertabuh



*resah di kantor...mencoba meniru oom Bob*

Monday, July 09, 2007

Some Poems From Oom Bob

Do you have any idea that oom Bob is such a great poetist? Yep, he wrote lots of them, but instead of publishing them in he’s own blog, he’d rather send them via sms to several people. Which is why now I publish some of his work here, in my blog. So, enjoy!

Permukaan yang tenang, air yang mengalir
Dalam gemericik riak lamat-lamat menghilang, terbawa angin semilir
Senyap siangnya sudah lama terbang, lalui kurun kian tersingkir
Andai saja malam tak pernah datang, membawa repihan terbalut getir
Mungkin saat ini ia sudah pulang, kembali tidur dengan mimpinya yang satir
(Warnet IMADA, Gedangan, 05 Maret 2007)

Aku masih menggenggam kelam di kolong otak malam
Iya, benar...!
Hari-hari buram itu memang sudah dalam-dalam kupendam
Ceruk silam yang disamarkan dedaunan basah berwarna dendam
Iya, benar...!
Kadang-kadang mereka mengintip geram
Mereka, para kelam di otak malam...
Teman tetirahku yang ingin kubungkam
Desah buram pagi yang hitam
Iya, benar...!
Aku sadar, aku masih belum benar-benar rela kehilangan mereka
Para kelam di otak malam...
(Roadtrip Kediri-Surabaya, 070708, 21.22)

070707, Hepi Birthday Oom Bob!

Angka tujuh bagi sebagian orang memang dianggap spesial. Nah, gimana kalau angkat tujuh itu dikali 3? Spesial bakal terasa tiga kali lipat tentunya. Mungkin karena itulah, tanggal 7 bulan 7 tahun 07 (anggep 0 nya ilang aja deh) dijadikan banyak orang sebagai hari bahagia mereka. Marriage, misalnya. Buktinya, seharian ini nggak keitung deh berapa mobil pengangkut pengantin yang saya liat berkeliaran di jalan-jalan. Yay...yay...yay...musim kawin telah tiba...

Tapi, bagi saya hari ini spesial bukan karena banyaknya acara kawinan. Saya nggak hobi crashing wedding-nya orang kok. Bagi saya, hari ini spesial karena ada seorang kawan yang berulang tahun. Hehehe...kali ini saya ndak lupa lagi kan sama ultahnya temen. But still, maapkan daku Saidddd... T_T.

Yep, hari ini oom Bobi berulang tahun. Buat kamu yang belum mengenal oom Bobi, jangan bayangkan dia sebagai seorang oom-oom berperawakan gendut yang demen towal-towel cewek cakep yaa... He ain't such person. Sebaliknya, oom Bobi punya bodi yang mirip junkie. Perawakannya kecil menjulang. Sepasang kacamata selalu nangkring setia di pangkal idungnya. Eng...nggak sesetia itu juga sih. Oom Bobi kadang suka sok alergi sama kacamatanya. Padahal, kalau dia nggak pake kacamata, keningnya nggak pernah berhenti berkerut. Persis kayak tikus tanah yang nggak punya penglihatan itu. Hehehe...maap ya oom Bob.

Meski begitu, oom Bob ini salah satu favoritku loh. Kami pertama kali kenal cukup dekat waktu ikutan mata kuliah PPAV. Kala itu, saya dan oom Bob satu kelompok untuk membuat sebuah karya pilem berdurasi 30 menit. Judulnya, "She". Wuih...pilem itu keren loh (narsis mode: on), penuh dengan kontroversi. Ya ceritanya, ya adegannya. Baru kali itu saya melihat (actually, menyuruh) dua orang cewek untuk saling berciuman di depan kamera. Huhuhu...pengalaman tak terlupakan deh pokoknya.

Setelah itu, kami jadi sering nongkrong dan cangkruk bersama temen-temen laennya. Kebersamaan bersama oom Bob bertambah saat kami terlibat pekerjaan yang sama setelah menyelesaikan skripsi. Setiap hari selama 3 bulan kami harus tahan melihat muka masing-masing. Gimana nggak, wong kami kerja satu ruangan, tidur satu atap dan makan makanan yang sama.

Selama tiga bulan itu saya harus tahan dengan segala tingkah lakunya yang kadang out of ordinary. Saya harus tahan kala dia menyetel lagu The Doors keras-keras di setiap subuh. Padahal, kami semua (temen sekerja) sudah ndak mood karena harus menyelesaikan laporan. Kadang, dia juga suka seenaknya sendiri tidur padahal yang laen sibuk bekerja. Kalau sudah gitu, saya dan teman-teman langsung mencabuti bulu jempol kakinya sampai dia terbangun dan nesu-nesu. Tapi nesunya oom Bob lucu. Nesu kok sambil ngantuk-ngantuk. Hahahaha...

Tapi, kalau oom Bob sudah gitaran sambil nyanyi, saya suka deh deket-deket dia. Suaranya bow, mantaph jaya! Coba kamu ikut kalau lagi karaokean bareng dia. Uuugh...merinding! Nggak heran temen-temen seangkatannya demen ngajakin oom Bob berkaraoke ria.

Makin lama bersamanya, saya makin mengetahui pandangan-pandangan oom Bob. Bagaimana dia menemukan kedamaian hati dengan konsep keTUHANannya. Bagaimana konsep ke-nggak ngurus-nya dia sama orang lain, namun dia sebenarnya tetap sangat peduli. Bagaimana konsep perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dia percayai.

Tapi, oom Bob bisa berubah jadi orang paling nggak menyenangkan kalau moodnya lagi jelek. Dia bakal sangat diam dan nggak bisa diajak bersenang-senang. Kalau sudah gitu, saya jadi sedih karena kehilangan teman ngubrul dan bertukar pendapat.

Setelah keluar dari team "Lumpur episode 1", saya pun jarang keluar sama oom Bob dan kawan-kawan. Namun, minggu lalu telur itu pecah. Saya dan beberapa teman "Lumpur" berkumpul kembali, oom Bob, Ade, mas Wawan, Wiwin, Asep, Dadang dan Melisa. Banyak juga yang nggak ikut, termasuk Nana dan Yasmin yang lagi di Jakarta. Si Botak juga nggak datang. Katanya sih lagi di luar kota. Beberapa anak Field Officer yang lain pun nggak datang. Kata Asep, kemungkinan besar saat itu mereka lagi pulang kampung. Maklum, hari itu memang hari pertama liburan semester.

Malam itu saya benar-benar merasa hidup kembali. Seneng banget rasanya bertemu dengan teman-teman lama dan gila-gilaan bersama. It's been so long. Saya jadi ingat masa-masa saya cangkruk bersama mereka dan membicarakan hal-hal absurd. Hahahha...felt so damn guuuuuddd.

Dulu, saya sering nongkrong bersama teman-teman (termasuk oom Bob dan Asep). Membicarakan hal-hal yang aneh-aneh. Persahabatan, cinta, masa depan, yah seputar kehidupan lah. Kadang saya bisa tertawa keras-keras bersama mereka. Namun tak jarang pula saya terbawa dan harus berpikir keras untuk meng-ekstrak-nya.

Saya jadi ingat waktu saya dan Asep melakukan roadshow cangkruk. Awalnya, kami cuman nongkrong di Dunkin Donuts. Namun, ketika jam satu (subuh) datang, kok rasanya pembicaraan kami belum selesai ya? Ya sudah, lanjut deh ke McD Basra. Buanyaaak banget yang kami bicarakan, bahkan kami sempat merumuskan beberapa teori tentang cinta. Hahahaha...sounds annoying yaa? Oh ya, setelah bongkar-bongkar, ternyata saya masih menyimpan teori-teori itu. Want to know what it was? Catch this!

o Chemistry adalah interaksi antara dua individu yang merupakan "ikatan" yang timbul setelah bertukar informasi dan terciptanya kecocokan.

o Chemistry tidak bisa diciptakan. Interaksi dilakukan oleh dan kepada semua orang. Setiap individu memberikan respon yang berbeda dan spesifik dari interaksi tersebut. Hanya respon yang cocoklah yang pada akhirnya membentuk chemistry.

o Jodoh masing-masing orang pada dasarnya sudah ditentukan. Namun, penentuan ini hanya terjadi dalam pikiran. Setiap orang, sadar ataupun tidak, mempunyai beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh orang yang akan dicintainya. Kriteria itulah yang dinamakan jodoh.

Bagaimana, setuju nggak sama teori-teori yang kami rumuskan? Waktu itu kami emang lagi happening banget membicarakan dan berusaha mengekstrak tentang cinta pada pandangan pertama. Adakah chemistry? Kenapa setiap orang selalu terlihat mencintai orang yang sama padahal ia tidak mencari tipe tertentu? Mending kalau sifat-sifatnya yang sama, lah ini situasinya sama. Hahahah...Asep bangged! Selalu stuck sama cewek yang sudah ber'suami'. And I mean it, ALWAYS.

Jangan salah, teori-teori yang kami kemukakan di atas tidak didapat dengan mudah loh. Kami harus gontok-gontokan dulu, mempertahankan opini siapa yang paling benar. Berusaha mengemukakan fakta-fakta yang sesuai dan mempreteli satu persatu alasan di baliknya. Dan akhirnya, sebelum berpisah, kami sepakat mengemukakan bahwa "There's no such thing like love at the first sight. Second, third, fourth, and et cetera, those what make love".

Hhhh...mengingat-ingat masa itu benar-benar membuat saya kangen setengah mati. Memang sih, pertemuan seminggu yang lalu itu sedikit mengobati kekangenan saya, tapi tidak semua. Kebanyakan, kami hanya membicarakan hal-hal yang nggak penting saja. Bertukar kabar karena lama tidak berjumpa. Saya kepengin kembali membicarakan absurditas macam yang saya lakukan bersama Asep dan oom Bob. Kadang, hal itu bisa membuat otak kembali cemerlang loh, percaya deh! Iya, hal-hal itu membuat kita bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Makanya, oom Bob, Asep, ayo dong kapan kita mau cangkruk-cangkruk lagi?! Kangen nih mendengarkan teori dan opini-opini kalian!

Oh ya, buat oom Bob!, met ultah ya! I can't say anything other than, "Wishing u all the best in life!"

Thursday, July 05, 2007

Judul Luar Biasa Untuk Pilem Biasa

Setelah beberapa lama nggak pernah nonton pilem Indonesia di bioskop sejak Realita Cinta dan Rock & Roll, akhirnya telor itu pecah juga. Kemaren bersama beberapa temen kantor saya nonton pilem produksi Rudi Soedjarwo yang judulnya cukup luar biasa : “Maaf, Saya Menghamili Istri Anda”.

Terus terang, saya cukup penasaran sama MSMIA. Habis, Sinema Indonesia sampe ngasi dua setengah bintang buat pilem besutan Monty Tiwa ini. Padahal, saya tahu bahwa MSMIA dibuat dalam rentang waktu yang relatip singkat. Syutingnya aja cuman 7 hari doang. Artinya, bujetnya jelas-jelas super duper rendah.

Iya, I know, kita emang ndak bole ngeliat mutu pilem sekedar dari budget serta pengerjaan. Bisa aja kan pas produksi dimulai, para kru en pemainnya lagi berada dalam bioritme tertinggi yang kemudian mendukung kualitas pilem jadi soooo good. Jadi, pada akhirnya saya nonton juga deh ini pilem.

MSMIA berkisah seputar Dibyo (Ringgo Rahman) yang pengangguran tapi demen ngegaet cewek. Suatu ketika, untuk mendapatkan makan gratis, Dibyo crashing a birthday party. Saat melihat Mira (Wulansari), gemuruh napsu di dada Dibyo bergolak. Ia pun nekad berkenalan dengan Mira berbekal rayuan gombal (this part reminded me of “Jomblo”). Besoknya, si Mira pun keluar dari kamar kos Dibyo masih mengenakan baju yang dipakainya semalam. Yah, Anda tebak sendiri deh apa yang terjadi. Yang jelas, 2 bulan kemudian Mira hamil.

Waktu mengabarkan kehamilannya, Mira membawa kabar tambahan bahwa statusnya adalah istri orang, meskipun pisah ranjang. Alhasil, Dibyo kelabakan. Apalagi setelah mengetahui bahwa suami Mira adalah seorang pemimpin preman Batak, Lamhot xxx (disensor oleh LSF). Berbagai cara lantas ditempuh Dibyo untuk mencoba mengabarkan kepada Lamhot bahwa dirinya telah menghamili sang istri, yang malah membuatnya makin terjerumus ke dunia kepremanan.

Waktu ada yang bilang bahwa pilem ini lucu, saya berharap bahwa saya akan tertawa ngakak, kayak waktu saya nonton Jomblo. Sayangnya, harapan tinggallah harapan. Bukannya saya mau bilang kalau ni pilem ndak lucu, lucu kok. Cuman, buat saya kadar lucunya masih kurang. Gregetnya kurang pas. Trus, ada yang berkesan terlalu dipaksain juga lucu-lucuannya.

Plot dan jalan cerita yang diusung juga kok terasa terlalu asal ya? Kayaknya Monty Tiwa nggak serius nih waktu nulis skenario nya. Jangan-jangan dibuat hanya dalam waktu hanya 7 jam? Hiii... Habis, semua terasa begitu cepat dan sedikit ndak masuk akal. Pertemuan pertama dengan Mira kok langsung ngamar sih? One night stand masuk akal lah, tapi mereka pacaran loh! Terus, cerita tentang preman itu juga kayaknya agak-agak gimana gitu. Kurang riset ya, bang Monty? Satu lagi, perutnya Mira kok ndak besar-besar juga ya? Padahal kalau ditotal, paling nggak dia sudah hamil 4 bulan loh. Emang belum keliatan ya?

Yang paling bikin sedih itu sound dan sinematografi pilem ini. Soundnya itu loh, saling tumpang tindih. Kadang pelan, kadang keras sampe bikin kuping pekak. Antara backsound dan dialog suka bertanding sendiri. Pas harusnya backsoundnya dominan, eh malah minimalis banget. Sinematografinya juga payah. Kayak pilem yang dibikin amatiran, persis pilem garapan saya dulu waktu kuliah, yang suka goyang-goyang akibat tangan sang kameramen tremor parah. Udah gitu, angle pengambilan gambarnya juga aneh. Mungkin mereka maunya keliatan artistik, tapi di mata saya jatohnya bodoh. Kadang objek utama ada di tengah, kadang di pinggir, dan kadang malah kepotong separoh. Nah loh... Pada akhirnya saya hanya bisa membatin, ”Mau gimana lagi, pilem 7 harian sih!” Yah...

Saya juga jadi baru ngerasain bahwa Ringgo itu emang over-exposed. Di Jomblo, saya sangat mengagung-agungkan Ringgo yang meski seorang pendatang baru, tapi dia bisa bermain ekselen. Jauh melebihi senior-seniornya macam Christian Sugiono dan Dennis Adishwara (maap, Rizky Hanggono nggak masuk itungan karena menurut saya dia nggak pantes jadi aktor). Saya juga masih suka waktu dia maen di FTV Ujang Pantry. Feel-nya masih dapet. Di sini, memandang Dibyo saya serasa memandang Agus beberapa tahun kedepan. Bukan hanya karakter di pilemnya, cara Ringgo memerankan Dibyo bisa dibilang mirip-mirip waktu dia memerankan Agus.

And yeah, memang ndak ada moral yang pengin disampaikan sama pilem ini. Malah kesannya jadi nyuruh para penontonnya untuk, “Udah hamilin aja bini orang, masi bisa dibawa lari kok meski kudu babak belur dikit!” Yaelah... Malesbangetdotcom! Sebenernya, saya sih melihat bahwa MSMIA ingin sedikit memasukkan unsur nasionalisme di sini. Bahwa Indonesia itu satu, ndak perlu terpecah-pecah antar suku. Sayangnya, unsur itu sama sekali ndak terpercik sepanjang awal sampai nyaris akhir MSMIA. Cuman beberapa menit terakhir yang membuat saya ngeh bahwa pilem ini punya ”sedikit” pesan moral.

Eniwei, nice try lah this movie. Kalau dibikin lebih serius lagi, saya kira bakal lebih bagus hasilnya. Yang jelas, saya tetep lebih milih nonton pilem ini daripada komoditi-komoditi bikinan Punjabi dkk itu yang cuman ngurus dunia persetanan. Saya memang mendukung perfilman Indonesia. Tapi saya ndak bakal mendukung pembodohan massal Indonesia.

Oh iya, satu lagi pesan saya, wahai para produser Indonesia, berhentilah membuat pilem kilat 7 hari! Niat dikit napa sih?!



Monday, June 25, 2007

Buktikan Munahmu!

Tahu iklan gudang garam merah? Yang versi sekelompok anak muda naek kereta? Yang ada Ferdy Nuril nya itu loh! Ring a bell? Saya kok nggak suka sama iklan itu ya? Di mata saya, kesan yang ditampilkan P-A-L-S-U banget. Kesan seorang cowok yang sok care dan sok baek hati hanya karena dia memberikan kursinya kepada seorang ibu tua.

Kalau saya lihat, si pembuat iklan pengin nampilin sosok Ferdy Nuril sebagai karakter anak muda yang penuh idealisme tapi masih memiliki kepedulian besar sama sekitarnya. Sayang banget, di mata saya jatuhnya malah jadi negative. Saya sih nggak masalah dengan episode pertama iklan ini (malah, saya nggak begitu peduli dan menganggap iklan ini so-so aja). Ya okelah, seorang anak muda yang nungguin ibunya pulang dari pasar emang nggak begitu keliatan munak. Tapi, nggak keliatan spesial juga sih.

Di episode kedua, ditampilkan Ferdy Nuril dan temen-temennya berlarian menuju stasiun kereta. Ketika mereka mengantri di depan loket tiket kereta, nampak seorang pria yang sedang melakukan transaksi dengan seorang calo. Kemudian, fokus dialihkan kembali ke Ferdy yang memandang transaksi tersebut dengan tatapan judging.

Di scene selanjutnya, Ferdy dan teman-temannya memasuki kereta dan mengambil tempat duduk yang tersisa. Tak berapa lama, seorang perempuan tua datang. Perempuan tua ini terlihat kebingungan mencari tempat duduk yang kosong karena apparently semua kursi telah terisi. Kamera kemudian meng-close up seorang bapak paro baya yang mengangkat koran untuk menutupi wajahnya. Pura-pura nggak ngeliat, maksudnya. Kamera balik lagi ke Ferdy yang celingak celinguk ngeliatin orang-orang di kereta, mencari seseorang dari mereka yang mau ngasih tempat duduk buat ibu ini. Karena nggak ada yang mengangkat pantatnya, si Ferdy kemudian berbaik hati berdiri dan menyilakan ibu itu untuk duduk. Wajah sang ibu sontak berseri-seri dan melemparkan pandangan pada Ferdy, "Aauuuw...such a nice boy!"

Bweeehh, adegan ini malah buat saya berpikir bahwa Ferdy nggak lebih dari sekedar cowok munafik. Ya iyalah, dia tuh nggak nolong si ibu dengan hati suka rela. Habis, kalau emang dia niat nolongin, ngapain juga pake celingak celinguk nyariin ada yang mau ngasi tempat duduk kagak. Kalau mau nolong tuh ya dari awal dia tahu si ibu nggak dapet tempat duduk, ya dia aja dong yang langsung berdiri. Lagian, kenapa juga bapak-bapak itu dijadiin bandingan. Kalau emang mau sok pake norma kesopanan, harusnya kan yang lebih muda yang ngalah. Ya emang sudah seharusnya dong dia yang berdiri.

Udah gitu, yang bikin saya lebih empet, dia senyam senyum lagi dengan muka sok-jadi-orang-terbaik-di-dunia. Berasa sok baek hati loe? Ihh...kesel deh saya. Saya jadi mikir, jangan-jangan Ferdy ini ada maunya ngasi tempat duduk sama si ibu. Misalnya, di deretan belakang ada seorang cewek yang cakep banget. Jadi, dia belagak heroik buat narik perhatian si cewek. Kalau berdiri kan ada alesan buat bergerak kesana-kemari. Jadi, pas kereta udah bergerak, dia deketin deh bangku si cewek dan ngajak kenalan. *ngayal mode on*

Yaaahh, emang sih ini pandangan subjektip saya aja. Belun tentu banyak yang sependapat sama saya. Tapi, mbok ya para pembuat iklan itu bisa mempertimbangkan, kesan apa aja yang muncul setiap detil gambaran yang ditampilkan. Inget, komunikasi itu bisa dipersepsi laen loh sama setiap orang. Kan setiap orang punya frame of preference dan field of experience yang beda-beda. Nah, kalau kebanyakan orang punya FoP dan FoE yang sama dengan saya, gimana?

Mimpi Juga Butuh Duit

How...how...gimana nih pendapat kalian sama beberapa artikel yang sudah saya muat di bawah? Keren nggak shyeeeeh?! Hehehe... *narsis mode on*

Sebenernya, artikel-artikel itu merupakan salah satu mimpi yang nggak kesampaian lho. Hhh... *pandangan menerawang* Duh, kalau ingat-ingat itu masih miris juga sih. Padahal, semua sudah terencana dengan baik. Semua sudah terkonsep dengan baik. Strategi marketing sudah dirumuskan. Tapi, tetep aja kecentoknya sama satu hal, DUIT.

Kurang lebih setaon yang lalu, saya dan bapak saya merumuskan sebuah majalah yang menurut hemat saya bisa jadi sebuah sumber penghasilan yang lumayan. Setelah digodog beberapa bulan, semua telah dikonsepkan dengan baik. Mulai dari bentuk majalahnya, content nya, sampai ke strategi marketing.

Saya sudah mulai bergerilya, dari pengumpulan materi, layout halaman sampai melobby ke beberapa orang untuk melancarkan strategi marketing. Bocoran dikit deh, majalah ini ditulis dalam bahasa inggris dengan content nasional dengan segmen youngster age 15-22. (Rencananya,) bakal diedarkan di SMA dan kampus-kampus di Jawa Timur (untuk permulaan), primarily yang punya embel-embel standar internasional. Wah, pokoknya sudah terjadwal dengan baik deh. Apalagi, bapak saya punya background pekerjaan pendidikan. Jadi, dia tahu betul seluk beluk dunia persekolahan dan bagaimana bisa menyiasati usaha kami ini menjadi menguntungkan.

Saking semangatnya, saya sampek bela-belain menunda mimpi saya yang lain untuk mewujudkan mimpi bersama ini. Nyaris 100% effort saya keluarkan untuk majalah yang sedianya akan diberi nama ZigZag Magazine ini. Kenapa nggak 100%? Hhh...hard to say this...karena di dalam hati sebenernya saya tahu mimpi ini akan susah direalisasikan. Kenapa sih saya sedemikian pesimisnya? Bukannya pesimis, tapi ada satu hal yang kurang dari rencana kami, D-U-I-T! Usaha sebesar bikin majalah, emangnya butuh duit 5 or 10 jeti? Kagak lah! Untuk bikin majalah itu, kamu harus siap-siap rugi paling nggak 6 edisi awal, which means not a small amount of money. Emang kamu kira berapa ongkos cetaknya, pekerjanya, lobinya, dll?

Iya, bapak saya memang menjanjikan akan mengusahakan sejumlah uang yang dibutuhkan. Dengan catatan, rumah saya yang mayan besar itu kejual. Namun buktinya, udah nyaris 4 taon nih, tuh rumah masih aja setia sama majikan lamanya. Padahal kami sekeluarga sudah mengikhlaskannya untuk diasuh orangtua lain. Dengan iming-iming 1,2 M tepatnya. Iya, saya akui, my family have some financial problem. Biasalah, namanya juga wiraswasta, ada masa di bawah ada masa di atas. To overcome the situation, we decided to sell our house. Tapi herannya, sudah 4 taon kami sekeluarga berusaha ngejual si rumah, kok ya ndak laku-laku juga. Alhasil, selama empat tahun terakhir hidup keluarga kami lumayan getir. Setelah empat semester kuliah dibayarin, saya mulai membiasakan diri membayar semua pengeluaran sendiri. Padahal gaji saya sebagai buruh part-time sama sekali ndak besar (waktu itu cuman 500 rebu sebulan).

Ndak apa-apa. Yang penting keluarga kami masih rukun. Ya, memang ada banyak perselisihan di sana-sini, tapi kami masih bisa bersama-sama bergandengan tangan kok. Itu yang saya bangga sama keluarga saya. Sama bapak saya, sama ibu saya dan juga sama kedua kakak saya.

Iiihh...kok jadi ngomongin masalah itu sih? Back to topic deh. Intinya, saya rada ndak yakin juga sama keberlangsungan rencana ZigZag ini. Saya bertahan karena itu adalah mimpi bersama saya dan bapak saya. Saya ingin menyenangkannya dengan tinggal dan berusaha mewujudkan mimpi itu. Dan akhirnya, ketika deadline tiba, ternyata lubuk hati saya benar. Mimpi saya tertunda (saya ndak bilang ndak terwujud loh ya). Rumah masih ndak terjual, usaha sampingan bapak saya yang di Kalbar juga belum menunjukkan hasil. Jadi, mangkraklah itu majalah. Padahal, artikelnya banyak yang sudah jadi. Banyak halaman-halaman yang sudah terlayout dengan indah. Padahal, saya sudah punya ikon-ikon khas ZigZag untuk halaman Zodiak (hehehe...).

Hhh...ya sudahlah, mau digimanain lagi. Saya nelangsa terus juga ndak bakal nyelesaiin masalah kan. Satu yang saya sadari, mimpi itu ternyata juga butuh duit ya? Enak aja orang yang bisa mewujudkan mimpi wiraswasta mereka karena ketersediaan sarana satu ini.

Occho, salah satu karakter di 20th Century Boys pernah bilang, "Satu-satunya jalan untuk mengatasi depresi adalah dengan terus berjalan". Saya ndak depresi kok, saya hanya berusaha untuk terus berjalan. Mimpi ZigZag nggak saya buang. Masih ada kok, cuman sekarang lagi saya simpan di suatu tempat, menanti untuk diwujudkan.

Sekarang, saya sedang memupuk mimpi baru. Dan saya berjanji sama diri saya sendiri untuk mengusahakannya sekeras mungkin. Apa sih mimpi itu? Er-ha-es!! Kata orang, pamali kalau dibilangin sekarang. Nanti ya, kalau mimpinya udah kewujud. Masih lama tapi...

Friday, June 15, 2007

Superior

Gal : carrousel t-shirt by Monik (Rp 80.000), legging and necklace by model's private collection
Boy : atari sweater by Airplane (Rp 160.000)

Text : pOe
Model : Nabila & Priyo
Photographer : Ryan & Kuncoro
Setting : Campus Design Product ITS

Clothes provided by House of Rotten Apple, Jl. Arif Rahman Hakim no.38 Surabaya

Love Fool

"It is best to love wisely, but to love foolishly is better than not to be able to love at all."
(
William Thackeray)

Gal : nina gordon cardigan by Rotten Apple (Rp 100.000), pocket pie pants by Airplane (Rp 220.000), t-shirt and necklace by model's private collection
Boy : misty green t-shirt by Bloop (Rp 169.000), trousers and shoes by model's private collection
Photographer : Ryan (PM me if u want his contact)

Love Blooms

The sun doesn't have to shines bright to bring love to earth. Under the cloudy sky, love also blooms…

Gal : longsleeve carrousel ride by Monik (Rp 85.000), hotpants by Jejak (Rp 110.000), domino jacket by Airplane (Rp 150.000), shoes and necklace are model's private collection
Boy : cloud sweater by 347 (Rp 169.000), short by model's private collection

Photographer : Kuncoro (PM me if u want his contact)

Flea Market STYLE

Cheaper Solution For Your STYLE

Personality reflected by the way you dressed, people said. But, don't you think it will be sooooo boring if you dressed like others? By saying this, ZZ means that you are only following the trend.

You might say, what is wrong with following the trend? Well, there is no right or wrong in this matter. But guys and gals, if you do so, you will only be a trend follower and not a trend maker.

Put this picture in your head, you were wearing your expensive clothes while you were walk around the mall. Then, suddenly you saw somebody wearing the exact same clothes as you wear. Oh My GOD!! Wouldn’t that the most embarrassing moment? If that's really happen to you, ZZ suggests you to dissappear as soon as possible. That is so pathetic!

If you want to be unique, extraordinary, the one and only you, try to make your own trend. It means, break the rules! You don't have to be a rich person first to be a trendsetter. It's really not about the price, it's the STYLE!

Why don't you give flea market a try? Hmm...sounds pretty weird huh? Tell you what, in this place, you could find anything that you want, with cheaper price! It is a pleasure place to hunting strange, miraculous clothes and absolutely different from other people.

Try to visit Gembong market and Tugu Pahlawan, two famous flea market in Surabaya. In these places, you can find any kind of clothes. Looking for gothic, punk, emo, British, old school, or Harajuku style? Definitely Gembong market and Tugu Pahlawan is the right place. So many styles of outfits are available here.

What you need to know is all the clothes there are secondhand. Mostly, the clothes was imported from East Asia. Then, don't be shocked if you find famous brands like Giordano, Bossini, Baleno, Pierre Cardin, DKNY, etc.

If you really want to shop here, there are few things you have to know. First, your sense of fashion. You must be extra selective and extra thorough when you choose clothes. If you found a torn piece or a dirt spot, you must reconsider it. Unless, you pretty sure the dirt can be removed by detergent.

The second is that you must have bargain power. Bargain the price less than a half from the trader offer. If they want Rp 25.000 for the clothes, you must ask for 8.000. If you were tough enough, you could get the clothes for Rp 10.000 only.

After you get your clothes and bring it at home, don't forget to wash the clothes with hot water. It help to kill the microbe (you don’t know where the clothes come from. We don't want to gamble your health, rite?).

ZZ guarantee, you will be thrifty a lot of money and get dressed uniquely. Dare to be different is a choice. Just be yourself with your own style and you might be a trendsetter. Interesting? Gembong market opens everyday, start from 9 AM until 4 PM. Tugu Pahlawan opens just on Sunday from 5 AM until 9 AM. (jaq/pOe)


Tips and tricks :

  1. Do camouflage! Go to flea market without shower, wear your ugliest t-shirt and open toe slipper. Leave your cute and trendy dress. Trust ZZ, these things are very useful to deceive the trader. If you look good, there is no chance that you would get cheaper price.
  2. Bring enough money and save it at your pocket. Don’t bring your wallet here. Be careful from pickpocket!
  3. Before you take the clothes, check first! Torn piece or dirt spot can make the clothes will look like a junk.
  4. Go there early in the morning. If you like the clothes, bargain and take it! Because there is no guarantee that tomorrow the clothes is still on its place.
  5. Wear a hat and sunblock to protect you from radiation of the sun.
  6. Modifide them! You can modifide the clothes with your own style. Do it your self or you can go to the tailor. (jaq)

Only One Specialty, Dian Sastro









Movie Title : Ungu Violet (2005)

Actors : Dian Satrowardoyo, Rizky Hanggono, Rima Melati
Director : Rako Prijanto
Script Writer : Jujur Prananto
Genre : Drama
Format : VCD
Duration : menit

Who does not know Dian Sastro? No one can deny her charm as Cinta in Ada Apa Dengan Cinta, one of the pioneer in nasional movie resurrection. But—sorry for being honest—this movie too much relying on her popular name.

Unfortunately, in this movie, her role as Kalin—a busway ticket guard—was not charming at all. Dian played the role full of doubts, as if she never played any role before. The plot itself, terrible. Kalin, met Lando (Rizky Hanggono), a broken hearted photographer in the busway. Then, Lando asked Kalin to be his model.

As you can guess, they both fell in love. With Lando's help, Kalin's face was put in some magazine cover. When Kalin in a condition of depply falls in love with Lando, surprisingly he dumped her. The reason was because he got Leukimia.

After Lando dumped Kalin, his carier went down tragically. On the other hand, Kalin’s star shines brightly. But, she dropped it all when she lost her sight on an accident which ”accidentally” happened after she met Lando.

If Kalin's role was so alike Cinta, Lando's role is worse. We got to admit that Rizky Hanggono is not a perfect actor (actually, before this, he’s not an actor at all) for this role. You barely feel the photographer soul and characteristic. Dramatic scene that the director wanted to show, played poorly by Rizky.

The only scene worth watch is when Kalin lips met Lando's. Actually, even the real scene is censored by LSF because they thought the scene is too hot. Want to watch it? You are wasting your time, pals! But, if you respect so much in Indonesian movie, go for it!

One Ticket To Success

Failure is one ticket to success. Even after suffered many failure, it doesn't mean that we will never get the success we always dream about. Who will know that succesful is just around the corner when you decide to give up? Then, never give up is the answer!

Just like this one, the aviation pioneer, Igor Ivanovich Sikorsky who created the first successful helicopter in 1939.

Sikorsky bought a 25-horsepower Anzani engine in Europe and took it home to Kiev to get to work. His first helicopter model failed. He decided to try a fixed-wing craft. His first attempt, the S-1, also failed, for he had used an inadequately powered engine. But his second, the S-2, was a success.

He continued to acquire information and make improvements to his airplane models. He also acquired his pilot's license. His fifth plane, the S-5, gained national attention. His sixth, the S-6-A, won him the highest award at the 1912 Moscow Aviation Exhibition, and first prize in a military competition in Petrograd. This success lead to his appointment as head of the aviation division of the Russian Baltic Railroad Car Works.

There Sikorsky began conceiving the first multi-engine airplane, "The Grand", a luxurious passenger plane, revolutionary for its time. This person is one example the great inventor who never gived up to reached what he dreamed for. It turns up good right? He did it and with a huge success.

So, why quit trying? Keep on fighting, guys and gals!


Joined article with Fenty

Yes, You Failed, So What?!

Nobody is perfect. Nobody never make mistake.

So do you. Well yeah, maybe for all this time you had never make mistake. You never know how it feels to fail on something. But soon or later, you will have to face that. And when you finally do experiencing your first failure (maybe you failed to maintain the best in class or even failed to catch him/her heart), just cool it, dude! You’re not suddenly become a loser just because you failed on things. You failed, fine! Just learn to accept that and move forward.

What? You can't? So, you just hiding there in your room and mourning your failure? Ouugh...you such a loser then! Listen, real warrior don't give up when they are down. Real warrior get up from their knee and fight again. This time, they tried even harder.

"Just to be alive is a grand thing," said Agatha Christie, one of the famous detective novelis. Life, is surely about up and down. It has it own circle. Maybe right now you’re in the bottom, but who'll know maybe two days later you'll be on top?

Well then, the best thing is that ZZ's now here. ZZ can give you the right tips and trick to overcome feeling like a loser. Instead, you can be a real fighter and keep on fighting. Ready? Here we go!

1. Cut The Crap! Be Positive!

Yes, you screwed this time. So what, people did. That's life. This one failure does not mean that your life is ruined, doesn't it? One or two failure doesn’t mean that you'll have to fail all your life. You have got to stop mourning. Get up from your bed and instead of doing such useless thing, you can start to catch up those failure with something else worth trying

2. Re-Evaluate

There's a lot of reason why you failed on something that you do. Lay back and think of all the aspects that can get you to failure. Maybe you were not ready enough, or you just underestimate your opponent. Analyze the very aspect that leads you to your failure, so next time you won’t do the same mistake.

3. Find Your Potential

Once again, lay back and think about your own potential. Sometimes, people don’t get everything they want. God is fair in this area, He creates people with strengths and weaknesses. You have got to know about this and then you can find a way to at least minimize your weaknesses and maximize your strengths.

4. Keep Fighting

Now, it's time to moving on. Fight back, darling! The world’s still rolling whether you realize it or not. Such a waste if you don’t run and catch what you already missed. Real warrior doesn't quit that easily!!

Yes, failed sucks. But failed also a really great experience for us. If you never do something because you're afraid to failed, you never gonna learn to be a better person. Yes, there is so many obstacle in life. Maybe you won’t be failed only once, you'll have it maybe ten or even hundred times again. But, please guys and gals, don't make your failure keep you from trying even harder. You not a loser just because your not success. You become a loser if you stop trying.

"Live as if you were to die tomorrow, learn as if you were to live forever", said Mahatma Gandhi. Just keep learning, upgrade yourself with a lot of way that need an effort or even an effortlessly.

There’s Always A First Time In Everything…

Sometimes, we feel afraid when we have to face something new. Something that none of us ever did before. "What will I say? What am I suppose to say to do? What will happen next?" That might be several questions that appear as we blink when we have to do something for the first time. ZZ know, it is d**n frightening when there is no certainty in what will happen next.

If you don't mind to turn your memory back when you were in the first day in elementary school, you might found that you were crying out loud seeing lots of kids at your age. You were hiding behind your mother's body, looking at the class terrifyingly. When your mom wanted to leave, you held her clothes tight while your eyes starting to drop tears.

But, as time went by, you began to like your friends. You began to forget your mother while playing with your friends. And you didn’t even know she was leaving you until the class ended. Now, some of you might never needed mother to take you to school anymore. School doesn’t seem as frightening as nine or twelve years ago.

Those case of first time always threathening us. First date, first boy/girlfriend, first red grade, first obsession, first fight, etc. ZZ also catch those fears when we want to publish this first edition. But, we tried to overcome it. And we did. Now, we want to share how to overcome those things. Be prepared boys and gals!

ZigZag Magazine

Saya baru aja menemukan cikal bakal ZigZag Magazine di kompi saya. Ternyata dulu pernah saya masukin dan saya lupa. Daripada nggak kepake, mending saya post di sini aja ya.

Enjoy!

A-N-E-H

Merasa ada sesuatu yang menggelitik nggak saat mendengar kata "aneh"? Sebenernya, apa sih definisi dari "aneh" itu? Sesuatu yang tidak biasa dilihat atau dialami? Atau sesuatu yang tidak seharusnya? Atau simply hanya "berbeda"?

Beberapa waktu yang lalu seseorang melontarkan pertanyaan kepada saya, "Kamu juga merasa dirimu aneh?" To be honest, ya. Seringkali, saya merasa diri saya ini aneh dan berbeda dari orang lain. Misalnya, saya suka parno sendiri sama orang laen. Seperti yang saya alami belum lama ini.

Gara-gara terlalu menghayati serial Heroes, saya selalu merasa orang yang sedang saya ajak bicara somehow bisa mendengar pikiran saya bak officer Parkman ituh. Akibatnya, otak saya jadi kacau balau. Mau mikir "A". sisi otak yang lain langsung menghentikannya dengan berkata, "Hayoo gimana kalau pikiranmu itu diintip?" Kebayang nggak, dalam otak banyak suara-suara serupa Putri yang sahut-bersahutan, saling menentang, saling menghujat. Alhasil, saya jadi sering bengong sendiri dalam rangka berusaha mencerna pembicaraan di otak saya. Bengong terlongong persis kayak orang goblok.

Kenapa saya nggak pengin pikiran saya diintip orang lain? Karena saya merasa bahwa pikiran itu adalah satu-satunya kebebasan mutlak yang saya (dan setiap orang rasanya) miliki. Pikiran adalah satu-satunya sarana kita bisa berpikiran jelek tentang orang lain, bisa bebas memaki meski wajah tersenyum sumringah. Nggak kebayang deh kalau pikiran sampai dijajah. Auuugh....bisa gila kali yeee....

Eitzz...OOT nih. Ok, back to ANEH. Meski saya menganggap diri saya mengemban stempel ”ANEH” di jidat, akhir-akhir ini saya merasa bahwa sebagian besar orang merasa dirinya aneh. Tidak hanya saya, tidak hanya kawan saya, tidak juga hanya Anda. Nyaris semua orang merasa ada bagian di dirinya yang membuatnya layak mendapat julukan ANEH. Kenapa demikian?

Kalau saya runut-runut, jawaban dari pertanyaan ini gampang banget. Pertama, karena semua orang merasa bahwa dirinya unik. Merasa bahwa dirinya berbeda dengan orang lain. Jadi, saat mereka merasa bahwa dirinya suka ngupil sementara ia melihat di sekitarnya jarang ada orang yang suka ngupil, maka ia pun menganggap dirinya aneh. Padahal, kalau nggak ada orang lain semua orang juga suka ngupil kaleee....

Yang kedua, karena mereka masih belum mengenal diri mereka sendiri dengan baik. Jadi, ketika dirinya ternyata bisa melakukan hal yang tidak bisa dijelaskan, ia menjadi terkaget-kaget dan kemudian menganggap dirinya sebagai sosok yang aneh. Seharusnya ini bukan sesuatu yang tidak biasa loh, karena semua orang juga tidak mengenal dirinya. Saya nanya sekarang, apakah Anda mengenal diri Anda sendiri dengan baik? Saya sih tidak. Sudah sekian lama saya berusaha memahami diri saya, tapi selama 22 tahun saya tidak jua benar-benar mendapatkan jawabannya.

Malah, menurut saya orang yang paling aneh adalah orang yang tidak mengakui kalau dia aneh. Maling mana yang ngaku maling? Orang gila mana pernah ngaku kalau dirinya GILA?

Nah, kalau banyak orang yang merasa dirinya aneh, sama artinya dengan mengakui bahwa semua manusia itu unik. Nggak ada yang sama satu sama lainnya. Manusia berbeda-beda dengan komposisinya sendiri. Each person had their own point of origin.

Jadi, saya aneh? Iya. Jelas. Wong saya UNIK.

Monday, June 04, 2007

So Insecure

Kenapa ya setiap orang itu cenderung untuk tidak puas dengan apa yang sudah dimilikinya? I mean, banyak orang selalu merasa bahwa rumput tetangga lebih hijau. Yah, oke, itu saya sih. Tapi, kenapa sampai ada istilah begitu kalau tidak banyak orang yang pernah merasakannya?

Melihat orang lain, rasanya saya begitu terpana dengan mereka. “Shoot, how come they became so great?” Honestly, I’m jealous. Who am I? What have I done all years? What have I earn?

Terus terang, saya sangat mengkhawatirkan masa depan saya. Apa ya yang menanti di depan dengan keadaan saya yang sekarang ini? Saya nggak tahu dengan pasti langkah apa yang harus saya ambil. Sudah cukupkan ini semua? Atau saya harus berusaha lebih keras lagi? Should I stay? Or should I leave?

Sudah sejak lama saya ingin pergi. Lama sekali. Sejak saya berkeras untuk mengerjakan skripsi. Perasaan itu semakin besar kala saya mencoba untuk kabur selama 3 minggu. Dengan egoisnya saya meninggalkan semuanya di belakang saya. Hanya peduli pada diri saya dan meminta semua orang untuk mengerti. Hanya ada saya, saya dan saya. Hahaha...see how pathetic I am?

Sayangnya, meskipun sangat ingin, saya harus menghapus keegoisan saya. Dan saya pun kembali. Untuk sesuatu yang saya tahu jauh di dalam hati saya bahwa hal itu semu. Namun saya tetap memupuk mimpi itu, berharap suatu saat itu akan menjadi kenyataan. Sambil juga menyiram pohon harapan di hati beberapa orang.

Dan sekarang, apa yang saya lakukan? Mimpi masihlah mimpi. Saya masih juga menyiram harapan, tanpa pohon harapan itu membesar sedikitpun. Dan kaki saya tetap terantai dengan ruang gerak yang tak juga membesar.

Betapapun saya ingin egois, saya nggak bisa. Saya nggak mampu. Dan kemudian saya membela diri dengan memandang penuh rasa iri dan perasaan tidak aman kepada orang lain. Menanyakan ratusan pertanyaan kepada diri sendiri yang membuat saya ingin tenggelam saja di ujung bumi, “Kenapa aku tidak seperti itu? Apa yang salah di diriku? Kapan aku bisa seperti itu? Apakah aku cukup baik? Bisakah aku bertahan?” It kills me.

Oh rite, om Bob pernah bilang bahwa blog saya ini kok isinya whining melulu. Kayaknya dia benar...

Balada Sahabat Gadungan

Orang macam apa yang melupakan ulang tahun sahabatnya sendiri?? Gosh...sudah berteman sekian lama, sok pede mengusung embel-embel sahabat, tapi nyatanya ulang tahun “sahabat” itu sendiri dilupakan. Masih pantaskah ia berkoar-koar mengenai status sahabat?

Well, sebagian orang mungkin tidak menganggap ulang tahun sebagai sesuatu yang krusial. Ulang tahun bukanlah sesuatu hal yang penting dirayakan. Alasannya, ngapain sih merayakan umur yang bertambah? Ngapain sih merayakan semakin dekatnya manusia dengan ajal? Ya maap, menurut saya hanya orang dengan pemikiran sempit yang mengungkapkan hal itu. Kalau mau mati ya mati aja. Toh, nggak ada yang tahu kapan kita mati kan.

Kalau buat saya, merayakan ultah lebih pada esensi bersyukur pada yang di Atas. Bahwa kita sudah dikasih umur sampai saat ini. Bukankah itu kemurahanNya, masak nggak disyukuri sih? Untuk itu, merayakannya bersama teman-teman dan orang terdekat nggak ada salahnya kok.

Di hari bahagia macam ultah itu, sedih nggak sih kalau orang yang kamu anggap dekat ternyata malah nggak mengingat sama sekali hari ulang tahunmu? Padahal mereka ngakunya dekat, ngakunya sahabat, suka duka bersama. Buktinya? Nonsense! Bisa dibilang saya cukup benci dengan tipe orang kayak gini. Bibirnya doang yang monyong-monyong menyuarakan segala hal muluk itu, tapi dari segi perbuatan, NOL BESAR!

Ahiks...

Lalu, enaknya diapain ya orang yang kayak gini ini? Dibakar? Disate? Atau dijadiin santapan piranha? Huhuhu...jangan dong, daging saya nggak enak kok dimakan. Keras, sekeras kepala saya!

Ehm...iya, sebenarnya orang yang nggak tahu diri itu saya sendiri...

Gimana nggak, masak saya bisa-bisanya nggak ingat sama ulang tahun Said. SAYA, yang selalu ngaku-ngaku bersahabat dengan Said dari jaman kita pertama kali berjabatan tangan di orientasi FISIP Unair. SAYA, yang ngakunya mengerti Said luar dan dalam. SAYA, yang selalu bilang bahwa saya sayang dan peduli sama makhluk yang sedang nyelesaiin skripsi itu. Tapi nyatanya, ultahnya saja SAYA lupa. Saya memang makhluk nggak berguna... Sudah, kamu nyebur ke pantai Kenjeran aja Put!

Huaaaa…..Said, maafkan daku yang telah melupakan ulang tahunmu!!!

What can I do to make it up to you??

Friday, April 13, 2007

Kontroversi Wikipedia, Validitas dan Keakuratannya Dipertanyakan

Jangan mengaku netter sejati kalau Anda tidak pernah mengunjungi situs Wikipedia. Jika Anda benar-benar penghobi browsing, tentunya Anda akan sangat sering menemukan Wikipedia di sela-sela pencarian Anda.

Bagi yang tidak tahu, Wikipedia adalah situs dimana Anda bisa menemukan penjelasan tentang banyak hal. Mulai dari jenis-jenis cacing yang ada di dunia sampai dengan sejarah perang dunia kedua atau bahkan perang padri di Indonesia. Sebagai gambaran, sampai 16 April 2007 lalu artikel yang ada di Wikipedia tercatat sebanyak 7.062.893 artikel yang ditulis dalam 251 bahasa.

Di Indonesia sendiri tercatat ada 57.027 artikel yang membuat negara tercinta ini menduduki peringkat keduapuluh dua artikel terbanyak. Peringkat ini juga merupakan yang paling tinggi di antara negara berkembang lainnya, mengalahkan Thailand, Vietnam, Malaysia bahkan Korea.

Artikel-artikel yang ada di Wikipedia membahas masing-masing topik dengan sangat detil, mulai arti, sejarah cara penggunaan dan semua yang berhubungan dengan topik yang Anda cari. Contohnya, jika Anda ingin mengetahui segala sesuatu tentang internet, ketikkan saja kata kunci tersebut di search box dan Anda akan mendapatkan hasil sebagai berikut :

(mahap, kok gak bisa upload gambar yaa?? anyone can help?)

See...cukup lengkap dan meyakinkan bukan? Hanya dengan mengetik satu kata, Anda mendapatkan banyak sekali informasi mengenai internet. Kelengkapan informasi inilah yang membuat banyak orang mengklaim Wikipedia sebagai sebuah ensiklopedia online yang memuat berjuta informasi. Sayangnya, tidak semua orang sepakat dengan penamaan ini. Cukup banyak pula yang membantah pernyataan tersebut dan mengatakan bahwa Wikipedia tidak lebih dari sekedar kumpulan argumen belaka.

Kontroversi ini tidak lain karena sifat Wikipedia yang terbuka bagi siapa saja Bukan hanya terbuka untuk dilihat, artikel-artikel yang terdapat di Wikipedia disusun agar dapat dibaca dan diedit (atau bahkan dihapus) oleh siapa saja. Seseorang yang bukan ahli di bidangnya pun bisa mendaftar dan berpura-pura menjadi seorang professor yang kemudian menulis artikel yang belum terbukti kebenarannya.

Seperti yang terjadi awal tahun lalu di Amerika. Seorang kontributor yang mengaku dirinya seorang professor ternyata terbukti hanyalah seorang pemuda berusia 24 tahun yang bahkan TIDAK LULUS kuliah. Hal ini tentu membuat artikel-artikel yang pernah ditulisnya patut dipertanyakan kembali.

Dua tahun yang lalu, validitas Wikipedia juga sempat tercoreng saat John Seigenthaler, seorang jurnalis, memprotes keras salah satu artikel di Wikipedia yang menyebutkan bahwa dirinya terlibat dalam pembunuhan mantan presiden Amerika, John F. Kennedy.

Tentunya hal ini menimbulkan pertanyaan di benak kita, apakah Wikipedia tidak pernah mengecek semua artikel yang ada di websitenya? Jangan salah, Wikipedia telah mendatangkan kontributor-kontributor ahli di bidangnya masing-masing untuk mereview artikel-artikel yang ada. Mereka berdebat dan mematahkan artikel-artikel yang masuk untuk membuat artikel yang berbobot dan memiliki validitas tinggi.

Namun sayangnya, jumlah pengguna Wikipedia yang membludak menghasilkan ratusan ribu perubahan dibuat setiap harinya pada artikel-artikel Wikipedia di seluruh dunia. Meskipun Wikipedia memiliki banyak moderator website dan editor terpercaya sekalipun, butuh waktu yang cukup banyak untuk mereview semua artikel yang masuk. Dan, bukan tidak mungkin pula ada artikel yang terlewatkan oleh Wikipedia.

Sebenarnya, kemungkinan ketidakakuratan artikel ini disadari sepenuhnya oleh Wikipedia. Lihat saja halaman General Disclaimer yang bertuliskan "WIKIPEDIA TIDAK MEMBERIKAN JAMINAN VALIDITAS" dan juga "HARAP DISADARI BAHWA SEMUA INFORMASI YANG ANDA TEMUKAN DI WIKIPEDIA MUNGKIN TIDAK AKURAT, MENYESATKAN, BERBAHAYA, ATAU ILEGAL." Ini berarti, kita tidak akan pernah bisa menjamin keakuratan Wikipedia. Seberapapun meyakinkannya artikel itu. Seberapapun nampak rumitnya artikel itu.

Selain tidak memberikan jaminan keakuratan, Wikipedia juga tidak dapat menjamin jati diri asli penulis semua artikel-artikel tersebut. Dalam kasus John Seigenthaler yang cukup berang karena nama baiknya dicemarkan, Wikipedia juga tidak bisa memberikan siapa yang telah menulis artikel tersebut.

Kepercayaan banyak orang akan Wikipedia membuat beberapa akademisi pendidikan kebakaran jenggot. Saat seorang dosen Middlebury College sedang memeriksa ujian akhir, ia menyadari bahwa beberapa mahasiswanya memberikan jawaban yang nyaris identik yang ternyata salah. Setelah ditelusuri, mereka sama-sama mendapatkan informasi dari sumber yang sama, Wikipedia. (The truth is, skripsi saya juga banyak dihiasi oleh artikel dari Wikipedia loh, hihihi... ;)) Ssstt...jangan bilang-bilang dosen saya ya...)

Akademisi pendidikan pun cukup terganggu dengan ketidakakuratan Wikipedia. Saat sedang memeriksa ujian akhir, seorang dosen Middlebury College menyadari bahwa beberapa mahasiswanya memberikan jawaban yang nyaris identik yang ternyata salah. Setelah ditelusuri, mereka sama-sama mendapatkan informasi dari sumber yang sama. Siapa lagi kalau bukan Wikipedia. (The truth is, skripsi saya juga banyak dihiasi oleh artikel dari Wikipedia loh, hihihi... ;)) Ssstt...jangan bilang-bilang dosen saya ya...)

Kejadian ini membuat Middlebury College melarang mahasiswa-mahasiswanya untuk mempergunakan Wikipedia sebagai sumber dalam makalah-makalah mereka. Tindakan Middlebury College ini tak lama kemudian disosialisasikan pula oleh beberapa institusi pendidikan lainnya, termasuk UCLA dan University of Pennsylvania.

Jadi, masih percaya dengan Wikipedia? Keputusan akhir sih memang ada di tangan Anda. Tidak bisa dipungkiri memang, Wikipedia adalah anugerah besar dalam dunia maya. Namun, ada baiknya Anda mempertimbangkan lagi untuk mempercayai begitu saja apa yang tertulis di dalamnya. Ada baiknya Anda melakukan cek dan ricek dari sumber-sumber lain yang lebih terpercaya. (pOe)


Note : Artikel ini dibuat untuk mengisi D~NET DNEWS edisi Mei 2007

Monday, April 09, 2007

Hari Yang Indah

Hari yang indah. Dunia yang indah. Hidup yang indah. Batu kerikil pun menjadi indah di hari ini. Kenapa? Karena ini adalah hari Paskah. Hari kemenangan. Hari yang patut dikenang. Hari ini adalah hari dimana Yesus bangkit dari wafatnya disalib. Salib yang ia pikul demi menyelamatkan semua orang. Hari ini adalah hari ia mengalahkan iblis, kegelapan dan kematian. Hari ini adalah hari dimana kita akan bersama dengannya di akhir hari nanti. Hidup abadi.

Hari ini adalah hari di mana kita merayakan kemenangan. Hari ini adalah hari dimana kita patut bernyanyi bergembira dan mengucap syukur.

Maka, hari ini saya pekikkan ke seluruh dunia, SELAMAT PASKAH! DAMAI TUHAN YESUS BESERTAMU! Amin.

Dia Lupa Hal Yang Paling Penting…

Naksir sodara dari teman baikmu. Have you ever do that? Saya sih nggak pernah. Tapi, kebetulan saya pernah menjadi objek dari seseorang yang melakukannya. Alkisah, kakak saya yang kedua mempunyai seorang teman baik yang selalu setia datang ke rumah saban kakak saya pulang ke kampung kami, Malang. Saking seringnya mereka bersama, saban ia datang ke rumah kami sekeluarga selalu mengatakan, "Mas, pasangan homomu dateng tuh." (no offense buat kaum gay ya, ini sama sekali nggak bermaksud menyinggung kok.)

Ostosmastis, temen kakak saya ini sudah mengenal saya, eemm...kayaknya, sejak saya duduk di bangku SMP. Huehehehe...saya masih cupu banget tuh jaman segitu...Sayangnya, si teman ini mungkin merasa ditinggalkan sejak kakak saya jarang sekali pulang ke Malang karena kegiatannya yang katanya "super sibuk". Just between us ya, saya sih nggak sebegitu percaya bahwa dia segitu sibuknya...

Back to topic, si teman ini kadang kala juga suka menghubungi saya, meskipun hanya lewat sms. Yang akhir-akhir ini menjadi cukup intens dengan isi sms yang cukup singkat dan nggak penting sama sekali. Kalau dibalas sama singkatnya, kata-kata berbau narsis langsung muncul yang kadang membuat saya kemudian mengerutkan dahi dan langsung menaruh HP, malas untuk melanjutkan chit-chat via teks itu.

Dan betapa terkejutnya saya ketika suatu hari ia kembali mengirim sms yang pada ujungnya berkata bahwa ia kangen, bahkan suka sama saya. Cuman, saya ini kan adik dari temennya, jadi gimana dong?

So?

Hihihi…saya kepengin ketawa membaca smsnya. Terus kenapa kalau saya adik dari temennya? Menurut saya, itu bukan hal yang tabu untuk dilakukan. Toh saya juga lagi kosong, si teman ini juga lagi kosong. Bukan sesuatu yang pantas dikhawatirkan kalau seseorang itu menaksir saudara dari temennya. Sah-sah aja. Pantas-pantas aja.

Jadi, kalau ada yang pernah mengalami hal ini, nggak usah pikir dua kali deh. Justru karena sudah deket dengan kakaknya, sebenarnya hal itu menjadi lebih mudah kan? Lebih gampang pedekatenya, sang saudara juga lebih mantap karena lebih mengenal diri Anda.

Dalam kasus saya, si teman ini dengan gobloknya malah melupakan sesuatu yang sangat penting. Apakah saya juga menyukainya? Bukankah itu hal yang paling penting saat ingin menjalin hubungan?

Sayangnya, saya terpaksa membuatnya patah hati. Alasan pertama, I’m not in love with him, not even for a tiny little bit. Kedua, saya sedang jatuh cinta berat dengan kesendirian saya. Dan terus terang, berat bagi saya untuk meninggalkan cinta yang sudah bersemi ini, apalagi demi sesuatu yang saya nggak suka...

Jadi, so long my brother’s friend. I’m not meant to you, at least not now. Dan bagi semua pencinta saudara teman, jangan melupakan hal yang paling penting jika ingin menjalin sebuah hubungan khusus. Bukan status atau apapun juga yang patut kamu pertimbangkan. Dahulukan perasaan! Apakah ia menyukaimu ataukah tidak...

Me? I’m A Happy Loner! 

Kenangan tidak selamanya menyenangkan. It sucks when it sucks. Memories brings back pain. Well, nggak selamanya sih. Tapi, dalam hal ini memang begitulah adanya. Semakin mengenangnya, semakin bangsat citra seseorang itu di benak saya.

Beberapa waktu terakhir, dalam jangka kevakuman mengisi lembaran maya jurnal hidup, saya bertemu banyak teman-teman lama. Alhasil, banyak pula yang bertanya kabar terbaru saya. Menanyakan kabar pacar saya. Well, mantan tepatnya.

Klise, ketika mengungkapkan keadaan terkini saya, pertanyaan tambahan pun tak dapat ditahan meluncur dari bibir mereka, "Loh kenapa?" bla, bla, bla... Bottom line, it sucks.

Anehnya, semakin sering membicarakan hal tersebut, saya makin yakin bahwa bangsat itu memang benar-benar bastard sejati. Hehehehe...dimana lagi saya bisa ngatain orang dengan bebas kalau nggak di blog sendiri? But hey, dia benar-benar telah menusuk hati saya dan menuangkan cuka di dalamnya!

Think about it, pacar macam apa yang membiarkan seseorang yang katanya ia sayangi pulang sendirian malam-malam naik bis di kota metropolitan seperti Jakarta, yang sama sekali tidak dikenal? Orang macam apa yang lebih memilih untuk menelepon daripada mengorbankan sedikit tenaga untuk datang ke rumah sodara pacarnya? Emang jauh sih, tapi sang pacar juga udah datang jauh-jauh dari Surabaya ke Jakarta kok.

Orang macam apa yang membuat sang pacar menunggu tiga jam, padahal ia sudah mengalah untuk mendatanginya demi membicarakan masalah mereka? Padahal hari itu hari Sabtu, dimana ia libur kerja, tapi malah dengan sok rajinnya nglembur. Padahal nggak ada yang nyuruh dia nglembur. Padahal sang pacar sudah menunggu. Padahal ia tahu sang pacar harus pulang cepat (karena ia pasti nggak mungkin mau nganterin kan) mengingat angkot kembali ke rumah sang saudara jarang-jarang jika malam menjelang.

Jadi, wajar kan kalau saya merasa sakit hati dengan semua perlakuan itu? Wajar kan kalau saya merasa saya sama sekali nggak diperjuangkan? Wajar kan kalau saya jadi misuh-misuh di sini? Hehehehe... *pembelaan mode on*

Saya benar-benar nggak habis pikir, bagaimana mungkin seseorang melakukan hal seperti itu kepada seseorang yang disayanginya. Satu hal yang kemudian muncul di pikiran saya adalah, dia nggak pernah bener-bener sayang sama saya. And thinking about that possibility, made me sad even more.

Yaaahh...lagi-lagi saya nggak disayangi. Lagi-lagi saya nggak diperjuangkan. Sebegitu nggak layakkah saya untuk sedikit saja mendapatkan perjuangan dari seseorang yang katanya menyayangi saya? Wih, hati ini bener-bener sakit mendapatkan perlakuan seperti itu. Semakin sakit jika mengingat bahwa selama ini jika saya ingat-ingat memang belum ada orang seperti itu hadir di hidup saya.

Tapi, ah itu hanya pemikiran cemen. Iya, cemen. Saya mulai menyadari ini ketika saya mendengarkan kisah-kisah sedih lainnya tentang cinta yang mengisi lembaran hidup beberapa teman saya.

Beberapa waktu yang lalu saya mengadakan temu kangen dan juga farewell party salah seorang sahabat yang hendak menjemput impian ke ibukota. Nah di situlah satu demi satu kisah sedih dari beberapa teman mulai bergulir. Kisah-kisah yang tingkat menyedihkannya udah sampai level master. Unbelievable lah pokoknya, kayak skrip sinetron aja. Saya jadi bersyukur, untung bukan saya yang mengalaminya. Maap ya kawan-kawan, bukannya saya mau bersyukur atas penderitaan kalian, tapi memberikan inspirasi bagi orang lain dengan kisah kalian itu berpahala juga kan? Hohohoho...

Jadi, ya saya sekarang ada di sini. Menulis di blog ini. Menyatakan bahwa saya nggak lagi mendendam dengan apa yang sudah dilakukan mantan pacar saya. Saya nggak lagi sakit hati mengingatnya. Meskipun tetap harus saya akui bahwa dia adalah seorang bangsat sejati anak mami yang sama sekali nggak pantas diperjuangkan (ehehehe...masih keliatan marah yaaa?? Nggak kok, beneran, udah nggak marah! Suweerr ewer-ewer!! J).

Hihihihi...

Yah, sekarang sih saya cukup mencintai kehidupan saya. Cukup loner sih, but I love it. Terlebih saya sangat menikmati pekerjaan dan tantangan-tantangan yang cukup menyibukkan saya setiap harinya. Nggak ada waktu menikmati raungan kesedihan tentang tidak memiliki seorang pendamping. Nggak ada waktu menikmati desahan lara hati tentang kesendirian. Yah, saya memang sendiri, so what? Saya cukup punya banyak cara untuk menikmati (and I mean it, really enjoy it!) kesendirian saya. Apa gunanya home theater di kamar mas doni? Apa guna teman-teman yang masih setia diajak cangkruk? Apa guna saudara-saudara yang masih bisa diajak jalan-jalan ke manapun saya ingin pergi? Apa gunanya orang tua yang masih bisa diajak tukar pikiran? Apa gunanya Eyang yang masih setia ngelus-elus dahi nonong saya saban saya pulang kampung? Apa guna Atlas dan dua kolam air dan satu jacuzzinya yang siap menanti saya nyebur dan berkecipak-kecipak di sana? Apa guna kasur saya yang empuk? Apa guna cowok-cowok yang bisa dimanfaatkan untuk mbayarin saya nonton? Huekekekeke...

Bold, italic and underline this, SENDIRI ITU MENYENANGKAN!! Period