Angka tujuh bagi sebagian orang memang dianggap spesial. Nah, gimana kalau angkat tujuh itu dikali 3? Spesial bakal terasa tiga kali lipat tentunya. Mungkin karena itulah, tanggal 7 bulan 7 tahun 07 (anggep 0 nya ilang aja deh) dijadikan banyak orang sebagai hari bahagia mereka. Marriage, misalnya. Buktinya, seharian ini nggak keitung deh berapa mobil pengangkut pengantin yang saya liat berkeliaran di jalan-jalan. Yay...yay...yay...musim kawin telah tiba...
Tapi, bagi saya hari ini spesial bukan karena banyaknya acara kawinan. Saya nggak hobi crashing wedding-nya orang kok. Bagi saya, hari ini spesial karena ada seorang kawan yang berulang tahun. Hehehe...kali ini saya ndak lupa lagi kan sama ultahnya temen. But still, maapkan daku Saidddd... T_T.
Yep, hari ini oom Bobi berulang tahun. Buat kamu yang belum mengenal oom Bobi, jangan bayangkan dia sebagai seorang oom-oom berperawakan gendut yang demen towal-towel cewek cakep yaa... He ain't such person. Sebaliknya, oom Bobi punya bodi yang mirip junkie. Perawakannya kecil menjulang. Sepasang kacamata selalu nangkring setia di pangkal idungnya. Eng...nggak sesetia itu juga sih. Oom Bobi kadang suka sok alergi sama kacamatanya. Padahal, kalau dia nggak pake kacamata, keningnya nggak pernah berhenti berkerut. Persis kayak tikus tanah yang nggak punya penglihatan itu. Hehehe...maap ya oom Bob.
Meski begitu, oom Bob ini salah satu favoritku loh. Kami pertama kali kenal cukup dekat waktu ikutan mata kuliah PPAV. Kala itu, saya dan oom Bob satu kelompok untuk membuat sebuah karya pilem berdurasi 30 menit. Judulnya, "She". Wuih...pilem itu keren loh (narsis mode: on), penuh dengan kontroversi. Ya ceritanya, ya adegannya. Baru kali itu saya melihat (actually, menyuruh) dua orang cewek untuk saling berciuman di depan kamera. Huhuhu...pengalaman tak terlupakan deh pokoknya.
Setelah itu, kami jadi sering nongkrong dan cangkruk bersama temen-temen laennya. Kebersamaan bersama oom Bob bertambah saat kami terlibat pekerjaan yang sama setelah menyelesaikan skripsi. Setiap hari selama 3 bulan kami harus tahan melihat muka masing-masing. Gimana nggak, wong kami kerja satu ruangan, tidur satu atap dan makan makanan yang sama.
Selama tiga bulan itu saya harus tahan dengan segala tingkah lakunya yang kadang out of ordinary. Saya harus tahan kala dia menyetel lagu The Doors keras-keras di setiap subuh. Padahal, kami semua (temen sekerja) sudah ndak mood karena harus menyelesaikan laporan. Kadang, dia juga suka seenaknya sendiri tidur padahal yang laen sibuk bekerja. Kalau sudah gitu, saya dan teman-teman langsung mencabuti bulu jempol kakinya sampai dia terbangun dan nesu-nesu. Tapi nesunya oom Bob lucu. Nesu kok sambil ngantuk-ngantuk. Hahahaha...
Tapi, kalau oom Bob sudah gitaran sambil nyanyi, saya suka deh deket-deket dia. Suaranya bow, mantaph jaya! Coba kamu ikut kalau lagi karaokean bareng dia. Uuugh...merinding! Nggak heran temen-temen seangkatannya demen ngajakin oom Bob berkaraoke ria.
Makin lama bersamanya, saya makin mengetahui pandangan-pandangan oom Bob. Bagaimana dia menemukan kedamaian hati dengan konsep keTUHANannya. Bagaimana konsep ke-nggak ngurus-nya dia sama orang lain, namun dia sebenarnya tetap sangat peduli. Bagaimana konsep perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dia percayai.
Tapi, oom Bob bisa berubah jadi orang paling nggak menyenangkan kalau moodnya lagi jelek. Dia bakal sangat diam dan nggak bisa diajak bersenang-senang. Kalau sudah gitu, saya jadi sedih karena kehilangan teman ngubrul dan bertukar pendapat.
Setelah keluar dari team "Lumpur episode 1", saya pun jarang keluar sama oom Bob dan kawan-kawan. Namun, minggu lalu telur itu pecah. Saya dan beberapa teman "Lumpur" berkumpul kembali, oom Bob, Ade, mas Wawan, Wiwin, Asep, Dadang dan Melisa. Banyak juga yang nggak ikut, termasuk Nana dan Yasmin yang lagi di Jakarta. Si Botak juga nggak datang. Katanya sih lagi di luar kota. Beberapa anak Field Officer yang lain pun nggak datang. Kata Asep, kemungkinan besar saat itu mereka lagi pulang kampung. Maklum, hari itu memang hari pertama liburan semester.
Malam itu saya benar-benar merasa hidup kembali. Seneng banget rasanya bertemu dengan teman-teman lama dan gila-gilaan bersama. It's been so long. Saya jadi ingat masa-masa saya cangkruk bersama mereka dan membicarakan hal-hal absurd. Hahahha...felt so damn guuuuuddd.
Dulu, saya sering nongkrong bersama teman-teman (termasuk oom Bob dan Asep). Membicarakan hal-hal yang aneh-aneh. Persahabatan, cinta, masa depan, yah seputar kehidupan lah. Kadang saya bisa tertawa keras-keras bersama mereka. Namun tak jarang pula saya terbawa dan harus berpikir keras untuk meng-ekstrak-nya.
Saya jadi ingat waktu saya dan Asep melakukan roadshow cangkruk. Awalnya, kami cuman nongkrong di Dunkin Donuts. Namun, ketika jam satu (subuh) datang, kok rasanya pembicaraan kami belum selesai ya? Ya sudah, lanjut deh ke McD Basra. Buanyaaak banget yang kami bicarakan, bahkan kami sempat merumuskan beberapa teori tentang cinta. Hahahaha...sounds annoying yaa? Oh ya, setelah bongkar-bongkar, ternyata saya masih menyimpan teori-teori itu. Want to know what it was? Catch this!
o Chemistry adalah interaksi antara dua individu yang merupakan "ikatan" yang timbul setelah bertukar informasi dan terciptanya kecocokan.
o Chemistry tidak bisa diciptakan. Interaksi dilakukan oleh dan kepada semua orang. Setiap individu memberikan respon yang berbeda dan spesifik dari interaksi tersebut. Hanya respon yang cocoklah yang pada akhirnya membentuk chemistry.
o Jodoh masing-masing orang pada dasarnya sudah ditentukan. Namun, penentuan ini hanya terjadi dalam pikiran. Setiap orang, sadar ataupun tidak, mempunyai beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh orang yang akan dicintainya. Kriteria itulah yang dinamakan jodoh.
Bagaimana, setuju nggak sama teori-teori yang kami rumuskan? Waktu itu kami emang lagi happening banget membicarakan dan berusaha mengekstrak tentang cinta pada pandangan pertama. Adakah chemistry? Kenapa setiap orang selalu terlihat mencintai orang yang sama padahal ia tidak mencari tipe tertentu? Mending kalau sifat-sifatnya yang sama, lah ini situasinya sama. Hahahah...Asep bangged! Selalu stuck sama cewek yang sudah ber'suami'. And I mean it, ALWAYS.
Jangan salah, teori-teori yang kami kemukakan di atas tidak didapat dengan mudah loh. Kami harus gontok-gontokan dulu, mempertahankan opini siapa yang paling benar. Berusaha mengemukakan fakta-fakta yang sesuai dan mempreteli satu persatu alasan di baliknya. Dan akhirnya, sebelum berpisah, kami sepakat mengemukakan bahwa "There's no such thing like love at the first sight. Second, third, fourth, and et cetera, those what make love".
Hhhh...mengingat-ingat masa itu benar-benar membuat saya kangen setengah mati. Memang sih, pertemuan seminggu yang lalu itu sedikit mengobati kekangenan saya, tapi tidak semua. Kebanyakan, kami hanya membicarakan hal-hal yang nggak penting saja. Bertukar kabar karena lama tidak berjumpa. Saya kepengin kembali membicarakan absurditas macam yang saya lakukan bersama Asep dan oom Bob. Kadang, hal itu bisa membuat otak kembali cemerlang loh, percaya deh! Iya, hal-hal itu membuat kita bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Makanya, oom Bob, Asep, ayo dong kapan kita mau cangkruk-cangkruk lagi?! Kangen nih mendengarkan teori dan opini-opini kalian!
Oh ya, buat oom Bob!, met ultah ya! I can't say anything other than, "Wishing u all the best in life!"






2 comments:
bweh, u twisting the perspective
aku PROTES!!
ada bbrp bagian yang mendiskreditkan aku
kamu harus ralat secepatnya!
awas kalo enggak!!!
asep
bwakakaka..... LOL....
kamu ndak usah marah2 gitu bang asep. kan itu kenyataan yang semestinya toh?? ayoo...bilango kalau nggak??!!
Post a Comment