Dalam keadaan seperti ini, secara tidak terduga saya dan keluarga melakukan perjalanan ke Jogjakarta. Perjalanan yang sama sekali bukan untuk piknik, apalagi bertamasya. Satu-satunya alasan yang membuat kami harus menginjak pedal gas sampai ke Jogjakarta adalah keinginan Embah Putri yang minta dimakamkan menjadi satu dengan Embah Kakung.
Embah Putri memang sudah beberapa lama ini menjadi topik yang sangat dibicarakan oleh ibu saya. Bahwa Embah yang jatuh sampai harus dirawat di rumah sakit, menjalani operasi sampai yang paling anyar ini dinyatakan koma. Terus terang saja, saya ndak begitu dekat dengan beliau. Namun, melihat ibu dari ibu saya tergolek lemah tanpa sadar di atas ranjang rumah sakit, saya trenyuh juga. Sekurang-kurangnya ada tiga saluran pipa melalui tubuh Embah saya itu. Satu untuk infus, satu untuk pernafasan serta satu dimasukkan ke dalam mulut.
Yang paling membuat saya kepingin menangis melihat keadaan Embah adalah keadaan beliau yang terus menerus bernafas dengan tersengal-sengal. Persis seperti orang yang habis dikejar-kejar anjing sampai mengitari kompleks perumahan sebanyak lima kali. Melihat bibir embah yang terus menerus menghembuskan nafas sengal-sengal serta melihat dada beliau yang naik turun dengan cepat, refleks saya menyingkap selimut dan mulai mengelus-elus tangan beliau. "Tuhan, berikan yang terbaik untuk Embah," pinta saya.
Melihat Mama yang dengan setianya terus berada di samping beliau, berbekal jaket tebal dan leher berbebat syal hitam, saya tambah ngenes lagi. Ya, Mama memang sampai jatuh sakit merawat Embah. Sakit yang lebih banyak dikarenakan capek, stress serta perasaan tidak berdaya.
Melihat Mama yang juga sudah kepayahan itu, malam itu Papa meminta Mama untuk pulang dan beristirahat. Sebagai gantinya, Mas Rio-lah yang akan menjaga Embah di rumah sakit. Esoknya, sepulang mas Rio, saya dan Mama yang gantian ke Rumah Sakit. Pukul 09.40 kami ya melangkahkan kaki di kamar Embah yang juga dipakai bersama dua orang lainnya. Saat itu, saya cukup kaget melihat sebuah benda menambah koleksi alat yang dipakai Embah. Benda itu berbentuk seperti dot terbalik, yang dihubungkan melalui selang menuju sebuah alat yang lebih besar. Kata perawat, itu adalah penyedot riak Embah.
Kala itu, Embah sudah tidak lagi terlalu tersengal-sengal dalam bernafas, meski masih tetap lebih cepat dari normal. Tanpa berkata-kata, saya kembali mendekati sisi kanan Embah. Saya singkap sedikit bagian selimut yang membungkus tubuhnya, dan saya mulai mengelus-elus tangan Embah. Di sisi satunya, Mama sudah berdiri di sana dan mengajak saya untuk berdoa bersama bagi Embah. Tepat ketika saya mengangguk, seorang perawat menyingkap tirai dan mulai mengajak Mama berbicara. Mama pun lantas berpindah tempat duduk di sebelah saya dan meladeni pertanyaan si suster.
Lamat-lamat, saya mendengar Mama membicarakan bahwa semua keluarga sudah ikhlas dan pasrah. Jika hal terburuk terjadi pun, semua sudah disiapkan dengan baik. Dan sesuai permintaan Embah, beliau akan dimakamkan di Jogajakarta, dijadikan satu dengan makam Embah Kakung. Kala itu, saya agak marah pada Mama. Habis, Embah kan masih bisa mendengar. Mbok ya kalau ngomongin masalah itu di luar aja. Namun, saat itu saya juga bisa melihat makin lama nafas Embah mulai mereda dari sengal-sengalnya. Wah, Embah sudah mau sembuh nih, pikir saya rada girang.
Tak berapa lama dari pikiran saya itu, seorang perawat Embah yang khusus didatangkan dari Surabaya berteriak, “Mbak Wied (ibu saya maksudnya, Red.) iki wes garek sedilut maneh. Ayo ndang dituntun Embah iki.” Mendengar hal itu, sontak Mama melangkah ke samping kiri Embah.
"Ayo Put, kita doa bersama untuk Embah!" perintah Mama sembari mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Embah. Saya yang masih belum pulih dari keterkejutan, hanya bisa memandang Mama sambil ikut mendekatkan bibir ke telinga Embah.
Tuhan, ampunilah dosa-dosaku....
.....
Saya tidak begitu sadar apa yang Mama doakan sebenarnya. Saat itu saya hanya bisa memandang Mama dengan mata yang mulai buram karena kelopak yang hendak jebok diterjang air mata. Baru ketika Mama melafalkan doa Bapa Kami saya mulai ikut berdoa meski dengan suara terbata-bata.
Bapa kami yang ada Surga, dimuliakanlah namaMu
Datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu
Di atas bumi seperti di dalam Surga
Berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami
Seperti kamipun mengampuni kesalahan yang bersalah kepada kami
Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat
Amin.
Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu
Terpujilah Engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus
Santa Maria bunda Alllah, doakanlah kami yang berdosa ini
Sekarang dan waktu kami mati.
Amin.
Saat berdoa saya merasakan nafas Embah semakin lama semakin melemah. Ketakutan kemudian membuat saya menutup mata sambil terus berdoa dalam tangis. Saat saya membuka mata di doa Salam Maria yang ketiga, saya melihat Embah dagu Embah terangkat cukup tinggi seperti hendakmengambil nafas untuk terakhir kalinya. Tak kuat melihat pemandangan itu, saya menutup mata dan meneruskan doa dengan bercucuran air mata. Setelah menyelesaikan Salam Maria untuk yang kelima kalinya, Mbak Anna—perawat keluarga itu berkata, "Wes Mbak Wied, Embah wes nggak ono."
Saat saya membuka mata, Embah sudah tidak lagi bernafas. Saya lihat dada beliau, tidak juga ada tanda-tanda tarikan atau hembusan nafas di sana. Embah benar-benar sudah pergi...
Saya tercenung, tercengang, dan terlongong. Saya masih nggak percaya ada orang yang meninggal tepat di depan mata saya. Dan orang itu bukan orang lain, itu Embah saya! Terus terang, ini adalah kali pertama saya mengalami kehilangan orang-orang yang cukup dekat. Dan yang jelas, ini adalah kali pertama pula saya mendampingi seseorang sampai nafas terakhirnya.