rss
email
twitter
facebook

Monday, March 02, 2009

Bahagia


Source

Entah kenapa, akhir-akhir ini saya sangat tergelitik dengan kata itu. Bahagia. Apa sih bahagia itu? Standar apakah yang dipakai untuk merumuskan bahagia? Disini, saya membedakan bahagia dengan term senang. Senang saya definisikan sebagai keadaan sesaat. Sedangkan bahagia saya definisikan sebagai status keadaan jangka panjang. Saat seseorang men-zoom out kehidupannya dan melihat lukisan kehidupan itu dalam sebuah gambaran utuh. Apakah ia melihat guratan bahagia disana?

Banyak orang mengatakan bahwa kebahagiaan memiliki bentuk yang berbeda di mata setiap individual. Ada yang memilih kebahagiaan dari materi. Variabel yang mengikutinya adalah berapa banyak yang ia berhasil hasilkan dan miliki di dunia ini. Shallow? Maybe. But many people are indeed after those kind of happiness. Sehingga, dalam rangka mengejar standar kebahagiaan tersebut, seseorang rela melakukan apa pun yang ia mampu untuk mencapainya. Some people success, some not. Bagi yang gagal, ketidakbahagiaanlah yang kemudian bertengger di setiap warna lukisannya. Bagaimana dengan yang berhasil menggapainya? Mungkin ia bahagia, I don't really know. Namun, saya melihat banyak gambaran manusia yang memiliki kelimpahan materi namun masih saja merasakan kehampaan dalam lukisan hidupnya.

Ah, jadi ingat sepenggal cerita yang pernah dikisahkan kepada saya oleh seorang kolega. Dalam sebuah perjalanannya ke sebuah daerah terpencil ia bertemu dengan seorang bapak penjual air tebu. Rasa haus yang tiba-tiba menyerang membuat kawan saya itu mengkonsumsi air tebu sang bapak. Ketika hendak membayar, sang bapak tidak menyebutkan nominal harga. "Sesukanya adik saja," begitu kira-kira jawab sang bapak. Kawan saya lantas merogoh kantong dan mengulurkan tiga lembar seribu perak ke hadapan bapak penjual air tebu. Tak ia sangka, sang bapak malah terbengong-bengong. "Banyak banget dik," kagetnya. Ketika teman saya memaksa beliau mengambil uang tersebut, berkaca-kacalah sang bapak. "Padahal ia harus berjalan jauh untuk sekedar mendapatkan bahan baku tebu itu, Put. Dan ia sama sekail tidak mengeluh! Wajahnya terlihat bahagia sekali waktu menerima uang yang saya berikan," ujar kawan saya.

Bahagiakah sang bapak? Saya nggak bisa bilang dengan yakin sih. Namun, kenyataan bahwa ia terlihat sangat senang menerima uang dengan nominal yang bagi sebagian orang mungkin hanya sedikit itu, ya saya beranggapan bahwa ia bahagia dengan hidupnya. Yah, bisa jadi bahwa materi yang diterima bapak tadilah yang membuat ia terlihat sesenang itu. Namun, saya jadi ingin merasakan perasaan bahagia tersebut. Dengan rangsangan yang sedikit saja, ia bisa merasakan kesenangan seperti itu. Ah, bahagianya jika saya tidak harus memiliki kriteria tinggi untuk menjadi pribadi yang bahagia. Sh*t, bahasanya bikin mumet.

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa kebahagiaan berasal dari orang lain. Ketika ia bisa bersama dengan orang-orang yang ia sayangi, menjadi berguna bagi orang-orang yang ia cintai. Namun, saya juga melihat banyak orang yang ternyata dalam kedalaman perasaannya merasakan ketidakbahagiaan ketika toh ia telah menjadi sosok impiannya itu. Ada yang kurang, ujar mereka. Apa itu? Mereka juga tak tahu.

Lelaki masa depan berkata bahwa term bahagia menurutnya adalah ketika esok adalah hari ini. Maksudnya, saat ia menginginkan esok berjalan seperti hari ini, itu adalah kebahagiaan untuknya. Ah sayangku, sederhana sekali arti kebahagiaan menurutmu. Sederhana yang sesungguhnya tidak pernah sederhana. Hiks…

I'm no Maslow. Tapi saya ingat sedikit tentang teori piramida miliknya. Dimana terdapat beberapa faktor untuk mengukur tingkat kepuasan seseorang. Paling bawah adalah materi, lebih ke atas adalah kebutuhan untuk bersosialisasi, sedangkan yang menduduki posisi teratas adalah eksistensi diri. Sedikit yang lantas saya pahami adalah, kebahagiaan tidak pernah terdiri dari satu faktor semata. Materi merupakan satu faktor, namun tidak pernah menjadi satu-satunya ataupun yang paling penting. Begitupun dengan hubungan dengan orang lain. Mencintai dan dicintai adalah salah satu faktor, yang juga penting. Disini saya menganggapnya lebih penting dari materi. Hal yang sama berlaku dengan sosialisasi dengan makhluk lain. Bisa Anda bayangkan jika Anda hidup sendirian tanpa kehadiran orang lain? Seperti film Tom Hanks yang terjebak dalam sebuah pulau itu. Akankah Anda bahagia? Jelas tidak.

Yang paling penting dalam rangkaian variabel kebahagiaan ini adalah eksistensi diri. Apa yang sudah kita lakukan terhadap dunia. Bagaimana kita direspon oleh dunia. Bagaimana kita berhasil memuaskan dunia, yang kemudian feedback dari itu adalah memuaskan kita. Intinya adalah : AKU. Terdengar egois? Memang. Disadari atau tidak, semua hal yang kita lakukan berpusat pada diri kita sendiri.

Saya ingin membuat orangtua saya bahagia. Saya lantas berusaha keras untuk masuk ke sekolah terfavorit di kota. Ketika saya berhasil, orangtua saya bahagia. Kebahagiaan mereka memberikan stimulus bahwa saya berhasil membahagiakan orangtua saya. Pun, saya mendapatkan pengakuan. Intinya, saya bahagia. Saya. AKU.

Maka, sebenarnya standar bahagia ada pada diri kita sendiri. Seberapa tinggikah kita mengeset standar kita akan kebahagiaan? Bagi orang yang ambisius, tentunya sukar sekali mencapai kebahagiaan. Karena ia terus dikejar oleh ambisi-ambisinya sendiri. Yang membuatnya tidak pernah santai dalam menjalani hidup. Terus, terus, dan terus menginginkan. Tidak legowo saat kegagalan datang, yang membuatnya terpuruk. Sehingga tidak pernah ia merasakan ketenangan. I ain't saying that ambition is bad. Tapi segala yang berlebihan itu tidak baik bukan? Hahahaha…kok sepertinya saya harus berkaca ya? Menulis tentang betapa menjadi over ambitious is bad, when I am one. Bad pOe, bad… Ckckck…

Ah, sebenernya saya hanya ingin berkata kepada diri saya sendiri kok. Bahwa untuk merumuskan variabel kebahagiaan milik seorang pOe, saya harus melongok kembali ke kedalaman diri. Apa sih yang sebenarnya saya inginkan? Yang benar-benar saya inginkan? Aint easy, but it has to be found. Supaya saya bisa mencapai nirwana kebahagiaan saya. ^^

2 comments:

Embunbantal said...

semua yang kamu tulis itu bukankah definisi bahagiamu Jup? itu yang kamu inginkan dari orang-orang yang kamu lihat disekitarmu dan itu refleksi spontan rasa bahagiamu. Ketika kamu berusaha mengejar banyak hal dalam hidupmu, perjuangan dan air mata perjuangan itu. :)

pOe said...

hah? aku yang lagi oon kali ya? ndak nyambung aku ama maksudmu... itu emang definisi bahagia dari aku mik, karena aku sendiri masih belum bisa mendefinisikan apa itu bahagia... lagi mencari ini...