Malam ini aku tertohok oleh lagi-lagi satu kenyataan yang nggak pernah bisa aku bantah. Then again, kenapa perbedaan selalu menjadi masalah sih? I don't mind with any differences, as long as we can honor and respect others, differences would not be a problem.
Aku benci membicarakan masalah yang satu ini, benci karena sepertinya hanya aku yang tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Sebaliknya, semua orang malah selalu meributkannya, menganggap ini adalah sesuatu yang tremendously important, sampai-sampai melupakan beberapa hal lainnya yang buatku lebih crucial untuk dijadikan pertimbangan.
Padahal, baru beberapa waktu yang lalu aku merasa mampu untuk mengkompromikan beberapa hal. Aku telah mampu menyingkirkan sedikit demi sedikit keegoisanku dan ketakutan-ketakutanku. Aku bahkan telah berkompromi dengan ambisi-ambisiku. Ambisi yang selama ini selalu kuanggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dikompromikan. Ambisi yang membuatku memiliki sebuah tujuan, hingga kemudian memunculkan energi dari dalam diriku untuk berusaha lebih keras. Ambisi yang selalu kuanggap akan menjadikanku seorang putri yang sempurna. Dan aku rela membuangnya untuk dia, untuk mencapai apa yang dia impikan. Untuk mewujudkan apa yang ada dalam proyeksi masa depannya.
Yes, I've managed to put aside my selfishness to stand in my own feet, to being someone that I used to see in the next 10 years. I've managed to compromise living ordinary, just for him. To be with him. But to compromising my faith? Well, I don't think I can manage that.
So, what is the solution? I'll keep on fighting, coz I don't have any problem with that. But if he does have a problem with that, what will u do, Putri?





