rss
email
twitter
facebook

Friday, April 13, 2007

Kontroversi Wikipedia, Validitas dan Keakuratannya Dipertanyakan

Jangan mengaku netter sejati kalau Anda tidak pernah mengunjungi situs Wikipedia. Jika Anda benar-benar penghobi browsing, tentunya Anda akan sangat sering menemukan Wikipedia di sela-sela pencarian Anda.

Bagi yang tidak tahu, Wikipedia adalah situs dimana Anda bisa menemukan penjelasan tentang banyak hal. Mulai dari jenis-jenis cacing yang ada di dunia sampai dengan sejarah perang dunia kedua atau bahkan perang padri di Indonesia. Sebagai gambaran, sampai 16 April 2007 lalu artikel yang ada di Wikipedia tercatat sebanyak 7.062.893 artikel yang ditulis dalam 251 bahasa.

Di Indonesia sendiri tercatat ada 57.027 artikel yang membuat negara tercinta ini menduduki peringkat keduapuluh dua artikel terbanyak. Peringkat ini juga merupakan yang paling tinggi di antara negara berkembang lainnya, mengalahkan Thailand, Vietnam, Malaysia bahkan Korea.

Artikel-artikel yang ada di Wikipedia membahas masing-masing topik dengan sangat detil, mulai arti, sejarah cara penggunaan dan semua yang berhubungan dengan topik yang Anda cari. Contohnya, jika Anda ingin mengetahui segala sesuatu tentang internet, ketikkan saja kata kunci tersebut di search box dan Anda akan mendapatkan hasil sebagai berikut :

(mahap, kok gak bisa upload gambar yaa?? anyone can help?)

See...cukup lengkap dan meyakinkan bukan? Hanya dengan mengetik satu kata, Anda mendapatkan banyak sekali informasi mengenai internet. Kelengkapan informasi inilah yang membuat banyak orang mengklaim Wikipedia sebagai sebuah ensiklopedia online yang memuat berjuta informasi. Sayangnya, tidak semua orang sepakat dengan penamaan ini. Cukup banyak pula yang membantah pernyataan tersebut dan mengatakan bahwa Wikipedia tidak lebih dari sekedar kumpulan argumen belaka.

Kontroversi ini tidak lain karena sifat Wikipedia yang terbuka bagi siapa saja Bukan hanya terbuka untuk dilihat, artikel-artikel yang terdapat di Wikipedia disusun agar dapat dibaca dan diedit (atau bahkan dihapus) oleh siapa saja. Seseorang yang bukan ahli di bidangnya pun bisa mendaftar dan berpura-pura menjadi seorang professor yang kemudian menulis artikel yang belum terbukti kebenarannya.

Seperti yang terjadi awal tahun lalu di Amerika. Seorang kontributor yang mengaku dirinya seorang professor ternyata terbukti hanyalah seorang pemuda berusia 24 tahun yang bahkan TIDAK LULUS kuliah. Hal ini tentu membuat artikel-artikel yang pernah ditulisnya patut dipertanyakan kembali.

Dua tahun yang lalu, validitas Wikipedia juga sempat tercoreng saat John Seigenthaler, seorang jurnalis, memprotes keras salah satu artikel di Wikipedia yang menyebutkan bahwa dirinya terlibat dalam pembunuhan mantan presiden Amerika, John F. Kennedy.

Tentunya hal ini menimbulkan pertanyaan di benak kita, apakah Wikipedia tidak pernah mengecek semua artikel yang ada di websitenya? Jangan salah, Wikipedia telah mendatangkan kontributor-kontributor ahli di bidangnya masing-masing untuk mereview artikel-artikel yang ada. Mereka berdebat dan mematahkan artikel-artikel yang masuk untuk membuat artikel yang berbobot dan memiliki validitas tinggi.

Namun sayangnya, jumlah pengguna Wikipedia yang membludak menghasilkan ratusan ribu perubahan dibuat setiap harinya pada artikel-artikel Wikipedia di seluruh dunia. Meskipun Wikipedia memiliki banyak moderator website dan editor terpercaya sekalipun, butuh waktu yang cukup banyak untuk mereview semua artikel yang masuk. Dan, bukan tidak mungkin pula ada artikel yang terlewatkan oleh Wikipedia.

Sebenarnya, kemungkinan ketidakakuratan artikel ini disadari sepenuhnya oleh Wikipedia. Lihat saja halaman General Disclaimer yang bertuliskan "WIKIPEDIA TIDAK MEMBERIKAN JAMINAN VALIDITAS" dan juga "HARAP DISADARI BAHWA SEMUA INFORMASI YANG ANDA TEMUKAN DI WIKIPEDIA MUNGKIN TIDAK AKURAT, MENYESATKAN, BERBAHAYA, ATAU ILEGAL." Ini berarti, kita tidak akan pernah bisa menjamin keakuratan Wikipedia. Seberapapun meyakinkannya artikel itu. Seberapapun nampak rumitnya artikel itu.

Selain tidak memberikan jaminan keakuratan, Wikipedia juga tidak dapat menjamin jati diri asli penulis semua artikel-artikel tersebut. Dalam kasus John Seigenthaler yang cukup berang karena nama baiknya dicemarkan, Wikipedia juga tidak bisa memberikan siapa yang telah menulis artikel tersebut.

Kepercayaan banyak orang akan Wikipedia membuat beberapa akademisi pendidikan kebakaran jenggot. Saat seorang dosen Middlebury College sedang memeriksa ujian akhir, ia menyadari bahwa beberapa mahasiswanya memberikan jawaban yang nyaris identik yang ternyata salah. Setelah ditelusuri, mereka sama-sama mendapatkan informasi dari sumber yang sama, Wikipedia. (The truth is, skripsi saya juga banyak dihiasi oleh artikel dari Wikipedia loh, hihihi... ;)) Ssstt...jangan bilang-bilang dosen saya ya...)

Akademisi pendidikan pun cukup terganggu dengan ketidakakuratan Wikipedia. Saat sedang memeriksa ujian akhir, seorang dosen Middlebury College menyadari bahwa beberapa mahasiswanya memberikan jawaban yang nyaris identik yang ternyata salah. Setelah ditelusuri, mereka sama-sama mendapatkan informasi dari sumber yang sama. Siapa lagi kalau bukan Wikipedia. (The truth is, skripsi saya juga banyak dihiasi oleh artikel dari Wikipedia loh, hihihi... ;)) Ssstt...jangan bilang-bilang dosen saya ya...)

Kejadian ini membuat Middlebury College melarang mahasiswa-mahasiswanya untuk mempergunakan Wikipedia sebagai sumber dalam makalah-makalah mereka. Tindakan Middlebury College ini tak lama kemudian disosialisasikan pula oleh beberapa institusi pendidikan lainnya, termasuk UCLA dan University of Pennsylvania.

Jadi, masih percaya dengan Wikipedia? Keputusan akhir sih memang ada di tangan Anda. Tidak bisa dipungkiri memang, Wikipedia adalah anugerah besar dalam dunia maya. Namun, ada baiknya Anda mempertimbangkan lagi untuk mempercayai begitu saja apa yang tertulis di dalamnya. Ada baiknya Anda melakukan cek dan ricek dari sumber-sumber lain yang lebih terpercaya. (pOe)


Note : Artikel ini dibuat untuk mengisi D~NET DNEWS edisi Mei 2007

Monday, April 09, 2007

Hari Yang Indah

Hari yang indah. Dunia yang indah. Hidup yang indah. Batu kerikil pun menjadi indah di hari ini. Kenapa? Karena ini adalah hari Paskah. Hari kemenangan. Hari yang patut dikenang. Hari ini adalah hari dimana Yesus bangkit dari wafatnya disalib. Salib yang ia pikul demi menyelamatkan semua orang. Hari ini adalah hari ia mengalahkan iblis, kegelapan dan kematian. Hari ini adalah hari dimana kita akan bersama dengannya di akhir hari nanti. Hidup abadi.

Hari ini adalah hari di mana kita merayakan kemenangan. Hari ini adalah hari dimana kita patut bernyanyi bergembira dan mengucap syukur.

Maka, hari ini saya pekikkan ke seluruh dunia, SELAMAT PASKAH! DAMAI TUHAN YESUS BESERTAMU! Amin.

Dia Lupa Hal Yang Paling Penting…

Naksir sodara dari teman baikmu. Have you ever do that? Saya sih nggak pernah. Tapi, kebetulan saya pernah menjadi objek dari seseorang yang melakukannya. Alkisah, kakak saya yang kedua mempunyai seorang teman baik yang selalu setia datang ke rumah saban kakak saya pulang ke kampung kami, Malang. Saking seringnya mereka bersama, saban ia datang ke rumah kami sekeluarga selalu mengatakan, "Mas, pasangan homomu dateng tuh." (no offense buat kaum gay ya, ini sama sekali nggak bermaksud menyinggung kok.)

Ostosmastis, temen kakak saya ini sudah mengenal saya, eemm...kayaknya, sejak saya duduk di bangku SMP. Huehehehe...saya masih cupu banget tuh jaman segitu...Sayangnya, si teman ini mungkin merasa ditinggalkan sejak kakak saya jarang sekali pulang ke Malang karena kegiatannya yang katanya "super sibuk". Just between us ya, saya sih nggak sebegitu percaya bahwa dia segitu sibuknya...

Back to topic, si teman ini kadang kala juga suka menghubungi saya, meskipun hanya lewat sms. Yang akhir-akhir ini menjadi cukup intens dengan isi sms yang cukup singkat dan nggak penting sama sekali. Kalau dibalas sama singkatnya, kata-kata berbau narsis langsung muncul yang kadang membuat saya kemudian mengerutkan dahi dan langsung menaruh HP, malas untuk melanjutkan chit-chat via teks itu.

Dan betapa terkejutnya saya ketika suatu hari ia kembali mengirim sms yang pada ujungnya berkata bahwa ia kangen, bahkan suka sama saya. Cuman, saya ini kan adik dari temennya, jadi gimana dong?

So?

Hihihi…saya kepengin ketawa membaca smsnya. Terus kenapa kalau saya adik dari temennya? Menurut saya, itu bukan hal yang tabu untuk dilakukan. Toh saya juga lagi kosong, si teman ini juga lagi kosong. Bukan sesuatu yang pantas dikhawatirkan kalau seseorang itu menaksir saudara dari temennya. Sah-sah aja. Pantas-pantas aja.

Jadi, kalau ada yang pernah mengalami hal ini, nggak usah pikir dua kali deh. Justru karena sudah deket dengan kakaknya, sebenarnya hal itu menjadi lebih mudah kan? Lebih gampang pedekatenya, sang saudara juga lebih mantap karena lebih mengenal diri Anda.

Dalam kasus saya, si teman ini dengan gobloknya malah melupakan sesuatu yang sangat penting. Apakah saya juga menyukainya? Bukankah itu hal yang paling penting saat ingin menjalin hubungan?

Sayangnya, saya terpaksa membuatnya patah hati. Alasan pertama, I’m not in love with him, not even for a tiny little bit. Kedua, saya sedang jatuh cinta berat dengan kesendirian saya. Dan terus terang, berat bagi saya untuk meninggalkan cinta yang sudah bersemi ini, apalagi demi sesuatu yang saya nggak suka...

Jadi, so long my brother’s friend. I’m not meant to you, at least not now. Dan bagi semua pencinta saudara teman, jangan melupakan hal yang paling penting jika ingin menjalin sebuah hubungan khusus. Bukan status atau apapun juga yang patut kamu pertimbangkan. Dahulukan perasaan! Apakah ia menyukaimu ataukah tidak...

Me? I’m A Happy Loner! 

Kenangan tidak selamanya menyenangkan. It sucks when it sucks. Memories brings back pain. Well, nggak selamanya sih. Tapi, dalam hal ini memang begitulah adanya. Semakin mengenangnya, semakin bangsat citra seseorang itu di benak saya.

Beberapa waktu terakhir, dalam jangka kevakuman mengisi lembaran maya jurnal hidup, saya bertemu banyak teman-teman lama. Alhasil, banyak pula yang bertanya kabar terbaru saya. Menanyakan kabar pacar saya. Well, mantan tepatnya.

Klise, ketika mengungkapkan keadaan terkini saya, pertanyaan tambahan pun tak dapat ditahan meluncur dari bibir mereka, "Loh kenapa?" bla, bla, bla... Bottom line, it sucks.

Anehnya, semakin sering membicarakan hal tersebut, saya makin yakin bahwa bangsat itu memang benar-benar bastard sejati. Hehehehe...dimana lagi saya bisa ngatain orang dengan bebas kalau nggak di blog sendiri? But hey, dia benar-benar telah menusuk hati saya dan menuangkan cuka di dalamnya!

Think about it, pacar macam apa yang membiarkan seseorang yang katanya ia sayangi pulang sendirian malam-malam naik bis di kota metropolitan seperti Jakarta, yang sama sekali tidak dikenal? Orang macam apa yang lebih memilih untuk menelepon daripada mengorbankan sedikit tenaga untuk datang ke rumah sodara pacarnya? Emang jauh sih, tapi sang pacar juga udah datang jauh-jauh dari Surabaya ke Jakarta kok.

Orang macam apa yang membuat sang pacar menunggu tiga jam, padahal ia sudah mengalah untuk mendatanginya demi membicarakan masalah mereka? Padahal hari itu hari Sabtu, dimana ia libur kerja, tapi malah dengan sok rajinnya nglembur. Padahal nggak ada yang nyuruh dia nglembur. Padahal sang pacar sudah menunggu. Padahal ia tahu sang pacar harus pulang cepat (karena ia pasti nggak mungkin mau nganterin kan) mengingat angkot kembali ke rumah sang saudara jarang-jarang jika malam menjelang.

Jadi, wajar kan kalau saya merasa sakit hati dengan semua perlakuan itu? Wajar kan kalau saya merasa saya sama sekali nggak diperjuangkan? Wajar kan kalau saya jadi misuh-misuh di sini? Hehehehe... *pembelaan mode on*

Saya benar-benar nggak habis pikir, bagaimana mungkin seseorang melakukan hal seperti itu kepada seseorang yang disayanginya. Satu hal yang kemudian muncul di pikiran saya adalah, dia nggak pernah bener-bener sayang sama saya. And thinking about that possibility, made me sad even more.

Yaaahh...lagi-lagi saya nggak disayangi. Lagi-lagi saya nggak diperjuangkan. Sebegitu nggak layakkah saya untuk sedikit saja mendapatkan perjuangan dari seseorang yang katanya menyayangi saya? Wih, hati ini bener-bener sakit mendapatkan perlakuan seperti itu. Semakin sakit jika mengingat bahwa selama ini jika saya ingat-ingat memang belum ada orang seperti itu hadir di hidup saya.

Tapi, ah itu hanya pemikiran cemen. Iya, cemen. Saya mulai menyadari ini ketika saya mendengarkan kisah-kisah sedih lainnya tentang cinta yang mengisi lembaran hidup beberapa teman saya.

Beberapa waktu yang lalu saya mengadakan temu kangen dan juga farewell party salah seorang sahabat yang hendak menjemput impian ke ibukota. Nah di situlah satu demi satu kisah sedih dari beberapa teman mulai bergulir. Kisah-kisah yang tingkat menyedihkannya udah sampai level master. Unbelievable lah pokoknya, kayak skrip sinetron aja. Saya jadi bersyukur, untung bukan saya yang mengalaminya. Maap ya kawan-kawan, bukannya saya mau bersyukur atas penderitaan kalian, tapi memberikan inspirasi bagi orang lain dengan kisah kalian itu berpahala juga kan? Hohohoho...

Jadi, ya saya sekarang ada di sini. Menulis di blog ini. Menyatakan bahwa saya nggak lagi mendendam dengan apa yang sudah dilakukan mantan pacar saya. Saya nggak lagi sakit hati mengingatnya. Meskipun tetap harus saya akui bahwa dia adalah seorang bangsat sejati anak mami yang sama sekali nggak pantas diperjuangkan (ehehehe...masih keliatan marah yaaa?? Nggak kok, beneran, udah nggak marah! Suweerr ewer-ewer!! J).

Hihihihi...

Yah, sekarang sih saya cukup mencintai kehidupan saya. Cukup loner sih, but I love it. Terlebih saya sangat menikmati pekerjaan dan tantangan-tantangan yang cukup menyibukkan saya setiap harinya. Nggak ada waktu menikmati raungan kesedihan tentang tidak memiliki seorang pendamping. Nggak ada waktu menikmati desahan lara hati tentang kesendirian. Yah, saya memang sendiri, so what? Saya cukup punya banyak cara untuk menikmati (and I mean it, really enjoy it!) kesendirian saya. Apa gunanya home theater di kamar mas doni? Apa guna teman-teman yang masih setia diajak cangkruk? Apa guna saudara-saudara yang masih bisa diajak jalan-jalan ke manapun saya ingin pergi? Apa gunanya orang tua yang masih bisa diajak tukar pikiran? Apa gunanya Eyang yang masih setia ngelus-elus dahi nonong saya saban saya pulang kampung? Apa guna Atlas dan dua kolam air dan satu jacuzzinya yang siap menanti saya nyebur dan berkecipak-kecipak di sana? Apa guna kasur saya yang empuk? Apa guna cowok-cowok yang bisa dimanfaatkan untuk mbayarin saya nonton? Huekekekeke...

Bold, italic and underline this, SENDIRI ITU MENYENANGKAN!! Period