rss
email
twitter
facebook

Wednesday, February 25, 2009

Kopi, Bir, Rokok, dan Perbincangan

Baru beberapa hari yang lalu aku menghabiskan waktu bersama dengan seorang kawan. Kawan baik yang telah lama tak bersua. Rindu aku padanya. Itulah mengapa hari itu aku ngotot untuk stay di Bandung, hanya untuk bertukar ribuan kata dengannya. Sekali lagi, aku mendengar celotehnya yang terkadang ngawur, namun penuh rasa sayang padaku. Ah, aku memang haus akan orang-orang yang menyayangiku. Rasa haus yang baru terpuaskan saat aku bertemu dengan orang-orang macamnya, serta sahabat-sahabatku yang lain. Ya, karena mereka menyayangiku. Sama seperti aku menyayangi mereka. They are one of God's best gift in my life.

Lebih dari seperempat hari kami habiskan bersama. Dalam keadaan separuh basah tertimpa hujan, kami nongkrong tak tahu diri di salah satu sudut Ngopi Doeloe. Berbekal secangkir hot cappucinno, secangkir hot chocolate, empat kaleng Heineken, sebatang coklat dan sebungkus LA Menthol, kami memulai perbincangan. Ah, kami banyak berubah dari terakhir kali kami menggelar acara serupa. Aku masih tidak habis pikir bagaimana ia bisa menjadi seorang penggila alkohol. Sama seperti ia terkagum-kagum bagaimana aku bisa sedemikian berubah dari seorang yang tahun lalu memiliki jiwa materialistis menjadi seorang yang yaaahh…less soul materialistic lah. Hehehe…

Kali itu pula kami lagi-lagi saling membuka tabir rahasia masing-masing. Yang hanya diketahui segelintir orang dari kehidupan kami masing-masing. Aku berbagi padanya perasaanku terdalam, yang tak pernah diketahui orang lain. Bahkan tidak kedua orang tua atau kakak-kakakku sekalipun. Kegetiran yang aku sembunyikan jauh di dalam lubuk hati terdalam. Dan ia pun berlaku serupa. Aku memandang keluar, melihat rintik hujan yang berserakan di bumi. Sudah lama aku tak berbagi perasaan ini. Sudah lama aku memendamnya sendirian. Sampai aku lupa betapa kasarnya ia mencaruk hatiku. Dan kini, membicarakannya menarik kembali plester yang membungkusnya. Membuatku melihat nganga luka itu. Yang tak pernah aku jahit dengan sempurna. Yang aku tinggalkan hanya demi ketakutanku semata. Picik. Ya, aku memang picik. Tapi sudahlah, aku masih ingin menghindarinya. Membicarakannya mungkin akan mengingatkanku bahwa aku memilikinya. Tapi aku emoh menghadapinya. Paling tidak untuk saat ini.

Ah kawan, terima kasih atas perbincangan kita malam itu. Perbincangan yang tak pernah lepas dari topik seputar kehidupan, keyakinan dan perempuan. Aku menantikan saat-saat bertemu denganmu lagi kawanku. Nanti. Ya…nanti. Dengan kopi, bir, rokok dan tentu perbincangan kita yang lainnya.

Friday, February 20, 2009

Am I?

Dari blog Oma, dapet bocoran tentang kuis ini. Well... Diliat dulu ajah hasilnya yaa...

Your view on yourself:

Other people find you very interesting, but you are really hiding your true self. Your friends love you because you are a good listener. They'll probably still love you if you learn to be yourself with them.

The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:
You are not looking merely for a girl/boyfriend - you are looking for your life partner. Perhaps you should be more open-minded about who you spend time with. The person you are looking for might hide their charm under their exterior.

Your readiness to commit to a relationship:
You are ready to commit as soon as you meet the right person. And you believe you will pretty much know as soon as you might that person.

The seriousness of your love:
You are very serious about relationships and aren't interested in wasting time with people you don't really like. If you meet the right person, you will fall deeply and beautifully in love.

Your views on education
Education is very important in life. You want to study hard and learn as much as you can.

The right job for you:
You have plenty of dream jobs but have little chance of doing any of them if you don't focus on something in particular. You need to choose something and go for it to be happy and achieve success.

How do you view success:
You are confident that you will be successful in your chosen career and nothing will stop you from trying.

What are you most afraid of:
You are concerned about your image and the way others see you. This means that you try very hard to be accepted by other people. It's time for you to believe in who you are, not what you wear.

Who is your true self:
You are full of energy and confidence. You are unpredictable, with moods changing as quickly as an ocean. You might occasionally be calm and still, but never for long.


Kalau mau coba, klik di sini.

Monday, February 16, 2009

Asing

SENDIRI. Tercekat dalam keheningan. Hanya ditemani suara sayup sayup siaran murahan televisi malam hari. Dan detik detik pergerakan jarum jam. Serta suara listrik mengalun di lemari es besar di dapur. Aku memandang sekeliling. Tempat ini asing. Seasing rimba hatiku saat ini.

Terisak. Tak tahan air mata jebol dari bahtera perisai diri. Aku tak tahu mengapa. Mungkin karena terlalu banyak rasa yang terkumpul untuk sekedar didefinisikan dalam sebuah kalimat. Ah tidak. Sebenarnya sungguh sederhana jawaban untuk air mata itu. Kecewa. Ya, itulah borok jiwa yang saat ini sedang menghantam. Mendorong air mata itu untuk menunjukkan wujud aslinya. Lemah.

Ah, kenapa aku tidak bisa menghayati kata ayahanda tercinta. Yang sudah menjadi gatotkaca ku semenjak aku lahir. Enjoy aja. Tak jauh dari iklan rokok yang pernah dengan setia ia hisap, betul itu. Tapi juga begitu keras menohok kesadaranku. Yang terlalu serakah ingin menguasai banyak hal. Yang terlalu manusiawi hendak menggungguli sekeliling.

Kulirik sekilas perangkat wajib itu, sebuah handphone butut yang setia bertahan setelah mengalami banyak penyiksaan fisik maupun batin. Menolak ia berbunyi. Ngambek setelah tahu barusan saja aku bermain kata-kata dengan seseorang lain. Ah, bahkan ia lebih memiliki nurani timbang aku, puannya.

Marah, ya aku marah. Dendam, ya aku hendak membalas dendam. Yang sebenarnya aku tahu malah semakin mencubitku. Namun dengan bebalnya tetap saja aku lakukan. Untuk apa? Hanya demi sekedar kepuasan diri. Yang bahkan hanya sesaat. Lho, ndak pikir panjang? Lha iya. Memang. Biar, yang penting puas hari ini. Hari esok biar dipikir esok saja. Memangnya mendapat puas? Aahhh…

Asing… aku merasa asing di sini. Di tempat yang seharusnya aku rindukan.

Friday, February 06, 2009

Kusumpahin Mandul Tujuh Turunan


SLOOOOMPREEEEEETTT!!

Huwaaaaaa...

Aku kecolongan…

Tasku…

Hapeku…

Charger laptopku…

Modemku...

Dompedku…

CC ku dibobol sejeti…

Huwaaaaaa…

Kusumpahin yang nyolong mandul tujuh turunan!!!

Setelah sehari sebelumnya mengalami degradasi mental dan ledakan emosi, hari itu aku dihantam bad-luck yang bikin mentalku makin tiarap. Padahal hanya kutinggal ngubrul, dan sang bojo meleng untuk pesen minuman. Sebentar. Hanya beberapa menit. Dan tasku sudah raib.

Nggak sampai setengah jam setelah kejadian itu, CC ku sudah terpakai dengan nominal nyaris 1 juta. Terlambat sudah pemblokiranku. Hanya karena susah banget menembus CS salah satu bank swasta yang katanya paling besar. Tapi untuk menghubungi CS nya saja susahnya naudzubilah.

Dan yang paling nggak tahu diri, si pencoleng kurang ajar membelanjakan CC ku di Debenhams. Konter mahal yang malah aku sendiri nggak pernah mengunjunginya. Apalagi membelinya! Huhuhu… Kesal, kesal, kesal!!

Namun, aku masih bersyukur. Syukur laptopku sempat aku keluarkan dari tas, sehingga nggak ikut tergondol oleh si maling. Coba kalau laptopku ikut hilang (lagi), aku bisa nangis tujuh hari tujuh malem sampe seluruh cairan tubuhku mengering.

Aaaahhhh…

But, itu kejadian sudah nyaris dua minggu yang lalu sih. Sekarang aku sudah tenang. Sudah rela. Menerima semua barang-barang itu hilang. Menerima semua makian dari orangtua, saudara-saudara dan teman-teman yang mengataiku ceroboh. Emang iya sih... Ya sudahlah.

Dan yang pasti, aku semakin yakin bahwa beberapa bulan ke depan aku akan mendapatkan gantinya. Sama seperti waktu aku kehilangan laptopku di akhir 2007 lalu. Good things did happen in 2008.

So, I won’t bother anymore. Toh, aku masih bisa bernafas. Aku masih punya duid, meski nipis. Aku masih bisa pake internet, meski di kantor. Aku masih bisa pake hape, meski pulsa jadi membengkak. Aku masih bisa berlaptop ria, meski kakakku harus merelakan charger-nya kuembat. Aku percaya, GOD is thinking about everything. Jadi, saat aku kehilangan sesuatu, aku masih memiliki yang lain, dan akan segera mendapatkan pengganti yang hilang. Cheers!

Thursday, February 05, 2009

Rambut dan Imej


Emang telat sih, kejadian yang hendak aku ceritakan ini sudah terjadi lebih dari satu bulan yang lalu. But, biarinlah, daripada nggak pernah posting kan lumayan nambah satu tulisan lagi di blog sepi nan damaiku inih.

Jadi, akhir 2008 lalu, aku akhirnya berkesempatan untuk memotong rambut. Nggak tanggung-tanggung, kubabat rambutku sampai cepak. Padahal, sebelumnya rambutku lumayan panjang loh, sudah melebihi ketiak lah paling nggak. Sudah lama sebenernya aku kepengen mencepak ituh rambut. Hanya, baru sempat terlaksana ya akhir taon itu. Bukan dalam rangka menyambut diri yang baru, dalam rangka resolusi 2009. Bukan, bukan itu sama sekali. Aku bahkan tidak menganggap bahwa resolusi tahun baru itu penting. Well, lebih karena resolusi itu sudah aku buat terlebih dahulu waktu aku ulang tahun sih.

Eniwe, setelah aku mempublikasikan potongan rambutku yang baru, banyak orang yang melihatku dengan pandangan shock, kayak ada yang tiba-tiba ngobok-obok lubang idungnya tanpa bilang dulu. Well, aku sih menganggap bahwa kekagetan itu pertanda bahwa potongan rambutku bagus. Hehehehe...

Masalahnya, setelah itu aku mendapatkan perlakuan yang sama seperti saat aku masih duduk di bangku sekulah dulu. Dianggep cowok! Ckckck... Herman jaya deh ah! What is wrong with short hair cut? And what is wrong with me? Emangnya aku hanya nampak sisi cewek kalau aku berambut panjang? Ciiih! *&^%$#!!!

Walhasil, setiap pagi aku merasa harus memulas make up tambahan. Seperti eye-liner, blush on, eye shadow dan maskara. Sewaktu berambut panjang, aku juga memakai make-up itu sih. Standar lah. Tapi nggak setiap hari. Capek bow setiap pagi meluangkan waktu 15 menit buat dandan. Mending ngelanjutin bobo. Tapi, hihihi…rutinitas itu hanya bertahan selama 3 minggu sajah. Rekor loh, biasanya rutinitas baruku cuman bertahan selama 2 minggu. Hehehe…

Sekarang, aku cukup hanya mengulaskan hand-body, bedak, pensil alis, sedikit blush on, dan tentu saja lipglos. Tanpa tambahan lain. Tanpa harus mengeblow rambut. Berambut pendek malah bikin aku rajin ngeblow rambut daripada dulu sewaktu rambut panjang. Aneh ya?

Pesan moral dari kisah potong rambutku : nggak perlu repot-repot berpikir tentang apa pendapat orang lain tentang penampilanmu. Just be yourself, dan temukan kenyamanan bersama dengan diri sendiri. Mau dibilang cowok kek, lesbi kek, gak punya sisi cewek kek, emang gw pikirin!! This is me, this is who I am. Like it or not, it’s your problem, not mine.

Oh, dan satu hal lagi. Semua orang selalu bilang bahwa potonganku mirip BCL. Enak ajaaaa!!! Aku potong nggak niru siapa-siapa! Waktu dateng ke salonnya pun aku hanya bilang, "Pak, potong. Cepak!" Dan beliau langsung memotong rambutku. Sampai jadilah potongan rambut yang sekarang ini. So, this is my own style!!