Kamu pernah jatuh cinta? Mungkin sebagian dari kamu akan menjawab dengan kata-kata, "Tentu saja pernah, DODOL!". Mungkin sebagian lagi menganggap bahwa pertanyaan yang kulontarkan adalah sebuah pertanyaan klise. Well, for what it's worth, it is cliché. But what the heck, love is a never ending topic to talk about, rite?
Tentu aku pernah jatuh cinta. Dan aku sedang tersenyum mengingat cinta pertamaku. Tentu saja aku tersenyum. Ia adalah manusia pertama yang membuat aku kebat kebit dihajar otak dan paranoiaku sendiri. Manusia pertama yang mengajariku manisnya ciuman pertama. Manusia pertama yang membuatku sangat menyukai sensasi memeluk dan dipeluk. Manusia pertama yang mengajariku bertengkar dengan orang yang dikasihi. Manusia pertama yang menorehkan luka di hatiku. Manusia pertama yang membuka mata tentang keberadaanku yang adalah seorang pejuang tak kenal lelah demi cinta, atau dalam kacamata seorang teman tak lebih dari sekedar obsesi (hahahaha...thx Na, for the quote). Manusia pertama yang menghantamku dengan ketakutan bahwa aku tidak pantas untuk dicintai. Manusia pertama yang kubenci dan ternyata dapat kumaafkan. Manusia pertama yang membuatku sadar bahwa aku masih bisa meneruskan hidup walaupun tanpa cintanya. Manusia pertama yang secara tidak langsung mengajariku untuk mencintai orang lain. In short, manusia pertama yang mengisi relung hatiku.
Terima kasih wahai cinta pertamaku. ^_^
Kemudian, cinta demi cinta lain silih berganti mengisi kedalaman hatiku. Meski harus kuakui tidak ada yang sedahsyat apa yang aku rasakan untuk si cinta pertama. Namun, aku masih saja menyukai sekaligus membenci sensasi saat cinta itu datang. Saat dimana jutaan lebah seakan beterbangan di rongga perut, menyengat kesana-kemari. Kenapa menyukainya? Emang perlu dijawab? I suppose you know the answer. Kenapa membencinya? Karena aku jadi kehilangan kontrol akan diriku sendiri. Aku seakan menjadi seorang pemabuk yang kehilangan akal sehat dan realitas. Terjebak dengan "what if" – "what if" yang membuat otakku seakan lumpuh dan tak mampu lagi berpikir jernih. Aku kehilangan logikaku! Aaaarrrgh!!
Hingga suatu ketika, aku tak lagi mencinta. Ooohh...dan betapa aku mencintai saat itu. Aku jatuh cinta dengan tidak adanya campur tangan cinta dalam hidupku (can u see the contradiction?). Aku hidup hanya dengan diriku, egoku, ambisiku. Aku menikmati, and I mean it, menikmati setiap detik hidupku. Aku hanya berkutat dengan teman-teman, keluarga dan pekerjaanku. Aku tidak berharap, tidak mencari, tidak menunggu. Aku hanya benar-benar menikmati hidup. Life is perfect. And I'm perfectly happy.
Satu-satunya kesalahan adalah membiarkan diriku terlena dalam buaian, yang membuatku melepaskan semua pertahanan. Alhasil, satu penyusup berhasil melewati radar yang mulai soak dan mencuri milikku paling berharga saat itu. Si penyusup itu dengan tidak tahu dirinya menjambret hatiku dan mengembalikan cinta ke dalam kehidupanku!!! D**n!
Kini kamu bisa bilang bahwa aku sedang dirundung cinta. Lebah-lebah itu datang lagi menghuni rongga perutku, menghantarkan sengatnya ke segala arah. Akal logikaku membubung tinggi ke awan untuk kemudian menghilang tanpa bekas. Ketakutan dan paranoia bagai mimpi buruk yang terus menghantui, dengan frekuensi yang meninggi seiring pertumbuhan rasa yang makin lama makin besar. Oh yeah, I'm in love. And this time, it struck me pretty hard. Buwangsaaaaat!!!
Ingin rasanya mengeluarkan press release yang menyatakan bahwa dunia kecilku nan damai sekarang porakporanda oleh badai yang disebabkan oleh kedatangan si penyusup. Namun, sebagaimanapun aku mengutuk keadaan ini, aku tidak bisa berhenti tersenyum lebar. Bagaimana tidak, ia adalah manusia pertama yang membuatku melintasi semua batasan yang kucanangkan sendiri. Manusia pertama yang membuatku berkompromi dengan ambisi dan egoku. Manusia pertama yang mengajariku untuk lebih terbuka. Manusia pertama yang mampu membuatku merasa bersalah telah mengacuhkannya, meski hanya sehari (hei, aku terbiasa mengacuhkan orang lain selama berminggu-minggu!). Manusia pertama yang berhasil membuatku memuntahkan semua onggokan rasa di hatiku, tepat di hadapannya. Manusia pertama yang membuatku mencintainya secara "dangdutan". Idiiiiihhh... Manusia pertama yang membuatku mencintainya dengan utuh. Manusia pertama yang membuatku mencinta tanpa aku harus menjadi orang lain.
Dan aku tak hentinya bertanya padanya (yang juga dipertanyakan dengan penuh keheranan oleh nyaris semua temanku), kenapa ia bisa mencintaiku? Aku tetap tidak bisa menemukan jawaban logis akan pertanyaan ini. Sebuah kenyataan yang sulit diterima untuk dirinya mencintaiku. Mengingat keegoisanku yang melampau batas. Mengingat semua sifatku yang jauh dari lovable—malah cenderung benciable. Mengingat bahwa tidak ada hal baik dari diriku yang pantas untuk dipuja dan dicinta. Satu-satunya penjelasan yang paling masuk akal adalah dia adalah orang paling bodoh sedunia yang jatuh hati padaku. Apalagi ia masih bersamaku setelah tahu semua hal buruk di diriku. See? Isn't he the most stupid man, alive?
Tapi, untunglah dia manusia paling bodoh di dunia. Karena dengan demikian, ia jatuh hati padaku. Dan akupun mencintainya. Lebih daripada semua cinta yang pernah datang dan pergi.
Hei si bodoh, bagaimana kabarmu hari ini?





