Baru beberapa hari yang lalu aku menghabiskan waktu bersama dengan seorang kawan. Kawan baik yang telah lama tak bersua. Rindu aku padanya. Itulah mengapa hari itu aku ngotot untuk stay di Bandung, hanya untuk bertukar ribuan kata dengannya. Sekali lagi, aku mendengar celotehnya yang terkadang ngawur, namun penuh rasa sayang padaku. Ah, aku memang haus akan orang-orang yang menyayangiku. Rasa haus yang baru terpuaskan saat aku bertemu dengan orang-orang macamnya, serta sahabat-sahabatku yang lain. Ya, karena mereka menyayangiku. Sama seperti aku menyayangi mereka. They are one of God's best gift in my life.
Lebih dari seperempat hari kami habiskan bersama. Dalam keadaan separuh basah tertimpa hujan, kami nongkrong tak tahu diri di salah satu sudut Ngopi Doeloe. Berbekal secangkir hot cappucinno, secangkir hot chocolate, empat kaleng Heineken, sebatang coklat dan sebungkus LA Menthol, kami memulai perbincangan. Ah, kami banyak berubah dari terakhir kali kami menggelar acara serupa. Aku masih tidak habis pikir bagaimana ia bisa menjadi seorang penggila alkohol. Sama seperti ia terkagum-kagum bagaimana aku bisa sedemikian berubah dari seorang yang tahun lalu memiliki jiwa materialistis menjadi seorang yang yaaahh…less soul materialistic lah. Hehehe…
Kali itu pula kami lagi-lagi saling membuka tabir rahasia masing-masing. Yang hanya diketahui segelintir orang dari kehidupan kami masing-masing. Aku berbagi padanya perasaanku terdalam, yang tak pernah diketahui orang lain. Bahkan tidak kedua orang tua atau kakak-kakakku sekalipun. Kegetiran yang aku sembunyikan jauh di dalam lubuk hati terdalam. Dan ia pun berlaku serupa. Aku memandang keluar, melihat rintik hujan yang berserakan di bumi. Sudah lama aku tak berbagi perasaan ini. Sudah lama aku memendamnya sendirian. Sampai aku lupa betapa kasarnya ia mencaruk hatiku. Dan kini, membicarakannya menarik kembali plester yang membungkusnya. Membuatku melihat nganga luka itu. Yang tak pernah aku jahit dengan sempurna. Yang aku tinggalkan hanya demi ketakutanku semata. Picik. Ya, aku memang picik. Tapi sudahlah, aku masih ingin menghindarinya. Membicarakannya mungkin akan mengingatkanku bahwa aku memilikinya. Tapi aku emoh menghadapinya. Paling tidak untuk saat ini.
Ah kawan, terima kasih atas perbincangan kita malam itu. Perbincangan yang tak pernah lepas dari topik seputar kehidupan, keyakinan dan perempuan. Aku menantikan saat-saat bertemu denganmu lagi kawanku. Nanti. Ya…nanti. Dengan kopi, bir, rokok dan tentu perbincangan kita yang lainnya.






