Kamu pernah kehilangan? Barang yang sangat kamu sayangi tiba-tiba hilang, mungkin? Yang tidak bisa digantikan meski dengan barang yang sama? Bisa jadi, barang yang hilang tersebut memiliki nilai yang lebih dari sekedar materi, namun kenangan. Atau misalkan, hasil kerja kreatif yang tidak bisa diganti meskipun dengan waktu yang tercurah.
Atau, pernahkah kamu kehilangan seseorang yang kamu sayangi? Seseorang yang sangat dekat di hati kamu? Seseorang yang mungkin selalu bersamamu untuk mengatasi hari yang mendadak mendung. Bahkan mungkin seseorang itulah yang membuat mendung menjadi hujan. Namun, pernahkah kamu sadari bahwa setelah mendung dan hujan tersebut, yang muncul adalah pelangi?
Apapun bentuknya, semua orang kiranya pasti pernah merasakan kehilangan. Yang menjadikan perbedaan adalah, bagaimana kamu menyikapi kehilangan tersebut? Apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasi perasaanmu? Dan kemudian yang paling penting adalah, langkah seperti apa yang kamu ambil untuk mengusir perasaan kehilangan itu?
Saat pertama kali kesadaran akan sesuatu yang hilang dari hidup kita menghantam, biasanya sesuatu yang klise lah yang muncul, DENIAL. Bawah sadar kita secara otomatis akan menyangkal bahwa apa yang hilang dari diri kita itu sesuatu yang permanen. Misalnya, saat kehilangan dompet, kita akan melakukan penyangkalan sederhana seperti : "Ah nggak ah, paling ketinggalan di rumah..."
Later on, ketika penyangkalan itu menabrak tembok, barulah aura kepanikan akan menyelimuti. Saat itu, semua perasaan akan bercampur baur menjadi satu. Penyesalan, kehilangan, kemarahan, penyangkalan, kesedihan, dan juga keinginan untuk berhenti meratap dan berharap akan sesuatu yang lebih baik muncul. Di sinilah, pilihan dan sikap hidup seseorang diuji.
Ada seseorang yang menyikapinya dengan penuh kepasrahan. Bahwa segala kehilangan yang dihadapinya hanyalah cobaan dari apa yang ia percaya sebagai Si Empunya Hidup. Tipe ini cenderung menghubungkan segala sesuatu yang menimpanya dengan religi. Maka, dari luar tipe ini akan terlihat tabah, sabar, dan terus menjalani hidup dengan baik tanpa mengeluh.
Lain tipe dengan si pemarah. Ia dengan kepala panasnya akan selalu meledak-ledak saat mengalami kehilangan. Akibatnya, ia terus menyalahkan diri sendiri, orang lain, bahkan Tuhan atas kejadian yang menimpanya. Sedikit banyak, tipe ini sama dengan si cengeng yang bawaannya nangis melulu saat menghadapi kehilangan. Si cengeng akan merasa bahwa tanpa sesuatu yang hilang ia akan semakin lemah.
Nah, termasuk tipe yang manakah dirimu?
Menurutku, tidak ada yang salah dengan ketiga tipe ini. Bagaimanapun juga, salah dan benar kan juga sangat subjektif. Yang paling penting dari kehilangan adalah bagaimana cara mengatasi perasaan tersebut untuk kemudian tetap bisa terus melangkah dan menjelang kehidupan baru yang terbentang di depan.
Namun, bagaimana kalau yang hilang adalah kepercayaan, semangat atau tujuan untuk bertahan? Bukankah itu berarti bahwa kamu harus mulai untuk keluar dari zona nyamanmu dan mencari tujuan yang baru?
Note. Untuk kejadian hari ini yang membuatku sadar bahwa aku telah kehilangan banyak. Fortunately, pelajaran hari ini membuat mataku terbuka bahwa aku tidak lagi mampu menahan kehilangan lebih banyak lagi dari sekedar satu tahun yang terbuang percuma. Dan ya, aku adalah tipe kedua,
SI KERAS DAN PANAS KEPALA.