
Saya bukan orang yang religius. Semua orang juga tahu. Bisa ngakak semua orang yang mengenal saya jika mendengar ada yang mengatakan bahwa seorang pOe adalah sosok yang religius. Truth is, I am not one. Ke gereja jarang-jarang. Ke masjid apalagi. Membaca Alkitab hanya jika butuh. Membaca kitab Tripitaka, blas. Huehehehe…
Namun, terus terang akhir-akhir ini saya terusik dengan segala hal berbau religius yang beberapa waktu belakangan sering mampir ke pembicaraan-pembicaraan absurd. Baik, saya akan menjelaskan diri saya dan apa yang saya percayai.
Saya percaya akan Tuhan. Saya percaya akan adanya satu kekuatan besar yang mengendalikan kehidupan, alam semesta beserta isinya. Kekuatan yang tidak terjangkau oleh akal cupet manusia-manusia seperti saya ini. Saya percaya bahwa agama-agama yang ada di bumi ini, pada dasarnya adalah buatan manusia. Tak peduli apapun yang tercetak pada buku apapun, dan apa yang dikatakan oleh manusia apapun bentuk dan rupanya dengan pembenaran atas akal apapun. Saya percaya bahwa agama adalah saluran, media, jalan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Untuk memujaNYA, untuk sekedar curhat padaNYA, ataupun untuk memohon kepadaNYA.
Saya percaya bahwa perbuatan baik adalah satu-satunya jalan untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Yang oleh banyak orang sering disebut dengan SURGA. Well, I don't really know about heaven, or hell. Namun, berdasar konsep kebanyakan, saya percaya bahwa perbuatan baik adalah kendaraan menuju surga, dan bukan agama yang dianutnya. Ibaratnya, diantara kedua orang yang memiliki posisi serupa, saya percaya bahwa seseorang yang tidak pernah ke masjid atau ke gereja atau ke pura namun selalu beramal, memiliki kesempatan untuk masuk surga lebih daripada seseorang yang terus menerus berdoa namun tak pernah berusaha untuk membantu sesama. Namun demikian, seperti yang pernah dikatakan lelaki masa depan, it's none of our business. Terserah Tuhan lah mau naruh kita di surga atau neraka. Kewajiban manusia hanyalah menjalankan hidup sebaik mungkin. I love you for saying that, lelakiku. Saya pun mengamini pernyataan seorang kawan yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak hanya ada dalam doktrin-doktrin agama apapun. Tuhan lebih dari itu. Tuhan ada di sekeliling kita. Di dalam diri orangtua, di dalam diri saudara, di dalam diri kawan, intinya : di dalam diri setiap orang. Itulah mengapa berbuat baik terhadap sesama merupakan sebuah pengagungan terhadap Tuhan. Tersenyum terhadap seseorang yang tidak kita kenal, sama dengan tersenyum kepada Tuhan. Mengulurkan receh terhadap seorang pengemis, sama dengan mensyukuri berkah Tuhan. Memaki bos kita, sama dengan memaki Tuhan. Berselingkuh dari pasangan, sama dengan berselingkuh dari Tuhan. Tidak merokok dan menjaga kesehatan diri sendiri, sama dengan menjaga pemberian Tuhan (I fucked up at this point T_T). That simple. Maka, sayapun merasa sangat berterimakasih kepada Tuhan bahwa ia hadir dalam setiap sendi kehidupan saya. Saya memiliki orangtua yang mencintai saya lebih dari apapun. Tandanya, Tuhan mencintai saya. Saya memiliki kawan-kawan yang selalu ada kapanpun saya butuhkan. Tandanya, Tuhan selalu membantu kapanpun saya membutuhkanNYA. Saya memiliki tantangan-tantangan dalam hidup yang harus dilewati. Tandanya, Tuhan hendak menguatkan saya dalam menjalani hidup dengan cara melatih saya melalui tantangan-tantangan yang Ia berikan. Nah lho, apa yang kurang? Maka, saya pun berusaha sebisa mungkin membalas segala kebaikan yang Ia berikan pada saya. Dengan berusaha membahagiakan kedua orangtua saya. Dengan membantu kawan-kawan serta individu-individu lain sebisa saya. Dengan berjuang melewati rintangan-rintangan yang Ia berikan. Untuk saya, itu adalah ibadah yang sesungguh-sungguhnya. Dalam tindakan nyata, bukan hanya omong kosong. Malam ini, salah seorang kawan lain baru saja berbagi pendapatnya tentang neraka. Menurutnya, Neraka sebenarnya bercokol erat dalam diri manusia sendiri. Saat manusia terjebak dalam ketidaktenangan pemikirannya sendiri, ia telah berada dalam neraka. Contoh gampangnya, ambisi seperti yang pernah saya tulis dalam postingan di bawah. Ambisi yang terlalu berlebihan membuat seseorang tidak akan pernah tenang. Saat ia tidak bisa pasrah dan terus terpaku pada ambisinya itulah ia mengalami nerakanya. Saya lantas mengkaitkannya dengan seven deadly sins, yakni : avarice, envy, lust, sloth, vanity, wrath, and gluttony. Saat seseorang dicengkeram oleh rasa iri hati misalnya, ia menjadi pribadi yang tak pernah puas, selalu mendengki, dan pencuriga. Bukankah hal-hal seperti itu dapat diibaratkan neraka, yang sedikit demi sedikit menggerogoti jiwa? Well, ada benarnya juga perkataan teman tersebut. Whatever it is, saya tidak hendak terjebak di dalamnya. Saya menjalin perdamaian dengan diri sendiri, dan Tuhan. Saya tidak suka dipaksa. Konsekuensinya, saya tidak suka memaksa. I am not a religious person. But I am a person of faith.






2 comments:
Apa gunanya tiap minggu ke gereja kalau dendam, iri hati, kebencian n kesombongan masih aja bercokol di hati kita dari Senin sampai Sabtu? Gue gak mau jadi orang munafik yang berbalut rutinitas sakramen ekaristi setiap minggu tapi hatinya busuk! Gue cuma mau jadi pribadi yang punya welas asih dan menebar kebaikan ke sekitar gue setiap harinya, bikin orang tersenyum tanpa dipusingkan oleh urusan rutinitas ibadah dan satu lagi jangan paksa gue buat ke gereja, karena kaki gue akan melangkah sendiri buat ke gereja ato berdoa saat gue ngerasa memang gue butuh waktu kencan dengan Tuhan... :)
akur fel, akuuuuurrrr!!! hihihi... ndak maksa2 loe lagi deh! kita samaan yaaaa..... *muaaacchh!!*
Post a Comment