rss
email
twitter
facebook

Wednesday, October 22, 2008

Catatan Perjalanan 23 Tahun

Sebentar lagi aku akan berusia 24 tahun. There is nothing special about that age. Namun, banyak sekali yang telah berubah dari terakhir kali aku berulang tahun, which is tahun lalu. Petualanganku ke Jakarta, kepindahanku ke perusahaan baru, hubunganku dengan seorang lelaki masa depan, dan banyak lagi perubahan-perubahan yang terjadi membuat usia 23 menjadi sebuah usia berharga yang mengajariku banyak hal. Berikut adalah beberapa major event yang memberiku banyak pengalaman dan pembelajaran :

• Oktober – November 2007 : penunjukanku sebagai Project Manager DOMO Competition
Disini aku belajar untuk mengemban tanggung jawab sebuah event yang sangat minim support. Membuat aku memaki-maki tak karuan, menggigit bibir saking kesalnya dan menahan amarah yang siap meletup kapan saja. Namun, aku juga belajar untuk bersabar dan menghadapi keadaan dengan kepala dingin. Aku belajar untuk mengambil keputusan besar dan berbagi tanggung jawab dengan orang lain. Terima kasih untuk Ibu Caroline Gondokusumo yang telah sedemikian mempercayai dan memberikan kesempatan itu padaku. Di event ini pula aku belajar untuk ikhlas saat laptop kesayanganku yang kubeli dengan keringat dan darah dicuri orang. Aku belajar memaafkan saat seseorang yang teledor dan memberikan kesempatan laptopku untuk dicuri itu bahkan tidak meminta maaf padaku. Hhh…

• Desember 2007 – April 2008 : mutasi ke Jakarta dan berbagi kamar
Aku merengkuh mimpiku untuk berpetualang di Jakarta, lewat mutasi yang diberikan oleh kantor lamaku. Saat ini terjadi, aku menyadari bahwa apapun yang aku inginkan, eventually pasti akan terjadi. Aku mengambil pelajaran bahwa semua itu tidak terjadi secara instan. Namun, dengan kesabaran dan usaha yang konstan, apapun yang aku inginkan PASTI akan menjadi kenyataan. Seperti apapun hidup membolak-balikkannya.
Di sini juga aku belajar untuk berbagi dan berempati. Aku, yang memiliki kadar egois di atas rata-rata (kalau diibaratkan tes IQ, pastlah aku sudah Egois JENIUS) ini harus berbagi kamar dengan seorang yang juga nggak kalah egoisnya, si Tante. Oh em ji, aku benar-benar belajar menahan diri saat itu. Kecuekan dan ketidaksensitifanku akan berbuah omelan, sindiran, bahkan makian. Ada saatnya aku seperti akan meledak, ada saatnya aku berkompromi dan menerima bahwa aku memang harus mengalah, dan ada saatnya pula kami saling memaki dengan berapi-api. Tapi, saat-saat bersama Tante menyenangkan juga kok kalau kita berdua sedang sama-sama terjangkit penyakit kemalasan level 1000. Ampun deh tante... Hahahahaha…

• April 2008 – present : kantor baru
Berpindah ke kantor yang baru, aku belajar untuk meyakini pilihan-pilihan yang aku buat dan menjalani konsekuensi dari pilihan itu. Aku belajar untuk tidak menengok ke belakang dan mengandai-andaikan keadaan yang berbeda. Aku hanya harus menjalani apa yang terpapar di depanku. Di sini pula aku mendapati kenyataan bahwa teman sekantor dapat menjadi teman dan sahabat yang baik. Meski untuk itu harus dengan perantaraan batang putih sembilan senti.
Tempat inilah yang menguji kreatifitas dan kemampuanku meraba-raba dalam gelap. Kantor ini juga lah yang membuat aku memahami arti “Waiting In Vain” dengan sepenuh hati. Aku pun menyadari bahwa demotivasi tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Dan aku pun sedang berusaha untuk mengatasi permasalahan itu dengan jantan, tanpa berlari, tanpa bersembunyi.

• April 2008 – present : lelaki masa depan
Pertemuanku dengan lelaki masa depan membuat aku berdecak-decak kagum kepada hidup. Betapa hebatnya hidup mempertemukanku dengan lelaki itu di saat yang tidak pernah kuduga, di saat aku sedang menikmati hidup masa kiniku. Bersama dengan lelaki ini, aku berusaha sangat keras untuk berkompromi dengan ambisi dan egoku. Aku belajar untuk lebih terbuka. Aku belajar untuk menyayangi diriku sendiri. Aku belajar untuk MENCINTAI. Aku belajar untuk DICINTAI. Aku berjuang dengannya.
Aku pun belajar banyak hal lain selama satu tahun ini. Tentang persabatan yang tak kunjung lekang dimakan ruang dan waktu. Tentang darah yang memang lebih kental dibanding apapun. Tentang jalan hidup yang tak dapat ditebak. Tentang kehilangan dan keikhlasan. Tentang tantangan dan perjuangan.

Aku sadar, sesadar-sadarnya, bahwa yang empunya hidup telah memberikan begitu banyak anugerah dan karunia tak terhingga untukku. Aku tidak harus menjlentrehkan karunia seperti apa yang telah kudapatkan kan? Fakta bahwa aku masih bernapas, memiliki organ tubuh yang lengkap, hidup berkecukupan saja sudah menjadi bukti otentik, apalagi jika aku harus mengkajinya dengan detail kehidupanku.

But, dengan semua anugerah itu, apa coba yang aku lakukan? I keep on complaining. I keep on whining. I keep on grumbling. Do you see how much unthankful I am? And to be honest, when I realized how unthankful I am, I began to hate myself. Which is not solving the problem. Aku membenci diriku yang begitu lemah, begitu tak tahan banting, begitu gampang mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Aku ingin menjadi lebih kuat, aku ingin menjadi lebih berarti, aku ingin melakukan sesuatu, aku ingin menjadi sesuatu.

Dan inilah yang pada titik ini sedang kuperjuangkan. Aku sedang berusaha untuk mengembalikan motivasi diriku sendiri. Aku sedang berusaha untuk memperkuat niat, karena dengan niat yang kokoh, tantangan seperti apapun pasti dapat diatasi. I know it’s hard. Tapi, jika dulu aku berhasil meniati untuk mengerjakan skripsi di tengah-tengah pestaporaku menjadi seorang pekerja, tentu aku bisa melewati yang satu ini.

Maka, aku lantas membuat beberapa catatan TO DO LIST sebagai pegangan perjalanan satu tahun mendatang kehidupanku.

1. Mencoba sedikitnya 2 aplikasi scholarship on Gender Studies or Communication Management. Masalah keberhasilan sih nomor 2, yang penting adalah usaha maksimal dulu.

2. Memperbanyak membaca. Menghabiskan gender studies 2 jilid yang pernah aku beli tapi nggak pernah kelar kubaca. Menghabiskan Sejarah Tuhan dan buku yang dipinjamkan pak Sevri. Menghabiskan buku-buku yang tidak pernah kukembalikan ke si empunya, Ko Ronny. Hehehehe... Aku juga harus memperbanyak literature genderku, baik dari browsing maupun buku-buku literature gender lainnya.

3. Melakukan sesuatu yang berguna bagi nusa dan bangsa. Huahahaha…ngaco bahasanya. Yah, misalnya mengorganisir pengumpulan buku pelajaran untuk sekolah Sekarnadi di Jember.

4. Menabung! Segera mentransfer jumlah yang telah disepakati ke account baru yang tanpa ATM dan tidak mengutak-atiknya. Means, aku harus menyesuaikan gaya hidupku dengan gaji yang tersisa.

5. Menahan diri untuk tidak terlalu banyak mengeluh. Kurangi menarik nafas panjang dan kurangi perbendaharaan kata “mengaduh”.

6. Mengurangi tingkat keegoisan dari JENIUS menjadi di atas rata-rata. Mau mendengarkan orang lain dan tidak memaksakan kehendak seenak udel sendiri.

7. Meningkatkan tanggung jawab terhadap pekerjaan. Meski dengan minimum supervisi, aku harus bisa menetapkan jadwal kerjaku dan menepatinya. Aku juga harus memberikan nilai tambah terhadap setiap pekerjaan yang kulakukan. Sekecil apapun itu.

8. Meningkatkan tingkat kenarsisan diri, and mean it. Tidak hanya untuk menyembunyikan rasa rendah diri. Tidak ada lagi cerita membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Tidak ada lagi masa lalu yang membayangi, baik masa laluku ataupun orang lain. I’m georgeous. I’m capable. I’m great. Thank you.

9. Mengurangi batang sembilan sentiku. Aku tidak akan naïf lagi untuk sekonyong-konyong menghilangkannya dari hidupku. Last time I said that, the next morning I bought the same pack I used to. Menguranginya secara gradually might work.

10. Berhenti berlari. Aku harus mulai untuk menghadapi semua permasalahanku tanpa berlari, tanpa bersembunyi, tanpa menunda.

11. Lebih perhatian terhadap orang lain, baik kolega, teman, sahabat dan pastinya saudara. Mengunjungi mbak Tine, bude Danto, mas Ardi, dll. Lebih sering menelepon Asep, Je, Yono, dll.

12. Meningkatkan frekuensi menelepon ke rumah, baik mama, papa atau eyang. Sekedar menanyakan kabar, menjadi tempat curhat, ataupun membantu apapun yang bisa dibantu. Lebih sering bersosialisasi dengan mas Antok dan mas Rio. They are my nucleus family. I love them, no matter what. And they love me, no matter what.

13. Lebih sering berkomunikasi dengan si empunya dunia. Mengurangi mementingkan lelaki masa depan dan teman yang mengalahkan waktu bertandang ke rumahNYA.

Wah, banyak juga ya ternyata TO DO LIST selama aku berusia 24 tahun. Ah, tapi aku bisa kok (mulai mengaplikasikan TDL no 8, hehehehe…). Benar loh, dengan percaya diri dan positive thinking, kita bisa mencapai semua yang kita inginkan. Seperti yang aku pelajari di usia 23 tahun, bahwa semua yang kita ingin dan harapkan pasti akan berwujud kenyataan. Kita hanya harus menyadari bahwa butuh proses untuk mencapai hasil itu, yang diiringi dengan kerja keras dan kesabaran. Easier said than done. But eventually, we will reach that stage. Eh, enak aja ya aku ngomong, jangan-jangan semua orang di usia 23 sudah menyadari hal itu, aku aja yang terlambat. Yah, better late than never kan? *ngeles*

Waaaaww...baru saja lelaki masa depan menelepon. Sudah pukul 00.08 ternyata. Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri! Semoga usia 24 bisa memberiku banyak pelajaran hidup. Semoga 13 TDL di atas dapat kujalankan. Terima kasih Tuhan, atas segalanya.

Jakarta, 22 Oktober 2008

Kamar Kos, 00.11

Friday, October 17, 2008

Repetisi

Cerah hari terhampar
Meretas asa dalam batang putih kenikmatan semu
Kepulkan asap harap yang terlelap
Coba usir gelisah bertalu

Gelora hasrat meliliti benang kusut
Tak tentu arah lintasi batas bukit dan lautan
Gerami dengkuran napas yang memburu
Saat kesadaran robek pagi yang membentang

Mengejar langkah setapak memori
Keretak jemari membentuk kata tanpa makna
Teriakkan jerit tertahan
Mengupah otak dalam terali besi

Bayang Bayang Ilusi

Kala mataku terpejam
Sunyinya malam
Kala hasratku membara
Khayal smakin tinggi

Seribu asa hadir di sekelilingku
Bangkitkan gairah hidup
Sejuta harapan di dalam jiwaku
Walau semua masih di dalam angan

Jurang curam menghadangku
Getarkan jiwa
Dan pekatnya kegelapan
Datang melanda

Keraguan kini menjelma di dada
Musnahkan segala asa
Semua harapan yang dulu pernah ada
Tiada tersisa…

Haruskah ku hidup dalam angan - angan
Merengkuh ribuan impian
Haruskah ku lari dan terus berlari
Mengejar bayang - bayang ilusi

Bayangan ilusi
Hanya fantasi
Bayang ilusi

Haruskah ku hidup dalam angan - angan
Merengkuh ribuan impian
Haruskah ku lari dan terus berlari
Mengejar bayang - bayang ilusi
Merengkuh ribuan impian
Haruskah ku lari dan terus berlari
Mengejar bayang - bayang ilusi

Bayangan ilusi
Hanya fantasi
Mengejar ilusi
Terus berlari
Bayang ilusi



Aku mengalami jatuh cinta pada pendengaran pertama sejak lagu ini mengalun di handphone ku. Yeah, aneh ya, aku mendengarkannya untuk pertama kali kok di hape? Jadi, ceritanya waktu itu aku sedang memindahkan beberapa lagu dari kompi kantorku ke hape. Lagu-lagu yang kebanyakan kucuri dari server kantor. Hehehehe...

Singkat cerita, intro pada bagian biola di lagu inilah yang pertama kali membetot telingaku. Serasa mendengar Arwana… *Eh, band itu sekarang apa kabarnya ya? Gugling aaahhh...* Rasanya damaaaaii banget denger gesekan biola itu. Kemudian, aku mendengar suara yang kukenal sebagai suara Anggun, salah satu penyanyi yang kukagumi karena eksistensinya yang mampu menancapkan kuku di luar negeri. Kemudian, saat aku mulai menikmatinya, kesadaranku serasa ditarik-tarik oleh petikan reff lagu ini.


Haruskah ku hidup dalam angan - angan
Merengkuh ribuan impian
Haruskah ku lari dan terus berlari
Mengejar bayang - bayang ilusi


Entah kenapa rasanya cuplikan lirik itu nempel banget di otakku. Aku nggak mau mendramatisir bahwa Anggun membawakannya dengan emosi yang pas. Well, mungkin cuman aku nya yang lagi sedih dan mellow. But, this song really struck my consciousness pretty hard.

Atau jangan-jangan, otakku sedang berusaha mengungkapkan keadaan bawah sadarku? Keadaan dimana aku sebenarnya sedang berlari dan mengejar ilusi, yang aku sadari namun egoku terlalu besar untuk mengakuinya?

Ah, nggak ah. Aku memang saat ini sedang bermimpi, sedang berangan-angan. Tapi, aku tidak berencana untuk terus hidup dalam mimpi itu. Seperti yang pernah aku bilang di postingan sebelumnya, setiap orang pasti tidak akan membiarkan mimpi itu hanya melayang-layang dalam harapan. Yang pasti, aku tidak akan membiarkan itu. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membawa mimpi itu terwujudkan di dunia nyata. Dan membawa mimpi tersebut ke dunia nyata, bukanlah sebuah ilusi. Aku harus terus berlari mengejarnya, itu pasti. Terseok-seok, terjatuh, mungkin. Tapi aku akan terus bangkit dan terus berlari, sampai aku bisa menggapainya, merengkuhnya dan membawanya ke bawah pancaran sinar matahari.

Aku tidak berlari mengejar ilusi. Itu bukan ilusi, itu mimpi, yang akan segera menjadi nyata. Segera itu kapan, well, waktu kan relative. Hehehe… Pembelaan nih yeee… Satu yang dia benar, dalam konteks yang berbeda. Aku memang sedang berlari, namun bukan berlari mengejar. Aku sedang berlari dari kenyataan. Aku menghindari kenyataan, yang aku tahu harus kuhadapi, cepat atau lambat. Aku sedang menunda, menunda mengeluarkan effort untuk menghadapi masalah itu.

Dan aku sedang bertarung melawan diriku yang berlari. Membentaknya untuk berbalik arah dan menghadapi kenyataan dengan jantan. Siapa yang akan menang? Aku juga nggak tahu.

Hhhh...

Thursday, October 09, 2008

If...

I was wondering, if i die, how would others remember me?

















*Picture : Remembrance by `creativ82 @ deviant art*

Perbincangan

Lebaran tahun ini merupakan Lebaran pertama yang membuatku merasakan "kemewahan" mudik. Yep, sejak beberapa bulan lalu aku merantau ke ibu kota, yang berjarak 30 jam perjalanan menggunakan moda transportasi bis, NGECER. Huahahahha... But, it's all worth the luxury I got. Aku pulang, merayakan kebersamaan dengan keluarga besarku, dengan teman-temanku, dan dengan diriku sendiri.

Satu hal yang kurasakan sebagai kemewahan tersendiri saat liburan di daerah asalku adalah bertemu kembali dengan manusia-manusia terdekat dalam hidupku, teman-temanku. Aku baru menyadari hal ini malam terakhir aku berada di Malang, kampung halamanku. Semalaman ini, aku berbincang cukup panjang dengan salah satu sahabat terbaikku, Je. Sahabat yang kumiliki sejak SMP, yang kukenal selama 12 tahun. Tidak hanya dengan dirinya aku rasa, namun juga dengan beberapa sahabatku yang lain, Asep, Yono dan tentunya Said.

Berbincang dengan mereka, benar-benar kemewahan bagiku. Berbagi diri secara actual dengan manusia-manusia yang mengerti diriku, yang tak segan mencercaku, mengetok kepalaku, mencabik perasaanku, namun juga yang paling mengerti diriku. Dengan mereka aku mampu mengeluarkan semua uneg-uneg yang mampet di hati maupun kepala. Dengan mereka, aku bisa berbagi dan mendapatkan feedback yang membuatku mampu bangkit dan menjalani hidup ke depan. Dengan mereka, aku mendapati kenyataan bahwa aku adalah manusia yang beruntung memiliki teman-teman seperti mereka. Singkatnya, mereka adalah hadiah terindah yang dianugerahkan Tuhan untukku.

PRICELESS. Itulah harga yang aku tetapkan dalam setiap perbincangan yang kumiliki bersama mereka Lebaran tahun ini. Yah, aku memang tidak bisa sering-sering berbagi perbincangan dengan mereka seperti dahulu. Maklumlah, aku dimana, mereka dimana. Via telepon? Ya bisa juga. Namun, sensasi yang didapatkan tentunya berbeda kan jika kamu bertemu muka dengan mereka dan melihat langsung reaksi mereka, membiarkan mereka melihat reaksimu, emosimu?

Perbincangan pertama aku dapatkan dari Asep, yang untuk berbincang dengannya aku bela-belain menempuh 5 jam perjalanan ke Jember. Tak pernah satu kalipun aku menyesali perjalananku ke Jember. Bertemu dengan rombongan Jembernisti, aku mendapatkan keindahan kebersamaan. Sesi private dengan Asep pun aku jalani, entah itu mengharuskan kami mencuri-curi waktu untuk ngobrol berdua, ataupun memang sengaja menjauhkan diri dari yang lain. Berbagi kabar, berbagi perasaan, berbagi ketakutan, dan berbagi kisah. Otakku yang sedang cupet sedikit terbuka...

Perbincangan kedua kualami dengan Said, seorang kawan semasa kuliah yang masih setia berbagi kabar via teks ataupun audio. Di JCo Delta Plasa Surabaya, perbincangan kami mengalir. Perasaan mulai membuncah keluar, diiringi dengan saling berbagi mimpi dan beberapa hal lain seputar kehidupan. Hahahha…nggak sangka ya Id kita sekarang sudah sama-sama bekerja. Apa yang dulu tak pernah kami pikirkan kini mulai mengaliri kesadaran kami. Realita kehidupan menghantam, dan kami tertawa mengenang masa lalu dan membayangkan masa depan yang membentang.

Di hari yang sama, perbincangan ketiga dimulai. Kali ini dengan Yenni aka Yono. Kurang lebih setahun kami saling mengenal, namun jiwa kami sudah begitu "klik". Kesamaan-kesamaan sifat, karakter, kerjadian, bahkan mood yang terjadi pada masing-masing kami pada saat yang sama semakin menguatkan kedekatan kami. Jadilah perbincangan kail itu membuka semua kegelisahan kami, ketakutan dan paranoia kami. Hiks…sampai kapan kita akan menunda permasalahan yang kita sama-sama hadapi Yon? Mari kita sama-sama berjuang demi apa yang kita sayangi, demi apa yang kita perjuangkan. Dengan Yono, aku mendapatkan penguatan akan nilai diriku.

Sebagai penutup, namun juga yang menjadi klimaks kenikmatan perbincangan mudikku, adalah saat-saat bersama Je. Manusia satu ini mengenalku luar dalam, mengerti pemikiranku, dan mencintaiku seperti aku mencintainya. Mengkhawatirkanku seperti aku mengkhawatirkannya. Kami saling berbagi cerita, sejarah, dan perasaan terdalam. Dari hal yang kecil, sampai yang secara general dianggap tabu di masyarakat. Dengan dialah aku bisa terbuka mengenai apapun. Kami berbagi ketakutan-ketakutan hubungan, berbagi pandangan terhadap satu sama lain. Saat bersama dengan Je, secara tidak langsung aku mendapatkan harga diriku lagi. Bahwa aku tidak perlu membandingkan diriku dengan siapapun. Bahwa aku cukup special dengan menjadi diriku saja. Lewat kacamatanya, aku teryakinkan bahwa seseorang yang aku sayangi memang benar-benar menyayangiku. Ketakutan yang tidak beralasan yang akhir-akhir ini menghantui paranoia akutku. Thx Je.

And here I am, thanking GOD for the priceless time I got here, in my hometown. Despite all the bad things occurred (hey, hari ini aku harus menghadapi kenyataan bahwa motor yang aku cicil untuk ibuku dicolong!! Tahun kemarin laptopku yang kudapatkan dari hasil keringat dan darahku yang dicolong orang, sekarang motor yang menjadi “kaki” ibuku. CRAP! $#@&*%$#@). Terima kasih kawan-kawan, atas kemewahan yang kalian berikan untukku. Terima kasih Tuhan.

Perbincangan itu mewah.