rss
email
twitter
facebook

Tuesday, March 03, 2009

Meletup

AAAAARRRRRRGGGGGHHHHH!!!! Aku benci meletup-letupkan emosi di kantor!!

Save me!!!! AAAAAAARRRRRGGGGHHHHH!!!!

Monday, March 02, 2009

A Statement of Faith



Saya bukan orang yang religius. Semua orang juga tahu. Bisa ngakak semua orang yang mengenal saya jika mendengar ada yang mengatakan bahwa seorang pOe adalah sosok yang religius. Truth is, I am not one. Ke gereja jarang-jarang. Ke masjid apalagi. Membaca Alkitab hanya jika butuh. Membaca kitab Tripitaka, blas. Huehehehe…

Namun, terus terang akhir-akhir ini saya terusik dengan segala hal berbau religius yang beberapa waktu belakangan sering mampir ke pembicaraan-pembicaraan absurd. Baik, saya akan menjelaskan diri saya dan apa yang saya percayai.

Saya percaya akan Tuhan. Saya percaya akan adanya satu kekuatan besar yang mengendalikan kehidupan, alam semesta beserta isinya. Kekuatan yang tidak terjangkau oleh akal cupet manusia-manusia seperti saya ini. Saya percaya bahwa agama-agama yang ada di bumi ini, pada dasarnya adalah buatan manusia. Tak peduli apapun yang tercetak pada buku apapun, dan apa yang dikatakan oleh manusia apapun bentuk dan rupanya dengan pembenaran atas akal apapun. Saya percaya bahwa agama adalah saluran, media, jalan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Untuk memujaNYA, untuk sekedar curhat padaNYA, ataupun untuk memohon kepadaNYA.

Saya percaya bahwa perbuatan baik adalah satu-satunya jalan untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Yang oleh banyak orang sering disebut dengan SURGA. Well, I don't really know about heaven, or hell. Namun, berdasar konsep kebanyakan, saya percaya bahwa perbuatan baik adalah kendaraan menuju surga, dan bukan agama yang dianutnya. Ibaratnya, diantara kedua orang yang memiliki posisi serupa, saya percaya bahwa seseorang yang tidak pernah ke masjid atau ke gereja atau ke pura namun selalu beramal, memiliki kesempatan untuk masuk surga lebih daripada seseorang yang terus menerus berdoa namun tak pernah berusaha untuk membantu sesama.

Namun demikian, seperti yang pernah dikatakan lelaki masa depan, it's none of our business. Terserah Tuhan lah mau naruh kita di surga atau neraka. Kewajiban manusia hanyalah menjalankan hidup sebaik mungkin. I love you for saying that, lelakiku.

Saya pun mengamini pernyataan seorang kawan yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak hanya ada dalam doktrin-doktrin agama apapun. Tuhan lebih dari itu. Tuhan ada di sekeliling kita. Di dalam diri orangtua, di dalam diri saudara, di dalam diri kawan, intinya : di dalam diri setiap orang. Itulah mengapa berbuat baik terhadap sesama merupakan sebuah pengagungan terhadap Tuhan. Tersenyum terhadap seseorang yang tidak kita kenal, sama dengan tersenyum kepada Tuhan. Mengulurkan receh terhadap seorang pengemis, sama dengan mensyukuri berkah Tuhan. Memaki bos kita, sama dengan memaki Tuhan. Berselingkuh dari pasangan, sama dengan berselingkuh dari Tuhan. Tidak merokok dan menjaga kesehatan diri sendiri, sama dengan menjaga pemberian Tuhan (I fucked up at this point T_T). That simple.

Maka, sayapun merasa sangat berterimakasih kepada Tuhan bahwa ia hadir dalam setiap sendi kehidupan saya. Saya memiliki orangtua yang mencintai saya lebih dari apapun. Tandanya, Tuhan mencintai saya. Saya memiliki kawan-kawan yang selalu ada kapanpun saya butuhkan. Tandanya, Tuhan selalu membantu kapanpun saya membutuhkanNYA. Saya memiliki tantangan-tantangan dalam hidup yang harus dilewati. Tandanya, Tuhan hendak menguatkan saya dalam menjalani hidup dengan cara melatih saya melalui tantangan-tantangan yang Ia berikan. Nah lho, apa yang kurang? Maka, saya pun berusaha sebisa mungkin membalas segala kebaikan yang Ia berikan pada saya. Dengan berusaha membahagiakan kedua orangtua saya. Dengan membantu kawan-kawan serta individu-individu lain sebisa saya. Dengan berjuang melewati rintangan-rintangan yang Ia berikan. Untuk saya, itu adalah ibadah yang sesungguh-sungguhnya. Dalam tindakan nyata, bukan hanya omong kosong.

Malam ini, salah seorang kawan lain baru saja berbagi pendapatnya tentang neraka. Menurutnya, Neraka sebenarnya bercokol erat dalam diri manusia sendiri. Saat manusia terjebak dalam ketidaktenangan pemikirannya sendiri, ia telah berada dalam neraka. Contoh gampangnya, ambisi seperti yang pernah saya tulis dalam postingan di bawah. Ambisi yang terlalu berlebihan membuat seseorang tidak akan pernah tenang. Saat ia tidak bisa pasrah dan terus terpaku pada ambisinya itulah ia mengalami nerakanya. Saya lantas mengkaitkannya dengan seven deadly sins, yakni : avarice, envy, lust, sloth, vanity, wrath, and gluttony. Saat seseorang dicengkeram oleh rasa iri hati misalnya, ia menjadi pribadi yang tak pernah puas, selalu mendengki, dan pencuriga. Bukankah hal-hal seperti itu dapat diibaratkan neraka, yang sedikit demi sedikit menggerogoti jiwa? Well, ada benarnya juga perkataan teman tersebut. Whatever it is, saya tidak hendak terjebak di dalamnya. Saya menjalin perdamaian dengan diri sendiri, dan Tuhan.

Saya tidak suka dipaksa. Konsekuensinya, saya tidak suka memaksa.

I am not a religious person. But I am a person of faith.

Bahagia


Source

Entah kenapa, akhir-akhir ini saya sangat tergelitik dengan kata itu. Bahagia. Apa sih bahagia itu? Standar apakah yang dipakai untuk merumuskan bahagia? Disini, saya membedakan bahagia dengan term senang. Senang saya definisikan sebagai keadaan sesaat. Sedangkan bahagia saya definisikan sebagai status keadaan jangka panjang. Saat seseorang men-zoom out kehidupannya dan melihat lukisan kehidupan itu dalam sebuah gambaran utuh. Apakah ia melihat guratan bahagia disana?

Banyak orang mengatakan bahwa kebahagiaan memiliki bentuk yang berbeda di mata setiap individual. Ada yang memilih kebahagiaan dari materi. Variabel yang mengikutinya adalah berapa banyak yang ia berhasil hasilkan dan miliki di dunia ini. Shallow? Maybe. But many people are indeed after those kind of happiness. Sehingga, dalam rangka mengejar standar kebahagiaan tersebut, seseorang rela melakukan apa pun yang ia mampu untuk mencapainya. Some people success, some not. Bagi yang gagal, ketidakbahagiaanlah yang kemudian bertengger di setiap warna lukisannya. Bagaimana dengan yang berhasil menggapainya? Mungkin ia bahagia, I don't really know. Namun, saya melihat banyak gambaran manusia yang memiliki kelimpahan materi namun masih saja merasakan kehampaan dalam lukisan hidupnya.

Ah, jadi ingat sepenggal cerita yang pernah dikisahkan kepada saya oleh seorang kolega. Dalam sebuah perjalanannya ke sebuah daerah terpencil ia bertemu dengan seorang bapak penjual air tebu. Rasa haus yang tiba-tiba menyerang membuat kawan saya itu mengkonsumsi air tebu sang bapak. Ketika hendak membayar, sang bapak tidak menyebutkan nominal harga. "Sesukanya adik saja," begitu kira-kira jawab sang bapak. Kawan saya lantas merogoh kantong dan mengulurkan tiga lembar seribu perak ke hadapan bapak penjual air tebu. Tak ia sangka, sang bapak malah terbengong-bengong. "Banyak banget dik," kagetnya. Ketika teman saya memaksa beliau mengambil uang tersebut, berkaca-kacalah sang bapak. "Padahal ia harus berjalan jauh untuk sekedar mendapatkan bahan baku tebu itu, Put. Dan ia sama sekail tidak mengeluh! Wajahnya terlihat bahagia sekali waktu menerima uang yang saya berikan," ujar kawan saya.

Bahagiakah sang bapak? Saya nggak bisa bilang dengan yakin sih. Namun, kenyataan bahwa ia terlihat sangat senang menerima uang dengan nominal yang bagi sebagian orang mungkin hanya sedikit itu, ya saya beranggapan bahwa ia bahagia dengan hidupnya. Yah, bisa jadi bahwa materi yang diterima bapak tadilah yang membuat ia terlihat sesenang itu. Namun, saya jadi ingin merasakan perasaan bahagia tersebut. Dengan rangsangan yang sedikit saja, ia bisa merasakan kesenangan seperti itu. Ah, bahagianya jika saya tidak harus memiliki kriteria tinggi untuk menjadi pribadi yang bahagia. Sh*t, bahasanya bikin mumet.

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa kebahagiaan berasal dari orang lain. Ketika ia bisa bersama dengan orang-orang yang ia sayangi, menjadi berguna bagi orang-orang yang ia cintai. Namun, saya juga melihat banyak orang yang ternyata dalam kedalaman perasaannya merasakan ketidakbahagiaan ketika toh ia telah menjadi sosok impiannya itu. Ada yang kurang, ujar mereka. Apa itu? Mereka juga tak tahu.

Lelaki masa depan berkata bahwa term bahagia menurutnya adalah ketika esok adalah hari ini. Maksudnya, saat ia menginginkan esok berjalan seperti hari ini, itu adalah kebahagiaan untuknya. Ah sayangku, sederhana sekali arti kebahagiaan menurutmu. Sederhana yang sesungguhnya tidak pernah sederhana. Hiks…

I'm no Maslow. Tapi saya ingat sedikit tentang teori piramida miliknya. Dimana terdapat beberapa faktor untuk mengukur tingkat kepuasan seseorang. Paling bawah adalah materi, lebih ke atas adalah kebutuhan untuk bersosialisasi, sedangkan yang menduduki posisi teratas adalah eksistensi diri. Sedikit yang lantas saya pahami adalah, kebahagiaan tidak pernah terdiri dari satu faktor semata. Materi merupakan satu faktor, namun tidak pernah menjadi satu-satunya ataupun yang paling penting. Begitupun dengan hubungan dengan orang lain. Mencintai dan dicintai adalah salah satu faktor, yang juga penting. Disini saya menganggapnya lebih penting dari materi. Hal yang sama berlaku dengan sosialisasi dengan makhluk lain. Bisa Anda bayangkan jika Anda hidup sendirian tanpa kehadiran orang lain? Seperti film Tom Hanks yang terjebak dalam sebuah pulau itu. Akankah Anda bahagia? Jelas tidak.

Yang paling penting dalam rangkaian variabel kebahagiaan ini adalah eksistensi diri. Apa yang sudah kita lakukan terhadap dunia. Bagaimana kita direspon oleh dunia. Bagaimana kita berhasil memuaskan dunia, yang kemudian feedback dari itu adalah memuaskan kita. Intinya adalah : AKU. Terdengar egois? Memang. Disadari atau tidak, semua hal yang kita lakukan berpusat pada diri kita sendiri.

Saya ingin membuat orangtua saya bahagia. Saya lantas berusaha keras untuk masuk ke sekolah terfavorit di kota. Ketika saya berhasil, orangtua saya bahagia. Kebahagiaan mereka memberikan stimulus bahwa saya berhasil membahagiakan orangtua saya. Pun, saya mendapatkan pengakuan. Intinya, saya bahagia. Saya. AKU.

Maka, sebenarnya standar bahagia ada pada diri kita sendiri. Seberapa tinggikah kita mengeset standar kita akan kebahagiaan? Bagi orang yang ambisius, tentunya sukar sekali mencapai kebahagiaan. Karena ia terus dikejar oleh ambisi-ambisinya sendiri. Yang membuatnya tidak pernah santai dalam menjalani hidup. Terus, terus, dan terus menginginkan. Tidak legowo saat kegagalan datang, yang membuatnya terpuruk. Sehingga tidak pernah ia merasakan ketenangan. I ain't saying that ambition is bad. Tapi segala yang berlebihan itu tidak baik bukan? Hahahaha…kok sepertinya saya harus berkaca ya? Menulis tentang betapa menjadi over ambitious is bad, when I am one. Bad pOe, bad… Ckckck…

Ah, sebenernya saya hanya ingin berkata kepada diri saya sendiri kok. Bahwa untuk merumuskan variabel kebahagiaan milik seorang pOe, saya harus melongok kembali ke kedalaman diri. Apa sih yang sebenarnya saya inginkan? Yang benar-benar saya inginkan? Aint easy, but it has to be found. Supaya saya bisa mencapai nirwana kebahagiaan saya. ^^