rss
email
twitter
facebook

Thursday, January 03, 2008

UNUSUAL FRIENDSHIP part 1

Ki-Ka : Yeni aka Yono, Irfan aka Cukong, me, Iqbal aka Bail, Ali aka Arab Gendheng


"What kind of friendship this is, eh?"

"UNUSUAL!!"

Yep, jawaban yang sangat tepat untuk menggambarkan hubungan persahabatan para pelarian kehidupan dalam sebuah komunitas bernama WapoL. Oww...you did reckon the term "pelarian" I used? Hahaha... *lari dari timpukan sandal para anggota WapoL*

Well, sebenernya aku nggak tahu pasti sih, hanya saja aku menyimpulkan itu semua dari interaksi super intensif selama beberapa bulan terus menerus mengelem diri dan jiwaku bersama dengan mereka. Lem yang super kuat bagai alteco, bahkan ketika ragaku telah berpisah dari mereka pun, pada kenyataannya jiwa dan pikiranku tetap lengket melekat pada tuyul-tuyul itu.

Hhhh…I really miss them. And the odd thing is, I never felt this way over a friendship before. Yes yes, I did ever miss my other friends a couple of times, especially when loneliness suddenly struck me. But not like this. I am willing to do anything for them, ANYTHING. No matter how extraordinary that is. No matter how much it will cost for me. There were nothing like this. This is so...UNUSUAL.

Aku nggak tahu secara pasti kapan permulaan kisah dudulz ini berawal. Maklum, aku emang bukan termasuk salah satu pioneer WapoL Community. Bahkan, bisa dibilang aku adalah anggota WC paling bontot. So, apa yang akan aku ceritakan ini murni merupakan hasil korek-korek idung bang Asep, salah satu tetua WC.

Konon, WC (wait, singkatan ini kok jadi serasa ngomongin pipis, boker dan sebangsanya ya??? Udah, mulai sekarang singkatannya diganti WL ajah!) lahir dari tangan para dedengkot cangkruk khususnya mereka yang menganut kewarganegaraan Jember Merdeka yaitu Asep, Cukong, Hasman, dll, dll. Mereka inilah yang berjasa menemukan sebuah warung nongkrong asik di depan pos polisi daerah Mulyosari. Kegiatan berbagi kopi, rokok serta diskusi-diskusi menyenangkan seputar hidup dan pernak-perniknya itulah yang kemudian membawa mereka ke lubang candu. Terlebih, suasana yang menyelimuti WapoL pun sangat mendukung. Rindang pohon yang meneduhi sebuah meja kayu hitam panjang diapit dua buah kursi panjang di pojok jalanan yang cukup sunyi, jelas sangat mengundang untuk ikut berbagi pantat dan cerita.

Dari sejumput manusia-manusia itulah, virus cangkruk ini menyebar melalui medium ajakan ataupun paksaan atas beberapa individu lainnya. Cara kerja yang sedikit banyak meniru Friendster. Si A membawa si B ke WL, si B membawa si Z yang kemudian memperkenalkan si P. Begitu seterusnya.

Setiap orang memiliki standar kecocokan yang berbeda-beda, hal ini juga berlaku di WL. Dari semua orang yang pernah menancapkan pantatnya di bangku WL, cukup banyak yang tidak pernah kembali. Hanya orang-orang yang merasakan kecocokan saja yang akan datang untuk kedua dan ketiga kalinya ke WL untuk sekedar mendengarkan pembicaraan bodoh para penunggunya. Berikut adalah pengunjung konstan WL yang cukup sering berbagi waktu, suka dan duka mereka :

Ali, Anggoro, Asep, Bail, Cindy, Cukong, Dadang, Ellies, Koni, Nadira, Riki, Rita, TeBe, Teddy, Tutung, Wiwin, Yono, dan tentunya aku sendiri.

Entah sejak kapan kegiatan berkumpul di WapoL menjadi sebuah kebiasaan. Yang aku tahu, sejak kali pertama aku menginjakkan kaki di sana, mereka sudah menjadikannya sebagai ritual. Setiap hari (note: SETIAP HARI) mereka berkumpul untuk sekedar ngopi, bercanda, berbagi cerita, atau bahkan bermain. Saking sering nya bertandang ke warung sederhana itu, setiap kami datang, sang pemilik langsung berkata : "Wah, sing ngontrak wes teko (Wah, yang ngontrak sudah datang)" dan segera menyingkir dari spot favorit kami. Hahahha... Parah!

Asep lah yang berjasa menjadi penyambungku dengan kumpulan orang-orang absurd namun kucintai itu. Aku ingat sekali, saat itu keadaan psikologisku sedang berada di bawah. Permasalahan yang kutemui di kantor ditambah kedua orangtuaku yang terus menerus membuatku ingin menjerit, seolah membawa seutas panjang tali tampar yang mencekik leherku. Hgghh…jelas sekali bahwa saat itu aku membutuhkan seseorang untuk berbagi dan sekedar meringankan beban. Alhasil, berlarilah aku ke Asep, yang menyambutnya dengan roadshow Dunkin Donuts seperti yang biasa kami lakukan. Hari demi hari terus berlalu, hingga akhirnya ia membawaku ke WL. Saat itu pun, ia sudah mengingatkanku dengan nada serius, "Jangan terlalu sering ke sini ya Nduk, nanti kamu ketagihan."

I don’t wish that I did what he said...

5 comments:

Anonymous said...

ralat bos, asep cukong ama hasman bukan pioneer.
kami jg generasi kedua yang diajakin ama tetua kami.
yang menemukan wapol adalah orang-orang seperti : ginanjar, hendro, yuswono, anyenk, pak nyambek, dll...

Anonymous said...

puuuu...... ^_^
kalo kamu bali kesini ajakin ke wapol ye.....ketok e Seru......
---n_n---
dean

Anonymous said...

btw, baru nyadar, potoku kog ga ada?

Anonymous said...

hmmmm, baca yang ini jadi berkerut jidatku, manyun...., kayknya asyik bgt, realy live that I ever wanna. (mesin waktu merk apa sih yang paling jitu??? supaya gw bisa mundur 10 tahun k belakang )

c_weq_gila said...

MUAAAAAAAAAACH!!!!!!!!!!!!!!


well.....
dersneverareallyritetimedear....


wakakakak............