rss
email
twitter
facebook

Monday, June 25, 2007

Buktikan Munahmu!

Tahu iklan gudang garam merah? Yang versi sekelompok anak muda naek kereta? Yang ada Ferdy Nuril nya itu loh! Ring a bell? Saya kok nggak suka sama iklan itu ya? Di mata saya, kesan yang ditampilkan P-A-L-S-U banget. Kesan seorang cowok yang sok care dan sok baek hati hanya karena dia memberikan kursinya kepada seorang ibu tua.

Kalau saya lihat, si pembuat iklan pengin nampilin sosok Ferdy Nuril sebagai karakter anak muda yang penuh idealisme tapi masih memiliki kepedulian besar sama sekitarnya. Sayang banget, di mata saya jatuhnya malah jadi negative. Saya sih nggak masalah dengan episode pertama iklan ini (malah, saya nggak begitu peduli dan menganggap iklan ini so-so aja). Ya okelah, seorang anak muda yang nungguin ibunya pulang dari pasar emang nggak begitu keliatan munak. Tapi, nggak keliatan spesial juga sih.

Di episode kedua, ditampilkan Ferdy Nuril dan temen-temennya berlarian menuju stasiun kereta. Ketika mereka mengantri di depan loket tiket kereta, nampak seorang pria yang sedang melakukan transaksi dengan seorang calo. Kemudian, fokus dialihkan kembali ke Ferdy yang memandang transaksi tersebut dengan tatapan judging.

Di scene selanjutnya, Ferdy dan teman-temannya memasuki kereta dan mengambil tempat duduk yang tersisa. Tak berapa lama, seorang perempuan tua datang. Perempuan tua ini terlihat kebingungan mencari tempat duduk yang kosong karena apparently semua kursi telah terisi. Kamera kemudian meng-close up seorang bapak paro baya yang mengangkat koran untuk menutupi wajahnya. Pura-pura nggak ngeliat, maksudnya. Kamera balik lagi ke Ferdy yang celingak celinguk ngeliatin orang-orang di kereta, mencari seseorang dari mereka yang mau ngasih tempat duduk buat ibu ini. Karena nggak ada yang mengangkat pantatnya, si Ferdy kemudian berbaik hati berdiri dan menyilakan ibu itu untuk duduk. Wajah sang ibu sontak berseri-seri dan melemparkan pandangan pada Ferdy, "Aauuuw...such a nice boy!"

Bweeehh, adegan ini malah buat saya berpikir bahwa Ferdy nggak lebih dari sekedar cowok munafik. Ya iyalah, dia tuh nggak nolong si ibu dengan hati suka rela. Habis, kalau emang dia niat nolongin, ngapain juga pake celingak celinguk nyariin ada yang mau ngasi tempat duduk kagak. Kalau mau nolong tuh ya dari awal dia tahu si ibu nggak dapet tempat duduk, ya dia aja dong yang langsung berdiri. Lagian, kenapa juga bapak-bapak itu dijadiin bandingan. Kalau emang mau sok pake norma kesopanan, harusnya kan yang lebih muda yang ngalah. Ya emang sudah seharusnya dong dia yang berdiri.

Udah gitu, yang bikin saya lebih empet, dia senyam senyum lagi dengan muka sok-jadi-orang-terbaik-di-dunia. Berasa sok baek hati loe? Ihh...kesel deh saya. Saya jadi mikir, jangan-jangan Ferdy ini ada maunya ngasi tempat duduk sama si ibu. Misalnya, di deretan belakang ada seorang cewek yang cakep banget. Jadi, dia belagak heroik buat narik perhatian si cewek. Kalau berdiri kan ada alesan buat bergerak kesana-kemari. Jadi, pas kereta udah bergerak, dia deketin deh bangku si cewek dan ngajak kenalan. *ngayal mode on*

Yaaahh, emang sih ini pandangan subjektip saya aja. Belun tentu banyak yang sependapat sama saya. Tapi, mbok ya para pembuat iklan itu bisa mempertimbangkan, kesan apa aja yang muncul setiap detil gambaran yang ditampilkan. Inget, komunikasi itu bisa dipersepsi laen loh sama setiap orang. Kan setiap orang punya frame of preference dan field of experience yang beda-beda. Nah, kalau kebanyakan orang punya FoP dan FoE yang sama dengan saya, gimana?

4 comments:

Puput said...

Aih sirik aja lo priz he he he. Kalo nurut akyu, justru ide jadi cowok manis lumayan oke ditampilin lewat iklan rokok yg notabene identik sama macholism. Kalo cowok baik sama ibu-ibu di kereta terlihat munak, ooooh I prefer all the boys bcum munak aja dyeh.

Nice blog anyway, I'll try to read the older one. Banyaknya priz, hobbi banget nulis...

Anonymous said...

Munafik itu definisinya lain di mulut lain di hati, alias kata gak sejalan dengan perbuatan.
Ini iklan apa menunjukkan si anak muda tidak konsisten kata dan perbuatan?

Saya justru sebel sama ibu-ibunya (atau mungkin petugas penjual karcis kereta). Wong kereta itu memang sudah diatur jumlah tempat duduknya, mestinya si ibu dah tau dong di mana punya dia? Tapi di iklan di malah celingak-celinguk, (bukannya si anak muda yang celingak-celinguk, dianya sih mengawasi si ibu yang celingak-celinguk, ternyata gak dapat t4 ddk, so dia siap-siap buat berkorban). Ekspresi sumringah si anak muda juga suatu response yang gak salah. Coba kalau dia ekspresi cemberut, pasti si ibu bakal gak enak hati karena mengira si anak muda terpaksa gasih t4 ddk. Kalaupun is sumgringah karena merasa puas diri, apanya yang munafik? Wong ia telah berbuat baik. Emang ia gak dapat pahala jadinya, tapi itu bukan munafik. Itu namanya riya.

Ms Mushroom said...

Whatever you wrote, selalu aja bisa bikin aku mikir. hahaha ...

Bobby RW said...

Walah...kamu lagi sentimen sama tampang fedi nuril ya?
Ato kamu memang kurang sreg sama cowo bertampang tak bersalah?
hihih...
Menurut aku sih, masi wajar kl dia cengengesan setelah memberi bangku u/ ibu itu. kan membalas senyuman ibu itu, ceritanya...hehe