Setelah beberapa lama nggak pernah nonton pilem
Terus terang, saya cukup penasaran sama MSMIA. Habis, Sinema
Iya, I know, kita emang ndak bole ngeliat mutu pilem sekedar dari budget serta pengerjaan. Bisa aja kan pas produksi dimulai, para kru en pemainnya lagi berada dalam bioritme tertinggi yang kemudian mendukung kualitas pilem jadi soooo good. Jadi, pada akhirnya saya nonton juga deh ini pilem.
MSMIA berkisah seputar Dibyo (Ringgo Rahman) yang pengangguran tapi demen ngegaet cewek. Suatu ketika, untuk mendapatkan makan gratis, Dibyo crashing a birthday party. Saat melihat Mira (Wulansari), gemuruh napsu di dada Dibyo bergolak. Ia pun nekad berkenalan dengan Mira berbekal rayuan gombal (this part reminded me of “Jomblo”). Besoknya, si Mira pun keluar dari kamar kos Dibyo masih mengenakan baju yang dipakainya semalam. Yah, Anda tebak sendiri deh apa yang terjadi. Yang jelas, 2 bulan kemudian Mira hamil.
Waktu mengabarkan kehamilannya, Mira membawa kabar tambahan bahwa statusnya adalah istri orang, meskipun pisah ranjang. Alhasil, Dibyo kelabakan. Apalagi setelah mengetahui bahwa suami Mira adalah seorang pemimpin preman Batak, Lamhot xxx (disensor oleh LSF). Berbagai cara lantas ditempuh Dibyo untuk mencoba mengabarkan kepada Lamhot bahwa dirinya telah menghamili sang istri, yang malah membuatnya makin terjerumus ke dunia kepremanan.
Waktu ada yang bilang bahwa pilem ini lucu, saya berharap bahwa saya akan tertawa ngakak, kayak waktu saya nonton Jomblo. Sayangnya, harapan tinggallah harapan. Bukannya saya mau bilang kalau ni pilem ndak lucu, lucu kok. Cuman, buat saya kadar lucunya masih kurang. Gregetnya kurang pas. Trus, ada yang berkesan terlalu dipaksain juga lucu-lucuannya.
Plot dan jalan cerita yang diusung juga kok terasa terlalu asal ya? Kayaknya Monty Tiwa nggak serius nih waktu nulis skenario nya. Jangan-jangan dibuat hanya dalam waktu hanya 7 jam? Hiii... Habis, semua terasa begitu cepat dan sedikit ndak masuk akal. Pertemuan pertama dengan Mira kok langsung ngamar sih? One night stand masuk akal lah, tapi mereka pacaran loh! Terus, cerita tentang preman itu juga kayaknya agak-agak gimana gitu. Kurang riset ya, bang Monty? Satu lagi, perutnya Mira kok ndak besar-besar juga ya? Padahal kalau ditotal, paling nggak dia sudah hamil 4 bulan loh. Emang belum keliatan ya?
Yang paling bikin sedih itu sound dan sinematografi pilem ini. Soundnya itu loh, saling tumpang tindih. Kadang pelan, kadang keras sampe bikin kuping pekak. Antara backsound dan dialog suka bertanding sendiri. Pas harusnya backsoundnya dominan, eh malah minimalis banget. Sinematografinya juga payah. Kayak pilem yang dibikin amatiran, persis pilem garapan saya dulu waktu kuliah, yang suka goyang-goyang akibat tangan sang kameramen tremor parah. Udah gitu, angle pengambilan gambarnya juga aneh. Mungkin mereka maunya keliatan artistik, tapi di mata saya jatohnya bodoh. Kadang objek utama ada di tengah, kadang di pinggir, dan kadang malah kepotong separoh. Nah loh... Pada akhirnya saya hanya bisa membatin, ”Mau gimana lagi, pilem 7 harian sih!” Yah...
Saya juga jadi baru ngerasain bahwa Ringgo itu emang over-exposed. Di Jomblo, saya sangat mengagung-agungkan Ringgo yang meski seorang pendatang baru, tapi dia bisa bermain ekselen. Jauh melebihi senior-seniornya macam Christian Sugiono dan Dennis Adishwara (maap, Rizky Hanggono nggak masuk itungan karena menurut saya dia nggak pantes jadi aktor). Saya juga masih suka waktu dia maen di FTV Ujang Pantry. Feel-nya masih dapet. Di sini, memandang Dibyo saya serasa memandang Agus beberapa tahun kedepan. Bukan hanya karakter di pilemnya, cara Ringgo memerankan Dibyo bisa dibilang mirip-mirip waktu dia memerankan Agus.
And yeah, memang ndak ada moral yang pengin disampaikan sama pilem ini. Malah kesannya jadi nyuruh para penontonnya untuk, “Udah hamilin aja bini orang, masi bisa dibawa lari kok meski kudu babak belur dikit!” Yaelah... Malesbangetdotcom! Sebenernya, saya sih melihat bahwa MSMIA ingin sedikit memasukkan unsur nasionalisme di sini. Bahwa Indonesia itu satu, ndak perlu terpecah-pecah antar suku. Sayangnya, unsur itu sama sekali ndak terpercik sepanjang awal sampai nyaris akhir MSMIA. Cuman beberapa menit terakhir yang membuat saya ngeh bahwa pilem ini punya ”sedikit” pesan moral.
Eniwei, nice try lah this movie. Kalau dibikin lebih serius lagi, saya kira bakal lebih bagus hasilnya. Yang jelas, saya tetep lebih milih nonton pilem ini daripada komoditi-komoditi bikinan Punjabi dkk itu yang cuman ngurus dunia persetanan. Saya memang mendukung perfilman
Oh iya, satu lagi pesan saya, wahai para produser






1 comment:
wah aku gak nonton nih film..
tapi dari judul dan sinopsisnya aja gak tertarik, kayaknya 'maksa' gt ya :D
Post a Comment