Kenangan tidak selamanya menyenangkan. It sucks when it sucks. Memories brings back pain. Well, nggak selamanya sih. Tapi, dalam hal ini memang begitulah adanya. Semakin mengenangnya, semakin bangsat citra seseorang itu di benak saya.
Beberapa waktu terakhir, dalam jangka kevakuman mengisi lembaran maya jurnal hidup, saya bertemu banyak teman-teman lama. Alhasil, banyak pula yang bertanya kabar terbaru saya. Menanyakan kabar pacar saya. Well, mantan tepatnya.
Klise, ketika mengungkapkan keadaan terkini saya, pertanyaan tambahan pun tak dapat ditahan meluncur dari bibir mereka, "Loh kenapa?" bla, bla, bla... Bottom line, it sucks.
Anehnya, semakin sering membicarakan hal tersebut, saya makin yakin bahwa bangsat itu memang benar-benar bastard sejati. Hehehehe...dimana lagi saya bisa ngatain orang dengan bebas kalau nggak di blog sendiri? But hey, dia benar-benar telah menusuk hati saya dan menuangkan cuka di dalamnya!
Think about it, pacar macam apa yang membiarkan seseorang yang katanya ia sayangi pulang sendirian malam-malam naik bis di kota metropolitan seperti Jakarta, yang sama sekali tidak dikenal? Orang macam apa yang lebih memilih untuk menelepon daripada mengorbankan sedikit tenaga untuk datang ke rumah sodara pacarnya? Emang jauh sih, tapi sang pacar juga udah datang jauh-jauh dari Surabaya ke Jakarta kok.
Orang macam apa yang membuat sang pacar menunggu tiga jam, padahal ia sudah mengalah untuk mendatanginya demi membicarakan masalah mereka? Padahal hari itu hari Sabtu, dimana ia libur kerja, tapi malah dengan sok rajinnya nglembur. Padahal nggak ada yang nyuruh dia nglembur. Padahal sang pacar sudah menunggu. Padahal ia tahu sang pacar harus pulang cepat (karena ia pasti nggak mungkin mau nganterin kan) mengingat angkot kembali ke rumah sang saudara jarang-jarang jika malam menjelang.
Jadi, wajar kan kalau saya merasa sakit hati dengan semua perlakuan itu? Wajar kan kalau saya merasa saya sama sekali nggak diperjuangkan? Wajar kan kalau saya jadi misuh-misuh di sini? Hehehehe... *pembelaan mode on*
Saya benar-benar nggak habis pikir, bagaimana mungkin seseorang melakukan hal seperti itu kepada seseorang yang disayanginya. Satu hal yang kemudian muncul di pikiran saya adalah, dia nggak pernah bener-bener sayang sama saya. And thinking about that possibility, made me sad even more.
Yaaahh...lagi-lagi saya nggak disayangi. Lagi-lagi saya nggak diperjuangkan. Sebegitu nggak layakkah saya untuk sedikit saja mendapatkan perjuangan dari seseorang yang katanya menyayangi saya? Wih, hati ini bener-bener sakit mendapatkan perlakuan seperti itu. Semakin sakit jika mengingat bahwa selama ini jika saya ingat-ingat memang belum ada orang seperti itu hadir di hidup saya.
Tapi, ah itu hanya pemikiran cemen. Iya, cemen. Saya mulai menyadari ini ketika saya mendengarkan kisah-kisah sedih lainnya tentang cinta yang mengisi lembaran hidup beberapa teman saya.
Beberapa waktu yang lalu saya mengadakan temu kangen dan juga farewell party salah seorang sahabat yang hendak menjemput impian ke ibukota. Nah di situlah satu demi satu kisah sedih dari beberapa teman mulai bergulir. Kisah-kisah yang tingkat menyedihkannya udah sampai level master. Unbelievable lah pokoknya, kayak skrip sinetron aja. Saya jadi bersyukur, untung bukan saya yang mengalaminya. Maap ya kawan-kawan, bukannya saya mau bersyukur atas penderitaan kalian, tapi memberikan inspirasi bagi orang lain dengan kisah kalian itu berpahala juga kan? Hohohoho...
Jadi, ya saya sekarang ada di sini. Menulis di blog ini. Menyatakan bahwa saya nggak lagi mendendam dengan apa yang sudah dilakukan mantan pacar saya. Saya nggak lagi sakit hati mengingatnya. Meskipun tetap harus saya akui bahwa dia adalah seorang bangsat sejati anak mami yang sama sekali nggak pantas diperjuangkan (ehehehe...masih keliatan marah yaaa?? Nggak kok, beneran, udah nggak marah! Suweerr ewer-ewer!! J).
Hihihihi...
Yah, sekarang sih saya cukup mencintai kehidupan saya. Cukup loner sih, but I love it. Terlebih saya sangat menikmati pekerjaan dan tantangan-tantangan yang cukup menyibukkan saya setiap harinya. Nggak ada waktu menikmati raungan kesedihan tentang tidak memiliki seorang pendamping. Nggak ada waktu menikmati desahan lara hati tentang kesendirian. Yah, saya memang sendiri, so what? Saya cukup punya banyak cara untuk menikmati (and I mean it, really enjoy it!) kesendirian saya. Apa gunanya home theater di kamar mas doni? Apa guna teman-teman yang masih setia diajak cangkruk? Apa guna saudara-saudara yang masih bisa diajak jalan-jalan ke manapun saya ingin pergi? Apa gunanya orang tua yang masih bisa diajak tukar pikiran? Apa gunanya Eyang yang masih setia ngelus-elus dahi nonong saya saban saya pulang kampung? Apa guna Atlas dan dua kolam air dan satu jacuzzinya yang siap menanti saya nyebur dan berkecipak-kecipak di sana? Apa guna kasur saya yang empuk? Apa guna cowok-cowok yang bisa dimanfaatkan untuk mbayarin saya nonton? Huekekekeke...
Bold, italic and underline this, SENDIRI ITU MENYENANGKAN!! Period






No comments:
Post a Comment