rss
email
twitter
facebook

Thursday, October 09, 2008

Perbincangan

Lebaran tahun ini merupakan Lebaran pertama yang membuatku merasakan "kemewahan" mudik. Yep, sejak beberapa bulan lalu aku merantau ke ibu kota, yang berjarak 30 jam perjalanan menggunakan moda transportasi bis, NGECER. Huahahahha... But, it's all worth the luxury I got. Aku pulang, merayakan kebersamaan dengan keluarga besarku, dengan teman-temanku, dan dengan diriku sendiri.

Satu hal yang kurasakan sebagai kemewahan tersendiri saat liburan di daerah asalku adalah bertemu kembali dengan manusia-manusia terdekat dalam hidupku, teman-temanku. Aku baru menyadari hal ini malam terakhir aku berada di Malang, kampung halamanku. Semalaman ini, aku berbincang cukup panjang dengan salah satu sahabat terbaikku, Je. Sahabat yang kumiliki sejak SMP, yang kukenal selama 12 tahun. Tidak hanya dengan dirinya aku rasa, namun juga dengan beberapa sahabatku yang lain, Asep, Yono dan tentunya Said.

Berbincang dengan mereka, benar-benar kemewahan bagiku. Berbagi diri secara actual dengan manusia-manusia yang mengerti diriku, yang tak segan mencercaku, mengetok kepalaku, mencabik perasaanku, namun juga yang paling mengerti diriku. Dengan mereka aku mampu mengeluarkan semua uneg-uneg yang mampet di hati maupun kepala. Dengan mereka, aku bisa berbagi dan mendapatkan feedback yang membuatku mampu bangkit dan menjalani hidup ke depan. Dengan mereka, aku mendapati kenyataan bahwa aku adalah manusia yang beruntung memiliki teman-teman seperti mereka. Singkatnya, mereka adalah hadiah terindah yang dianugerahkan Tuhan untukku.

PRICELESS. Itulah harga yang aku tetapkan dalam setiap perbincangan yang kumiliki bersama mereka Lebaran tahun ini. Yah, aku memang tidak bisa sering-sering berbagi perbincangan dengan mereka seperti dahulu. Maklumlah, aku dimana, mereka dimana. Via telepon? Ya bisa juga. Namun, sensasi yang didapatkan tentunya berbeda kan jika kamu bertemu muka dengan mereka dan melihat langsung reaksi mereka, membiarkan mereka melihat reaksimu, emosimu?

Perbincangan pertama aku dapatkan dari Asep, yang untuk berbincang dengannya aku bela-belain menempuh 5 jam perjalanan ke Jember. Tak pernah satu kalipun aku menyesali perjalananku ke Jember. Bertemu dengan rombongan Jembernisti, aku mendapatkan keindahan kebersamaan. Sesi private dengan Asep pun aku jalani, entah itu mengharuskan kami mencuri-curi waktu untuk ngobrol berdua, ataupun memang sengaja menjauhkan diri dari yang lain. Berbagi kabar, berbagi perasaan, berbagi ketakutan, dan berbagi kisah. Otakku yang sedang cupet sedikit terbuka...

Perbincangan kedua kualami dengan Said, seorang kawan semasa kuliah yang masih setia berbagi kabar via teks ataupun audio. Di JCo Delta Plasa Surabaya, perbincangan kami mengalir. Perasaan mulai membuncah keluar, diiringi dengan saling berbagi mimpi dan beberapa hal lain seputar kehidupan. Hahahha…nggak sangka ya Id kita sekarang sudah sama-sama bekerja. Apa yang dulu tak pernah kami pikirkan kini mulai mengaliri kesadaran kami. Realita kehidupan menghantam, dan kami tertawa mengenang masa lalu dan membayangkan masa depan yang membentang.

Di hari yang sama, perbincangan ketiga dimulai. Kali ini dengan Yenni aka Yono. Kurang lebih setahun kami saling mengenal, namun jiwa kami sudah begitu "klik". Kesamaan-kesamaan sifat, karakter, kerjadian, bahkan mood yang terjadi pada masing-masing kami pada saat yang sama semakin menguatkan kedekatan kami. Jadilah perbincangan kail itu membuka semua kegelisahan kami, ketakutan dan paranoia kami. Hiks…sampai kapan kita akan menunda permasalahan yang kita sama-sama hadapi Yon? Mari kita sama-sama berjuang demi apa yang kita sayangi, demi apa yang kita perjuangkan. Dengan Yono, aku mendapatkan penguatan akan nilai diriku.

Sebagai penutup, namun juga yang menjadi klimaks kenikmatan perbincangan mudikku, adalah saat-saat bersama Je. Manusia satu ini mengenalku luar dalam, mengerti pemikiranku, dan mencintaiku seperti aku mencintainya. Mengkhawatirkanku seperti aku mengkhawatirkannya. Kami saling berbagi cerita, sejarah, dan perasaan terdalam. Dari hal yang kecil, sampai yang secara general dianggap tabu di masyarakat. Dengan dialah aku bisa terbuka mengenai apapun. Kami berbagi ketakutan-ketakutan hubungan, berbagi pandangan terhadap satu sama lain. Saat bersama dengan Je, secara tidak langsung aku mendapatkan harga diriku lagi. Bahwa aku tidak perlu membandingkan diriku dengan siapapun. Bahwa aku cukup special dengan menjadi diriku saja. Lewat kacamatanya, aku teryakinkan bahwa seseorang yang aku sayangi memang benar-benar menyayangiku. Ketakutan yang tidak beralasan yang akhir-akhir ini menghantui paranoia akutku. Thx Je.

And here I am, thanking GOD for the priceless time I got here, in my hometown. Despite all the bad things occurred (hey, hari ini aku harus menghadapi kenyataan bahwa motor yang aku cicil untuk ibuku dicolong!! Tahun kemarin laptopku yang kudapatkan dari hasil keringat dan darahku yang dicolong orang, sekarang motor yang menjadi “kaki” ibuku. CRAP! $#@&*%$#@). Terima kasih kawan-kawan, atas kemewahan yang kalian berikan untukku. Terima kasih Tuhan.

Perbincangan itu mewah.

2 comments:

Anonymous said...

qw naek bis macet

kebenaran said...

jamu psikologi kunjungi : www.setansatan.blogspot.com jamu memang pahit