Sebentar lagi aku akan berusia 24 tahun. There is nothing special about that age. Namun, banyak sekali yang telah berubah dari terakhir kali aku berulang tahun, which is tahun lalu. Petualanganku ke Jakarta, kepindahanku ke perusahaan baru, hubunganku dengan seorang lelaki masa depan, dan banyak lagi perubahan-perubahan yang terjadi membuat usia 23 menjadi sebuah usia berharga yang mengajariku banyak hal. Berikut adalah beberapa major event yang memberiku banyak pengalaman dan pembelajaran :
• Oktober – November 2007 : penunjukanku sebagai Project Manager DOMO Competition
Disini aku belajar untuk mengemban tanggung jawab sebuah event yang sangat minim support. Membuat aku memaki-maki tak karuan, menggigit bibir saking kesalnya dan menahan amarah yang siap meletup kapan saja. Namun, aku juga belajar untuk bersabar dan menghadapi keadaan dengan kepala dingin. Aku belajar untuk mengambil keputusan besar dan berbagi tanggung jawab dengan orang lain. Terima kasih untuk Ibu Caroline Gondokusumo yang telah sedemikian mempercayai dan memberikan kesempatan itu padaku. Di event ini pula aku belajar untuk ikhlas saat laptop kesayanganku yang kubeli dengan keringat dan darah dicuri orang. Aku belajar memaafkan saat seseorang yang teledor dan memberikan kesempatan laptopku untuk dicuri itu bahkan tidak meminta maaf padaku. Hhh…
• Desember 2007 – April 2008 : mutasi ke Jakarta dan berbagi kamar
Aku merengkuh mimpiku untuk berpetualang di Jakarta, lewat mutasi yang diberikan oleh kantor lamaku. Saat ini terjadi, aku menyadari bahwa apapun yang aku inginkan, eventually pasti akan terjadi. Aku mengambil pelajaran bahwa semua itu tidak terjadi secara instan. Namun, dengan kesabaran dan usaha yang konstan, apapun yang aku inginkan PASTI akan menjadi kenyataan. Seperti apapun hidup membolak-balikkannya.
Di sini juga aku belajar untuk berbagi dan berempati. Aku, yang memiliki kadar egois di atas rata-rata (kalau diibaratkan tes IQ, pastlah aku sudah Egois JENIUS) ini harus berbagi kamar dengan seorang yang juga nggak kalah egoisnya, si Tante. Oh em ji, aku benar-benar belajar menahan diri saat itu. Kecuekan dan ketidaksensitifanku akan berbuah omelan, sindiran, bahkan makian. Ada saatnya aku seperti akan meledak, ada saatnya aku berkompromi dan menerima bahwa aku memang harus mengalah, dan ada saatnya pula kami saling memaki dengan berapi-api. Tapi, saat-saat bersama Tante menyenangkan juga kok kalau kita berdua sedang sama-sama terjangkit penyakit kemalasan level 1000. Ampun deh tante... Hahahahaha…
• April 2008 – present : kantor baru
Berpindah ke kantor yang baru, aku belajar untuk meyakini pilihan-pilihan yang aku buat dan menjalani konsekuensi dari pilihan itu. Aku belajar untuk tidak menengok ke belakang dan mengandai-andaikan keadaan yang berbeda. Aku hanya harus menjalani apa yang terpapar di depanku. Di sini pula aku mendapati kenyataan bahwa teman sekantor dapat menjadi teman dan sahabat yang baik. Meski untuk itu harus dengan perantaraan batang putih sembilan senti.
Tempat inilah yang menguji kreatifitas dan kemampuanku meraba-raba dalam gelap. Kantor ini juga lah yang membuat aku memahami arti “Waiting In Vain” dengan sepenuh hati. Aku pun menyadari bahwa demotivasi tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Dan aku pun sedang berusaha untuk mengatasi permasalahan itu dengan jantan, tanpa berlari, tanpa bersembunyi.
• April 2008 – present : lelaki masa depan
Pertemuanku dengan lelaki masa depan membuat aku berdecak-decak kagum kepada hidup. Betapa hebatnya hidup mempertemukanku dengan lelaki itu di saat yang tidak pernah kuduga, di saat aku sedang menikmati hidup masa kiniku. Bersama dengan lelaki ini, aku berusaha sangat keras untuk berkompromi dengan ambisi dan egoku. Aku belajar untuk lebih terbuka. Aku belajar untuk menyayangi diriku sendiri. Aku belajar untuk MENCINTAI. Aku belajar untuk DICINTAI. Aku berjuang dengannya.
Aku pun belajar banyak hal lain selama satu tahun ini. Tentang persabatan yang tak kunjung lekang dimakan ruang dan waktu. Tentang darah yang memang lebih kental dibanding apapun. Tentang jalan hidup yang tak dapat ditebak. Tentang kehilangan dan keikhlasan. Tentang tantangan dan perjuangan.
Aku sadar, sesadar-sadarnya, bahwa yang empunya hidup telah memberikan begitu banyak anugerah dan karunia tak terhingga untukku. Aku tidak harus menjlentrehkan karunia seperti apa yang telah kudapatkan kan? Fakta bahwa aku masih bernapas, memiliki organ tubuh yang lengkap, hidup berkecukupan saja sudah menjadi bukti otentik, apalagi jika aku harus mengkajinya dengan detail kehidupanku.
But, dengan semua anugerah itu, apa coba yang aku lakukan? I keep on complaining. I keep on whining. I keep on grumbling. Do you see how much unthankful I am? And to be honest, when I realized how unthankful I am, I began to hate myself. Which is not solving the problem. Aku membenci diriku yang begitu lemah, begitu tak tahan banting, begitu gampang mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Aku ingin menjadi lebih kuat, aku ingin menjadi lebih berarti, aku ingin melakukan sesuatu, aku ingin menjadi sesuatu.
Dan inilah yang pada titik ini sedang kuperjuangkan. Aku sedang berusaha untuk mengembalikan motivasi diriku sendiri. Aku sedang berusaha untuk memperkuat niat, karena dengan niat yang kokoh, tantangan seperti apapun pasti dapat diatasi. I know it’s hard. Tapi, jika dulu aku berhasil meniati untuk mengerjakan skripsi di tengah-tengah pestaporaku menjadi seorang pekerja, tentu aku bisa melewati yang satu ini.
Maka, aku lantas membuat beberapa catatan TO DO LIST sebagai pegangan perjalanan satu tahun mendatang kehidupanku.
1. Mencoba sedikitnya 2 aplikasi scholarship on Gender Studies or Communication Management. Masalah keberhasilan sih nomor 2, yang penting adalah usaha maksimal dulu.
2. Memperbanyak membaca. Menghabiskan gender studies 2 jilid yang pernah aku beli tapi nggak pernah kelar kubaca. Menghabiskan Sejarah Tuhan dan buku yang dipinjamkan pak Sevri. Menghabiskan buku-buku yang tidak pernah kukembalikan ke si empunya, Ko Ronny. Hehehehe... Aku juga harus memperbanyak literature genderku, baik dari browsing maupun buku-buku literature gender lainnya.
3. Melakukan sesuatu yang berguna bagi nusa dan bangsa. Huahahaha…ngaco bahasanya. Yah, misalnya mengorganisir pengumpulan buku pelajaran untuk sekolah Sekarnadi di Jember.
4. Menabung! Segera mentransfer jumlah yang telah disepakati ke account baru yang tanpa ATM dan tidak mengutak-atiknya. Means, aku harus menyesuaikan gaya hidupku dengan gaji yang tersisa.
5. Menahan diri untuk tidak terlalu banyak mengeluh. Kurangi menarik nafas panjang dan kurangi perbendaharaan kata “mengaduh”.
6. Mengurangi tingkat keegoisan dari JENIUS menjadi di atas rata-rata. Mau mendengarkan orang lain dan tidak memaksakan kehendak seenak udel sendiri.
7. Meningkatkan tanggung jawab terhadap pekerjaan. Meski dengan minimum supervisi, aku harus bisa menetapkan jadwal kerjaku dan menepatinya. Aku juga harus memberikan nilai tambah terhadap setiap pekerjaan yang kulakukan. Sekecil apapun itu.
8. Meningkatkan tingkat kenarsisan diri, and mean it. Tidak hanya untuk menyembunyikan rasa rendah diri. Tidak ada lagi cerita membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Tidak ada lagi masa lalu yang membayangi, baik masa laluku ataupun orang lain. I’m georgeous. I’m capable. I’m great. Thank you.
9. Mengurangi batang sembilan sentiku. Aku tidak akan naïf lagi untuk sekonyong-konyong menghilangkannya dari hidupku. Last time I said that, the next morning I bought the same pack I used to. Menguranginya secara gradually might work.
10. Berhenti berlari. Aku harus mulai untuk menghadapi semua permasalahanku tanpa berlari, tanpa bersembunyi, tanpa menunda.
11. Lebih perhatian terhadap orang lain, baik kolega, teman, sahabat dan pastinya saudara. Mengunjungi mbak Tine, bude Danto, mas Ardi, dll. Lebih sering menelepon Asep, Je, Yono, dll.
12. Meningkatkan frekuensi menelepon ke rumah, baik mama, papa atau eyang. Sekedar menanyakan kabar, menjadi tempat curhat, ataupun membantu apapun yang bisa dibantu. Lebih sering bersosialisasi dengan mas Antok dan mas Rio. They are my nucleus family. I love them, no matter what. And they love me, no matter what.
13. Lebih sering berkomunikasi dengan si empunya dunia. Mengurangi mementingkan lelaki masa depan dan teman yang mengalahkan waktu bertandang ke rumahNYA.
Wah, banyak juga ya ternyata TO DO LIST selama aku berusia 24 tahun. Ah, tapi aku bisa kok (mulai mengaplikasikan TDL no 8, hehehehe…). Benar loh, dengan percaya diri dan positive thinking, kita bisa mencapai semua yang kita inginkan. Seperti yang aku pelajari di usia 23 tahun, bahwa semua yang kita ingin dan harapkan pasti akan berwujud kenyataan. Kita hanya harus menyadari bahwa butuh proses untuk mencapai hasil itu, yang diiringi dengan kerja keras dan kesabaran. Easier said than done. But eventually, we will reach that stage. Eh, enak aja ya aku ngomong, jangan-jangan semua orang di usia 23 sudah menyadari hal itu, aku aja yang terlambat. Yah, better late than never kan? *ngeles*
Waaaaww...baru saja lelaki masa depan menelepon. Sudah pukul 00.08 ternyata. Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri! Semoga usia 24 bisa memberiku banyak pelajaran hidup. Semoga 13 TDL di atas dapat kujalankan. Terima kasih Tuhan, atas segalanya.
Jakarta, 22 Oktober 2008
Kamar Kos, 00.11






