rss
email
twitter
facebook

Monday, December 29, 2008

Kasian Ya Kalian...

Apa yang salah dengan laki-laki menangis? Sebuah pantangankah? Tidak benarkah bagi seorang lelaki untuk menampakkan emosinya dalam buliran bening air mata?

Sejujurnya sih, aku juga benci menangis. Buatku, air mata adalah simbol kelemahan. Dan aku benci menjadi seorang yang nampak lemah. That is why, pada dasarnya aku benci melihat orang lain menangis juga. Tapi, aku sadar bahwa itu adalah hak asasi setiap manusia untuk menangis. Dan anehnya, kenapa kalau perempuan menangis dimaklumi (bahkan kadangkala, tangisan adalah senjata utama beberapa perempuan untuk memenangkan hati kaum pria), sedangkan kalau cowok menangis seakan dinista?

Nggg…nggak adil banget tuh. Kok kesannya menangis adalah hak milik pribadi perempuan, dan tidak bisa dinikmati laki-laki. Well, laki-laki kan juga manusia. Jadi pengen ketawa juga sih, ini nih salah satu kerugian cengkeraman budaya tentang gender, yang telah menancapkan stigma-stigmanya tentang nilai-nilai yang "seharusnya" dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Laki-laki adalah makhluk kuat, seorang pemimpin, yang tidak diperbolehkan untuk menampakkan kelemahannya. Karena menangis adalah symbol emosi, yang berujung pada nilai kelemahan, maka lelaki juga tidak boleh menangis.

Kasian…kasian…wahai kalian para laki-laki. Kalian terkungkung dalam raga yang tidak bebas beremosi.

Tuesday, December 23, 2008

Coin A Chance





“Criing…cring…”

Suara denting recehan terdengar kala kulempar beberapa koin receh ke dalam gelas aqua bekas milik seorang perempuan paruh baya dekil. Di pangkuannya terlelap sosok bayi yang tak kalah dekilnya. Aku miris melihat pemandangan itu. Bayi memang menjadi senjata ampuh untuk menumbuhkan iba dalam diri seseorang.

Sebenarnya, aku tidak terlalu suka memberi meski sekedar 500 perak kepada orang-orang seperti mereka. You might say that I am a stingy person, I don’t care. Tapi, buat aku, kita sama sekali tidak membantu mereka dengan cara seperti itu. Terbayangkan olehmu apa yang akan mereka lakukan dengan uang yang kita berikan? Mereka menyetorkannya kepada mafia pengemis, membeli rokok, membeli minuman keras, etc aktivitas yang tidak menolong mereka. Buat aku, akan lebih baik jika kita memberi makanan atau pakaian kepada mereka.

Kadang, hatiku miris melihat anak-anak dibawah umur memasang tampang menghiba dan mengacungkan tangannya meminta sedekah. Atau memainkan lagu-lagu rohani dengan suara cempreng dan wajah datar. I want to do more. Tapi, apa yang bisa aku lakukan dengan hanya beberapa koin yang aku miliki? Aku nggak pengen apa yang aku berikan hanya menjadi such a waste.

Untungnya, aku menemukan Coin A Chance saat sedang blogwalking (a.k.a nganggur) di kantor. Coin A Chance memberikan ide untuk mengumpulkan koin-koin receh kita dan orang-orang di sekitar kita dengan tujuan sosial. Ide utamanya adalah membantu anak-anak kurang mampu untuk bersekolah. Tapi, tidak menutup kemungkinan juga kita bisa menyalurkan koin-koin tersebut untuk tujuan lain.

Kamu bisa saja turut mengumpulkan koin dan menyalurkannya ke gerakan Coin A Chance yang dipelopori oleh dua perempuan keren, Hanny dan Nia. Atau, kamu bisa membuat gerakanmu sendiri, di kantor, di kampus, atau di komunitas manapun kamu berada. Dengan koin-koin yang terkumpul itu, kamu bisa memberikan sesuatu yang lebih nyata dan lebih berarti bagi anak-anak Indonesia. Kamu bisa memberikan kesempatan akan masa depan yang lebih cerah! Hell, that’s a great thing, huh?

Setelah membaca blog tersebut, dengan semangat ’45 (biasalah, namanya juga Putri Suheri a.k.a Suka Heboh Sendiri –julukan dari Yasmin nih.red) aku langsung mengirimkan email ke teman-teman satu lantai tentang gerakan Coin A Chance. Alhasil, sekarang sudah ada toples super gedhe nangkring di salah satu kubikel kantorku (thx to mb Cici). Lantai-lantai lainpun sedang kubujuk untuk menggalang hal serupa. Hhhh...jadi nggak sabar menunggu bulan Januari, saat pengumpulan koin-koin ini.

Nah, untuk teman-temanku tersayang, boleh dong ikutan dukung gerakan Coin A Chance. U can help by doing this things:

1. Cari aja toples2 nggak kepake di pantry kantor masing-masing, terus tempelin pake logonya Coin A Chance. (logonya bisa disave dari alamat web Coin A Chance).
2. Taroh Toples di area terbuka supaya setiap rekan kantor bisa turut nyumbang koin.
3. Bikin email Blast ke temen2 satu kantor (atau satu lantai), tentang gerakan Coin A Chance yang kamu gagas di kantormu.
4. Jangan lupa untuk ikutan ngumpulin koin yang kamu dapatkan ke toples.
5. Ambil poto2 candid dari temen2 yang sedang masukin koin ke toples.
6. Kirim poto2 tersebut ke FaceBook atau kirim ke email internal. Ini bisa kamu gunakan untuk memompa semangat temen2 kantor yang laen ikutan ngumpulin koin.
Pengumpulan koin pertama akan dilakukan bulan Januari 2009, yang akan disalurkan untuk membantu anak2 menggapai kesempatan meraih masa depan yang lebih baik lewat sekolah. Keterangan lebih lanjut liat sendiri di http://coinachance.wordpress.com/

Hidup ini selalu memberi dan menerima. Telah sering Anda menerima, kini saatnya memberi... So, ditunggu koin-koinnya yaaaa....

Monday, December 22, 2008

I Love U Mom!



Muup, saya bukan graphic designer.. So, ini dibikin dengan copas sana sini, harap maklum... Hanya ingin berbagi rasa tentang ibu saya tercinta. Yang cerewet minta ampun, yang kadang bikin kepala mau pecah, yang terkadang malah bersikap seperti anak-anak. Namun, bagaimanapun, beliau adalah ibu saya, yang saya cintai, yang saya sayangi, yang menjadi satu perempuan yang paling indah di bumi ini.



Mama, i love u.

Friday, December 19, 2008

Want Some Drama In Your Life?

Seperti biasa, gosip dan musik menemani aktivitas pagi sebelum berangkat ke kantor. Hari itu, sepotong video klip berjudul Demi Cinta milik Kerispatih berhasil mencuri lirikanku. Video klip itu menceritakan kisah si vokalis dalam perjuangan membesarkan bandnya. Sementara itu, sang kekasih terus memberikan dukungan moril dan spirituil, meski keadaan si cewek sedang sakit parah. Singkat cerita, si cewek masuk rumah sakit saat sang kekasih sedang mewujudkan mimpi. Well, ketebak kan kalu akhirnya si cewek meninggal dunia?

Hmmm...saat aku menonton VK ini, I cant help but thinking: hidup kok banyak dramanya ya? Nggak di sinetron, di video klip, di buku, semuanya menjlentrehkan kehidupan yang penuh drama. Didramatisir, lebih tepatnya. Kekasih super duper baek hati yang tewas mengenaskan lah, kejadian-kejadian tragis yang menimpa keluarga lah, semua orang mendadak jadi manusia paling jahat sedunia lah, etc, etc. Kalau mau tahu definisi dramatisasi idup, tonton aja sinetron menye-menye yang nampang di tipi tiap hari. Gampang kok nyarinya, almost di semua channel tersedia pilihan sinetron menye-menye.

Padahal, sebenernya kehidupan kita juga nggak gitu-gitu amat kan? I have a normal life, without bumbu-bumbu drama yang harus bikin aku atau orang-orang di sekitarku termehek-mehek gak jelas. Yaaaah, aku nggak bilang bahwa tidak ada orang yang memiliki cerita kehidupan layaknya sinetron sih. But, seberapa persen sih hidup yang bener-bener bikin kita menuangkan air mata setiap saat? Nangis? Maleshyeeeee....

Pernah nggak sih mikir bahwa dengan banyaknya exposure dramatisasi kehidupan, itu akan mempengaruhi bagaimana orang menjalani idup? Mereka akan memandang bahwa hidup memang keras, bahwa hidup memang perlu sebuah drama, dan mulailah mereka mendramatisasi kehidupan. Heh?! Maka, mereka pun mulai mengeluhi kehidupan (yang mereka rasa) tidak adil, mulai mengada-ada pertengkaran yang tidak ada, blahblahblah. Oh my lord. Dan dunia pun penuh dengan manusia-manusia sok sinetron yang menjadikan kehidupan mereka bak sinetron satu episode, yang kemudian berlanjut ke episode-episode lainnya.

Geee... Aku sih cukup senang menjalani idupku sekarang tanpa ada bumbu-bumbu drama. Nggg...nggak usah dikasi drama-dramaan deh, nggak kuat ngatasinnya ntar akuh. Cukup sinetron aja yang berdrama ria. Dan oh ya, bagi orang-orang yang memang memiliki kisah hidup bagai drama sinetron, well, I applause your spirit and the toughness to live your life. Bravo!!

Bagaimana dengan dirimu, kamu ingin drama dalam hidupmu?

Monday, December 15, 2008

Mimpi-Mimpi (PluraL)

Aku merapatkan kembali retsleting jaket abu-abu kesayanganku. Bukan, bukan karena dingin. Lebih karena di balik jaket itu aku hanya mengenakan bra, tanpa kaos ataupun tank top. Aku pun kembali berjalan menelusuri lorong EX menuju plaza Indonesia. Tujuanku bukan PI, melainkan pusat perbelanjaan elit yang berada di depannya, Grand Indonesia.

Tadi siang, aku mengumbar janji menyampah dengan sobatku si tukang nyampah, Xinting. Kali ini, kami beralih dari tempat biasa—Starbucks Sarinah—dan mencoba tempat baru yaitu Excelso GI. Selain karena tadi aku butuh ke Gramedia untuk membeli hadiah Natal bagi keponakanku, juga karena Excelso kan lagi promo diskon 25% bagi pemilik kartu Mandiri. Hehehehe…meski bergaya hidup hedon, ngirit mah musti euy!

Setelah memesan, kami siap untuk memulai pembicaraan. Hal ini terlihat dari posisi duduk kami yang saling berhadapan dan kesigapanku untuk mengeluarkan batang putihku dari kotaknya. “Topik kita hari ini apa ya Mik?”, tanyaku. Kami terdiam dan saling memandang dengan kening berkerut.

Ah ya, topik kami kali itu adalah tentang mimpi. Ah bukan, bukan hanya mimpi, mimpi yang kami maksudkan bukanlah sebuah kata benda singular, melainkan plural. Maka, mimpi-mimpi (plural) adalah topik kami malam itu. Aku ingat, kenapa kami memutuskan untuk menjadikan malam itu sebagai “malam nyampah”. Siang tadi, satu kata kunci membuat kami tak berkutik. “Mimpi kita itu banyak ya…”

Hahahaha…begitu membaca kalimat itu terpatri di LCD ku, aku langsung blingsatan. Pasalnya, baru beberapa hari yang lalu bapakku menghajarku dengan kata-kata, “Kamu itu kebanyakan keinginan!” Degh. Aku tertohok.

Apa yang salah dengan memiliki banyak keinginan? Banyak mimpi? Seperti yang selalu aku percayai, dream is what keeps people sane and insane at the same time. Mimpi adalah sebuah rancangan masa depan yang menjadi patokan dan tolok ukur seseorang untuk menjalani hidup. Namun, bagaimana jika mimpi yang kamu miliki ternyata lebih dari satu, yang sayangnya mimpi-mimpi itu tidak seia sekata?

Yeah, mine are like that. Mimpi-mimpiku tidak sejalan. Seperti aku dihadapkan pada jalan bercabang dan aku harus memilih salah satu diantaranya. Take it like this. Aku menginginkan sebuah kehidupan yang makmur, yang berkelimpahan. Dan aku mengejarnya. Aku benar-benar mengejar karir, meloncat dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Mengejar gaji yang lebih besar, mengejar pengakuan dalam bentuk materi yang kuanggap pantas aku dapatkan dengan skillku. Ooohh…and I’m quite ambitious in getting that.

Di sisi hatiku yang lain, aku memiliki keinginan untuk menjadi makhluk lain. Sesosok makhluk yang berbeda dari aku yang biasa dilihat orang-orang di sekelilingku. Telah lama aku memendam keinginan itu. Mimpi yang mungkin tidak dibayangkan oleh orang lain. Seorang putri memiliki mimpi seperti itu? Menggelikan, mungkin itu yang orang-orang pikir. Bahkan bapakku sendiri pun tidak pernah menyangka aku mampu bermimpi sedemikian liarnya. Liar… Hahaha…

Sayangnya, kedua mimpi itu saling berseberangan. Dan tidak bisa dijalankan bersamaan. Aku harus memilih. Dengan konsekuensi masing-masing. Makhluk-makhluk realis menyuruhku untuk mengejar mimpi pertamaku. Seorang makhluk melankolis memberiku dukungan untuk mengejar mimpi “bukan putriku”. Aaaahhh…sakitnya harus memilih.

Dan seperti biasa, perbincangan malam itu lagi-lagi tidak memberikan sebuah pencerahan. Hanya membuang sampah yang menumpuk dalam rongga hati. Dan kami pun kembali, menjalani proses penumpukan sampah sebelum rongga itu memenuh dan kembali harus dikosongkan dengan proses nyampah lagi. Entah kapan saat itu akan datang. Thx Mik, for the “nyampah night”.

Be brave girl!

Wednesday, October 22, 2008

Catatan Perjalanan 23 Tahun

Sebentar lagi aku akan berusia 24 tahun. There is nothing special about that age. Namun, banyak sekali yang telah berubah dari terakhir kali aku berulang tahun, which is tahun lalu. Petualanganku ke Jakarta, kepindahanku ke perusahaan baru, hubunganku dengan seorang lelaki masa depan, dan banyak lagi perubahan-perubahan yang terjadi membuat usia 23 menjadi sebuah usia berharga yang mengajariku banyak hal. Berikut adalah beberapa major event yang memberiku banyak pengalaman dan pembelajaran :

• Oktober – November 2007 : penunjukanku sebagai Project Manager DOMO Competition
Disini aku belajar untuk mengemban tanggung jawab sebuah event yang sangat minim support. Membuat aku memaki-maki tak karuan, menggigit bibir saking kesalnya dan menahan amarah yang siap meletup kapan saja. Namun, aku juga belajar untuk bersabar dan menghadapi keadaan dengan kepala dingin. Aku belajar untuk mengambil keputusan besar dan berbagi tanggung jawab dengan orang lain. Terima kasih untuk Ibu Caroline Gondokusumo yang telah sedemikian mempercayai dan memberikan kesempatan itu padaku. Di event ini pula aku belajar untuk ikhlas saat laptop kesayanganku yang kubeli dengan keringat dan darah dicuri orang. Aku belajar memaafkan saat seseorang yang teledor dan memberikan kesempatan laptopku untuk dicuri itu bahkan tidak meminta maaf padaku. Hhh…

• Desember 2007 – April 2008 : mutasi ke Jakarta dan berbagi kamar
Aku merengkuh mimpiku untuk berpetualang di Jakarta, lewat mutasi yang diberikan oleh kantor lamaku. Saat ini terjadi, aku menyadari bahwa apapun yang aku inginkan, eventually pasti akan terjadi. Aku mengambil pelajaran bahwa semua itu tidak terjadi secara instan. Namun, dengan kesabaran dan usaha yang konstan, apapun yang aku inginkan PASTI akan menjadi kenyataan. Seperti apapun hidup membolak-balikkannya.
Di sini juga aku belajar untuk berbagi dan berempati. Aku, yang memiliki kadar egois di atas rata-rata (kalau diibaratkan tes IQ, pastlah aku sudah Egois JENIUS) ini harus berbagi kamar dengan seorang yang juga nggak kalah egoisnya, si Tante. Oh em ji, aku benar-benar belajar menahan diri saat itu. Kecuekan dan ketidaksensitifanku akan berbuah omelan, sindiran, bahkan makian. Ada saatnya aku seperti akan meledak, ada saatnya aku berkompromi dan menerima bahwa aku memang harus mengalah, dan ada saatnya pula kami saling memaki dengan berapi-api. Tapi, saat-saat bersama Tante menyenangkan juga kok kalau kita berdua sedang sama-sama terjangkit penyakit kemalasan level 1000. Ampun deh tante... Hahahahaha…

• April 2008 – present : kantor baru
Berpindah ke kantor yang baru, aku belajar untuk meyakini pilihan-pilihan yang aku buat dan menjalani konsekuensi dari pilihan itu. Aku belajar untuk tidak menengok ke belakang dan mengandai-andaikan keadaan yang berbeda. Aku hanya harus menjalani apa yang terpapar di depanku. Di sini pula aku mendapati kenyataan bahwa teman sekantor dapat menjadi teman dan sahabat yang baik. Meski untuk itu harus dengan perantaraan batang putih sembilan senti.
Tempat inilah yang menguji kreatifitas dan kemampuanku meraba-raba dalam gelap. Kantor ini juga lah yang membuat aku memahami arti “Waiting In Vain” dengan sepenuh hati. Aku pun menyadari bahwa demotivasi tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Dan aku pun sedang berusaha untuk mengatasi permasalahan itu dengan jantan, tanpa berlari, tanpa bersembunyi.

• April 2008 – present : lelaki masa depan
Pertemuanku dengan lelaki masa depan membuat aku berdecak-decak kagum kepada hidup. Betapa hebatnya hidup mempertemukanku dengan lelaki itu di saat yang tidak pernah kuduga, di saat aku sedang menikmati hidup masa kiniku. Bersama dengan lelaki ini, aku berusaha sangat keras untuk berkompromi dengan ambisi dan egoku. Aku belajar untuk lebih terbuka. Aku belajar untuk menyayangi diriku sendiri. Aku belajar untuk MENCINTAI. Aku belajar untuk DICINTAI. Aku berjuang dengannya.
Aku pun belajar banyak hal lain selama satu tahun ini. Tentang persabatan yang tak kunjung lekang dimakan ruang dan waktu. Tentang darah yang memang lebih kental dibanding apapun. Tentang jalan hidup yang tak dapat ditebak. Tentang kehilangan dan keikhlasan. Tentang tantangan dan perjuangan.

Aku sadar, sesadar-sadarnya, bahwa yang empunya hidup telah memberikan begitu banyak anugerah dan karunia tak terhingga untukku. Aku tidak harus menjlentrehkan karunia seperti apa yang telah kudapatkan kan? Fakta bahwa aku masih bernapas, memiliki organ tubuh yang lengkap, hidup berkecukupan saja sudah menjadi bukti otentik, apalagi jika aku harus mengkajinya dengan detail kehidupanku.

But, dengan semua anugerah itu, apa coba yang aku lakukan? I keep on complaining. I keep on whining. I keep on grumbling. Do you see how much unthankful I am? And to be honest, when I realized how unthankful I am, I began to hate myself. Which is not solving the problem. Aku membenci diriku yang begitu lemah, begitu tak tahan banting, begitu gampang mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Aku ingin menjadi lebih kuat, aku ingin menjadi lebih berarti, aku ingin melakukan sesuatu, aku ingin menjadi sesuatu.

Dan inilah yang pada titik ini sedang kuperjuangkan. Aku sedang berusaha untuk mengembalikan motivasi diriku sendiri. Aku sedang berusaha untuk memperkuat niat, karena dengan niat yang kokoh, tantangan seperti apapun pasti dapat diatasi. I know it’s hard. Tapi, jika dulu aku berhasil meniati untuk mengerjakan skripsi di tengah-tengah pestaporaku menjadi seorang pekerja, tentu aku bisa melewati yang satu ini.

Maka, aku lantas membuat beberapa catatan TO DO LIST sebagai pegangan perjalanan satu tahun mendatang kehidupanku.

1. Mencoba sedikitnya 2 aplikasi scholarship on Gender Studies or Communication Management. Masalah keberhasilan sih nomor 2, yang penting adalah usaha maksimal dulu.

2. Memperbanyak membaca. Menghabiskan gender studies 2 jilid yang pernah aku beli tapi nggak pernah kelar kubaca. Menghabiskan Sejarah Tuhan dan buku yang dipinjamkan pak Sevri. Menghabiskan buku-buku yang tidak pernah kukembalikan ke si empunya, Ko Ronny. Hehehehe... Aku juga harus memperbanyak literature genderku, baik dari browsing maupun buku-buku literature gender lainnya.

3. Melakukan sesuatu yang berguna bagi nusa dan bangsa. Huahahaha…ngaco bahasanya. Yah, misalnya mengorganisir pengumpulan buku pelajaran untuk sekolah Sekarnadi di Jember.

4. Menabung! Segera mentransfer jumlah yang telah disepakati ke account baru yang tanpa ATM dan tidak mengutak-atiknya. Means, aku harus menyesuaikan gaya hidupku dengan gaji yang tersisa.

5. Menahan diri untuk tidak terlalu banyak mengeluh. Kurangi menarik nafas panjang dan kurangi perbendaharaan kata “mengaduh”.

6. Mengurangi tingkat keegoisan dari JENIUS menjadi di atas rata-rata. Mau mendengarkan orang lain dan tidak memaksakan kehendak seenak udel sendiri.

7. Meningkatkan tanggung jawab terhadap pekerjaan. Meski dengan minimum supervisi, aku harus bisa menetapkan jadwal kerjaku dan menepatinya. Aku juga harus memberikan nilai tambah terhadap setiap pekerjaan yang kulakukan. Sekecil apapun itu.

8. Meningkatkan tingkat kenarsisan diri, and mean it. Tidak hanya untuk menyembunyikan rasa rendah diri. Tidak ada lagi cerita membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Tidak ada lagi masa lalu yang membayangi, baik masa laluku ataupun orang lain. I’m georgeous. I’m capable. I’m great. Thank you.

9. Mengurangi batang sembilan sentiku. Aku tidak akan naïf lagi untuk sekonyong-konyong menghilangkannya dari hidupku. Last time I said that, the next morning I bought the same pack I used to. Menguranginya secara gradually might work.

10. Berhenti berlari. Aku harus mulai untuk menghadapi semua permasalahanku tanpa berlari, tanpa bersembunyi, tanpa menunda.

11. Lebih perhatian terhadap orang lain, baik kolega, teman, sahabat dan pastinya saudara. Mengunjungi mbak Tine, bude Danto, mas Ardi, dll. Lebih sering menelepon Asep, Je, Yono, dll.

12. Meningkatkan frekuensi menelepon ke rumah, baik mama, papa atau eyang. Sekedar menanyakan kabar, menjadi tempat curhat, ataupun membantu apapun yang bisa dibantu. Lebih sering bersosialisasi dengan mas Antok dan mas Rio. They are my nucleus family. I love them, no matter what. And they love me, no matter what.

13. Lebih sering berkomunikasi dengan si empunya dunia. Mengurangi mementingkan lelaki masa depan dan teman yang mengalahkan waktu bertandang ke rumahNYA.

Wah, banyak juga ya ternyata TO DO LIST selama aku berusia 24 tahun. Ah, tapi aku bisa kok (mulai mengaplikasikan TDL no 8, hehehehe…). Benar loh, dengan percaya diri dan positive thinking, kita bisa mencapai semua yang kita inginkan. Seperti yang aku pelajari di usia 23 tahun, bahwa semua yang kita ingin dan harapkan pasti akan berwujud kenyataan. Kita hanya harus menyadari bahwa butuh proses untuk mencapai hasil itu, yang diiringi dengan kerja keras dan kesabaran. Easier said than done. But eventually, we will reach that stage. Eh, enak aja ya aku ngomong, jangan-jangan semua orang di usia 23 sudah menyadari hal itu, aku aja yang terlambat. Yah, better late than never kan? *ngeles*

Waaaaww...baru saja lelaki masa depan menelepon. Sudah pukul 00.08 ternyata. Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri! Semoga usia 24 bisa memberiku banyak pelajaran hidup. Semoga 13 TDL di atas dapat kujalankan. Terima kasih Tuhan, atas segalanya.

Jakarta, 22 Oktober 2008

Kamar Kos, 00.11

Friday, October 17, 2008

Repetisi

Cerah hari terhampar
Meretas asa dalam batang putih kenikmatan semu
Kepulkan asap harap yang terlelap
Coba usir gelisah bertalu

Gelora hasrat meliliti benang kusut
Tak tentu arah lintasi batas bukit dan lautan
Gerami dengkuran napas yang memburu
Saat kesadaran robek pagi yang membentang

Mengejar langkah setapak memori
Keretak jemari membentuk kata tanpa makna
Teriakkan jerit tertahan
Mengupah otak dalam terali besi

Bayang Bayang Ilusi

Kala mataku terpejam
Sunyinya malam
Kala hasratku membara
Khayal smakin tinggi

Seribu asa hadir di sekelilingku
Bangkitkan gairah hidup
Sejuta harapan di dalam jiwaku
Walau semua masih di dalam angan

Jurang curam menghadangku
Getarkan jiwa
Dan pekatnya kegelapan
Datang melanda

Keraguan kini menjelma di dada
Musnahkan segala asa
Semua harapan yang dulu pernah ada
Tiada tersisa…

Haruskah ku hidup dalam angan - angan
Merengkuh ribuan impian
Haruskah ku lari dan terus berlari
Mengejar bayang - bayang ilusi

Bayangan ilusi
Hanya fantasi
Bayang ilusi

Haruskah ku hidup dalam angan - angan
Merengkuh ribuan impian
Haruskah ku lari dan terus berlari
Mengejar bayang - bayang ilusi
Merengkuh ribuan impian
Haruskah ku lari dan terus berlari
Mengejar bayang - bayang ilusi

Bayangan ilusi
Hanya fantasi
Mengejar ilusi
Terus berlari
Bayang ilusi



Aku mengalami jatuh cinta pada pendengaran pertama sejak lagu ini mengalun di handphone ku. Yeah, aneh ya, aku mendengarkannya untuk pertama kali kok di hape? Jadi, ceritanya waktu itu aku sedang memindahkan beberapa lagu dari kompi kantorku ke hape. Lagu-lagu yang kebanyakan kucuri dari server kantor. Hehehehe...

Singkat cerita, intro pada bagian biola di lagu inilah yang pertama kali membetot telingaku. Serasa mendengar Arwana… *Eh, band itu sekarang apa kabarnya ya? Gugling aaahhh...* Rasanya damaaaaii banget denger gesekan biola itu. Kemudian, aku mendengar suara yang kukenal sebagai suara Anggun, salah satu penyanyi yang kukagumi karena eksistensinya yang mampu menancapkan kuku di luar negeri. Kemudian, saat aku mulai menikmatinya, kesadaranku serasa ditarik-tarik oleh petikan reff lagu ini.


Haruskah ku hidup dalam angan - angan
Merengkuh ribuan impian
Haruskah ku lari dan terus berlari
Mengejar bayang - bayang ilusi


Entah kenapa rasanya cuplikan lirik itu nempel banget di otakku. Aku nggak mau mendramatisir bahwa Anggun membawakannya dengan emosi yang pas. Well, mungkin cuman aku nya yang lagi sedih dan mellow. But, this song really struck my consciousness pretty hard.

Atau jangan-jangan, otakku sedang berusaha mengungkapkan keadaan bawah sadarku? Keadaan dimana aku sebenarnya sedang berlari dan mengejar ilusi, yang aku sadari namun egoku terlalu besar untuk mengakuinya?

Ah, nggak ah. Aku memang saat ini sedang bermimpi, sedang berangan-angan. Tapi, aku tidak berencana untuk terus hidup dalam mimpi itu. Seperti yang pernah aku bilang di postingan sebelumnya, setiap orang pasti tidak akan membiarkan mimpi itu hanya melayang-layang dalam harapan. Yang pasti, aku tidak akan membiarkan itu. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membawa mimpi itu terwujudkan di dunia nyata. Dan membawa mimpi tersebut ke dunia nyata, bukanlah sebuah ilusi. Aku harus terus berlari mengejarnya, itu pasti. Terseok-seok, terjatuh, mungkin. Tapi aku akan terus bangkit dan terus berlari, sampai aku bisa menggapainya, merengkuhnya dan membawanya ke bawah pancaran sinar matahari.

Aku tidak berlari mengejar ilusi. Itu bukan ilusi, itu mimpi, yang akan segera menjadi nyata. Segera itu kapan, well, waktu kan relative. Hehehe… Pembelaan nih yeee… Satu yang dia benar, dalam konteks yang berbeda. Aku memang sedang berlari, namun bukan berlari mengejar. Aku sedang berlari dari kenyataan. Aku menghindari kenyataan, yang aku tahu harus kuhadapi, cepat atau lambat. Aku sedang menunda, menunda mengeluarkan effort untuk menghadapi masalah itu.

Dan aku sedang bertarung melawan diriku yang berlari. Membentaknya untuk berbalik arah dan menghadapi kenyataan dengan jantan. Siapa yang akan menang? Aku juga nggak tahu.

Hhhh...

Thursday, October 09, 2008

If...

I was wondering, if i die, how would others remember me?

















*Picture : Remembrance by `creativ82 @ deviant art*

Perbincangan

Lebaran tahun ini merupakan Lebaran pertama yang membuatku merasakan "kemewahan" mudik. Yep, sejak beberapa bulan lalu aku merantau ke ibu kota, yang berjarak 30 jam perjalanan menggunakan moda transportasi bis, NGECER. Huahahahha... But, it's all worth the luxury I got. Aku pulang, merayakan kebersamaan dengan keluarga besarku, dengan teman-temanku, dan dengan diriku sendiri.

Satu hal yang kurasakan sebagai kemewahan tersendiri saat liburan di daerah asalku adalah bertemu kembali dengan manusia-manusia terdekat dalam hidupku, teman-temanku. Aku baru menyadari hal ini malam terakhir aku berada di Malang, kampung halamanku. Semalaman ini, aku berbincang cukup panjang dengan salah satu sahabat terbaikku, Je. Sahabat yang kumiliki sejak SMP, yang kukenal selama 12 tahun. Tidak hanya dengan dirinya aku rasa, namun juga dengan beberapa sahabatku yang lain, Asep, Yono dan tentunya Said.

Berbincang dengan mereka, benar-benar kemewahan bagiku. Berbagi diri secara actual dengan manusia-manusia yang mengerti diriku, yang tak segan mencercaku, mengetok kepalaku, mencabik perasaanku, namun juga yang paling mengerti diriku. Dengan mereka aku mampu mengeluarkan semua uneg-uneg yang mampet di hati maupun kepala. Dengan mereka, aku bisa berbagi dan mendapatkan feedback yang membuatku mampu bangkit dan menjalani hidup ke depan. Dengan mereka, aku mendapati kenyataan bahwa aku adalah manusia yang beruntung memiliki teman-teman seperti mereka. Singkatnya, mereka adalah hadiah terindah yang dianugerahkan Tuhan untukku.

PRICELESS. Itulah harga yang aku tetapkan dalam setiap perbincangan yang kumiliki bersama mereka Lebaran tahun ini. Yah, aku memang tidak bisa sering-sering berbagi perbincangan dengan mereka seperti dahulu. Maklumlah, aku dimana, mereka dimana. Via telepon? Ya bisa juga. Namun, sensasi yang didapatkan tentunya berbeda kan jika kamu bertemu muka dengan mereka dan melihat langsung reaksi mereka, membiarkan mereka melihat reaksimu, emosimu?

Perbincangan pertama aku dapatkan dari Asep, yang untuk berbincang dengannya aku bela-belain menempuh 5 jam perjalanan ke Jember. Tak pernah satu kalipun aku menyesali perjalananku ke Jember. Bertemu dengan rombongan Jembernisti, aku mendapatkan keindahan kebersamaan. Sesi private dengan Asep pun aku jalani, entah itu mengharuskan kami mencuri-curi waktu untuk ngobrol berdua, ataupun memang sengaja menjauhkan diri dari yang lain. Berbagi kabar, berbagi perasaan, berbagi ketakutan, dan berbagi kisah. Otakku yang sedang cupet sedikit terbuka...

Perbincangan kedua kualami dengan Said, seorang kawan semasa kuliah yang masih setia berbagi kabar via teks ataupun audio. Di JCo Delta Plasa Surabaya, perbincangan kami mengalir. Perasaan mulai membuncah keluar, diiringi dengan saling berbagi mimpi dan beberapa hal lain seputar kehidupan. Hahahha…nggak sangka ya Id kita sekarang sudah sama-sama bekerja. Apa yang dulu tak pernah kami pikirkan kini mulai mengaliri kesadaran kami. Realita kehidupan menghantam, dan kami tertawa mengenang masa lalu dan membayangkan masa depan yang membentang.

Di hari yang sama, perbincangan ketiga dimulai. Kali ini dengan Yenni aka Yono. Kurang lebih setahun kami saling mengenal, namun jiwa kami sudah begitu "klik". Kesamaan-kesamaan sifat, karakter, kerjadian, bahkan mood yang terjadi pada masing-masing kami pada saat yang sama semakin menguatkan kedekatan kami. Jadilah perbincangan kail itu membuka semua kegelisahan kami, ketakutan dan paranoia kami. Hiks…sampai kapan kita akan menunda permasalahan yang kita sama-sama hadapi Yon? Mari kita sama-sama berjuang demi apa yang kita sayangi, demi apa yang kita perjuangkan. Dengan Yono, aku mendapatkan penguatan akan nilai diriku.

Sebagai penutup, namun juga yang menjadi klimaks kenikmatan perbincangan mudikku, adalah saat-saat bersama Je. Manusia satu ini mengenalku luar dalam, mengerti pemikiranku, dan mencintaiku seperti aku mencintainya. Mengkhawatirkanku seperti aku mengkhawatirkannya. Kami saling berbagi cerita, sejarah, dan perasaan terdalam. Dari hal yang kecil, sampai yang secara general dianggap tabu di masyarakat. Dengan dialah aku bisa terbuka mengenai apapun. Kami berbagi ketakutan-ketakutan hubungan, berbagi pandangan terhadap satu sama lain. Saat bersama dengan Je, secara tidak langsung aku mendapatkan harga diriku lagi. Bahwa aku tidak perlu membandingkan diriku dengan siapapun. Bahwa aku cukup special dengan menjadi diriku saja. Lewat kacamatanya, aku teryakinkan bahwa seseorang yang aku sayangi memang benar-benar menyayangiku. Ketakutan yang tidak beralasan yang akhir-akhir ini menghantui paranoia akutku. Thx Je.

And here I am, thanking GOD for the priceless time I got here, in my hometown. Despite all the bad things occurred (hey, hari ini aku harus menghadapi kenyataan bahwa motor yang aku cicil untuk ibuku dicolong!! Tahun kemarin laptopku yang kudapatkan dari hasil keringat dan darahku yang dicolong orang, sekarang motor yang menjadi “kaki” ibuku. CRAP! $#@&*%$#@). Terima kasih kawan-kawan, atas kemewahan yang kalian berikan untukku. Terima kasih Tuhan.

Perbincangan itu mewah.

Thursday, September 25, 2008

Demotivated


Aku nggak mengerti apa yang terjadi di diriku. Dari apa yang kulihat dari kacamata putih, hidupku berjalan dengan baik. Aku memiliki keluarga yang mencintaiku. Lihatlah kedua orangtuaku, mereka berdua menyayangiku dan mendukungku apapun jalan yang aku tempuh. Well, not exactly everything sih, but u know-lah apa yang kumaksudkan. Lihat juga hubunganku dengan kedua kakakku. Yeah, meski kami dulu kerap bertengkar, kami juga tahu bahwa kami saling mencintai. Lihatlah keluarga besarku, kami penuh kehangatan dan komunikasi yang intens. Hell yeah, we are a big family, and proud of it.

Aku juga memiliki teman-teman yang aku yakin 100% pasti menyayangiku. Lihatlah teman-teman SMA yang masih sering berhubungan denganku. Kami masih sering hang-out bareng, curhat bareng, seneng-seneng bareng. Lihatlah juga teman-teman kuliah yang siap membantuku kapanpun aku membutuhkan mereka, dan akupun akan selalu ada kapanpun mereka membutuhkanku. Lihat teman-teman eks-DetEksi yang sampai saat ini pun masih kerap menjalin tawa riang bersama. Dan hey, lihatlah my unusual friends of WapoL community yang hingga kini pun jiwa-jiwa kami masih saling nempel layaknya perangko dengan amplop. Dan tak ketinggalan, tengoklah pula persahabatan indah yang terjalin di kantor baruku. Aku sendiri tidak pernah menyangka bahwa teman kantor bisa menjadi semenyenangkan ini.

Aku memiliki seorang kekasih yang kusayangi setiap detik hidupku. Lihatlah bagaimana ia memandangku, bagaimana aku memandangnya. Kecuali waktu aku lagi marah ya, huehehehe… Lihatlah bagaimana ia dengan perlahan merubahku. Lihatlah bagaimana ia sedikit demi sedikit merasuki mimpi-mimpiku.

Aku juga memiliki pekerjaan yang mungkin diinginkan oleh sebagian besar orang. Aku bekerja sesuai bidang, dengan gaji yang aku rasa cukup untuk seorang perintis sepertiku. Aku mencintai bidang pekerjaanku. And I am good at what I do. See? My life, in short, is kinda perfect. But then, what makes me feel this awfully terrible feeling?

Aku nggak ngerti. Sama sekali nggak bisa kupecahkan teka-teki ini. Kenapa akhir-akhir ini aku merasa useless banget? Kenapa akhir-akhir ini aku merasa sangat amat sangat demotivated ya? What? What? WHAT??!

Semakin aku berpikir, aku semakin tidak mengerti. Hey you, is there anyone who could give me an explanation?

Mirror Mirror Hanging on the Wall





Apa yang bisa kaulihat dari kedua bola matamu tentang dirimu sendiri? Tangan, dada, kaki, dan beberapa organ lain yang bisa dengan mudah kau jangkau sejauh matamu memandang. Namun, bisakah kamu melihat punggung, wajah, hidung, alis, pipi, gigi, dan matamu sendiri? Aku rasa tidak. Untuk melihat semua yang tak bisa dijangkau oleh penglihatanmu itu, kamu membutuhkan cermin.

Aku rasa, hal yang sama berlaku dengan kedalaman dirimu. Untuk melihat dan memahami siapa dirimu, kamu membutuhkan cermin, dalam hal ini orang lain. Orang yang cukup dekat denganmu, orang yang kaubiarkan membuka lembar demi lembar kedalaman dirimu untuk bisa memberikan feedback tentang bagaimana dirimu.

Beberapa waktu yang lalu, aku membaca ulasan hasil psikogram yang kudapatkan secara sembunyi-sembunyi dari kantor. Dalam lembaran itu, ada satu pernyataan yang mengatakan bahwasanya aku adalah pribadi yang tertutup. Berulang kali aku membaca tulisan itu, dan berulang kali pula aku tidak mendapati kata itu berubah.

What? Aku? Tertutup? Nggak salah nih?

Setahuku, aku adalah orang yang cukup terbuka, yang bisa dengan gampang dekat dengan orang lain, hahahihi dengan orang baru, bahkan menceritakan hal-hal memalukan tentang diriku kepada orang lain. Which part of that u called tertutup? Are they out of their mind?

Tapi…aku jadi teringat kata-kata yang pernah dilontarkan seseorang padaku. Ya, ia juga pernah mengatakan bahwa aku tertutup, yang langsung aku sangkal saat itu. Ia bilang bahwa aku hanya "sok" terbuka. Aku menceritakan tentang kejadian-kejadian yang terjadi pada diriku, tapi tidak perasaanku. "Itu dua hal yang berbeda, Put," katanya. Kejadian, bukan perasaan... I think about that now...

...namun dibalik kekurangannya tersebut ia mampu mengemas ketidakpeduliannya tersebut dengan gaya komunikasi yang lancar. Sehingga pihak lain tidak merasa bahwa ia adalah individu yang tertutup tersebut, dan nyaman berinteraksi dengannya."


Lho, kok mirip dengan apa yang dikatakan oleh seseorang itu? Jangan-jangan aku emang bener tertutup? Lalu, persepsi diri yang kumiliki tentang diriku ternyata salah dong? Apa yang kulakukan, apa yang kukira orang persepsi tentang diriku, ternyata salah? Berarti selama ini aku salah berstrategi hidup dong? If it's true, then, D**n!

Namun, aku jadi mengerti bahwa cermin adalah sebuah barang yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Tidak hanya cermin yang memantulkan bayangan dirimu, namun juga cermin hidup yang dapat memberitahumu dengan tepat, seperti apa dirimu. Dengan demikian, kamu mengerti dan paham benar siapa dirimu dan seperti apa kamu di mata orang lain. Dampaknya adalah, kamu bisa menyusun strategi yang lebih jitu dalam menjalani hidup, dalam berhadapan dengan orang lain.

Satu lagi. Jangan pernah anggap remeh setiap pantulan cermin terhadap dirimu. Jangan bersembunyi di balik pakaian berlabel "denial". Believe me, it won't do you any good. Terimalah dengan lapang dada apapun yang diperlihatkan sang cermin. Apakah kamu sudah mulai kegendutan, atau terlalu kurus, atau bahkan bahwa kamu adalah seorang pribadi "tertutup". Hahhahahha…


Hai kawan, sudahkah kamu bercermin hari ini?

Tak Peduli...

Ah, aku ingin menulis. Berbulan-bulan aku mengalami kebuntuan dalam menuangkan apa yang ada di otakku ke dalam selembar, atau satu saja halaman Microsoft Word. Omg, what the heck happened to me?! Padahal, dulu aku tergolong rajin dalam menulis. Kini, merangkai kata menjadi kalimat dan menyelesaikan satu paragraph saja rasanya susah sekali. Terkadang aku iri dengan tulisan-tulisan yang berada di blog kawan-kawanku. Menderita rasanya melihat rangkaian kata itu menjelma menjadi sebuah tulisan yang menarik dan inspiratif. T_T

Namun, aku sadar bahwa mengeluh tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Maka aku mulai membuka laptopku, membuka satu halaman kosong MS Word dan mulai mengetik. Aku tak peduli apa yang aku ketik, yang penting aku memiliki niat untuk memulainya. Tak peduli bagaimana hasilnya, yang penting aku berusaha untuk memecah kekakuan jari jemari dan perasaanku.

Maka aku pun mulai menulis. Diiringi dentingan nada dari winampku, jariku mulai berkeretak...

Monday, August 25, 2008

Lebih Dari Semua yang Pernah Datang dan Pergi

Kamu pernah jatuh cinta? Mungkin sebagian dari kamu akan menjawab dengan kata-kata, "Tentu saja pernah, DODOL!". Mungkin sebagian lagi menganggap bahwa pertanyaan yang kulontarkan adalah sebuah pertanyaan klise. Well, for what it's worth, it is cliché. But what the heck, love is a never ending topic to talk about, rite?

Tentu aku pernah jatuh cinta. Dan aku sedang tersenyum mengingat cinta pertamaku. Tentu saja aku tersenyum. Ia adalah manusia pertama yang membuat aku kebat kebit dihajar otak dan paranoiaku sendiri. Manusia pertama yang mengajariku manisnya ciuman pertama. Manusia pertama yang membuatku sangat menyukai sensasi memeluk dan dipeluk. Manusia pertama yang mengajariku bertengkar dengan orang yang dikasihi. Manusia pertama yang menorehkan luka di hatiku. Manusia pertama yang membuka mata tentang keberadaanku yang adalah seorang pejuang tak kenal lelah demi cinta, atau dalam kacamata seorang teman tak lebih dari sekedar obsesi (hahahaha...thx Na, for the quote). Manusia pertama yang menghantamku dengan ketakutan bahwa aku tidak pantas untuk dicintai. Manusia pertama yang kubenci dan ternyata dapat kumaafkan. Manusia pertama yang membuatku sadar bahwa aku masih bisa meneruskan hidup walaupun tanpa cintanya. Manusia pertama yang secara tidak langsung mengajariku untuk mencintai orang lain. In short, manusia pertama yang mengisi relung hatiku.

Terima kasih wahai cinta pertamaku. ^_^

Kemudian, cinta demi cinta lain silih berganti mengisi kedalaman hatiku. Meski harus kuakui tidak ada yang sedahsyat apa yang aku rasakan untuk si cinta pertama. Namun, aku masih saja menyukai sekaligus membenci sensasi saat cinta itu datang. Saat dimana jutaan lebah seakan beterbangan di rongga perut, menyengat kesana-kemari. Kenapa menyukainya? Emang perlu dijawab? I suppose you know the answer. Kenapa membencinya? Karena aku jadi kehilangan kontrol akan diriku sendiri. Aku seakan menjadi seorang pemabuk yang kehilangan akal sehat dan realitas. Terjebak dengan "what if" – "what if" yang membuat otakku seakan lumpuh dan tak mampu lagi berpikir jernih. Aku kehilangan logikaku! Aaaarrrgh!!

Hingga suatu ketika, aku tak lagi mencinta. Ooohh...dan betapa aku mencintai saat itu. Aku jatuh cinta dengan tidak adanya campur tangan cinta dalam hidupku (can u see the contradiction?). Aku hidup hanya dengan diriku, egoku, ambisiku. Aku menikmati, and I mean it, menikmati setiap detik hidupku. Aku hanya berkutat dengan teman-teman, keluarga dan pekerjaanku. Aku tidak berharap, tidak mencari, tidak menunggu. Aku hanya benar-benar menikmati hidup. Life is perfect. And I'm perfectly happy.

Satu-satunya kesalahan adalah membiarkan diriku terlena dalam buaian, yang membuatku melepaskan semua pertahanan. Alhasil, satu penyusup berhasil melewati radar yang mulai soak dan mencuri milikku paling berharga saat itu. Si penyusup itu dengan tidak tahu dirinya menjambret hatiku dan mengembalikan cinta ke dalam kehidupanku!!! D**n!

Kini kamu bisa bilang bahwa aku sedang dirundung cinta. Lebah-lebah itu datang lagi menghuni rongga perutku, menghantarkan sengatnya ke segala arah. Akal logikaku membubung tinggi ke awan untuk kemudian menghilang tanpa bekas. Ketakutan dan paranoia bagai mimpi buruk yang terus menghantui, dengan frekuensi yang meninggi seiring pertumbuhan rasa yang makin lama makin besar. Oh yeah, I'm in love. And this time, it struck me pretty hard. Buwangsaaaaat!!!

Ingin rasanya mengeluarkan press release yang menyatakan bahwa dunia kecilku nan damai sekarang porakporanda oleh badai yang disebabkan oleh kedatangan si penyusup. Namun, sebagaimanapun aku mengutuk keadaan ini, aku tidak bisa berhenti tersenyum lebar. Bagaimana tidak, ia adalah manusia pertama yang membuatku melintasi semua batasan yang kucanangkan sendiri. Manusia pertama yang membuatku berkompromi dengan ambisi dan egoku. Manusia pertama yang mengajariku untuk lebih terbuka. Manusia pertama yang mampu membuatku merasa bersalah telah mengacuhkannya, meski hanya sehari (hei, aku terbiasa mengacuhkan orang lain selama berminggu-minggu!). Manusia pertama yang berhasil membuatku memuntahkan semua onggokan rasa di hatiku, tepat di hadapannya. Manusia pertama yang membuatku mencintainya secara "dangdutan". Idiiiiihhh... Manusia pertama yang membuatku mencintainya dengan utuh. Manusia pertama yang membuatku mencinta tanpa aku harus menjadi orang lain.

Dan aku tak hentinya bertanya padanya (yang juga dipertanyakan dengan penuh keheranan oleh nyaris semua temanku), kenapa ia bisa mencintaiku? Aku tetap tidak bisa menemukan jawaban logis akan pertanyaan ini. Sebuah kenyataan yang sulit diterima untuk dirinya mencintaiku. Mengingat keegoisanku yang melampau batas. Mengingat semua sifatku yang jauh dari lovable—malah cenderung benciable. Mengingat bahwa tidak ada hal baik dari diriku yang pantas untuk dipuja dan dicinta. Satu-satunya penjelasan yang paling masuk akal adalah dia adalah orang paling bodoh sedunia yang jatuh hati padaku. Apalagi ia masih bersamaku setelah tahu semua hal buruk di diriku. See? Isn't he the most stupid man, alive?

Tapi, untunglah dia manusia paling bodoh di dunia. Karena dengan demikian, ia jatuh hati padaku. Dan akupun mencintainya. Lebih daripada semua cinta yang pernah datang dan pergi.

Hei si bodoh, bagaimana kabarmu hari ini?

Monday, August 04, 2008

Get Some Ethics Lesson, People!!

Aku baru menyadari betapa buruk habit sebagian besar manusia di Jakarta ini. Mungkin juga sebagian besar penghuni Indonesia. Call me judging, I don't even care. Tidak tahu etika, tidak memiliki tenggang rasa dan juga tidak peduli pada orang lain. My problem is your problem. Hell yeah!

Kadang aku nggak paham, apakah waktu kecil dulu orang tua mereka terlalu sibuk bercinta sampai-sampai nggak sempat mengajarkan etika sopan santun kepada mereka? Atau, saat pelajaran PPKN (tauk deh ini masih ada nggak di kurikulum SD sekarang) mereka emang kebanyakan bolos di kantin belakang sekolah? I have no idea.

Masak sih, untuk mengerti tata tertib bahwa untuk naek busway itu harus mendahulukan yang berada di dalam untuk keluar dahulu, baru mereka bisa masuk, saja nggak mampu? Bukankah kalau membiarkan yang ada di dalam untuk keluar akan menyisakan tempat yang cukup untuk mereka lebih nyaman berada di dalam? Emangnya mereka main bentur-benturan kepala dulu saat menunggu busway datang, sampai-sampai otak mereka tidak lagi bisa digunakan? It's a one simple logic, you know. But they can't even think about it. I am ashamed to be one of Indonesians.

Dan, orang macam apa yang nggak mengerti kata "Sudah penuh!" dan tetep aja menjejalkan badannya ke dalam busway yang sudah penuh sesak dengan cecurut-cecurut berjuluk manusia, hanya berbasis alas an "Sudah lama nunggu, deket kok". That is your problem, you stupid dickhead! Do I need to get you to a doctor to take a look at your lazy eyes, that there is not enough space on the boat and u are pressing my breast hard enough with you standing there?!! You fucking asshole!!

Oh guys, come on, please. You can always take another alternative to your problems. Instead of giving problems to others, you can take metromini, kopaja, or taxi if your destination is close, like you mention. Ojek might work as well. I’m not saying that you can not take busway, but when the officer said that it no more space at the transportation facilities, you have got to listen. When they said to let the inside to come out, you better do the exact thing he/she said. Not doing the opposite and caused problems to others.

Jadilah seorang manusia yang katanya memiliki otak, perasaan dan akal budi, yang membedakannya dari binatang. Bukannya hanya menyandang predikat manusia, tapi tingkah laku tidak ubahnya Bingo (my dog who passed away years ago). Come on... For your own sake's, get some ethics lesson...


*my beloved bed, 3 August 2008 21: 43*

Thursday, July 17, 2008

Again, Difference...

Malam ini aku tertohok oleh lagi-lagi satu kenyataan yang nggak pernah bisa aku bantah. Then again, kenapa perbedaan selalu menjadi masalah sih? I don't mind with any differences, as long as we can honor and respect others, differences would not be a problem.

Aku benci membicarakan masalah yang satu ini, benci karena sepertinya hanya aku yang tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Sebaliknya, semua orang malah selalu meributkannya, menganggap ini adalah sesuatu yang tremendously important, sampai-sampai melupakan beberapa hal lainnya yang buatku lebih crucial untuk dijadikan pertimbangan.

Padahal, baru beberapa waktu yang lalu aku merasa mampu untuk mengkompromikan beberapa hal. Aku telah mampu menyingkirkan sedikit demi sedikit keegoisanku dan ketakutan-ketakutanku. Aku bahkan telah berkompromi dengan ambisi-ambisiku. Ambisi yang selama ini selalu kuanggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dikompromikan. Ambisi yang membuatku memiliki sebuah tujuan, hingga kemudian memunculkan energi dari dalam diriku untuk berusaha lebih keras. Ambisi yang selalu kuanggap akan menjadikanku seorang putri yang sempurna. Dan aku rela membuangnya untuk dia, untuk mencapai apa yang dia impikan. Untuk mewujudkan apa yang ada dalam proyeksi masa depannya.

Yes, I've managed to put aside my selfishness to stand in my own feet, to being someone that I used to see in the next 10 years. I've managed to compromise living ordinary, just for him. To be with him. But to compromising my faith? Well, I don't think I can manage that.

So, what is the solution? I'll keep on fighting, coz I don't have any problem with that. But if he does have a problem with that, what will u do, Putri?

Thursday, July 03, 2008

New Baby Born, Souljah Lover!!

Last nite, I totally have a blast! For the very first time - after several failed plan I finally got to see my favorite band on stage, live! It's Souljah! And you know what? They totally kick ass! Aku jadi semakin jatuh cinta sama band satu itu dan berjanji pada diriku sendiri untuk sebisa mungkin ngekorin jadwal manggung mereka (selama di Jakarta, tentunya).

Truthfully, aku bener-bener excited ngeliat Souljah manggung di acara PRJ, Jakarta International Expo, kemarin. Sejak si Eddi Brokoli meneriakkan nama Souljah, aku langsung berdiri dari dudukku untuk langsung merangsek mendekat ke arah panggung. Begitu lagu pertama "Kuingin Kau Mati Saja" mereka meluncur, gw histeris (iya, aku tahu bahwa ini nggak banget. But hey, i can't help it!) dan langsung ikutan nyanyiin lirik lagu yang udah gw hapal luar kepala itu keras-keras. Eka yang saat itu jadi korban yang dengan sengaja gw seret untuk nemenin gw nonton, cuman bisa ngekor gw sambil geleng-geleng kepala melihat antusiasme gw yang berlebihan.

Semakin lama, gw semakin nggak tahan untuk ikut menggoyangkan kaki, tangan, badan en kepala mengikuti irama musik. Nggak peduli dengan kenyataan bahwa banyak orang menatap gw seakan gw orang gila yang baru jatuh ke bumi. Bahkan, seorang cewek di sebelah gw malah dengan terang-terangan noleh dan ngeliatin dengan tampang takjub akan kehebohan gw. Tapi, bodo amat! Kapan lagi gw bisa ngeliat Souljah? Dan sekalinya kesempatan itu datang, nggak bakal gw sia-siain dong! Untung gw udah ganti pake baju santai, yang bikin gw keliatan kayak anak umur 18 taon. Kalau gw jejingkrakan masih pake pakaian kerja gw, bisa mati berdiri kali tuh cewek. Hihihihi...

Dan gw salut setengah mampus ama Eka. Dengan semua tingkah laku gw yang memalukan, dia nggak menjauh dari gw (meski waktu gw mau meluk dia sebagai ungkapan kegirangan, dia langsung menghindar dan pasang kuda-kuda bertahan seakan gw cewek yang penuh potensi menularkan virus gila ke seluruh umat manusia). Dia malah ikutan nyanyi padahal nggak tahu lagu-lagu Souljah. Dia juga tuh yang nyeret-nyeret gw untuk maju lebih dekat ke panggung saat ada beberapa orang meninggalkan spot mereka. Fiiuuhh...I love u Eka! *Nggak seperti satu orang laen yang bisanya cuman ngomong di mulut doang. Huh!*

Dan saat lagu terakhir "I'm Free" selesai mereka dendangkan, separuh diriku masih berharap mereka mendengarkan teriakan 'encore' ku dan membawakan paling nggak satu lagu lagi. Impian hanya tinggal impian, si dodol Edi Brokoli nampang lagi dan membuat gw melangkahkan kaki keluar dari arena musik itu. Gak peduli bentar lagi Naif yang bakalan manggung. Gw cuman mau Souljah! Huwaaaa...

But eniwe, they really rocks loh! Keren banget. K-E-R-E-N. Dan gw bener-bener gak tahan kapan gw bisa mantengin aksi mereka lagi. Oh, semoga...

Friday, June 27, 2008

*(*&^%#$#^&()$#!!!!!

Ntah kenapa hari ini rasanya semua salah. Mulai dari kepala agency keparat itu yang berusaha ngakalin aku dengan tingkahnya yang bikin eneg. Masa sih, sebuah agency yang ngakunya besar bikin narasi untuk produksi sebuah video profile nggak terlebih dahulu membuat konsep dan storyline?? Yang bener aje boz! Kepengin gw tendang keras-keras ujung idung itu orang. Kesel gw!

Menjelang sore, kembali kejadian demi kejadian membuat emosiku kembali limbung. Kerjaan yang bertumpuk lah, divisi yang tidak bisa diajak bekerja sama lah. Ibu yang terus menerus menelepon dan mencurhatiku tentang suaminya (which is my father), anaknya (of course my brother) dan segala keluh kesahnya. Belum lagi kelakuan pacar yang membuatku geleng-geleng kepala.

Akibatnya? Handphone kerenku yang udah bulukan itu terancam semakin buluk lagi karena keseringan kubanting hari ini. Heran, akhir-akhir ini aku kalau lagi emosi suka nggak karuan deh, destruktif! Belum lagi teriakan-teriakan yang menggema di seluruh penjuru lantai kantor. Untungnya, semua orang di lantai ini udah pada pulang saat aku mulai berteriak. Tapi, yang paling parah ya mood dan emosiku. Semuanya berasa nggak bener. Semuanya tidak pada tempatnya.

What did i do wrong? For heaven's sake!! Apa aku cuman kebawa emosi temen-temen yang laennya ya? Dasar putri, si tukang ikut arus! Bah! Grrr...


Tuesday, 24 June 2008, 22.01


Monday, June 09, 2008

Lajang Bahagia

Forward an dari email anak-anak kantor neh. I found it very me...


Doa Para Lajang


Thank God, untuk ...
Kemerdekaan menjalani hidup
Keleluasaan mengejar karier
Waktu melimpah untuk hang-out
Masa yang panjang untuk bersenang-senang
Tidur yang nyenyak tanpa dengkuran
Kemewahan untuk menikmati kesendirian
dan banyak lagi yang terlalu panjang untuk kami sebut semua dalam doa kami

Beri kami kesabaran untuk ...
Tidak kurang ajar menghadapi tuntutan orang tua
Selalu tersenyum bila ditanya mengapa keenakan melajang
Tidak tertawa atas curhat tentang urusan rumah tangga

Beri kami kekuatan untuk ...
Tidak melepas masa lajang karena everybody does
Tidak melepas masa lajang karena dianggap menghalangi jalan adik kami
Tidak melepas masa lajang karena terlanjur berbadan dua ...
Tidak melepas masa lajang untuk bayar utang

Dear God,
Biarkan kami menikmati kesendirian kami
Dan merelakannya pergi pada waktunya
Atau bila kau anggap kami terlalu egois bersenang-senang sendiri
Berikan kami teman terbaik untuk berbagi kesenangan

The good one, of course, if You dont mind .....Amin

Tuesday, April 15, 2008

Antara New Job, Kubikel dan Komputer Lemot

Today is my first day at my new office for the next six months (if I were able to pass the probation, who knows for how long?). Well, it's kinda weird, you know, starting to know people again. Learning about the company, the business, and else. For starter, I have to remember app. 300 employees of this company. Quite a number, huh? Yes, I work in a national company, which growing so fast in the past few years. And the great thing about it is, I have a subjectively good income. ^0^

Kubikelku berada persis di luar ruangan manager divisi Industrial Influence. Jadi, ruangan kantor di lantai tempat aku bekerja terdiri dari kubikel-kubikel yang saling menyatu membentuk 3 deretan huruf U. Satu deret huruf U diisi oleh 8 kubikel yang bersebelahan dengan kubikel deret U lainnya. Kemudian, di depan kubikel tersebut terdapat ruangan-ruangan yang diisi oleh GM dari setiap divisi. Aku menempati kubikel ketiga persis di depan ruangan GM Industrial Influence. Well, saat ini deret kubikel U yang kutempati masih lengang. Hanya aku yang mengisinya. Wajar sih, di divisi ini, aku adalah pioneer nya. Huumm...aku nggak mau bayangin betapa repotnya aku tanpa rekan kerja saat peak time nanti.

Eniwe, aku bahagia sekali dengan pembagian kubikel ini. Kubikelku besar sekaliiii.... Luas, lebar dan nyamaaaaannn.... kakiku bisa bergerak ke mana saja tanpa harus nabrak sana sini. Posisi tangan untuk mengetik pun terasa pas sekali. Kemanapun aku bergerak, aku tidak merasakan keberadaan orang lain. Dan itu berarti, BEBAAAAAASS.... Ugh, I'm starting to love this company.

But, kebahagiaan memang hanya berjarak sehelai benang tipis dengan kebetean. Entah mengapa, sepertinya ada kesalahpahaman antara GM ku dengan bagian finance, sehingga PO untuk komputerku masih nyangkut. Alhasil, sepaket computer lemot lah yang saat ini menghiasi mejaku. Dan ya ampun, ini bukan lemod aja, tapi super duper lemooooddd!!! Ampun kakak... Untuk membuka explorer aja aku harus terus menekan F5, yang juga seringkali nggak berfungsi dengan baik. Uuughh....apa sih salah dan dosaku mendapatkan komputer lemod begini? Untuk menulis postingan ini aja, kadang dia suka nggak ngeh dengan tulisan yang kuketik. Hang beberapa detik, untuk kemudian mengetikkan huruf demi huruf yang kupencet. Set dah!! Aku ingin komputer baruuuu!!! T_T

But eniwe, akhir kerja hari ini cukup menyenangkan dengan kedatangan GM divisi MMO yang dengan antusias memintaku membuatkannya sebuah media internal bagi para MMO yang tersebar di berbagai pelosok daerah di Indonesia. What?! Hiphiphurray, akhirnya aku ada pekerjaan!! Yah, setelah seharian hanya membaca berita tentang tower dan kebijakan pemerintah, dan harus bergaul dengan komputer busuk nan lemod ini (yang bikin aku nggak bisa membaca kumpulan berita-berita terdahulu), akhirnya aku dapet kerjaan juga!!

Siyap pak, akan saya kerjakan permintaan Anda! Tapi...besok ya pak. Sekarang saya mau pulang dulu. Saya mau bercinta dengan kekasih neh, udah lama nggak ketemu! Huehehehehe... C u tomorrow!!

Monday, April 14, 2008

My Rainbow


Sender : +62817434xxx
Received : 11:33:17 ; 10-04-2008



Kamu tahu pelangi kan? Aku gak suka warna kuning, tapi itu ada di pelangi. Dan
pelangi tanpa kuning itu bukan pelangi. Aku suka pelangi karena dia pelangi. Got
my point?



Cukup lama aku termenung memandangi pesan yang nyangkut ke handphone ku itu. Awalnya aku nggak yakin bahwa sms itu ditujukan untukku. Bolak-balik jempolku memencet tuts hape, keluar masuk folder sent item dan inbox, hanya untuk memastikan konteks pembicaraan via sms dengan si pengirim sms.

Entah karena tingkat kelemotan udah sampe level 99, atau karena hasrat denial makin menggembung, aku tetep aja nggak bisa mencerna isi sms itu. Terus, point nya di mana? Posisiku ada di mana?

Hhh...aku benci diriku saat sedang jatuh cinta.

Wait...what u said? Jatuh cinta? Are u?

Hummm...maybe.

Well, that’s interesting. 5 W + 1 H dooooongg...

Ng...what can I tell? He's someone I met sometime in the past. I know him from other friend I accidentally met while doing a job interview. And right now I think I fall in love with him...

And?

And?! That's a big problem, darling! It's been so long since my last relationship. I don't know if I'm ready for another one. I don't even know if I'm able to handle relationship issues. Huhuhu...

Kamu ketakutan?


Mungkin.

That is so pathetic of you!

Well, what do you know, judging me like that? Huh? Do you think you know me well enough??!!

Oh yes I do, you stubborn! I am your inner self! Of course I know you very well!! You are a pathetic little creature whom not eager to take chances in your own life. U fell in love, so what? That's a great thing!!

Tapi...aku takut...

Apa yang kamu takutkan?

Aku takut aku berubah menjadi orang lain. Aku berubah dari diriku yang seperti ini menjadi seorang yang kubenci. Seorang yang penuntut, memiliki ketergantungan dan kecanduan cinta, tidak mandiri, sok perhatian. Itu bukan aku!! Aku membenci diriku yang seperti itu. Tapi aku tidak pernah bisa menghindari perubahan itu setiap aku jatuh cinta. Aku takut perubahanku akan membuat nya melarikan diri. Aku takut ia merasa tertipu dan tidak mendapatkan apa yang dulu ia lihat di diriku.

Oh sayang... *speechless*

Kalau aku bisa, aku nggak mau jatuh cinta. Aku nggak mau mencintai. Aku mending dicintai aja, seperti beberapa waktu terakhir ini. Aku nggak perlu pusing-pusing berpikir apakah dia akan membalas perasaanku. Aku juga tidak perlu membalas perasaannya. Nggak suka ya menjauhlah, toh aku tidak pernah meminta mereka-mereka itu untuk mencintaiku.

*getok kepala*

Aduhhh!! Hei, apa yang kamu lakukan?? Sakit, tauk!!

Otakmu emang perlu digetok, rada nggak beres! Memangnya dengan dicintai kamu bisa mendapatkan kebahagiaan? Memangnya kamu bisa mendapatkan kepuasan hanya dengan dicintai, tanpa kamu mencintai balik? Kemana putri yang kukenal? Yang sedari dulu selalu mengagung-agungkan MENcintai dan bukan DIcintai. Yang mau berjuang demi CINTA, apapun resikonya? What happened to you my dear?

Well, people change. So am I.

Ggrrrhhh...dasar perempuan bodoh! Kamu tidak berubah sedrastis ini. Kemana putri yang selalu percaya pada diri sendiri? Kemana putri yang menyukai spontanitas, tidak pernah takut terhadap tantangan, apapun resiko yang menghadang di depan? Kembalikan putri yang itu padaku!!

Maaf, terimalah kenyataan bahwa saat ini dia sedang menghilang. Terimalah kenyataan bahwa aku yang sekarang berada di sini. Aku yang penakut, aku yang lemah dan tidak lagi berani mengambil resiko.

But, kamu bilang kalau saat ini kamu sedang jatuh cinta. Artinya, kamu sedang MENcintai seseorang. Ha! What would you do?

Itulah. Aku nggak tahu. Aku nggak bisa menghindari bahwa aku memang sedang menyayangi seseorang. Dan perasaan yang kumiliki ini cukup memusingkan. Aku nggak mengantisipasi bahwa aku akan mengalami perasaan seperti ini lagi, dalam waktu yang sangat singkat pula. Sudah beberapa tahun ini hatiku nggak pernah tersentuh perasaan seperti ini. Dan yang paling aku benci, saat perasaan itu muncul, beberapa paranoia ikut bermunculan. Ada harapan, yang juga diikuti dengan perasaan was-was akan kehilangan. Aaarrrrgghhhh... Huhuhuhu...

Hei Putri Respati!! Bangun!! Jangan sok cemen begini! Kamu hanya punya dua pilihan. Kamu bisa menyambar kesempatan yang datang saat ini dengan resiko-resiko yang sudah menjadi satu paket dengannya. Pilihan kedua, kamu bisa melewatkan kesempatan ini dan menikmati kesendirianmu yang tanpa resiko. Tidak ada yang salah dengan kedua pilihan itu, tergantung prioritas kamu saat ini. Ayo pikir, gunakan akal sehatmu, gunakan perasaanmu!



Hhh...lelah aku bertarung dengan kedalaman hatiku sendiri. Seorang teman memperingatkanku untuk tidak terlalu sering melakukannya. Ia ketakutan bahwa aku nanti akan menciptakan kepribadian lain di ruang jiwaku. And...aku nggak tahu akan jadi serepot apa menghadapiku dengan dua kepribadian. Padahal menghadapi satu aku saja aku yakin beberapa orang sudah kelabakan.

Dan ya, I already make up my mind. I choose to be my old self. I choose to LOVE and BEING LOVED. I choose to be spontaneous. I choose to take the chance, whatever risk may occur. I choose to deal with my weak-self. I choose to be strong. I choose to stand on my own feet. I choose to held my head up high. I choose to run, chasing the happiness. I choose to be with him, my rainbow.


Tuesday, February 12, 2008

HATRED

Lihatlah hei kawan,
Di kedalaman hati yang paling dalam, terendam rasa yang hendak kau retas
Meneteskan darah merah kelam laksana racun gigitan sepasang ular
Yang terhisap tak sempurna terlanjur menjangkiti alirah darahku

Lihatlah hei kawan,
Ke kedalaman malam di mana kau hapuskan kehangatan hari yang membentang
Satu tetes noda kautuangkan menghantarkan hati yang dingin dan membeku
Hembusan sang bayu tak sepoi menekan jiwa, membuatku hendak memuntahkan segala rasa jijik yang muncul tanpa segan

Wahai langit hitam yang berbaring di atas sana,
Terlihatkah olehmu salah satu makhluk kesayanganmu menuang susu basi dalam baskom berisi telor busuk penuh belatung?
Mencampurnya dengan penuh kebahagiaan bagai seonggok daging serupa anak kecil yang beroleh mainan anyar
Terasakah olehmu aroma tengik mencekik panca indera?
Terdengarkah olehmu pekak kebohongan menghantam gendang telinga meluncurkan pembelaan yang tak sempurna?

Lihatlah hei kawan,
Secungkil kebencian yang telah kau bangkitkan dari sudut gelapku…



Soerabaia, 11 Februari 2008

Friday, February 01, 2008

Dreams

How far will you go for your dreams?

"Mimpi" bukan melulu sesuatu yang indah atau sekedar menjadi kawan tidur. Dream, for some people, is what keeps them sane and insane at the same time. Saat seseorang sedang limbung, mimpilah yang menjadi dopping untuk membuat ia kembali bangun dan terjaga dari limbungnya. Namun, mimpi juga dapat menghajar babak belur kesadaran seseorang. Sebegitu terhajarnya oleh impian tersebut, ada beberapa orang yang tidak lagi bisa bangkit dari rubuhnya.

Bagaimanapun juga, mimpi adalah sebuah rancangan masa depan yang menjadi patokan dan tolok ukur seseorang untuk menjalani hidup. At least, that is what dreams means for me. Dan kemudian, saat mimpi masih melayang-layang menggoda dalam lipitan harapan, semua orang pasti akan berusaha untuk membawa si mimpi ke dalam dunia nyata. Pertanyaannya, sampai seberapa jauh kamu akan berusaha untuk menggapai sang mimpi, menggengamnya dan tidak membiarkannya lepas dari himpitan jari jemarimu?

Ok, taruhlah bahwa kamu melakukan semua yang kamu bisa untuk menggapai mimpimu. And I believe that everyone would do exactly the same thing, put some effort to their dreams. But, what if you have put full effort to it and what you get in return is nothing than a failure? Bagaimana jika seluruh usaha yang kamu lakukan terhempaskan?

Sakit, pasti. Semangat yang kemudian menguap, jelas. But, does giving up an option? Akankah kamu menyerah, mengubur mimpi dan menguak mimpi yang baru? Yang aku tahu, mimpi tidak bisa dimusnahkan. Mimpi akan terus mengekor, menyelinap dalam sela-sela otak, dan pada saatnya akan meledak sehingga sekali lagi menyeruak ke dalam kehidupan. You can't erase a dream before you make it come true. You just can't.

All I know is that holding to dreams can be either miserably good or badly bad. It's hard to keep on dreaming on the same subject when we have tried and failed. Namun, apakah itu menjadi penghalang bagimu untuk terus berusaha? Bukankah kegagalan merupakan satu langkah lebih dekat pada kesuksesan? Ok, kamu mengambil langkah yang salah di masa lalu. So what? You can always learn from your mistake. Jadi? Kamu tidak hanya akan terus bermimpi kan? Berjuanglah kawan, and you will find your glory! Fly, fly away so high my friend!!

(for a friend and his dreams)

Note : picture taken from deviantart.com (Exodus by Mizhak)

Thursday, January 24, 2008

Women MovemenT

Terus terang, aku sedikit terkejut (in a positive way) dengan penampakan yang terlihat beberapa waktu lalu. Saat itu, aku baru saja melangkahkan kaki memasuki busway koridor 6, trayek Dukuh Atas-Pulogadung. Setelah menghempaskan pantat di kursi busway, aku refleks menoleh ke depan. Tebak pemandangan apa yang terpampang di depanku? Aku baru sadar bahwa sosok di balik kemudi busway itu adalah seorang perempuan!! Halleluya!! Awalnya, aku hanya terlongong memandangi punggung supir perempuan itu. Kemudian, untuk memuaskan rasa penasaranku, aku pun beranjak ke tempat duduk yang berseberangan dengan punggungnya.

Sewaktu mataku bergerilya meneliti sosok perempuan itu dari atas sampai bawah, aku menyadari bahwa si supir busway ini adalah seorang perempuan cantik! Rambutnya yang tergerai melebihi bahu nampak berkilau dengan warna burgundy. Kaca mata hitam bertengger manis di hidungnya yang kecil mancung, melindungi wajahnya dari sinar matahari. Hal yang sama terjadi dengan lengannya yang terhiasi sarung tangan wol warna putih.

Ketercenganganku semakin menjadi ketika busway mulai melaju. Ternyata, di balik tubuh yang kurus langsing, ia bisa memutar kemudi busway yang segedhe itu, dengan mulus dan tanpa halangan berarti. Bahkan, aku merasa bahwa cara perempuan ini membawa laju busway jauh lebih baik daripada supir laki-laki.

Hahahaha!!! Frankly, melihat menyataan ini aku merasakan adanya sedikit angin segar bagi perkembangan gender equality di Indonesia. Bagaimana tidak, ruang kerja perempuan Indonesia yang selama ini berada di daerah domestik, kini telah bergeser. Tidak hanya telah merambah area publik, perempuan kini tidak ragu untuk memilih profesi yang diidentikkan dengan laki-laki. Pekerjaan menyupir bis atau taksi yang biasanya dikuasai oleh laki-laki, kini bisa juga dikerjakan oleh perempuan. Perempuan cantik pula!

Hey, bukannya aku ingin memberikan stereotip bagi perempuan berdasarkan perbedaan fisiknya. Namun, bagaimanapun juga harus diakui bahwa ada pembenaran yang dilakukan (budaya) masyarakat bahwa perempuan (yang dianggap) berparas cantik tidak berhak melakukan pekerjaan berbau fisik. “Cantik-cantik kok maling!” (hehehe…ini bukan berbau fisik ya). “Cantik-cantik kok manjat pohon sih, pamali!!” Celetukan-celetukan yang sarat akan stereotip dan diskriminasi terhadap perempuan

Jadi, ketika melihat si perempuan cantik ini menyupiri busway, hatiku mencelos gembira. Paling tidak, hal ini adalah satu pertanda bahwa perempuan kini sudah beranjak dari posisinya yang tersingkirkan di ruang domestik. Kini perempuan telah melangkahkan kaki ke ruang publik. Mereka dapat menjadi apapun, mulai dari seorang supir bis, kuli, tukang ojek, maupun direktur sebuah perusahaan IT sekalipun.

Namun demikian, belum saatnya kaum perempuan bersenang-senang. Perjuangan masih panjang, kawan! Hal ini hanyalah permulaan saja. Masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk mencapai keadaan gender equality. Sudah benarkah sistem yang diterapkan perusahaan terhadap perempuan? Sudahkah negara menerapkan sistem yang adil terhadap perempuan? Sistem yang tanpa prasangka, tanpa stereotip, tanpa marginalisasi? Sudahkah perempuan mendapat hak-hak mereka sesuai dengan keadaan biologis perempuan? Sudahkan perempuan mendapatkan hak yang sama dan juga kesempatan yang sama dengan laki-laki sebagai manusia? Sudahkah perempuan terbebas dari budaya dan masyarakat yang mengagungkan patriarki?

Dan untuk mewujudkan semua itu, hal pertama yang menurutku paling penting adalah menyadari dan mengakui adanya praktek ketidakseimbangan gender di masyarakat. Menyadari yang kumaksudkan bukanlah untuk terbawa dan mengamini ketidakseimbangan itun loh. Namun sebaliknya, dengan menyadari adanya ketidakseimbangan, kita akan semakin waspada yang akan menumbuhkan kemauan dan niat untuk merubah ketidakseimbangan menjadi sebuah kesetaraan. Semoga...

Wednesday, January 23, 2008

UnprofessionaL!

Sudah agak lama aku kepengin menulis postinganku kali ini, berbarengan dengan postinganku tentang balas dendam kepada sebuah media tempo hari itu. Yap, postingan ini emang nggak jauh-jauh kok dari media itu. Cuman, sekarang temanya bukan tentang balas dendam, melainkan tentang ketidakprofesionalan.

Well, u all know kan kalu aku pernah tes di media itu yang menghabiskan waktu mulai jam 6 aku berangkat dari kos sampai jam 10.30 aku baru bisa merebahkan badan di kasur tercinta. Bayangkan, 16 jam lebih aku berada di luar hanya untuk urusan tes di media itu! Ya, nggak semuanya untuk urusan tes sih. Yang jelas, tes dimulai pukul 07.00 dan berakhir pada pada tahap interview pukul 20.00. 13 jam!!

Yang paling kuanggap tidak professional adalah permasalahan waktu. Sebelum memutuskan untuk mengikuti prosesi tes, aku pernah menelepon kantor media itu dan bertanya tentang alokasi waktu. Jawaban yang kuterima adalah, jika lulus sampai tahap interview, tes akan berakhir sekitar pukul 16.00 atau maksimal pukul 17.00.

Kenyataannya? Bullshit!!

Tes dimulai pukul 7 untuk gelombang pertama dan pukul 8 untuk gelombang kedua. Setelah tes yang berlangsung kurang dari 15 menit itu, para peserta disuruh menunggu sampai pukul 9. Oke, akupun menunggu bersama oom Bobi dalam kegersangan bersama dengan asap-asap rokok dari bibir kami. Tidak ada air mineral, tidak ada roti ataupun snack. Oke…

Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 09.30, masih belum ada tanda-tanda akan ada pengumuman. Tik…tok…tik…tok…

Baru pada pukul 10.15 embak pengujinya menyuruh semua peserta untuk masuk dan membacakan siapa-siapa saja yang bisa lanjut ke babak selanjutnya. Aku sih udah pasang tampang nggak yakin dan berharap akan melanjutkan perjalanan ke tempat tes lainnya. Niat tinggal niat, namaku kepanggil. Buhsyeeeeedddd!!! Di sinilah awal kebetean bermula…

Yayaya…tes selesai dikerjakan dengan perasaan ingin muntah melihat deretan angka yang ngerjainnya naudzubilah lamanya. Tahap kedua selesai kurang lebih pukul 11.30. Sebelum meninggalkan TKP, si embak yang tadi bercuap bahwa para peserta diharap menunggu sampai pukul 12.30.

Oke… Aku pun berinisiatip untuk buang hajat dan makan siang di kantin di belakang TKP. Pukul 12.30 aku dan oom Bobi sudah nongkrong di depan ruang tes. Tunggu punya tunggu…sambil entah sudah berapa batang rokok yang terbuang, masih tak terlihat tanda-tanda penyebutan nama siapa saja yang berhak maju ke tes selanjutnya. Dan masih tidak ada segelas pun air mineral yang dikeluarkan untuk peserta. Mulai geram….

Baru pukul 15.00 si embak yang sama (uuuugh…pengen deh menghadiahinya sumpah serapah kalau aku melihatnya lagi) menyuruh kami untuk masuk dan mengumumkan hasil selanjutnya. Can u imagine that? They late by two and a half hours!! What a shameeeeeeee!!!!!!!!!!! F**k!!!

Dan yang lebih siyal, aku lulus lagi! Alhasil, tes menggambar pun dimulai (tahu kan betapa bencinya aku akan tes yang satu ini???!!!)… Yayaya, akhirnya tes selesai kurang lebih pukul 16.00. Dan seperti yang sudah diduga, babak menunggu pun terulang (lagi).

Aaaaaaarrrrghhhh…..

Dengan pengalaman nggak pernah lulus psikotes bagian menggambar, aku sudah membayangkan indahnya kasurku yang empuk. Ternyata, ketika pengumuman keluar, namaku kepanggil lagi! Bah! Parahnya, karena tes terakhir adalah interview, tentu saja tidak bisa dilakukan berbarengan. Aku nggak tahu pasti berapa orang yang lulus sampai tahap interview ini, tapi dari keterangan blog sebelah, kayaknya sekiatr 100an orang deh. Kebayang kan berapa lamanya menggilir interview 100 orang hanya bersenjatakan kurang lebih 5 atau 6 orang interviewer??

Dari jam 17.00 sampai jam 19.30 aku menunggu dalam kesal. Dan ketika jarum jam menunjukkan pukul 19.45, si embak yang tadi keluar dan dengan enaknya dia bilang, “Karena para redaktur harus kembali ke kantor redaksi, untuk yang berbasis di Jakarta dan belum mendapatkan kesempatan interview, interview akan dijadwal ulang besok pukul 13.00 di kantor kami!”

Hah?! Otak si embak itu ditaruh di dengkuL kali ya?? Enak aja bilang begitu, emang dikira para peserta tes itu nggak nungguin sampe jamuran apa? Emang dikira waktu mereka hanya milik kalian apa? U%$&*^$*%$^%&*

Oom Bobi yang melihat jidatku sudah mulai berkerut hanya bisa diam sambil terus berada di dekatku. Kayaknya dia khawatir aku bakal ngelabrak itu embak sambil maki-maki nggak karuan. Untungnya aku masih bisa bersopansantun, meski sedikit. Aku masih bersabar menunggui si embak diprotes beberapa peserta yang namanya nggak kepanggil untuk reschedule. Kata mereka, sewaktu pengumuman siapa saja yang lolos untuk interview, nama mereka terpanggil, kok sekarang nama mereka tidak ada. Tau nggak apa jawaban si embak? “Itu mungkin memang nama-nama yang kami siapkan untuk cadangan” WadeheL!!! Cadangan?? Enak aja mempermainkan harapan orang? Lu kate gile?

Akhirnya, mereka-mereka yang tidak tersebut namanya itu mendapatkan hak mereka kembali untuk interview keesokan harinya. Kemudian, sebelum si embak berbalik masuk ke TKP, aku memanggilnya dan menjelaskan keadaanku. Mungkin karena melihat tampangku yang sudah seperti mau makan orang, si embak akhirnya mengijinkan aku untuk interview malam itu.

Dan aku pun akhirnya beranjak menuju shelter busway bersama oom Bobi dengan gondok di hati.

Gggrrrrrhhhh…… Aku bukan piss off karena aku nggak lolos tahap interview pada akhirnya, wong aku memang nggak niat interview kok. Aku bilang terus terang sama si interviewer bahwa aku tidak berminat menjadi reporter, tapi lebih ke vacancy mereka yang lain, Community Relations.

Aku hanya kesal karena perusahaan sebesar media itu tidak bisa mengorganisir sebuah event dengan lebih professional. Minuman tidak disediakan. Tidak ada snack atau cemilan. Bukan apa-apa sih, dengan proses tes yang sedemikian panjang dan peserta yang massal, rasanya nggak pantas aja kalau perusahaan tidak menyediakan apapun. Kesannya seperti mereka tidak menghargai para pelamar yang datang. Bahwa para pelamar lah yang membutuhkan media itu, dan bukan sebaliknya. Hey, it goes vice versa! Kami membutuhkan pekerjaan, dan Anda membutuhkan sumber daya manusia.

Bukan hanya permasalahan air minum saja yang membuat aku menuduh itu media tidak professional. Mereka itu ya, managemen waktunya gimana sih???!!! Ngaret nya itu loh bikin eneg. Kalau mereka sudah merencanakan proses berlangsung satu hari, ya wujudkan dong. Kalau mereka tahu jam 8 para redaktur sudah harus kembali ke pabrik, ya pikirkan dong dari awal bagaimana menyiasatinya. Jangan menyuruh para peserta untuk datang kembali keesokan hari, padahal mereka sudah menunggu cukup lama. Emang dikira mereka nggak punya kegiatan atau aktivitas lain? Dan yang bikin aku melongo untuk terakhir kali adalah alasan CADANGAN yang dikemukakan si embak. Duoh, unprofessional kok parah!! Omigosh…