Sudah agak lama aku kepengin menulis postinganku kali ini, berbarengan dengan postinganku tentang balas dendam kepada sebuah media tempo hari itu. Yap, postingan ini emang nggak jauh-jauh kok dari media itu. Cuman, sekarang temanya bukan tentang balas dendam, melainkan tentang ketidakprofesionalan.
Well, u all know kan kalu aku pernah tes di media itu yang menghabiskan waktu mulai jam 6 aku berangkat dari kos sampai jam 10.30 aku baru bisa merebahkan badan di kasur tercinta. Bayangkan, 16 jam lebih aku berada di luar hanya untuk urusan tes di media itu! Ya, nggak semuanya untuk urusan tes sih. Yang jelas, tes dimulai pukul 07.00 dan berakhir pada pada tahap interview pukul 20.00. 13 jam!!
Yang paling kuanggap tidak professional adalah permasalahan waktu. Sebelum memutuskan untuk mengikuti prosesi tes, aku pernah menelepon kantor media itu dan bertanya tentang alokasi waktu. Jawaban yang kuterima adalah, jika lulus sampai tahap interview, tes akan berakhir sekitar pukul 16.00 atau maksimal pukul 17.00.
Kenyataannya? Bullshit!!
Tes dimulai pukul 7 untuk gelombang pertama dan pukul 8 untuk gelombang kedua. Setelah tes yang berlangsung kurang dari 15 menit itu, para peserta disuruh menunggu sampai pukul 9. Oke, akupun menunggu bersama oom Bobi dalam kegersangan bersama dengan asap-asap rokok dari bibir kami. Tidak ada air mineral, tidak ada roti ataupun snack. Oke…
Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 09.30, masih belum ada tanda-tanda akan ada pengumuman. Tik…tok…tik…tok…
Baru pada pukul 10.15 embak pengujinya menyuruh semua peserta untuk masuk dan membacakan siapa-siapa saja yang bisa lanjut ke babak selanjutnya. Aku sih udah pasang tampang nggak yakin dan berharap akan melanjutkan perjalanan ke tempat tes lainnya. Niat tinggal niat, namaku kepanggil. Buhsyeeeeedddd!!! Di sinilah awal kebetean bermula…
Yayaya…tes selesai dikerjakan dengan perasaan ingin muntah melihat deretan angka yang ngerjainnya naudzubilah lamanya. Tahap kedua selesai kurang lebih pukul 11.30. Sebelum meninggalkan TKP, si embak yang tadi bercuap bahwa para peserta diharap menunggu sampai pukul 12.30.
Oke… Aku pun berinisiatip untuk buang hajat dan makan siang di kantin di belakang TKP. Pukul 12.30 aku dan oom Bobi sudah nongkrong di depan ruang tes. Tunggu punya tunggu…sambil entah sudah berapa batang rokok yang terbuang, masih tak terlihat tanda-tanda penyebutan nama siapa saja yang berhak maju ke tes selanjutnya. Dan masih tidak ada segelas pun air mineral yang dikeluarkan untuk peserta. Mulai geram….
Baru pukul 15.00 si embak yang sama (uuuugh…pengen deh menghadiahinya sumpah serapah kalau aku melihatnya lagi) menyuruh kami untuk masuk dan mengumumkan hasil selanjutnya. Can u imagine that? They late by two and a half hours!! What a shameeeeeeee!!!!!!!!!!! F**k!!!
Dan yang lebih siyal, aku lulus lagi! Alhasil, tes menggambar pun dimulai (tahu kan betapa bencinya aku akan tes yang satu ini???!!!)… Yayaya, akhirnya tes selesai kurang lebih pukul 16.00. Dan seperti yang sudah diduga, babak menunggu pun terulang (lagi).
Aaaaaaarrrrghhhh…..
Dengan pengalaman nggak pernah lulus psikotes bagian menggambar, aku sudah membayangkan indahnya kasurku yang empuk. Ternyata, ketika pengumuman keluar, namaku kepanggil lagi! Bah! Parahnya, karena tes terakhir adalah interview, tentu saja tidak bisa dilakukan berbarengan. Aku nggak tahu pasti berapa orang yang lulus sampai tahap interview ini, tapi dari keterangan blog sebelah, kayaknya sekiatr 100an orang deh. Kebayang kan berapa lamanya menggilir interview 100 orang hanya bersenjatakan kurang lebih 5 atau 6 orang interviewer??
Dari jam 17.00 sampai jam 19.30 aku menunggu dalam kesal. Dan ketika jarum jam menunjukkan pukul 19.45, si embak yang tadi keluar dan dengan enaknya dia bilang, “Karena para redaktur harus kembali ke kantor redaksi, untuk yang berbasis di Jakarta dan belum mendapatkan kesempatan interview, interview akan dijadwal ulang besok pukul 13.00 di kantor kami!”
Hah?! Otak si embak itu ditaruh di dengkuL kali ya?? Enak aja bilang begitu, emang dikira para peserta tes itu nggak nungguin sampe jamuran apa? Emang dikira waktu mereka hanya milik kalian apa? U%$&*^$*%$^%&*
Oom Bobi yang melihat jidatku sudah mulai berkerut hanya bisa diam sambil terus berada di dekatku. Kayaknya dia khawatir aku bakal ngelabrak itu embak sambil maki-maki nggak karuan. Untungnya aku masih bisa bersopansantun, meski sedikit. Aku masih bersabar menunggui si embak diprotes beberapa peserta yang namanya nggak kepanggil untuk reschedule. Kata mereka, sewaktu pengumuman siapa saja yang lolos untuk interview, nama mereka terpanggil, kok sekarang nama mereka tidak ada. Tau nggak apa jawaban si embak? “Itu mungkin memang nama-nama yang kami siapkan untuk cadangan” WadeheL!!! Cadangan?? Enak aja mempermainkan harapan orang? Lu kate gile?
Akhirnya, mereka-mereka yang tidak tersebut namanya itu mendapatkan hak mereka kembali untuk interview keesokan harinya. Kemudian, sebelum si embak berbalik masuk ke TKP, aku memanggilnya dan menjelaskan keadaanku. Mungkin karena melihat tampangku yang sudah seperti mau makan orang, si embak akhirnya mengijinkan aku untuk interview malam itu.
Dan aku pun akhirnya beranjak menuju shelter busway bersama oom Bobi dengan gondok di hati.
Gggrrrrrhhhh…… Aku bukan piss off karena aku nggak lolos tahap interview pada akhirnya, wong aku memang nggak niat interview kok. Aku bilang terus terang sama si interviewer bahwa aku tidak berminat menjadi reporter, tapi lebih ke vacancy mereka yang lain, Community Relations.
Aku hanya kesal karena perusahaan sebesar media itu tidak bisa mengorganisir sebuah event dengan lebih professional. Minuman tidak disediakan. Tidak ada snack atau cemilan. Bukan apa-apa sih, dengan proses tes yang sedemikian panjang dan peserta yang massal, rasanya nggak pantas aja kalau perusahaan tidak menyediakan apapun. Kesannya seperti mereka tidak menghargai para pelamar yang datang. Bahwa para pelamar lah yang membutuhkan media itu, dan bukan sebaliknya. Hey, it goes vice versa! Kami membutuhkan pekerjaan, dan Anda membutuhkan sumber daya manusia.
Bukan hanya permasalahan air minum saja yang membuat aku menuduh itu media tidak professional. Mereka itu ya, managemen waktunya gimana sih???!!! Ngaret nya itu loh bikin eneg. Kalau mereka sudah merencanakan proses berlangsung satu hari, ya wujudkan dong. Kalau mereka tahu jam 8 para redaktur sudah harus kembali ke pabrik, ya pikirkan dong dari awal bagaimana menyiasatinya. Jangan menyuruh para peserta untuk datang kembali keesokan hari, padahal mereka sudah menunggu cukup lama. Emang dikira mereka nggak punya kegiatan atau aktivitas lain? Dan yang bikin aku melongo untuk terakhir kali adalah alasan CADANGAN yang dikemukakan si embak. Duoh, unprofessional kok parah!! Omigosh…