How...how...gimana nih pendapat kalian sama beberapa artikel yang sudah saya muat di bawah? Keren nggak shyeeeeh?! Hehehe... *narsis mode on*
Sebenernya, artikel-artikel itu merupakan salah satu mimpi yang nggak kesampaian lho. Hhh... *pandangan menerawang* Duh, kalau ingat-ingat itu masih miris juga sih. Padahal, semua sudah terencana dengan baik. Semua sudah terkonsep dengan baik. Strategi marketing sudah dirumuskan. Tapi, tetep aja kecentoknya sama satu hal, DUIT.
Saya sudah mulai bergerilya, dari pengumpulan materi, layout halaman sampai melobby ke beberapa orang untuk melancarkan strategi marketing. Bocoran dikit deh, majalah ini ditulis dalam bahasa inggris dengan content nasional dengan segmen youngster age 15-22. (Rencananya,) bakal diedarkan di SMA dan kampus-kampus di Jawa Timur (untuk permulaan), primarily yang punya embel-embel standar internasional. Wah, pokoknya sudah terjadwal dengan baik deh. Apalagi, bapak saya punya background pekerjaan pendidikan. Jadi, dia tahu betul seluk beluk dunia persekolahan dan bagaimana bisa menyiasati usaha kami ini menjadi menguntungkan.
Saking semangatnya, saya sampek bela-belain menunda mimpi saya yang lain untuk mewujudkan mimpi bersama ini. Nyaris 100% effort saya keluarkan untuk majalah yang sedianya akan diberi nama ZigZag Magazine ini. Kenapa nggak 100%? Hhh...hard to say this...karena di dalam hati sebenernya saya tahu mimpi ini akan susah direalisasikan. Kenapa sih saya sedemikian pesimisnya? Bukannya pesimis, tapi ada satu hal yang kurang dari rencana kami, D-U-I-T! Usaha sebesar bikin majalah, emangnya butuh duit 5 or 10 jeti? Kagak lah! Untuk bikin majalah itu, kamu harus siap-siap rugi paling nggak 6 edisi awal, which means not a small amount of money. Emang kamu kira berapa ongkos cetaknya, pekerjanya, lobinya, dll?
Iya, bapak saya memang menjanjikan akan mengusahakan sejumlah uang yang dibutuhkan. Dengan catatan, rumah saya yang mayan besar itu kejual. Namun buktinya, udah nyaris 4 taon nih, tuh rumah masih aja setia sama majikan lamanya. Padahal kami sekeluarga sudah mengikhlaskannya untuk diasuh orangtua lain. Dengan iming-iming 1,2 M tepatnya. Iya, saya akui, my family have some financial problem. Biasalah, namanya juga wiraswasta, ada masa di bawah ada masa di atas. To overcome the situation, we decided to sell our house. Tapi herannya, sudah 4 taon kami sekeluarga berusaha ngejual si rumah, kok ya ndak laku-laku juga. Alhasil, selama empat tahun terakhir hidup keluarga kami lumayan getir. Setelah empat semester kuliah dibayarin, saya mulai membiasakan diri membayar semua pengeluaran sendiri. Padahal gaji saya sebagai buruh part-time sama sekali ndak besar (waktu itu cuman 500 rebu sebulan).
Ndak apa-apa. Yang penting keluarga kami masih rukun. Ya, memang ada banyak perselisihan di sana-sini, tapi kami masih bisa bersama-sama bergandengan tangan kok. Itu yang saya bangga sama keluarga saya. Sama bapak saya, sama ibu saya dan juga sama kedua kakak saya.
Iiihh...kok jadi ngomongin masalah itu sih? Back to topic deh. Intinya, saya rada ndak yakin juga sama keberlangsungan rencana ZigZag ini. Saya bertahan karena itu adalah mimpi bersama saya dan bapak saya. Saya ingin menyenangkannya dengan tinggal dan berusaha mewujudkan mimpi itu. Dan akhirnya, ketika deadline tiba, ternyata lubuk hati saya benar. Mimpi saya tertunda (saya ndak bilang ndak terwujud loh ya). Rumah masih ndak terjual, usaha sampingan bapak saya yang di Kalbar juga belum menunjukkan hasil. Jadi, mangkraklah itu majalah. Padahal, artikelnya banyak yang sudah jadi. Banyak halaman-halaman yang sudah terlayout dengan indah. Padahal, saya sudah punya ikon-ikon khas ZigZag untuk halaman Zodiak (hehehe...).
Hhh...ya sudahlah, mau digimanain lagi. Saya nelangsa terus juga ndak bakal nyelesaiin masalah kan. Satu yang saya sadari, mimpi itu ternyata juga butuh duit ya? Enak aja orang yang bisa mewujudkan mimpi wiraswasta mereka karena ketersediaan sarana satu ini.
Occho, salah satu karakter di 20th Century Boys pernah bilang, "Satu-satunya jalan untuk mengatasi depresi adalah dengan terus berjalan". Saya ndak depresi kok, saya hanya berusaha untuk terus berjalan. Mimpi ZigZag nggak saya buang. Masih ada kok, cuman sekarang lagi saya simpan di suatu tempat, menanti untuk diwujudkan.
Sekarang, saya sedang memupuk mimpi baru. Dan saya berjanji sama diri saya sendiri untuk mengusahakannya sekeras mungkin. Apa sih mimpi itu? Er-ha-es!! Kata orang, pamali kalau dibilangin sekarang. Nanti ya, kalau mimpinya udah kewujud. Masih lama tapi...






1 comment:
Wah...
Serius nih mimpinya?
Ikuuutt...
Post a Comment