rss
email
twitter
facebook

Monday, December 15, 2008

Mimpi-Mimpi (PluraL)

Aku merapatkan kembali retsleting jaket abu-abu kesayanganku. Bukan, bukan karena dingin. Lebih karena di balik jaket itu aku hanya mengenakan bra, tanpa kaos ataupun tank top. Aku pun kembali berjalan menelusuri lorong EX menuju plaza Indonesia. Tujuanku bukan PI, melainkan pusat perbelanjaan elit yang berada di depannya, Grand Indonesia.

Tadi siang, aku mengumbar janji menyampah dengan sobatku si tukang nyampah, Xinting. Kali ini, kami beralih dari tempat biasa—Starbucks Sarinah—dan mencoba tempat baru yaitu Excelso GI. Selain karena tadi aku butuh ke Gramedia untuk membeli hadiah Natal bagi keponakanku, juga karena Excelso kan lagi promo diskon 25% bagi pemilik kartu Mandiri. Hehehehe…meski bergaya hidup hedon, ngirit mah musti euy!

Setelah memesan, kami siap untuk memulai pembicaraan. Hal ini terlihat dari posisi duduk kami yang saling berhadapan dan kesigapanku untuk mengeluarkan batang putihku dari kotaknya. “Topik kita hari ini apa ya Mik?”, tanyaku. Kami terdiam dan saling memandang dengan kening berkerut.

Ah ya, topik kami kali itu adalah tentang mimpi. Ah bukan, bukan hanya mimpi, mimpi yang kami maksudkan bukanlah sebuah kata benda singular, melainkan plural. Maka, mimpi-mimpi (plural) adalah topik kami malam itu. Aku ingat, kenapa kami memutuskan untuk menjadikan malam itu sebagai “malam nyampah”. Siang tadi, satu kata kunci membuat kami tak berkutik. “Mimpi kita itu banyak ya…”

Hahahaha…begitu membaca kalimat itu terpatri di LCD ku, aku langsung blingsatan. Pasalnya, baru beberapa hari yang lalu bapakku menghajarku dengan kata-kata, “Kamu itu kebanyakan keinginan!” Degh. Aku tertohok.

Apa yang salah dengan memiliki banyak keinginan? Banyak mimpi? Seperti yang selalu aku percayai, dream is what keeps people sane and insane at the same time. Mimpi adalah sebuah rancangan masa depan yang menjadi patokan dan tolok ukur seseorang untuk menjalani hidup. Namun, bagaimana jika mimpi yang kamu miliki ternyata lebih dari satu, yang sayangnya mimpi-mimpi itu tidak seia sekata?

Yeah, mine are like that. Mimpi-mimpiku tidak sejalan. Seperti aku dihadapkan pada jalan bercabang dan aku harus memilih salah satu diantaranya. Take it like this. Aku menginginkan sebuah kehidupan yang makmur, yang berkelimpahan. Dan aku mengejarnya. Aku benar-benar mengejar karir, meloncat dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Mengejar gaji yang lebih besar, mengejar pengakuan dalam bentuk materi yang kuanggap pantas aku dapatkan dengan skillku. Ooohh…and I’m quite ambitious in getting that.

Di sisi hatiku yang lain, aku memiliki keinginan untuk menjadi makhluk lain. Sesosok makhluk yang berbeda dari aku yang biasa dilihat orang-orang di sekelilingku. Telah lama aku memendam keinginan itu. Mimpi yang mungkin tidak dibayangkan oleh orang lain. Seorang putri memiliki mimpi seperti itu? Menggelikan, mungkin itu yang orang-orang pikir. Bahkan bapakku sendiri pun tidak pernah menyangka aku mampu bermimpi sedemikian liarnya. Liar… Hahaha…

Sayangnya, kedua mimpi itu saling berseberangan. Dan tidak bisa dijalankan bersamaan. Aku harus memilih. Dengan konsekuensi masing-masing. Makhluk-makhluk realis menyuruhku untuk mengejar mimpi pertamaku. Seorang makhluk melankolis memberiku dukungan untuk mengejar mimpi “bukan putriku”. Aaaahhh…sakitnya harus memilih.

Dan seperti biasa, perbincangan malam itu lagi-lagi tidak memberikan sebuah pencerahan. Hanya membuang sampah yang menumpuk dalam rongga hati. Dan kami pun kembali, menjalani proses penumpukan sampah sebelum rongga itu memenuh dan kembali harus dikosongkan dengan proses nyampah lagi. Entah kapan saat itu akan datang. Thx Mik, for the “nyampah night”.

Be brave girl!

No comments: