rss
email
twitter
facebook

Thursday, January 24, 2008

Women MovemenT

Terus terang, aku sedikit terkejut (in a positive way) dengan penampakan yang terlihat beberapa waktu lalu. Saat itu, aku baru saja melangkahkan kaki memasuki busway koridor 6, trayek Dukuh Atas-Pulogadung. Setelah menghempaskan pantat di kursi busway, aku refleks menoleh ke depan. Tebak pemandangan apa yang terpampang di depanku? Aku baru sadar bahwa sosok di balik kemudi busway itu adalah seorang perempuan!! Halleluya!! Awalnya, aku hanya terlongong memandangi punggung supir perempuan itu. Kemudian, untuk memuaskan rasa penasaranku, aku pun beranjak ke tempat duduk yang berseberangan dengan punggungnya.

Sewaktu mataku bergerilya meneliti sosok perempuan itu dari atas sampai bawah, aku menyadari bahwa si supir busway ini adalah seorang perempuan cantik! Rambutnya yang tergerai melebihi bahu nampak berkilau dengan warna burgundy. Kaca mata hitam bertengger manis di hidungnya yang kecil mancung, melindungi wajahnya dari sinar matahari. Hal yang sama terjadi dengan lengannya yang terhiasi sarung tangan wol warna putih.

Ketercenganganku semakin menjadi ketika busway mulai melaju. Ternyata, di balik tubuh yang kurus langsing, ia bisa memutar kemudi busway yang segedhe itu, dengan mulus dan tanpa halangan berarti. Bahkan, aku merasa bahwa cara perempuan ini membawa laju busway jauh lebih baik daripada supir laki-laki.

Hahahaha!!! Frankly, melihat menyataan ini aku merasakan adanya sedikit angin segar bagi perkembangan gender equality di Indonesia. Bagaimana tidak, ruang kerja perempuan Indonesia yang selama ini berada di daerah domestik, kini telah bergeser. Tidak hanya telah merambah area publik, perempuan kini tidak ragu untuk memilih profesi yang diidentikkan dengan laki-laki. Pekerjaan menyupir bis atau taksi yang biasanya dikuasai oleh laki-laki, kini bisa juga dikerjakan oleh perempuan. Perempuan cantik pula!

Hey, bukannya aku ingin memberikan stereotip bagi perempuan berdasarkan perbedaan fisiknya. Namun, bagaimanapun juga harus diakui bahwa ada pembenaran yang dilakukan (budaya) masyarakat bahwa perempuan (yang dianggap) berparas cantik tidak berhak melakukan pekerjaan berbau fisik. “Cantik-cantik kok maling!” (hehehe…ini bukan berbau fisik ya). “Cantik-cantik kok manjat pohon sih, pamali!!” Celetukan-celetukan yang sarat akan stereotip dan diskriminasi terhadap perempuan…

Jadi, ketika melihat si perempuan cantik ini menyupiri busway, hatiku mencelos gembira. Paling tidak, hal ini adalah satu pertanda bahwa perempuan kini sudah beranjak dari posisinya yang tersingkirkan di ruang domestik. Kini perempuan telah melangkahkan kaki ke ruang publik. Mereka dapat menjadi apapun, mulai dari seorang supir bis, kuli, tukang ojek, maupun direktur sebuah perusahaan IT sekalipun.

Namun demikian, belum saatnya kaum perempuan bersenang-senang. Perjuangan masih panjang, kawan! Hal ini hanyalah permulaan saja. Masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk mencapai keadaan gender equality. Sudah benarkah sistem yang diterapkan perusahaan terhadap perempuan? Sudahkah negara menerapkan sistem yang adil terhadap perempuan? Sistem yang tanpa prasangka, tanpa stereotip, tanpa marginalisasi? Sudahkah perempuan mendapat hak-hak mereka sesuai dengan keadaan biologis perempuan? Sudahkan perempuan mendapatkan hak yang sama dan juga kesempatan yang sama dengan laki-laki sebagai manusia? Sudahkah perempuan terbebas dari budaya dan masyarakat yang mengagungkan patriarki?

Dan untuk mewujudkan semua itu, hal pertama yang menurutku paling penting adalah menyadari dan mengakui adanya praktek ketidakseimbangan gender di masyarakat. Menyadari yang kumaksudkan bukanlah untuk terbawa dan mengamini ketidakseimbangan itun loh. Namun sebaliknya, dengan menyadari adanya ketidakseimbangan, kita akan semakin waspada yang akan menumbuhkan kemauan dan niat untuk merubah ketidakseimbangan menjadi sebuah kesetaraan. Semoga...

1 comment:

Oma Nia said...

toool... bagooosss. Women Movement,.. count me in!