SENDIRI. Tercekat dalam keheningan. Hanya ditemani suara sayup sayup siaran murahan televisi malam hari. Dan detik detik pergerakan jarum jam. Serta suara listrik mengalun di lemari es besar di dapur. Aku memandang sekeliling. Tempat ini asing. Seasing rimba hatiku saat ini.
Terisak. Tak tahan air mata jebol dari bahtera perisai diri. Aku tak tahu mengapa. Mungkin karena terlalu banyak rasa yang terkumpul untuk sekedar didefinisikan dalam sebuah kalimat. Ah tidak. Sebenarnya sungguh sederhana jawaban untuk air mata itu. Kecewa. Ya, itulah borok jiwa yang saat ini sedang menghantam. Mendorong air mata itu untuk menunjukkan wujud aslinya. Lemah.
Ah, kenapa aku tidak bisa menghayati kata ayahanda tercinta. Yang sudah menjadi gatotkaca ku semenjak aku lahir. Enjoy aja. Tak jauh dari iklan rokok yang pernah dengan setia ia hisap, betul itu. Tapi juga begitu keras menohok kesadaranku. Yang terlalu serakah ingin menguasai banyak hal. Yang terlalu manusiawi hendak menggungguli sekeliling.
Kulirik sekilas perangkat wajib itu, sebuah handphone butut yang setia bertahan setelah mengalami banyak penyiksaan fisik maupun batin. Menolak ia berbunyi. Ngambek setelah tahu barusan saja aku bermain kata-kata dengan seseorang lain. Ah, bahkan ia lebih memiliki nurani timbang aku, puannya.
Marah, ya aku marah. Dendam, ya aku hendak membalas dendam. Yang sebenarnya aku tahu malah semakin mencubitku. Namun dengan bebalnya tetap saja aku lakukan. Untuk apa? Hanya demi sekedar kepuasan diri. Yang bahkan hanya sesaat. Lho, ndak pikir panjang? Lha iya. Memang. Biar, yang penting puas hari ini. Hari esok biar dipikir esok saja. Memangnya mendapat puas? Aahhh…
Asing… aku merasa asing di sini. Di tempat yang seharusnya aku rindukan.






3 comments:
Ngg....
Ndak mudheng aku, Put.
ok.. ok... saatnya kembali ke peradaban. Ojo' suwe2 koyo' ngono! engko' iso kebarus gendeng koyo' aku lho! hahaha...
setuju sama response yang pertama, gak mudeng, kon opo'o ?? (unsure)
Post a Comment