Being a Woman
12/17/2009 06:46:00 PM
Ada saat-saat dimana aku berharap dilahirkan sebagai seorang laki-laki. Salah satunya adalah saat ini. Only I know how much I hate being a woman at this time. Bukan bermaksud untuk menjadi bias gender, aku masih mengamini pendapat bahwa laki-laki dan perempuan hanya berbeda karena budaya, perbedaan perlakuan dan sebagainya. Bahwa jika kedua spesies tersebut diperlakukan secara sama, mereka bisa menjadi spesies yang sama pula.
Buuuuutt, kita juga tak bisa memungkiri bahwa dengan pengkondisian yang sudah mengakar dari jaman dahulu kala, perbedaan itu memang ada. Salah satunya adalah pola pikir. Dan ini yang paling aku sebalkan dari perempuan.
Kenapa sih kebanyakan perempuan tidak puas hanya dengan apa yang ada di depan kami? Kenapa sih kecemburuan selalu gampang menelusupi diri kami? Yang membuat kami sok detektif mencari-cari di tong sampah hal-hal yang sebenarnya tidak butuh kami ketahui? Yang kemudian bukannya membuat kami lega, malah membuat kami menerjunkan air mata?
Kenapa sih kami selalu terkungkung dengan pikiran-pikiran negatif kami? Ketidakpercayaan diri kami? Alasan-alasan yang salah untuk mempertanyakan sesuatu?
Kenapa kami tidak bisa menutup mata atas semua kegelisahan-kegelisahan kami yang tidak penting? Kenapa kami tidak bisa menekan kegelisahan itu berubah menjadi racun yang mampu membuat kami gila?
Kenapa oh kenapa?
Kusangka dalam beberapa hal aku tidak seperti perempuan kebanyakan yang menye-menye, yang tidak independen dan cengeng itu. Tapi ternyata aku salah. Sial. Menyakitkan mengetahui kebenaran.
Ah, aku benar-benar berharap di saat seperti ini aku adalah seorang laki-laki yang bisa seenaknya lenggang kangkung dengan otaknya yang tidak bercabang. Tanpa kegelisahan. Yang ada hanya logika. Bukan perasaan tidak penting.
*sigh*
Picture taken from here
Past, and Anger
12/11/2009 05:10:00 PM
I really need to get the past behind me. So please, hand me some help.
And I really need to conquer this anger that starts to take me over. So help me GOD.
You can clutch the past so tightly to your chest that it leaves your arms too full to embrace the present.
- Jan Glidewell
With the past, I have nothing to do; nor with the future. I live now.
- Ralph Wildo Emerson
Each has his past shut in him like the leaves of a book known to him by heart and his friends can only read the title.
- Virginia Woolf
The past is never there when you try to go back. It exists, but only in memory. To pretend otherwise is to invite a mess.
- Chris Cobbs
Do not dwell in the past, do not dream of the future, concentrate the mind on the present moment.
- Siddharta Gautama
If we open a quarrel between the past and the present, we shall find that we have lost the future.
- Winston Churchill
Life is what's coming ~ not what was.
LOVE in the past - is only a memory
LOVE in the future - is only a fantasy
TRUE LOVE just lives in the here and now
- The Buddha
And I really need to conquer this anger that starts to take me over. So help me GOD.
Holding on to anger is like grasping a hot coal with the intent of throwing it at someone else; you are the one who gets burned.
- Siddhartha Gautama
It is better to conquer yourself than to win a thousand battles. Then the victory is yours. It cannot be taken from you, not by angels or by demons, heaven or hell.
- Siddhartha Gautama
All My Luck!
11/15/2009 11:16:00 PM
Serasa baru kemarin aku membicarakan tentang kesalahan menempuh jalur hidup. Yang membuatmu bertanya-tanya bagaimana seandainya kamu mengambil jalur yang lain. Yah, udah kejadian aja tuh. Ckckck...
Kini, pupus sudah harapanku untuk menempuh pendidikan di bidang Woman and Gender Studies. Alasannya? Aku bukan lulusan Social Studies. Padahal gelar sarjana yang kusandang adalah Sarjana Sosial. Sayangnya, jurusan yang kuambil bukanlah Sosiologi atau Politik, melainkan Komunikasi. Dan itu membuatku tidak eligible untuk meng-apply di ISS, salah satu instut Social Studies di Belanda yang konon kata seorang teman sedang berusaha meningkatkan kualitasnya karena sekarang sudah bergabung dengan Erasmus Mundus. Jadi, mereka benar-benar selektif dan strict dengan background setiap pelamar jurusannya. Hhhh...
Walhasil, saat menyadari hal itu, aku hanya bisa duduk bengong melongong. Butuh sedikit kekuatan untuk membangkitkan diriku dan menyusuri kembali deretan meja-meja pameran pendidikan Belanda yang digelar di Hotel Mulia, Sabtu kemarin. Yah sudahlah, mumpung sedang berada di sini aku akan memanfaatkannya untuk mencari program-program lain yang lebih cocok denganku. Bukankah kata orang saat satu pintu tertutup, sebuah pintu lain terbuka untukku? Dan memang benar, aku menemukan pintu itu. International Communication Management di The Hague. Hooooo...
So, I will go for it. Wish me luck!! I need all of it!!
Kini, pupus sudah harapanku untuk menempuh pendidikan di bidang Woman and Gender Studies. Alasannya? Aku bukan lulusan Social Studies. Padahal gelar sarjana yang kusandang adalah Sarjana Sosial. Sayangnya, jurusan yang kuambil bukanlah Sosiologi atau Politik, melainkan Komunikasi. Dan itu membuatku tidak eligible untuk meng-apply di ISS, salah satu instut Social Studies di Belanda yang konon kata seorang teman sedang berusaha meningkatkan kualitasnya karena sekarang sudah bergabung dengan Erasmus Mundus. Jadi, mereka benar-benar selektif dan strict dengan background setiap pelamar jurusannya. Hhhh...
Walhasil, saat menyadari hal itu, aku hanya bisa duduk bengong melongong. Butuh sedikit kekuatan untuk membangkitkan diriku dan menyusuri kembali deretan meja-meja pameran pendidikan Belanda yang digelar di Hotel Mulia, Sabtu kemarin. Yah sudahlah, mumpung sedang berada di sini aku akan memanfaatkannya untuk mencari program-program lain yang lebih cocok denganku. Bukankah kata orang saat satu pintu tertutup, sebuah pintu lain terbuka untukku? Dan memang benar, aku menemukan pintu itu. International Communication Management di The Hague. Hooooo...
So, I will go for it. Wish me luck!! I need all of it!!
Bunga Tidur
10/31/2009 02:44:00 AM
Menurutmu, apa sih arti mimpi? Bunga tidur? Kalau hanya demikian, kenapa beberapa mimpiku bisa membuatku terbangun dengan keringat dingin dan perasaan yang tak karuan?
Pagi tadi aku terbangun dengan perasaan tak menentu dihajar mimpi yang tiba-tiba dan tak kuantisipasi sebelumnya. Disaat aku sedang mengalami hal yang tak mengenakkan, kenapa mimpi seperti itu harus menjadi bunga tidurku?? Lalu, apa arti dari mimpi itu?
Aaaaaaaaaarrggghhh!!! Aku lebih memilih tak tidur daripada menghadapi mimpi serupa itu lagi!
Gambarnya dicolong dari sini.
Older
10/22/2009 12:41:00 PM
Aku selalu berkata bahwa seiring bertambahnya usia, semakin berat pulalah hidup yang kita hadapi. Aku mencoba mengingat saat masih duduk di bangku SMA, hal-hal seperti apa yang mampir di otakku. Paling-paling seputar ujian, pengen beli komik ini-itu, besok jalan ke mana, si ini kok nyebelin banget, duid yang dikasih papa kok udah abis ya, blablabla.
Sekarang? Keadaan financial yang mengkhawatirkan, aktualisasi diri yang tak memuaskan, hubungan yang tak jelas ujung nya, masa depan yang terlihat semakin suram. Hahahaha…bener juga kata-katanya mbak Colbie Caillat, it’s tough getting older.
Saat usia bertambah, masalah juga makin bertambah. Sebenarnya, aku tak tahu juga apakah pantas disebut masalah jika yang meributkannya juga hanyalah diri sendiri. Baiklah, mari kita sepakati bahwa yang bertambah bukanlah masalah, namun keinginan natural manusia untuk meributkan beberapa hal tertentu. Jadi, saat usia bertambah, ruang dalam otak untuk berpikir tentang masa depan pun jadi bertambah. Maka, secara otomatis otak kita memenuhi ruang itu dengan pikiran-pikiran yang mungkin dulu hanya mampu kita isi dengan hal yang itu-itu saja.
Kini, kita memikirkan tentang masa depan. Apa yang akan kita lakukan dalam 10 atau 20 tahun mendatang. Karena bagaimanapun juga, di usia seperempat abad (dan lebih), jalan yang ditempuh sekarang sedikit banyak akan menentukan rumah yang akan kita tempati sampai 30 atau 40 tahun berikutnya.
If we ever reach that age, of course.
Baiklah, mari kita asumsikan yang terbaik, bahwa kita akan sampai di usia tersebut. Nah, sudah terbayangkankah olehmu dengan apa yang kaujalani sekarang, rumah seperti apa yang akan kau tempati nanti? Jalan mana yang akan kautempuh setiap hari, yang akan membuatmu sering menjalankan autopilot? Aku tidak.
Terkadang aku merasa sedang berjalan di jalur yang salah. Di jalur yang aku tak mampu mengira-ngira akan berada berujung dimana kah jalan keluarnya. Untuk berputar dan mencari jalan yang lain, aku masih ragu. Dan seperti yang biasa aku lakukan, aku terus berjalan sampai menghadapi jalan buntu, barulah aku akan berputar balik dan mencari jalan lain.
Bagaimana kamu yakin bahwa jalan yang kau ambil adalah yang terbaik untuk dirimu? Dan bagaimana caramu meyakinkan diri untuk mulai berbalik arah dan menemukan jalan yang benar? *sigh*
Sedari SMA aku memiliki pemikiran bahwa setiap orang memiliki jalan masing-masing. Yang berbeda arah, jalur maupun waktu tempuhnya. Ibaratnya begini, untuk mencapai satu tujuan yang sama setiap orang menempuh jalan yang berbeda-beda. Ada yang menempuh jalan tol dengan segala kemulusannya, dan ada yang menempuh jalan biasa dengan segala hambatannya. Hal ini tentu nya mempengaruhi waktu tempuh perjalanan, yang membedakan antara jalan yang satu dengan yang lain. Kecuali tentunya kalau si penempuh jalan tol nyasar. Hahahha…jadi keinget kejadian sama si lelaki masa depan satu setengah tahun lalu… *blushing*
Maka, setiap orang menemukan kesuksesannya dengan jalan yang berbeda, dalam rentang waktu yang berbeda pula. Dengan pemikiranku kala itu, seharusnya setiap orang tak perlu khawatir melihat kesuksesan pribadi-pribadi lain yang bertebaran di sekelilingnya. Yang patut diingat hanyalah, saatnya akan tiba. Meski harus menempuh jalan berliku, meski harus nyasar atau menemui jalan buntu.
Sialnya, saat ini aku tak bisa lagi mengimani apa yang aku hayati kala itu. Ingatan tentang kesadaran itu masih tetap bercokol di otakku. Kenyataannya, aku kehilangan penghayatan itu. Menyebalkan.
Lalu bagaimana? Entah, aku juga tak tahu.
Yang aku tahu, this is my theme song of the day.
Waited all my life for this day to come
I feel like letting go, life goes on
Wasting no more time
So much to be done
Everything works out
So they say
Over my shoulder, it's tough getting older
Yeah, yeah.......
(Chorus)
Seems like nothing is black and white anymore
Shades of grey and I feel a weight over my shoulder
It's tough getting older
I always thought that I knew where I'd want to go
Now I'm here and I find that I'm still getting colder
It's kinda tough getting older
Here before my eyes, many roads ahead
Time for me to choose one way now
If I take a chance
What lies down the road
Feeling so confused, turned round
On and on, on and on
yeah yeah.....
Seems like nothing is black and white anymore
Shades of grey and I feel a weight over my shoulder
It's tough getting older
I always thought that I knew where I'd want to go
Now I'm here and I find that I'm still getting colder
It's kinda tough getting older
Waited all my life for this day to come
I feel like letting go, life goes on
Over my shoulder (on and on)
It's tough getting older (on and on, on)
Yeah, yeah.....
Seems like nothing is black and white anymore
Shades of grey and I feel a weight over my shoulder
It's tough getting older
I always thought that I knew where I'd want to go
Now I'm here and I find that I'm still getting colder
It's kinda tough getting older
Seems like nothing is black and white anymore
Shades of grey and I feel a weight over my shoulder
It's tough getting older
Sekarang? Keadaan financial yang mengkhawatirkan, aktualisasi diri yang tak memuaskan, hubungan yang tak jelas ujung nya, masa depan yang terlihat semakin suram. Hahahaha…bener juga kata-katanya mbak Colbie Caillat, it’s tough getting older.
Saat usia bertambah, masalah juga makin bertambah. Sebenarnya, aku tak tahu juga apakah pantas disebut masalah jika yang meributkannya juga hanyalah diri sendiri. Baiklah, mari kita sepakati bahwa yang bertambah bukanlah masalah, namun keinginan natural manusia untuk meributkan beberapa hal tertentu. Jadi, saat usia bertambah, ruang dalam otak untuk berpikir tentang masa depan pun jadi bertambah. Maka, secara otomatis otak kita memenuhi ruang itu dengan pikiran-pikiran yang mungkin dulu hanya mampu kita isi dengan hal yang itu-itu saja.
Kini, kita memikirkan tentang masa depan. Apa yang akan kita lakukan dalam 10 atau 20 tahun mendatang. Karena bagaimanapun juga, di usia seperempat abad (dan lebih), jalan yang ditempuh sekarang sedikit banyak akan menentukan rumah yang akan kita tempati sampai 30 atau 40 tahun berikutnya.
If we ever reach that age, of course.
Baiklah, mari kita asumsikan yang terbaik, bahwa kita akan sampai di usia tersebut. Nah, sudah terbayangkankah olehmu dengan apa yang kaujalani sekarang, rumah seperti apa yang akan kau tempati nanti? Jalan mana yang akan kautempuh setiap hari, yang akan membuatmu sering menjalankan autopilot? Aku tidak.
Terkadang aku merasa sedang berjalan di jalur yang salah. Di jalur yang aku tak mampu mengira-ngira akan berada berujung dimana kah jalan keluarnya. Untuk berputar dan mencari jalan yang lain, aku masih ragu. Dan seperti yang biasa aku lakukan, aku terus berjalan sampai menghadapi jalan buntu, barulah aku akan berputar balik dan mencari jalan lain.
Bagaimana kamu yakin bahwa jalan yang kau ambil adalah yang terbaik untuk dirimu? Dan bagaimana caramu meyakinkan diri untuk mulai berbalik arah dan menemukan jalan yang benar? *sigh*
Sedari SMA aku memiliki pemikiran bahwa setiap orang memiliki jalan masing-masing. Yang berbeda arah, jalur maupun waktu tempuhnya. Ibaratnya begini, untuk mencapai satu tujuan yang sama setiap orang menempuh jalan yang berbeda-beda. Ada yang menempuh jalan tol dengan segala kemulusannya, dan ada yang menempuh jalan biasa dengan segala hambatannya. Hal ini tentu nya mempengaruhi waktu tempuh perjalanan, yang membedakan antara jalan yang satu dengan yang lain. Kecuali tentunya kalau si penempuh jalan tol nyasar. Hahahha…jadi keinget kejadian sama si lelaki masa depan satu setengah tahun lalu… *blushing*
Maka, setiap orang menemukan kesuksesannya dengan jalan yang berbeda, dalam rentang waktu yang berbeda pula. Dengan pemikiranku kala itu, seharusnya setiap orang tak perlu khawatir melihat kesuksesan pribadi-pribadi lain yang bertebaran di sekelilingnya. Yang patut diingat hanyalah, saatnya akan tiba. Meski harus menempuh jalan berliku, meski harus nyasar atau menemui jalan buntu.
Sialnya, saat ini aku tak bisa lagi mengimani apa yang aku hayati kala itu. Ingatan tentang kesadaran itu masih tetap bercokol di otakku. Kenyataannya, aku kehilangan penghayatan itu. Menyebalkan.
Lalu bagaimana? Entah, aku juga tak tahu.
Yang aku tahu, this is my theme song of the day.
Waited all my life for this day to come
I feel like letting go, life goes on
Wasting no more time
So much to be done
Everything works out
So they say
Over my shoulder, it's tough getting older
Yeah, yeah.......
(Chorus)
Seems like nothing is black and white anymore
Shades of grey and I feel a weight over my shoulder
It's tough getting older
I always thought that I knew where I'd want to go
Now I'm here and I find that I'm still getting colder
It's kinda tough getting older
Here before my eyes, many roads ahead
Time for me to choose one way now
If I take a chance
What lies down the road
Feeling so confused, turned round
On and on, on and on
yeah yeah.....
Seems like nothing is black and white anymore
Shades of grey and I feel a weight over my shoulder
It's tough getting older
I always thought that I knew where I'd want to go
Now I'm here and I find that I'm still getting colder
It's kinda tough getting older
Waited all my life for this day to come
I feel like letting go, life goes on
Over my shoulder (on and on)
It's tough getting older (on and on, on)
Yeah, yeah.....
Seems like nothing is black and white anymore
Shades of grey and I feel a weight over my shoulder
It's tough getting older
I always thought that I knew where I'd want to go
Now I'm here and I find that I'm still getting colder
It's kinda tough getting older
Seems like nothing is black and white anymore
Shades of grey and I feel a weight over my shoulder
It's tough getting older
REMARKABLE INDONESIA
10/21/2009 10:12:00 AMCkckckck....aku bisa tepuk tangan seharian penuh nih dengan kreativitas yang ditunjukin KADIN. Keren banget video profil Indonesia yang dibuat ini. Membuat aku cukup bangga menjadi rakyat Indonesia. Memang sih, di sana sini pasti banyak yang mungkin dilebih-lebihkan, namanya juga iklan untuk menarik investor supaya mau nanem modalnya di Indonesia.
But, in general beberapa informasi itu nggak salah kok. Indonesia sekarang emang rising star di Asia. IHSG perkasa. Ekonomi cukup stabil. Rupiah terus melaju. Kenapa kita tidak mau berbangga dengan kenyataan itu? Dari sisi ekonomi dan investasi, kita memang patut untuk berbangga diri.
Namun yang membuat aku lebih tersentuh adalah detail video ini yang tak melupakan kisah kelam bangsa Indonesia. Lihat saja beberapa cuplikan kejadian-kejadian seperti kerusuhan massal (yang mengingatkanku pada masa-masa 1998 lalu), serta bencana alam yang beberapa kali mengguncang Indonesia. Namun, semua kejadian tersebut tak membuat Indonesia patah semangat. Dengarkan saja narasi yang dibacakan.
In short, this one is a great nation's commercial.
PS. Berikut adalah narasi yang coba aku tangkap dari iklan KADIN ini. Ada satu atau dua kata yang nggak bisa aku mengerti. Kalau ada dari kalian yang tahu, inform me yaaaa.... ^^
The world's third largest democracy on the move.
The nation's epic journey.
From revolution to modernity.
From political turbulance to stability.
From despair to renewed hope.
From economic crisis to solid growth.
Indonesia celebrates a new era, a decade of democracy and transformation.
A land of endless beauty.
A people of xxxx and xxxx.
A heaven of freedom and harmony.
A nation's who's time has come.
Resourceful.
Resilient.
Rising.
REMARKABLE INDONESIA.
SBY : "Join us on our journey of opportunities and progress."
Indonesian chamber of commerce and industry.
Terasing
10/13/2009 01:10:00 AM
Angka digital di laptopku menunjukkan pukul 12.32. Tengah malam terlewati sudah. Diiringi dentang musik reggae aku masih saja betah duduk di kursi ini, di café ini. Entah mengapa aku menemukan keterasinganku di sini. Keterasingan yang anehnya membawa sedikit ketenangan.
Jalanan masih cukup ramai, dua truk berwarna hijau baru saja melintas. Kipas angin besar di atap masih konstan berputar. Seperti otakku yang juga konstan berputar. Menghampiri titik demi titik, tanpa pernah berhenti untuk memfokuskan diri di satu titik.
Apakah bersama dengan seseorang yang membuat hilangnya kedamaian membuatmu bahagia?
Jika orang yang membuatmu bahagia ternyata tak bahagia, akankah kamu mempertahankannya?
Sejauh mana masa lalu mempengaruhi masa depanmu?
Kapankah perjuangan harus diakhiri?
Kapankah perjuangan harus dimulai?
Terus terang, aku letih.
Dan aku ingin berhenti.
Jalanan masih cukup ramai, dua truk berwarna hijau baru saja melintas. Kipas angin besar di atap masih konstan berputar. Seperti otakku yang juga konstan berputar. Menghampiri titik demi titik, tanpa pernah berhenti untuk memfokuskan diri di satu titik.
Apakah bersama dengan seseorang yang membuat hilangnya kedamaian membuatmu bahagia?
Jika orang yang membuatmu bahagia ternyata tak bahagia, akankah kamu mempertahankannya?
Sejauh mana masa lalu mempengaruhi masa depanmu?
Kapankah perjuangan harus diakhiri?
Kapankah perjuangan harus dimulai?
Terus terang, aku letih.
Dan aku ingin berhenti.
Sebelum Ia Membunuhku
10/13/2009 12:26:00 AM
Aku ingin membunuhnya. Suara ini yang terus bercokol di dalam jiwa. Mengendap. Menggerogoti.
Tak tahu diri ia terus berteriak, meracuniku dengan pedang kata-katanya, yang tanpa ampun menelisik dan membelit setiap rongga paru-paru. Menyesakkan nafas. Membuatku melihat bayangan yang tak semestinya kuintip. Menyebabkan asaku berkeriut dan menciut. Berkubang dalam lumpur gelap otak, menyeretku semakin dalam. Dan kewarasanku pun mulai ternoda.
Aku membencinya. benci. Benci. BENCI.
Maka, aku ingin membunuhnya. Sebelum ia menodaiku. sebelum ia menghitamkanku. Sebelum ia membunuhku.
Tak tahu diri ia terus berteriak, meracuniku dengan pedang kata-katanya, yang tanpa ampun menelisik dan membelit setiap rongga paru-paru. Menyesakkan nafas. Membuatku melihat bayangan yang tak semestinya kuintip. Menyebabkan asaku berkeriut dan menciut. Berkubang dalam lumpur gelap otak, menyeretku semakin dalam. Dan kewarasanku pun mulai ternoda.
Aku membencinya. benci. Benci. BENCI.
Maka, aku ingin membunuhnya. Sebelum ia menodaiku. sebelum ia menghitamkanku. Sebelum ia membunuhku.



