rss
email
twitter
facebook

Monday, December 31, 2007

Opportunities of Next Year

"If someone prays for patience, you think GOD gives them patience? Or does HE give them the opportunity to be patient?

If they pray for courage, does GOD give them courage? Or does HE give them opportunities to be courageous?

If someone prayed for their family to be closer, you think GOD zaps them with warm, fuzzy feelings? Or does He give them opportunities to love each other?"

-- GOD in "Evan Almighty" –

Jadi, ketika kamu membuat wishlist tentang keinginanmu tahun depan, apakah kamu juga mengirimkan wishlist itu kepada Tuhan? Jika ya, cobalah untuk mengubah sudut pandangmu dan mulai melihat segala sesuatu sebagai kesempatan. Dengan demikian, jika kesempatan itu datang, kamu sudah siap tempur untuk merengkuh kesempatan tersebut.

Happy New Year!!!

Wednesday, December 19, 2007

Inevitability Of Change


_The most constant thing in life is CHANGE_



Yep. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap mili detik, seseorang mengalami perubahan dalam hidupnya. Think about it, setiap hitungan waktu yang berjalan pasti akan menambahkan satu detik pengalaman kepada setiap individu. Seringkali pengalaman tersebut hanya berupa pembicaraan di telepon, ataupun mimpi dalam sebuah tidur lelap. Namun, jangan remehkan setiap kejadian kecil yang terjadi dalam hidup seseorang. Tentunya kamu paham benar kan dengan jargon "Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit"? Hal yang menggesek kita sekecil apapun, jika dilakukan secara terus-menerus, pastinya akan mampu membuahkan hasil.

Dan ketika hal itu mulai terjadi, cara seseorang menyikapi masalah perlahan-lahan akan berubah. Lama kelamaan, cara pandangnya akan kehidupan pun akan mulai bergeser. Prioritas-prioritas yang dahulu berada di urutan teratas sedikit demi sedikit lengser dan berganti dengan prioritas yang baru. Maka, ketika si tertuduh ini suatu ketika bertemu dengan seorang kawan yang sudah dalam hitungan tahun tidak bertemu dengannya, dengan gampang term "kamu berubah ya" meluncur.

Padahal, aku tidak melihat ada yang salah dengan perubahan. There is nothing wrong with being changed. It's part of life, dude! U cannot expect someone to be the same as they were, say, 5 years ago. You just can't. Life goes on, and change is part of what u called living a life. It's a natural process which you cannot stop from happening.




Permasalahan yang kemudian muncul di permukaan adalah, bisakah seseorang menerima perubahan orang lain? Dalam permasalahan hubungan antara laki-laki dan perempuan misalnya. Sering sekali aku melihat seseorang merasa kecewa hanya karena ia merasa sang kekasih telah berubah dan tidak lagi seperti dahulu. Well, so what? Jika kamu menghendaki sesuatu yang konstan, menikah saja sana dengan mayat yang sudah dibalsam. Kujamin, mereka tidak akan pernah berubah.

Dan hey, tidakkah pernah terbersit dalam pikiranmu bahwa kamu juga berubah? Jika saja semua orang menuntut orang yang sama untuk berada dalam perkawinan mereka, semua pernikahan akan berakhir dalam perceraian dong? How sad... Nah loh, terus gimana dong solusinya?

Let's try this simple thing : berusahalan untuk menerima perubahan itu. Cobalah untuk memahami hukum sebab dan akibat dari perubahan seseorang. Dengan demikian, aku yakin, kekecewaanmu akan banyak berkurang.

Bagaimana? Will u do that for the sake of human race?

_U will never walk in the same river, twice_

Tuesday, December 18, 2007

Tentang Kehilangan

Kamu pernah kehilangan? Barang yang sangat kamu sayangi tiba-tiba hilang, mungkin? Yang tidak bisa digantikan meski dengan barang yang sama? Bisa jadi, barang yang hilang tersebut memiliki nilai yang lebih dari sekedar materi, namun kenangan. Atau misalkan, hasil kerja kreatif yang tidak bisa diganti meskipun dengan waktu yang tercurah.

Atau, pernahkah kamu kehilangan seseorang yang kamu sayangi? Seseorang yang sangat dekat di hati kamu? Seseorang yang mungkin selalu bersamamu untuk mengatasi hari yang mendadak mendung. Bahkan mungkin seseorang itulah yang membuat mendung menjadi hujan. Namun, pernahkah kamu sadari bahwa setelah mendung dan hujan tersebut, yang muncul adalah pelangi?

Apapun bentuknya, semua orang kiranya pasti pernah merasakan kehilangan. Yang menjadikan perbedaan adalah, bagaimana kamu menyikapi kehilangan tersebut? Apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasi perasaanmu? Dan kemudian yang paling penting adalah, langkah seperti apa yang kamu ambil untuk mengusir perasaan kehilangan itu?

Saat pertama kali kesadaran akan sesuatu yang hilang dari hidup kita menghantam, biasanya sesuatu yang klise lah yang muncul, DENIAL. Bawah sadar kita secara otomatis akan menyangkal bahwa apa yang hilang dari diri kita itu sesuatu yang permanen. Misalnya, saat kehilangan dompet, kita akan melakukan penyangkalan sederhana seperti : "Ah nggak ah, paling ketinggalan di rumah..."

Later on, ketika penyangkalan itu menabrak tembok, barulah aura kepanikan akan menyelimuti. Saat itu, semua perasaan akan bercampur baur menjadi satu. Penyesalan, kehilangan, kemarahan, penyangkalan, kesedihan, dan juga keinginan untuk berhenti meratap dan berharap akan sesuatu yang lebih baik muncul. Di sinilah, pilihan dan sikap hidup seseorang diuji.

Ada seseorang yang menyikapinya dengan penuh kepasrahan. Bahwa segala kehilangan yang dihadapinya hanyalah cobaan dari apa yang ia percaya sebagai Si Empunya Hidup. Tipe ini cenderung menghubungkan segala sesuatu yang menimpanya dengan religi. Maka, dari luar tipe ini akan terlihat tabah, sabar, dan terus menjalani hidup dengan baik tanpa mengeluh.

Lain tipe dengan si pemarah. Ia dengan kepala panasnya akan selalu meledak-ledak saat mengalami kehilangan. Akibatnya, ia terus menyalahkan diri sendiri, orang lain, bahkan Tuhan atas kejadian yang menimpanya. Sedikit banyak, tipe ini sama dengan si cengeng yang bawaannya nangis melulu saat menghadapi kehilangan. Si cengeng akan merasa bahwa tanpa sesuatu yang hilang ia akan semakin lemah.

Nah, termasuk tipe yang manakah dirimu?

Menurutku, tidak ada yang salah dengan ketiga tipe ini. Bagaimanapun juga, salah dan benar kan juga sangat subjektif. Yang paling penting dari kehilangan adalah bagaimana cara mengatasi perasaan tersebut untuk kemudian tetap bisa terus melangkah dan menjelang kehidupan baru yang terbentang di depan.

Namun, bagaimana kalau yang hilang adalah kepercayaan, semangat atau tujuan untuk bertahan? Bukankah itu berarti bahwa kamu harus mulai untuk keluar dari zona nyamanmu dan mencari tujuan yang baru?


Note. Untuk kejadian hari ini yang membuatku sadar bahwa aku telah kehilangan banyak. Fortunately, pelajaran hari ini membuat mataku terbuka bahwa aku tidak lagi mampu menahan kehilangan lebih banyak lagi dari sekedar satu tahun yang terbuang percuma. Dan ya, aku adalah tipe kedua, SI KERAS DAN PANAS KEPALA.