some retarded thought

Menua

7/14/2009 07:56:00 PM
Mataku terpaku pada layar di aula GoetheHaus, yang saat itu tengah memutar sebuah film Jerman. Tertangkap oleh mataku adegan seorang pria tua tengah merunduk di depan wastafel. Tangan kanannya memegang sebuah sikat, yang ia pergunakan untuk menyikat gigi perlahan-lahan, seolah takut jika ia menggosok terlalu kuat gigi-gigi itu akan langsung berjatuhan.

Bersandar di daun pintu yang berada di samping wastafel, seorang pria muda memperhatikannya. Wajahnya nampak bosan, menyaksikan ritual yang entah telah terjadi untuk keberapa kalinya. Setelah ritual berakhir, si pria muda lantas menyuruh ayahnya itu untuk segera berbaring dan beristirahat.

Melihat adegan itu, tanpa dapat kuantisipasi secuil kegamangan tiba-tiba menyelinap di rongga jiwaku.

Menua.

Apa yang akan terjadi jika momen itu menampakkan diri di hadapanku? Saat keriput telah menjadi aksesoris permanen permukaan kulit, gigi yang tak lagi lengkap, kekuatan fisik yang menurun drastis. Akankah aku mampu mengurus diriku sendiri? Atau haruskah ada seseorang yang harus berada di sampingku, mengurusku dan memastikan aku baik-baik saja?

Aku teringat ketika aku masih kecil dahulu, dimana aku selalu mendongak melihat manusia-manusia yang lebih besar dariku. Penuh kekaguman aku berharap dapat segera tumbuh menjadi mereka. Saat aku masih mengenakan rok merah, dan di depanku melintas gerombolan gadis dengan rok biru, dapat dipastikan mataku akan terus mengekor mereka, berharap seandainya rok biru itulah yang melekat di badanku. Begitu pula saat aku telah mengenakan rok biru, atau rok abu-abu. Keinginan untuk segera tumbuh menjadi manusia-manusia yang kuanggap lebih dewasa tak pernah menyingkir dari benakku.

Walhasil, aku versi cilik tak pernah mampu memahami seseorang yang berharap dirinya dapat kembali ke masa kecil. Sama halnya aku tak mampu memahami perkataan "takut menua". Yang saking takutnya lantas melakukan operasi plastik di berbagai sudut wajahnya. Yang bahkan saat aku masih bocah pun terdengar seperti sebuah hal yang semu. Sungguh, aku tak mengerti.

Aku selalu berpendapat kala itu, apa enaknya menjadi anak kecil? Tidak bebas melakukan segala sesuatu sesuka hati, tidak bisa tidur malam, selalu dianggap anak kecil yang tak tahu apa pun, dan segala keterbatasan lainnya yang otomatis mengikuti seorang bocah.

Bahkan, di antara kepura-puraan tak ingin meninggalkan usia 21 (yang selalu dikeluhkan remaja-remaja usia tersebut), aku masih selalu exciting menyambut usia yang baru. Ah, satu langkah lagi menuju kedewasaan. Menuju tanggungjawab penuh akan diri. Menuju masa depan yang akan kurajut dengan tangan sendiri. Meskipun saat kemudian aku mengalaminya, hal itu benar-benar tak mudah.

Namun, tak pernah sekalipun aku memproyeksikan saat-saat aku telah menua. Sampai aku memandang sang pria tua dalam film Jerman itu.

Dan aku terpukul.

Membayangkan bahwa diriku akan sedemikian ringkihnya, tak lagi mampu menopang tubuh dengan kedua kakiku sendiri, atau melakukan sesuatu dengan kecepatan maksimal, hati ini seakan menciut. Apalagi jika memikirkan jika nanti aku tak lagi mampu mengingat, atau mengalami kesulitan berpikir. Otakku memang bukan yang terhebat, namun otakku pulalah yang membuatku bisa berpikir. Dan kehilangan fungsi organ itu mungkin akan kuartikan sebagai kehilangan makna hidup.
Selama ini pula aku selalu membanggakan dayaku yang mampu hidup sendiri, tanpa bantuan orang lain. Mendapatkan bantuan untuk membantuku sekedar berjalan, atau menyiapkan makanan untukku, bahkan aku pun sudah merasa helpless membayangkannya saat ini.

Ya, menua ternyata memang menakutkan.

Namun demikian, apakah ketakutan akan usia yang terus bertambah harus disembuhkan dengan tambalan plastik di sana-sini? Bukankah tambalan tersebut hanyalah sesuatu yang semu?

Tidakkah lebih baik jika kita menyembuhkan ketakutan itu dengan menikmati hari muda sepuas mungkin? Sehingga ketika saat itu datang, kita bisa menyambutnya dengan senyum, karena kita telah menikmati cukup kemudaan dengan segala keindahannya.

So, aku akan mulai menikmati hidup. To the fullest!
Read On 0 comment(s)

The Lonely King

7/10/2009 06:50:00 PM


Quoted from Wikipedia :

He became the subject of increasingly sensational reports. In 1986, The National Enquirer published a series of photographs of him lying in a hyperbaric oxygen chamber, claiming that he slept in the chamber to slow the aging process.[43] When Jackson bought a chimpanzee called Bubbles from a laboratory, it was reported as an example of increasing detachment from reality.[44] In 2003, the singer claimed that Bubbles had been trained to use the toilet and to clean his own bedroom.[43] Later, it was reported that he had offered $1 million for the bones of Joseph Merrick, the "Elephant Man."[45] The reports became embedded in the public consciousness, inspiring the nickname "Wacko Jacko." Despite Jackson's insistence that the reports were completely invented, a biographer said in 2004 that Jackson's publicists had leaked the rumors to the press for promotional reasons.[46] Jackson remarked to a reporter:

Why not just tell people I'm an alien from Mars. Tell them I eat live chickens and do a voodoo dance at midnight. They'll believe anything you say, because you're a reporter. But if I, Michael Jackson, were to say, "I'm an alien from Mars and I eat live chickens and do a voodoo dance at midnight," people would say, "Oh, man, that Michael Jackson is nuts. He's cracked up. You can't believe a damn word that comes out of his mouth."


That two paragraph of a Wiki article state about how powerful media can be. And who knows it the most? People like Michael Jackson. Hffffhhh...sedih banget ngedengerin lagu Childhood-nya the King of Pop ini. He is indeed a lonely person. No one understand him. Everyone judging him.

Rest in peace MJ.
Read On 0 comment(s)

Small of Two Pieces

7/08/2009 02:52:00 PM


Run through the cold of the night
As passion burns in your heart
Ready to fight
A knife held close by your side
Like a proud wolf alone in the dark
With eyes that watch the world
And my name like a shadow on the face of the moon

Broken mirror
A million shades of light
The old echo fades away
But just you and I
Can find the answer
And then,
We can run to the end of the world
We can run to the end of the world

Cold fire clenched to my heart
In the blue of night
Torn by this pain,
I paint your name in sound
And the girl of the dawn
With eyes of blue,
And angel wings
The songs of the season are her only crown

Broken mirror
A million shades of light
The old echo fades away
But just you and I
Can find the answer.
And then,
We can run to the end of the world
We can run to the end of the world

We met in the mist of morning
And parted deep in the night
Broken sword
And shield,
And tears that never fall
But run through the heart
Washed away by the darkest water
The world is peaceful and still

Broken mirror
A million shades of light
The old echo fades away
But just you and I
Can find the answer.
And then,
We can run to the end of the world
We can run to the end of the world
Run to the end of the world...
Read On 0 comment(s)

Kertas Putih itulah Jenis Kelamin

7/01/2009 09:29:00 AM
Yang paling penting itu kasih sayang. Jenis kelamin itu nomor kesekian.

Begitu seringkali canda yang terlontar dari bibir teman-teman jika pembicaraan kami mulai mengambil jalur ke kampung cinta dan hubungan. Dari sindiran pada seorang kawan yang tak jua memiliki tambatan hati berbeda jenis kelamin, kemudian menjurus mempertanyakan kecenderungan seksualitasnya yang hanya memiliki kawan dekat sesama jenis. Maksud hati ingin menghindari ejekan yang sudah kadung terlontar, mengalirlah dua kalimat tersebut dari bibir sang kawan.

Sejujurnya, jauh di dalam hatiku aku selalu memiliki keyakinan terhadap kalimat tersebut. Alih-alih kosong belaka, kata-kata tersebut memiliki makna yang merepresentasikan bahwa tidak ada faktor selain biologis yang membedakan laki-laki dan perempuan.

Aku percaya bahwa setiap manusia terlahir dengan secarik kertas putih dalam dirinya. Akan menjadi sosok manusia seperti apa ia nanti, itu tergantung bagaimana kertas itu ditulis, digambar ataupun diremas. Konsep inilah yang mendasari keyakinanku bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan itu hanya sebuah ilusi semata. Ilusi yang tertanam dalam otak dan benak masyarakat sehingga mewujud sebagai sebuah kebenaran absolut.

Faktor biologis yang aku maksud di sini adalah struktur tubuh manusia, dimana laki-laki memiliki penis dan sperma, sedangkan perempuan memiliki payudara, vagina, sel telur dan ovarium. Perbedaan secara biologis itu pada dasarnya tidak mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak, berpikir maupun mengambil keputusan.

Tindakan, pikiran dan pengambilan keputusan seseorang buatku lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Kertas putih itulah yang menjadi rekam jejak peninggalan faktor lingkungan. Saat seorang bayi lahir, ia tidak memiliki kecenderungan apapun, ia tidak memiliki sifat apapun. Maka, aku tak pernah tak ragu dengan prasangka seorang perempuan hamil yang ketika merasakan tendangan begitu kuat dari perutnya, ia meyakini sangat bahwa sang calon anak nantinya akan menjadi laki-laki aktif. Really?

Faktor lingkungan yang aku bicarakan adalah bagaimana perlakuan orangtua terhadap seorang anak, bagaimana orangtua dan lingkungan membentuk sudut pandang sang anak, nilai-nilai baik dan buruk yang ia peroleh, dan lain sebagainya. Lingkungan lah yang kemudian menorehkan kalimat di atas kertas putih itu, memberikan warna di sudut-sudutnya, menggunting sisi-sisinya, meremas, membakar, intinya : membentuk personality manusia itu.


Maka, menjadi sangat masuk akal ketika seorang bayi dibesarkan dengan segala atribut "perempuan", ia menjadi perempuan dengan segala keterbatasannya. Bahwa perempuan tidak sekuat laki-laki dalam permasalahan fisik, bahwa perempuan tidak bisa memanjat pohon, perempuan itu cerewet, perempuan itu selalu hanya mempedulikan hal-hal detail dan mikro tanpa mampu melihat secara makro, blah blah blah. Demikian pula sebaliknya, bayi yang dibesarkan dengan segala atribut "laki-laki", ia akan menjadi laki-laki dengan segala keterbatasannya. Bahwa laki-laki pantang menunjukkan kelemahan, pantang bertanya di jalan, selalu berantakan, tak bisa melihat barang-barang yang berserakan di dalam rumah, sekali lagi blah blah blah.

Kenapa semua perbedaan itu bisa nampak nyata? Bukan, bukan karena laki-laki dan perempuan memang berbeda dari sononya. Hal ini simply karena sedari kecil manusia telah dijejali dengan nilai-nilai yang menjadikannya mengemban atribut laki-laki dan perempuan itu. Perempuan menjadi seorang yang detail karena sejak jaman dahulu mereka selalu kebagian peran sebagai penjaga gua yang terbiasa menggunakan pandangan jarak jauh. Sebaliknya, laki-laki kesulitan menemukan barang-barang disekitar mereka kebiasaan mencermati jejak binatang yang membuat jarak pandang mereka terbatas.

Kebiasaan turun temurun dari nenek moyang ini lantas mendarah daging sehingga melahirkan apa yang sudah aku sebut di atas, ilusi sosial yang menjadikan perbedaan ini sebagai sebuah kebenaran absolut. Coba saja jika seorang bayi dibesarkan sebagai seorang perempuan dengan segala atributnya, ia akan menjelma menjadi semua atribut perempuan tanpa mempedulikan bahwa ternyata ia mungkin memiliki penis. Seperti yang terjadi dalam Middlesex, buku karya Jeffrey Eugenides yang menjadi pemenang penghargaan Pulitser di tahun 2003.

Pemikiran inilah yang kemudian menjadi dasar pemikiranku bahwa memang jenis kelamin hanyalah persoalan kesekian dalam sebuah hubungan. Aku percaya bahwa pada dasarnya manusia dapat jatuh cinta pada siapapun di dunia ini, tak peduli ia memiliki penis atau buah dada, sepanjang manusia itu merasakan perasaan kasih dan nyaman.

Hal yang sama juga berlaku pada atribut lain, seperti ras atau agama. Lha kalau sudah merasakan cinta dan kenyamanan, memangnya kita akan melihat atribut-atribut yang nggak penting itu? Hehehehe...curcol... =p

Jadi, dari pemikiran ini, aku menarik dua buah kesimpulan. Yang pertama, laki-laki dan perempuan itu sama. Tidak ada yang membedakan kedua spesies ini, kecuali akar budaya yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Maka, perempuan harus bisa melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki. Demikian sebaliknya.

Kesimpulan kedua adalah bahwa tidak ada yang salah dengan homoseksual. Jika seseorang merasakan kenyamanan bersama dengan seseorang, meskipun toh orang tersebut memiliki atribut biologis yang sama, itu hak dia. Karena semua orang sama. So, I declare right now in this blog that I am supporting homosexuality. =)

Photo taken from here.
Read On 4 comment(s)

KING vs GDD

6/29/2009 07:01:00 PM
Liburan sekolah memang waktu yang tepat untuk mengeksploitasi keinginan anak akan hiburan. Walhasil, banyak sekali produk-produk yang mendompleng kesempatan liburan untuk mengeruk keuntungan. Tak ketinggalan juga dunia perfilman.

Tahun ini praktis ada dua film anak yang muncul menghiasi koleksi perfilman Indonesia. Sebuah prestasi besar menurutku, setelah setan-setan yang tak jua lelah menghantui layar lebar. Setan yang tak lagi memiliki unsur menakutkan seperti film "Jelangkung", namun malah bikin eneg.

Meski sudah tidak lagi menyandang status anak sekolahan, ternyata aku masih ikut menikmati momen liburan sekolah itu. Kemarin aku resmi melakukan tindak pidana nonton terusan. Tindakan yang tak saja membuat dompetku lantas kerontang, namun juga membuat jantungku tak tenang saking semangatnya.


Film pertama yang kunikmati adalah Garuda di Dadaku, sebuah film besutan Ifa Isfansyah yang menggambarkan perjuangan seorang pesepakbola cilik berbakat untuk menjadi pemain timnas U-13. 45 menit setelah Garuda di Dadaku berakhir, aku kembali nongkrong di bangku studio 21. Kali ini, studio itu memutar King, film karya Ari Sihasale yang memaparkan tentang perjuangan Guntur untuk menjadi seorang juara badminton seperti Liem Swie King.

Aku tidak hendak memaparkan cerita lebih lanjut mengenai kedua film tersebut. Toh Anda-Anda sekalian dapat melihat sinopsisnya di mana saja. Aku hanya ingin mencerewetinya saja kok.

Diputar pada saat yang nyaris bersamaan, kedua film ini memiliki cukup banyak kesamaan yang lebih dari sekedar waktu pemutaran. Kisah yang bertutur seputar olahraga—bulutangkis dan sepakbola, lakon utama seorang anak lelaki berusia 12 tahun yang diasuh oleh orangtua tunggal (single parent), kesulitan finansial keluarga lakon utama, dua orang teman dekat laki-laki dan perempuan, obsesi orangtua akan kesuksesan (meski yang satu cenderung memaksakan kehendak, sementara yang lainnya memiliki kecenderungan menghukum), rivalry dengan kawan sesama klub, serta nuansa nasionalisme yang kental.

Bangunan cerita pun memiliki fondasi yang nyaris sama. Dari sebuah keinginan untuk menjadi salah satu entitas nasional pengemban nama bangsa (dan desa, hahahahaha... You will understand kalau udah nonton KING), menjelma sebuah kesempatan yang membutuhkan usaha keras untuk mewujudkannya.

Meski memiliki kesamaan di berbagai sudut, GDD dan KING memiliki perbedaan yang cukup menonjol. Salah satunya adalah setting. GDD bersetting di Jakarta dengan segala rumusan ke-kota-annya. Sementara itu, KING mengambil setting di Bondowoso, di sebuah desa kecil dengan segala rumusan ke-ndeso-annya.

Mungkin pemilihan setting inilah yang membuat aku lebih menaruh hati dengan KING. Proximity effect, istilahnya. Wajar juga sih, karena dalam KING bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Timur kasar yang lekat dengan penggunaan bahasaku sehari-hari. Perhatikan saja omongan Guntur kala ia menghardik Raden saat sang kawan melontarkan ide-ide aneh. "Ngawur koen!" Hahahaha, hanya mendengar kata itu saja aku sudah tertawa terbahak-bahak. Atau saat Mbah Su, nenek Raden, memaki-maki dengan rentetan bahasa Jawa Timuran yang kasar itu. Sepanjang pemutaran KING, aku tak pernah berhenti mesam-mesem mendengar kalimat-kalimat Jawa Timur yang terlontar.

Lebih dari sekedar kedekatan, buat aku KING juga nampak lebih riil dengan permasalahan-permasalahannya. Di GDD, Bayu sangat beruntung memiliki sahabat yang kaya dan mampu menangani semua kesulitannya yang berhubungan dengan masalah finansial. Sampai-sampai, saat film masih diputar, aku sempat berbisik pada Eka, "Enak bener ya punya temen kaya. Lo kaya deh Ka, gw ntar temenan ama elo". Bedakan dengan KING, yang meskipun Michelle boleh dipandang cukup berada, permasalahan keuangan tidak sekonyong-konyong terselesaikan. Instead of asking for Michelle's mother's money, Michelle bersama Raden harus mengamen demi mengumpulkan rupiah untuk biaya pendaftaran klub badminton Guntur.

Dalam GDD, perjuangan juga nampak tak riil dengan berbagai kemudahan yang didapat Bayu. Hanya karena melihat tendangan Bayu yang tepat sasaran, ia lantas dicap berbakat dan mendapatkan semua perhatian dari sang pelatih. Bedakan dengan Guntur, yang tak mendapatkan perhatian dari sang pelatih sampai setelah ia beberapa kali bertanding. Itupun bukan perhatian yang lantas membuatnya mendapatkan perlakuan ekstra.


Klimaks GDD pun terasa hambar, dilihat dari betapa gampang sang kakek berubah pikiran mengenai what's best for his grandson. Padahal, sepanjang film terlihat betapa kolotnya sang kakek, betapa ia sangat membenci sepakbola. Yeah, accident sometimes do change one's brain composition. But come on... Really???

Hal ini lah yang membuatku menjatuhkan vonis tentang penokohan GDD yang kurang kuat. Setiap tokoh tidak memiliki karakter yang kuat dan membuat kita memahami apa yang sebenarnya ada dalam otak mereka. Ya persis seperti sang Kakek itu, yang dapat berubah pikiran semudah membalikkan telapak tangan. Padahal kita tahu persis, perasaan dan pikiran susah untuk dirubah. Alasan-alasan emosional hanya ditunjukkan dalam dialog romantis menye-menye. Seperti dialog antara Bayu dan Heri saat mereka berada di rumah sakit. "Aku ingin bisa bangga sama kamu , blablabla..." Nggg...emang sih anak kecil terkadang suka mendramatisir sesuatu, tapi kok sinetron sekali ya?

Tokoh Zahra pun buatku nampak tidak riil, berusaha menjelma sebagai sosok misterius, namun jatuhnya corny. Apalagi ayahnya, yang sebelumnya dikabarkan sakit keras, eh ternyata pada saat pertandingan bisa datang ke stadion dan nampak sangat segar bugar. Ngggg... *krikrikrik*

Sebaliknya, penokohan KING digarap dengan lebih apik dan realis. Aku merasakan bahwa Guntur sangat kehilangan ibunya dan tersiksa dengan kerasnya sang ayah dalam mendidik. Yang lantas membentuknya menjadi sosok yang angkuh dan pemarah. Aku juga paham apa yang dirasakan oleh Tedjo, sang ayah, yang mendidik Guntur dengan keras. Aku bisa memahami kenapa ia melakukan ini dan itu. Dan oh ya, aku harus angkat jempol untuk akting Mamik Prakoso. Menurutku ia bermain sangat apik di film ini. Ia berhasil menampilkan ekspresi seorang bapak yang helpless karena himpitan ekonomi. Di adegan lain, ia berhasil menampilkan ekspresi bangga atas kesuksesan anaknya. Benar-benar mantap.

KING pun kulihat sangat memperhatikan detil-detil dalam film ini, membuatnya nampak makin riil dimataku. Sepeda yang dikendarai oleh Guntur dan Raden mengingatkanku pada hari-hari sekolah dulu. Pigura yang menjadi rumah bagi foto sang ibu pun nampak sangat ndeso, yang tentunya cocok dengan setting pedesaan itu. Dan coba perhatikan adegan dimana pak pos datang ke desa Guntur, latar belakang aktivitas yang saat itu terjadi adalah rombongan perempuan desa yang tengah mandi dan mencuci di pemandian terbuka. Pemandangan yang sangat membumi di desa-desa di daerah jawa timur.

Tidak hanya segi konten yang menawan, sisi teknikal KING pun amat membuai mata. Sekali lagi applause untuk Yudi Datau sebagai DoP (Director of Photography) yang telah meramu alam Indonesia dan menyajikannya dengan sangat indah, seperti dalam Denias. Aku sampai terharu dan sangat ingin kembali menyusuri alam. Meski aku agak ragu apakah di daerah Bondowoso sana kita bisa menjumpai kijang berlarian amat dekat dengan pemukiman masyarakat. Namun demikian, sepulang dari menonton KING, aku jadi berpendapat bahwa kita memang harus mengeksplor alam Indonesia dahulu sebelum berkata seenak hati ingin menjelajahi negara tetangga.


Dipandang secara keseluruhan, aku menganggap bahwa KING sebenarnya bukan ditujukan untuk anak-anak. KING justru ditujukan bagi orang dewasa yang telah mampu memahami emosi, karena memang emosi yang ditampilkan dalam KING cukup implisit namun justru membuat film ini lebih hidup. Mungkin dengan lakon anak-anak, seorang dewasa dapat lebih tergugah rasa nasionalisme dan perjuangannya.

Sementara itu, GDD aku anggap sebagai film yang memang ditujukan khusus bagi anak-anak, hanya cukup menghibur dan less emotion.

Bagaimanapun juga, keduanya adalah film Indonesia, yang sangat aku hargai keberadaannya diantara puluhan film-film tak berkualitas bernuansa setan dan komedi seks gak jelas. GDD juga nggak jelek-jelek amat untuk ukuran karya pertama sutradara Ifa Isfansyah. Terus berjuang ya Ifa, dan terus munculkan karya-karya berkualitas. Awas kalau kamu sampai ketahuan menyutradarai film horor ya!!

Dan untuk Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, aku memberikan standing applause untuk keduanya. Mereka adalah pejuang film nasional. Meski Merantau yang merupakan film pencak silat itu harus disutradarai oleh orang asing, untungnya Indonesia tidak lagi kecolongan dengan bulutangkis, salah satu olahraga yang pernah mengangkat nama Indonesia di kancah internasional. Bravo Indonesia!! Bravo KING!!!
Read On 4 comment(s)

Susan Mayer the Weak

6/21/2009 03:02:00 AM

Berbicara tentang serial, aku jadi ingin mengoceh tentang salah satu scene dalam Desperate Housewives. Yeah, I kind of lame for watching the serial. But hey, who are you to judge me? :p

Seriously, I love Desperate Housewives. I love the characters, I love the story, I love the tragedy, I love the irony, I love the drama, and I also love the lesson implied. Kesemua faktor itulah yang membuatku betah menghabiskan CD demi CD, episode demi episode, yang alhasil jadi sering mengganggu waktu tidurku.

Anyway, yang ingin aku bicarakan adalah dua karakter utama serial ini, Susan Mayer dan Edie Britt. Yep, people might say that Edie Britt is a slut. Well, sometimes I agree with the statement. Namun, seperti yang aku bicarakan di postingan sebelumnya, things isn't always black and white.

Dalam ke-slut-annya, Edie sebenarnya adalah seorang perempuan yang kuat. She knows exactly what she wants. She's acting slut because she wants to, that's what she is. Yah, mungkin dia terlalu berlebihan dalam menyikapi masalah-masalah tertentu. Seperti saat ia mensabotase hubungan Susan dengan berpura-pura menjadi kekasih Mike saat lelaki itu kehilangan ingatan. Atau ketika ia mencoba bunuh diri hanya untuk mempertahankan Carlos tetap berada di sisinya. But, on top of that, I admire her bravery.

Dalam episode 12 di season 5, Edie dan Susan diceritakan tengah terperangkap di ruang bawah tanah. Untuk mengisi kekosongan, Edie mulai mencatat pria-pria yang pernah menjalin hubungan dengan Susan. Hasilnya:

Edie    : "Seven boyfriends through high school and college, only…41 days single. What does that tell you? It's a cry for help, Mayer!"

Susan    : "Why not you look at your mirror, Edie. You're famous for the number of man you conquer. It's not a compliment, you tramp! Ok, I am not taking a relationship tips from a woman who has hooked up with, what is it, over a thousand men?!

Edie    : "Okay, that's true, I enjoy the aces. But the difference is, I go after them because I want them, you go after them because you need them."

Susan    : "That is not much of a distinction."

Edie    : "Yes, it is. You have holes in your heart, that can only filled by a pair of trousers. Face it Mayer, YOU'RE WEAK!

Yep, aku sekarang mengerti mengapa aku tak pernah menyukai tokoh Susan Mayer. She is an icon of weakness. She couldn't do anything without company, in this case: male. She is a drama queen. A big one. She cries for nothing, she babbles about nothing. She even does unnecessary things to get people to like her. One word, WEAK.

Apa yang salah dengan being single? I'm doing OK being alone for one and a half year, and more years before. I enjoyed every moment of it. Persis seperti lagu yang didendangkan oleh Oppie Andaresta, 'I'm Single and Very Happy'. Buat aku, sendiri bukanlah kutukan. Justru, kesendirian adalah kebebasan. Bebas menjalani hidup tanpa ada yang mengatur. Bebas mengeksplor kekuatan diri kita sendiri. Bebas menyuarakan pendapat dan ekspresi.

True, ada saat-saat dimana kita menginginkan seseorang untuk berbagi. Setiap manusia membutuhkan kasih sayang, itu merupakan salah satu kebutuhan emosional yang paling utama kurasa. Namun, tidak lantas membuat seseorang harus menyambar apapun yang ada di hadapannya kan? Seperti apa yang dikatakan oleh Edie, kita harus menginginkannya. Keinginan, bukan hanya sekedar kebutuhan yang membabi buta.

Aaah, apa sih yang aku tahu tentang kesendirian?? Aku toh tidak lagi sendiri. Kesendirianku sudah berlalu lebih dari setahun yang lalu. Meski terkadang aku masih merindukan kekuatan yang terkandung dalam sebuah kesendirian...


Oh, btw, the character I admire most in Desperate Housewives is Lynette Scavo. Mungkin nanti aku akan mengulas tentang karakter masing-masing tokoh di serial ini. Nanti ya, kalau aku ada waktu. Hehehehe...

Read On 5 comment(s)

Black and White

6/11/2009 05:05:00 PM
The world is not black and white. Itulah mengapa aku merutuki sinetron-sinetron Indonesia, ataupun telenovela-telenovela yang selalu menampilkan gambaran manusia yang terkotakkan dikotomi hitam dan putih. Seorang tokoh protagonis digambarkan bak manusia suci yang tak pernah sekalipun berpikiran buruk, tak memiliki paranoia apapun dan menganggap orang lain sesuci dirinya. Sementara itu, tokoh antagonis dideskripsikan dengan perbedaan yang sangat mencolok. Serakah, sombong, iri hati, dan …yah tujuh dosa utama seakan lengkap menempel di atribut tokoh tersebut.

Oh come on...

Setiap manusia memiliki sisi hitam dan putih, yang tergabung menjadi sebuah entitas jiwa. Memungkinkan manusia tersebut memiliki kesombongan di satu sisi jiwanya namun juga ketulusan hati di sisi yang lain. Tidak hanya satu sisi yang terendap dan menjadi titik tolak kehidupan seorang manusia. Pun, apa asiknya hanya memandang satu warna saja? Lagi-lagi, manusia tidak sesimpel itu, manusia itu kompleks, thanks to the Almighty. Why can’t the creator of s(h)i(t)netron or telenovela understand this? Geez...

Lihat deh serial-serial buatan luar negeri, seperti Desperate Housewives, Boston Legal, Gilmore Girls, One Tree Hill, dll. Serial-serial tersebut bisa memberikan alur cerita yang menarik, tanpa harus mengkotakkan persona seseorang ke satu sudut, hitam atau putih. Daya tarik cerita tak sekedar tentang si A yang teraniaya, yang terus menerus menangis, atau tentang si B yang membuat pemirsa geregetan kepingin membunuhnya saking jahatnya ia.

Justru daya tarik yang diberikan oleh serial-serial besutan luar negeri ada pada perpaduan antara hitam dan putih. Gray area, people said. Di balik kekejaman dan kelicikan seorang Lex Luthor (Smallville), ia adalah sosok yang penuh dengan cinta. Edie Brit (Desperate Housewives) yang genit dan selalu disangka sebagai perebut suami orang, adalah sosok perempuan kuat dan mandiri.

Terkadang aku merasa sedih saban melihat s(h)i(t)netron yang beredar dengan bebasnya di setiap stasiun-stasiun televisi Indonesia. Apa ya nggak ada pekerja kreatif yang mampu membuat tayangan fiksi bermutu? Memangnya Indonesia semiskin itu ya akan kreativitas? Sampai-sampai film tentang budaya Indonesia—pencak silat—harus digarap di tangan sineas asing? I am talking about Merantau, pilem yang disutradarai oleh Gareth Evans, sineas asal Inggris. *sigh*

Ah, yah, the world is not black and white, Put. Instead of men-judge bahwa Indonesia tidak memiliki kreativitas, tidakkah kamu yang seharusnya berusaha memunculkan insan-insan kreatif itu? Atau menjadi salah satu di antaranya?

*sigh*

Ah yah, dunia memang tidak hanya hitam dan putih.
Read On 3 comment(s)

Adrenaline Trip part 3

5/27/2009 04:55:00 PM








Read On 0 comment(s)

tawamu dan sesumbarku

5/27/2009 03:04:00 PM


aku tidak mengerti
apa yang kau rasakan

hahahaha, tawamu
tapi tahukah kau tawa itu menjelma sembilu yang mengirisku

ah, kau mengejekku
ah, kau mengejeknya

bukankah seharusnya kau bahagia
saat aku juga merasakan kebahagiaan?

kau memang tak mengenalnya
hanya karena belum saatnya

kau memang tak mengertinya
yang kauartikan bahwa ia bukan yang terbaik untukku

namun apakah kau tahu dirinya seperti aku menyelami kedalamannya?
yang memang aku tak ingin membuatmu atau orang-orang lainnya untuk mengertinya

pernahkah kau bertanya kenapa?
tidak

yang kaulakukan hanyalah melontarkan sembilu itu
diiringi getar tawa yang mengejek

yah, memang aku mengumbar sesumbar
tapi, bukankah kau sudah tahu itu?

bukankah kau sudah tahu bahwa aku ahli sesumbar
yang selama 24 tahun hidupku selalu berkoar-koar

dulu kau tak ambil pusing
dulu kau diam dan memakluminya

kenapa sekarang kau peduli?
kenapa pula kau hina ia?

jangan hina ia,
kau tak layak menghinanya
karena kau tak tahu apa-apa


photo taken from here
Read On 1 comment(s)

freedom of writings

coin a chance

run poe run

National Geographic POD


jejak langkah

plurk the day

menyusur desa-blog

arsip posting


1