rss
email
twitter
facebook

Tuesday, October 23, 2007

Sebelum Cahaya by Letto

ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta

perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

kekuatan hati yang berpegang janji
genggamlah tanganku cinta
ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
temani hatimu cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta

ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta

perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta

ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta


Sumber: LirikLaguIndonesia.Net

Monday, September 10, 2007

Me Versus Myself In The Head


I am lost, totally lost. I dunno where I am heading. Clueless, that’s what I am. Can anybody give me a way where I should go?

Entah kenapa akhir-akhir ini otakku serasa buntu. Aku nggak merasakan yang seharusnya kurasakan. Aku nggak melakukan sesuatu yang harusnya kulakukan. Aku kebingungan sendiri dengan diriku, dengan kedua orang tuaku, dengan kakak-kakakku. Ah, bullshit, itu namanya kamu hanya peduli dengan dirimu sendiri, DOGOL!! Ya, udah, aku ngak mengerti dengan diriku sendiri, puas kamu??!! Aku tidak mengerti kemana harus melangkah. Di balik semua keributan yang aku juga nggak mengerti dari mana asal mulanya dan bagaimana mengakhiri buletan benang yang tersimpul terlalu erat ini. Aaahhh….

Apa sih yang sedang kurasakan? Kok rasanya hampa-hampa saja? Aku mau marah? Sama siapa? Kok rasanya aku sudah capek marah. Sekali lagi, marah sama siapa? Sama diriku sendiri? Sama keadaan? Sama situasi? Sama TUHAN? Oh Tuhan, aku nggak tahu harus bagaimana lagi. Aku sudah lama berpaling daripadaMU. Namun aku terus menerus mengatasnamakanMU akan banyak hal. Nista ya aku? Aku sendiri nggak tahu lagi TUHAN, mana yang harus kupercayai dan yang tidak. Mana yang harus kupasrahkan dan mana yang harus kuperjuangkan. Untuk aku, untuk diriku sendiri.

Aku bertanya, pada siapa aku juga nggak tahu. Aku hanya berjalan, menyusuri jalan setapak yang sudah ada di depanku. Tanpa berpikir lagi, jalan pintas mana yang sebenarnya bisa kuambil. Aku hanya berjalan bak zombie, yang tak tentu arah kemana ku pergi. Hanya melangkah, dan melangkah, semakin jauh, tanpa kutahu kapan ku bisa kembali.

What life means? Apa yang bisa kamu tanyakan dari sebuah kehidupan? Untuk apa kamu dibawa ke kehidupan ini? Untuk merasakan yang namanya sakit, untuk mengetahui inti dari pahitnya kehidupan? Wait a sec, kamu bahkan belum menjawab pertanyaanku, apa sih sebenarnya idup itu? Kamu bisa jawab nggak? Jangan keburu mengarah ke sesuatu yang kamu anggap sok dalem dong, wong pertanyaan substansialnya aja kamu masih belum bisa jawab kok!

Keterlaluan!

Jawab dulu, baru kamu bisa berdebat di dunia sinting ini!

Tuesday, August 14, 2007

Malang – Jogjakarta – Surabaya : Berkabung

Dalam keadaan seperti ini, secara tidak terduga saya dan keluarga melakukan perjalanan ke Jogjakarta. Perjalanan yang sama sekali bukan untuk piknik, apalagi bertamasya. Satu-satunya alasan yang membuat kami harus menginjak pedal gas sampai ke Jogjakarta adalah keinginan Embah Putri yang minta dimakamkan menjadi satu dengan Embah Kakung.

Embah Putri memang sudah beberapa lama ini menjadi topik yang sangat dibicarakan oleh ibu saya. Bahwa Embah yang jatuh sampai harus dirawat di rumah sakit, menjalani operasi sampai yang paling anyar ini dinyatakan koma. Terus terang saja, saya ndak begitu dekat dengan beliau. Namun, melihat ibu dari ibu saya tergolek lemah tanpa sadar di atas ranjang rumah sakit, saya trenyuh juga. Sekurang-kurangnya ada tiga saluran pipa melalui tubuh Embah saya itu. Satu untuk infus, satu untuk pernafasan serta satu dimasukkan ke dalam mulut.

Yang paling membuat saya kepingin menangis melihat keadaan Embah adalah keadaan beliau yang terus menerus bernafas dengan tersengal-sengal. Persis seperti orang yang habis dikejar-kejar anjing sampai mengitari kompleks perumahan sebanyak lima kali. Melihat bibir embah yang terus menerus menghembuskan nafas sengal-sengal serta melihat dada beliau yang naik turun dengan cepat, refleks saya menyingkap selimut dan mulai mengelus-elus tangan beliau. "Tuhan, berikan yang terbaik untuk Embah," pinta saya.

Melihat Mama yang dengan setianya terus berada di samping beliau, berbekal jaket tebal dan leher berbebat syal hitam, saya tambah ngenes lagi. Ya, Mama memang sampai jatuh sakit merawat Embah. Sakit yang lebih banyak dikarenakan capek, stress serta perasaan tidak berdaya.

Melihat Mama yang juga sudah kepayahan itu, malam itu Papa meminta Mama untuk pulang dan beristirahat. Sebagai gantinya, Mas Rio-lah yang akan menjaga Embah di rumah sakit. Esoknya, sepulang mas Rio, saya dan Mama yang gantian ke Rumah Sakit. Pukul 09.40 kami ya melangkahkan kaki di kamar Embah yang juga dipakai bersama dua orang lainnya. Saat itu, saya cukup kaget melihat sebuah benda menambah koleksi alat yang dipakai Embah. Benda itu berbentuk seperti dot terbalik, yang dihubungkan melalui selang menuju sebuah alat yang lebih besar. Kata perawat, itu adalah penyedot riak Embah.

Kala itu, Embah sudah tidak lagi terlalu tersengal-sengal dalam bernafas, meski masih tetap lebih cepat dari normal. Tanpa berkata-kata, saya kembali mendekati sisi kanan Embah. Saya singkap sedikit bagian selimut yang membungkus tubuhnya, dan saya mulai mengelus-elus tangan Embah. Di sisi satunya, Mama sudah berdiri di sana dan mengajak saya untuk berdoa bersama bagi Embah. Tepat ketika saya mengangguk, seorang perawat menyingkap tirai dan mulai mengajak Mama berbicara. Mama pun lantas berpindah tempat duduk di sebelah saya dan meladeni pertanyaan si suster.

Lamat-lamat, saya mendengar Mama membicarakan bahwa semua keluarga sudah ikhlas dan pasrah. Jika hal terburuk terjadi pun, semua sudah disiapkan dengan baik. Dan sesuai permintaan Embah, beliau akan dimakamkan di Jogajakarta, dijadikan satu dengan makam Embah Kakung. Kala itu, saya agak marah pada Mama. Habis, Embah kan masih bisa mendengar. Mbok ya kalau ngomongin masalah itu di luar aja. Namun, saat itu saya juga bisa melihat makin lama nafas Embah mulai mereda dari sengal-sengalnya. Wah, Embah sudah mau sembuh nih, pikir saya rada girang.

Tak berapa lama dari pikiran saya itu, seorang perawat Embah yang khusus didatangkan dari Surabaya berteriak, “Mbak Wied (ibu saya maksudnya, Red.) iki wes garek sedilut maneh. Ayo ndang dituntun Embah iki.” Mendengar hal itu, sontak Mama melangkah ke samping kiri Embah.

"Ayo Put, kita doa bersama untuk Embah!" perintah Mama sembari mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Embah. Saya yang masih belum pulih dari keterkejutan, hanya bisa memandang Mama sambil ikut mendekatkan bibir ke telinga Embah.

Tuhan, ampunilah dosa-dosaku....

.....


Saya tidak begitu sadar apa yang Mama doakan sebenarnya. Saat itu saya hanya bisa memandang Mama dengan mata yang mulai buram karena kelopak yang hendak jebok diterjang air mata. Baru ketika Mama melafalkan doa Bapa Kami saya mulai ikut berdoa meski dengan suara terbata-bata.

Bapa kami yang ada Surga, dimuliakanlah namaMu

Datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu

Di atas bumi seperti di dalam Surga

Berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami

Seperti kamipun mengampuni kesalahan yang bersalah kepada kami

Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat

Amin.

Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu

Terpujilah Engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus

Santa Maria bunda Alllah, doakanlah kami yang berdosa ini

Sekarang dan waktu kami mati.

Amin.

Saat berdoa saya merasakan nafas Embah semakin lama semakin melemah. Ketakutan kemudian membuat saya menutup mata sambil terus berdoa dalam tangis. Saat saya membuka mata di doa Salam Maria yang ketiga, saya melihat Embah dagu Embah terangkat cukup tinggi seperti hendakmengambil nafas untuk terakhir kalinya. Tak kuat melihat pemandangan itu, saya menutup mata dan meneruskan doa dengan bercucuran air mata. Setelah menyelesaikan Salam Maria untuk yang kelima kalinya, Mbak Anna—perawat keluarga itu berkata, "Wes Mbak Wied, Embah wes nggak ono."

Saat saya membuka mata, Embah sudah tidak lagi bernafas. Saya lihat dada beliau, tidak juga ada tanda-tanda tarikan atau hembusan nafas di sana. Embah benar-benar sudah pergi...

Saya tercenung, tercengang, dan terlongong. Saya masih nggak percaya ada orang yang meninggal tepat di depan mata saya. Dan orang itu bukan orang lain, itu Embah saya! Terus terang, ini adalah kali pertama saya mengalami kehilangan orang-orang yang cukup dekat. Dan yang jelas, ini adalah kali pertama pula saya mendampingi seseorang sampai nafas terakhirnya.

Thursday, July 12, 2007

Kutub

Hanya butuh satu perbincangan di hari yang lelah
Tuk tampar hati terpatah
Dan kala kubertanya pada ragu yang tak kunjung menyerah
Tak jua terjawab hampa yang terus menggugah

Dan kala tetes suci itu terjatuh
Sisakan gerung tawa menjauh
Hempaskan rasa aman yang berlabuh
Munculkan resah gelisah bertabuh



*resah di kantor...mencoba meniru oom Bob*

Monday, July 09, 2007

Some Poems From Oom Bob

Do you have any idea that oom Bob is such a great poetist? Yep, he wrote lots of them, but instead of publishing them in he’s own blog, he’d rather send them via sms to several people. Which is why now I publish some of his work here, in my blog. So, enjoy!

Permukaan yang tenang, air yang mengalir
Dalam gemericik riak lamat-lamat menghilang, terbawa angin semilir
Senyap siangnya sudah lama terbang, lalui kurun kian tersingkir
Andai saja malam tak pernah datang, membawa repihan terbalut getir
Mungkin saat ini ia sudah pulang, kembali tidur dengan mimpinya yang satir
(Warnet IMADA, Gedangan, 05 Maret 2007)

Aku masih menggenggam kelam di kolong otak malam
Iya, benar...!
Hari-hari buram itu memang sudah dalam-dalam kupendam
Ceruk silam yang disamarkan dedaunan basah berwarna dendam
Iya, benar...!
Kadang-kadang mereka mengintip geram
Mereka, para kelam di otak malam...
Teman tetirahku yang ingin kubungkam
Desah buram pagi yang hitam
Iya, benar...!
Aku sadar, aku masih belum benar-benar rela kehilangan mereka
Para kelam di otak malam...
(Roadtrip Kediri-Surabaya, 070708, 21.22)

070707, Hepi Birthday Oom Bob!

Angka tujuh bagi sebagian orang memang dianggap spesial. Nah, gimana kalau angkat tujuh itu dikali 3? Spesial bakal terasa tiga kali lipat tentunya. Mungkin karena itulah, tanggal 7 bulan 7 tahun 07 (anggep 0 nya ilang aja deh) dijadikan banyak orang sebagai hari bahagia mereka. Marriage, misalnya. Buktinya, seharian ini nggak keitung deh berapa mobil pengangkut pengantin yang saya liat berkeliaran di jalan-jalan. Yay...yay...yay...musim kawin telah tiba...

Tapi, bagi saya hari ini spesial bukan karena banyaknya acara kawinan. Saya nggak hobi crashing wedding-nya orang kok. Bagi saya, hari ini spesial karena ada seorang kawan yang berulang tahun. Hehehe...kali ini saya ndak lupa lagi kan sama ultahnya temen. But still, maapkan daku Saidddd... T_T.

Yep, hari ini oom Bobi berulang tahun. Buat kamu yang belum mengenal oom Bobi, jangan bayangkan dia sebagai seorang oom-oom berperawakan gendut yang demen towal-towel cewek cakep yaa... He ain't such person. Sebaliknya, oom Bobi punya bodi yang mirip junkie. Perawakannya kecil menjulang. Sepasang kacamata selalu nangkring setia di pangkal idungnya. Eng...nggak sesetia itu juga sih. Oom Bobi kadang suka sok alergi sama kacamatanya. Padahal, kalau dia nggak pake kacamata, keningnya nggak pernah berhenti berkerut. Persis kayak tikus tanah yang nggak punya penglihatan itu. Hehehe...maap ya oom Bob.

Meski begitu, oom Bob ini salah satu favoritku loh. Kami pertama kali kenal cukup dekat waktu ikutan mata kuliah PPAV. Kala itu, saya dan oom Bob satu kelompok untuk membuat sebuah karya pilem berdurasi 30 menit. Judulnya, "She". Wuih...pilem itu keren loh (narsis mode: on), penuh dengan kontroversi. Ya ceritanya, ya adegannya. Baru kali itu saya melihat (actually, menyuruh) dua orang cewek untuk saling berciuman di depan kamera. Huhuhu...pengalaman tak terlupakan deh pokoknya.

Setelah itu, kami jadi sering nongkrong dan cangkruk bersama temen-temen laennya. Kebersamaan bersama oom Bob bertambah saat kami terlibat pekerjaan yang sama setelah menyelesaikan skripsi. Setiap hari selama 3 bulan kami harus tahan melihat muka masing-masing. Gimana nggak, wong kami kerja satu ruangan, tidur satu atap dan makan makanan yang sama.

Selama tiga bulan itu saya harus tahan dengan segala tingkah lakunya yang kadang out of ordinary. Saya harus tahan kala dia menyetel lagu The Doors keras-keras di setiap subuh. Padahal, kami semua (temen sekerja) sudah ndak mood karena harus menyelesaikan laporan. Kadang, dia juga suka seenaknya sendiri tidur padahal yang laen sibuk bekerja. Kalau sudah gitu, saya dan teman-teman langsung mencabuti bulu jempol kakinya sampai dia terbangun dan nesu-nesu. Tapi nesunya oom Bob lucu. Nesu kok sambil ngantuk-ngantuk. Hahahaha...

Tapi, kalau oom Bob sudah gitaran sambil nyanyi, saya suka deh deket-deket dia. Suaranya bow, mantaph jaya! Coba kamu ikut kalau lagi karaokean bareng dia. Uuugh...merinding! Nggak heran temen-temen seangkatannya demen ngajakin oom Bob berkaraoke ria.

Makin lama bersamanya, saya makin mengetahui pandangan-pandangan oom Bob. Bagaimana dia menemukan kedamaian hati dengan konsep keTUHANannya. Bagaimana konsep ke-nggak ngurus-nya dia sama orang lain, namun dia sebenarnya tetap sangat peduli. Bagaimana konsep perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dia percayai.

Tapi, oom Bob bisa berubah jadi orang paling nggak menyenangkan kalau moodnya lagi jelek. Dia bakal sangat diam dan nggak bisa diajak bersenang-senang. Kalau sudah gitu, saya jadi sedih karena kehilangan teman ngubrul dan bertukar pendapat.

Setelah keluar dari team "Lumpur episode 1", saya pun jarang keluar sama oom Bob dan kawan-kawan. Namun, minggu lalu telur itu pecah. Saya dan beberapa teman "Lumpur" berkumpul kembali, oom Bob, Ade, mas Wawan, Wiwin, Asep, Dadang dan Melisa. Banyak juga yang nggak ikut, termasuk Nana dan Yasmin yang lagi di Jakarta. Si Botak juga nggak datang. Katanya sih lagi di luar kota. Beberapa anak Field Officer yang lain pun nggak datang. Kata Asep, kemungkinan besar saat itu mereka lagi pulang kampung. Maklum, hari itu memang hari pertama liburan semester.

Malam itu saya benar-benar merasa hidup kembali. Seneng banget rasanya bertemu dengan teman-teman lama dan gila-gilaan bersama. It's been so long. Saya jadi ingat masa-masa saya cangkruk bersama mereka dan membicarakan hal-hal absurd. Hahahha...felt so damn guuuuuddd.

Dulu, saya sering nongkrong bersama teman-teman (termasuk oom Bob dan Asep). Membicarakan hal-hal yang aneh-aneh. Persahabatan, cinta, masa depan, yah seputar kehidupan lah. Kadang saya bisa tertawa keras-keras bersama mereka. Namun tak jarang pula saya terbawa dan harus berpikir keras untuk meng-ekstrak-nya.

Saya jadi ingat waktu saya dan Asep melakukan roadshow cangkruk. Awalnya, kami cuman nongkrong di Dunkin Donuts. Namun, ketika jam satu (subuh) datang, kok rasanya pembicaraan kami belum selesai ya? Ya sudah, lanjut deh ke McD Basra. Buanyaaak banget yang kami bicarakan, bahkan kami sempat merumuskan beberapa teori tentang cinta. Hahahaha...sounds annoying yaa? Oh ya, setelah bongkar-bongkar, ternyata saya masih menyimpan teori-teori itu. Want to know what it was? Catch this!

o Chemistry adalah interaksi antara dua individu yang merupakan "ikatan" yang timbul setelah bertukar informasi dan terciptanya kecocokan.

o Chemistry tidak bisa diciptakan. Interaksi dilakukan oleh dan kepada semua orang. Setiap individu memberikan respon yang berbeda dan spesifik dari interaksi tersebut. Hanya respon yang cocoklah yang pada akhirnya membentuk chemistry.

o Jodoh masing-masing orang pada dasarnya sudah ditentukan. Namun, penentuan ini hanya terjadi dalam pikiran. Setiap orang, sadar ataupun tidak, mempunyai beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh orang yang akan dicintainya. Kriteria itulah yang dinamakan jodoh.

Bagaimana, setuju nggak sama teori-teori yang kami rumuskan? Waktu itu kami emang lagi happening banget membicarakan dan berusaha mengekstrak tentang cinta pada pandangan pertama. Adakah chemistry? Kenapa setiap orang selalu terlihat mencintai orang yang sama padahal ia tidak mencari tipe tertentu? Mending kalau sifat-sifatnya yang sama, lah ini situasinya sama. Hahahah...Asep bangged! Selalu stuck sama cewek yang sudah ber'suami'. And I mean it, ALWAYS.

Jangan salah, teori-teori yang kami kemukakan di atas tidak didapat dengan mudah loh. Kami harus gontok-gontokan dulu, mempertahankan opini siapa yang paling benar. Berusaha mengemukakan fakta-fakta yang sesuai dan mempreteli satu persatu alasan di baliknya. Dan akhirnya, sebelum berpisah, kami sepakat mengemukakan bahwa "There's no such thing like love at the first sight. Second, third, fourth, and et cetera, those what make love".

Hhhh...mengingat-ingat masa itu benar-benar membuat saya kangen setengah mati. Memang sih, pertemuan seminggu yang lalu itu sedikit mengobati kekangenan saya, tapi tidak semua. Kebanyakan, kami hanya membicarakan hal-hal yang nggak penting saja. Bertukar kabar karena lama tidak berjumpa. Saya kepengin kembali membicarakan absurditas macam yang saya lakukan bersama Asep dan oom Bob. Kadang, hal itu bisa membuat otak kembali cemerlang loh, percaya deh! Iya, hal-hal itu membuat kita bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Makanya, oom Bob, Asep, ayo dong kapan kita mau cangkruk-cangkruk lagi?! Kangen nih mendengarkan teori dan opini-opini kalian!

Oh ya, buat oom Bob!, met ultah ya! I can't say anything other than, "Wishing u all the best in life!"

Thursday, July 05, 2007

Judul Luar Biasa Untuk Pilem Biasa

Setelah beberapa lama nggak pernah nonton pilem Indonesia di bioskop sejak Realita Cinta dan Rock & Roll, akhirnya telor itu pecah juga. Kemaren bersama beberapa temen kantor saya nonton pilem produksi Rudi Soedjarwo yang judulnya cukup luar biasa : “Maaf, Saya Menghamili Istri Anda”.

Terus terang, saya cukup penasaran sama MSMIA. Habis, Sinema Indonesia sampe ngasi dua setengah bintang buat pilem besutan Monty Tiwa ini. Padahal, saya tahu bahwa MSMIA dibuat dalam rentang waktu yang relatip singkat. Syutingnya aja cuman 7 hari doang. Artinya, bujetnya jelas-jelas super duper rendah.

Iya, I know, kita emang ndak bole ngeliat mutu pilem sekedar dari budget serta pengerjaan. Bisa aja kan pas produksi dimulai, para kru en pemainnya lagi berada dalam bioritme tertinggi yang kemudian mendukung kualitas pilem jadi soooo good. Jadi, pada akhirnya saya nonton juga deh ini pilem.

MSMIA berkisah seputar Dibyo (Ringgo Rahman) yang pengangguran tapi demen ngegaet cewek. Suatu ketika, untuk mendapatkan makan gratis, Dibyo crashing a birthday party. Saat melihat Mira (Wulansari), gemuruh napsu di dada Dibyo bergolak. Ia pun nekad berkenalan dengan Mira berbekal rayuan gombal (this part reminded me of “Jomblo”). Besoknya, si Mira pun keluar dari kamar kos Dibyo masih mengenakan baju yang dipakainya semalam. Yah, Anda tebak sendiri deh apa yang terjadi. Yang jelas, 2 bulan kemudian Mira hamil.

Waktu mengabarkan kehamilannya, Mira membawa kabar tambahan bahwa statusnya adalah istri orang, meskipun pisah ranjang. Alhasil, Dibyo kelabakan. Apalagi setelah mengetahui bahwa suami Mira adalah seorang pemimpin preman Batak, Lamhot xxx (disensor oleh LSF). Berbagai cara lantas ditempuh Dibyo untuk mencoba mengabarkan kepada Lamhot bahwa dirinya telah menghamili sang istri, yang malah membuatnya makin terjerumus ke dunia kepremanan.

Waktu ada yang bilang bahwa pilem ini lucu, saya berharap bahwa saya akan tertawa ngakak, kayak waktu saya nonton Jomblo. Sayangnya, harapan tinggallah harapan. Bukannya saya mau bilang kalau ni pilem ndak lucu, lucu kok. Cuman, buat saya kadar lucunya masih kurang. Gregetnya kurang pas. Trus, ada yang berkesan terlalu dipaksain juga lucu-lucuannya.

Plot dan jalan cerita yang diusung juga kok terasa terlalu asal ya? Kayaknya Monty Tiwa nggak serius nih waktu nulis skenario nya. Jangan-jangan dibuat hanya dalam waktu hanya 7 jam? Hiii... Habis, semua terasa begitu cepat dan sedikit ndak masuk akal. Pertemuan pertama dengan Mira kok langsung ngamar sih? One night stand masuk akal lah, tapi mereka pacaran loh! Terus, cerita tentang preman itu juga kayaknya agak-agak gimana gitu. Kurang riset ya, bang Monty? Satu lagi, perutnya Mira kok ndak besar-besar juga ya? Padahal kalau ditotal, paling nggak dia sudah hamil 4 bulan loh. Emang belum keliatan ya?

Yang paling bikin sedih itu sound dan sinematografi pilem ini. Soundnya itu loh, saling tumpang tindih. Kadang pelan, kadang keras sampe bikin kuping pekak. Antara backsound dan dialog suka bertanding sendiri. Pas harusnya backsoundnya dominan, eh malah minimalis banget. Sinematografinya juga payah. Kayak pilem yang dibikin amatiran, persis pilem garapan saya dulu waktu kuliah, yang suka goyang-goyang akibat tangan sang kameramen tremor parah. Udah gitu, angle pengambilan gambarnya juga aneh. Mungkin mereka maunya keliatan artistik, tapi di mata saya jatohnya bodoh. Kadang objek utama ada di tengah, kadang di pinggir, dan kadang malah kepotong separoh. Nah loh... Pada akhirnya saya hanya bisa membatin, ”Mau gimana lagi, pilem 7 harian sih!” Yah...

Saya juga jadi baru ngerasain bahwa Ringgo itu emang over-exposed. Di Jomblo, saya sangat mengagung-agungkan Ringgo yang meski seorang pendatang baru, tapi dia bisa bermain ekselen. Jauh melebihi senior-seniornya macam Christian Sugiono dan Dennis Adishwara (maap, Rizky Hanggono nggak masuk itungan karena menurut saya dia nggak pantes jadi aktor). Saya juga masih suka waktu dia maen di FTV Ujang Pantry. Feel-nya masih dapet. Di sini, memandang Dibyo saya serasa memandang Agus beberapa tahun kedepan. Bukan hanya karakter di pilemnya, cara Ringgo memerankan Dibyo bisa dibilang mirip-mirip waktu dia memerankan Agus.

And yeah, memang ndak ada moral yang pengin disampaikan sama pilem ini. Malah kesannya jadi nyuruh para penontonnya untuk, “Udah hamilin aja bini orang, masi bisa dibawa lari kok meski kudu babak belur dikit!” Yaelah... Malesbangetdotcom! Sebenernya, saya sih melihat bahwa MSMIA ingin sedikit memasukkan unsur nasionalisme di sini. Bahwa Indonesia itu satu, ndak perlu terpecah-pecah antar suku. Sayangnya, unsur itu sama sekali ndak terpercik sepanjang awal sampai nyaris akhir MSMIA. Cuman beberapa menit terakhir yang membuat saya ngeh bahwa pilem ini punya ”sedikit” pesan moral.

Eniwei, nice try lah this movie. Kalau dibikin lebih serius lagi, saya kira bakal lebih bagus hasilnya. Yang jelas, saya tetep lebih milih nonton pilem ini daripada komoditi-komoditi bikinan Punjabi dkk itu yang cuman ngurus dunia persetanan. Saya memang mendukung perfilman Indonesia. Tapi saya ndak bakal mendukung pembodohan massal Indonesia.

Oh iya, satu lagi pesan saya, wahai para produser Indonesia, berhentilah membuat pilem kilat 7 hari! Niat dikit napa sih?!



Monday, June 25, 2007

Buktikan Munahmu!

Tahu iklan gudang garam merah? Yang versi sekelompok anak muda naek kereta? Yang ada Ferdy Nuril nya itu loh! Ring a bell? Saya kok nggak suka sama iklan itu ya? Di mata saya, kesan yang ditampilkan P-A-L-S-U banget. Kesan seorang cowok yang sok care dan sok baek hati hanya karena dia memberikan kursinya kepada seorang ibu tua.

Kalau saya lihat, si pembuat iklan pengin nampilin sosok Ferdy Nuril sebagai karakter anak muda yang penuh idealisme tapi masih memiliki kepedulian besar sama sekitarnya. Sayang banget, di mata saya jatuhnya malah jadi negative. Saya sih nggak masalah dengan episode pertama iklan ini (malah, saya nggak begitu peduli dan menganggap iklan ini so-so aja). Ya okelah, seorang anak muda yang nungguin ibunya pulang dari pasar emang nggak begitu keliatan munak. Tapi, nggak keliatan spesial juga sih.

Di episode kedua, ditampilkan Ferdy Nuril dan temen-temennya berlarian menuju stasiun kereta. Ketika mereka mengantri di depan loket tiket kereta, nampak seorang pria yang sedang melakukan transaksi dengan seorang calo. Kemudian, fokus dialihkan kembali ke Ferdy yang memandang transaksi tersebut dengan tatapan judging.

Di scene selanjutnya, Ferdy dan teman-temannya memasuki kereta dan mengambil tempat duduk yang tersisa. Tak berapa lama, seorang perempuan tua datang. Perempuan tua ini terlihat kebingungan mencari tempat duduk yang kosong karena apparently semua kursi telah terisi. Kamera kemudian meng-close up seorang bapak paro baya yang mengangkat koran untuk menutupi wajahnya. Pura-pura nggak ngeliat, maksudnya. Kamera balik lagi ke Ferdy yang celingak celinguk ngeliatin orang-orang di kereta, mencari seseorang dari mereka yang mau ngasih tempat duduk buat ibu ini. Karena nggak ada yang mengangkat pantatnya, si Ferdy kemudian berbaik hati berdiri dan menyilakan ibu itu untuk duduk. Wajah sang ibu sontak berseri-seri dan melemparkan pandangan pada Ferdy, "Aauuuw...such a nice boy!"

Bweeehh, adegan ini malah buat saya berpikir bahwa Ferdy nggak lebih dari sekedar cowok munafik. Ya iyalah, dia tuh nggak nolong si ibu dengan hati suka rela. Habis, kalau emang dia niat nolongin, ngapain juga pake celingak celinguk nyariin ada yang mau ngasi tempat duduk kagak. Kalau mau nolong tuh ya dari awal dia tahu si ibu nggak dapet tempat duduk, ya dia aja dong yang langsung berdiri. Lagian, kenapa juga bapak-bapak itu dijadiin bandingan. Kalau emang mau sok pake norma kesopanan, harusnya kan yang lebih muda yang ngalah. Ya emang sudah seharusnya dong dia yang berdiri.

Udah gitu, yang bikin saya lebih empet, dia senyam senyum lagi dengan muka sok-jadi-orang-terbaik-di-dunia. Berasa sok baek hati loe? Ihh...kesel deh saya. Saya jadi mikir, jangan-jangan Ferdy ini ada maunya ngasi tempat duduk sama si ibu. Misalnya, di deretan belakang ada seorang cewek yang cakep banget. Jadi, dia belagak heroik buat narik perhatian si cewek. Kalau berdiri kan ada alesan buat bergerak kesana-kemari. Jadi, pas kereta udah bergerak, dia deketin deh bangku si cewek dan ngajak kenalan. *ngayal mode on*

Yaaahh, emang sih ini pandangan subjektip saya aja. Belun tentu banyak yang sependapat sama saya. Tapi, mbok ya para pembuat iklan itu bisa mempertimbangkan, kesan apa aja yang muncul setiap detil gambaran yang ditampilkan. Inget, komunikasi itu bisa dipersepsi laen loh sama setiap orang. Kan setiap orang punya frame of preference dan field of experience yang beda-beda. Nah, kalau kebanyakan orang punya FoP dan FoE yang sama dengan saya, gimana?

Mimpi Juga Butuh Duit

How...how...gimana nih pendapat kalian sama beberapa artikel yang sudah saya muat di bawah? Keren nggak shyeeeeh?! Hehehe... *narsis mode on*

Sebenernya, artikel-artikel itu merupakan salah satu mimpi yang nggak kesampaian lho. Hhh... *pandangan menerawang* Duh, kalau ingat-ingat itu masih miris juga sih. Padahal, semua sudah terencana dengan baik. Semua sudah terkonsep dengan baik. Strategi marketing sudah dirumuskan. Tapi, tetep aja kecentoknya sama satu hal, DUIT.

Kurang lebih setaon yang lalu, saya dan bapak saya merumuskan sebuah majalah yang menurut hemat saya bisa jadi sebuah sumber penghasilan yang lumayan. Setelah digodog beberapa bulan, semua telah dikonsepkan dengan baik. Mulai dari bentuk majalahnya, content nya, sampai ke strategi marketing.

Saya sudah mulai bergerilya, dari pengumpulan materi, layout halaman sampai melobby ke beberapa orang untuk melancarkan strategi marketing. Bocoran dikit deh, majalah ini ditulis dalam bahasa inggris dengan content nasional dengan segmen youngster age 15-22. (Rencananya,) bakal diedarkan di SMA dan kampus-kampus di Jawa Timur (untuk permulaan), primarily yang punya embel-embel standar internasional. Wah, pokoknya sudah terjadwal dengan baik deh. Apalagi, bapak saya punya background pekerjaan pendidikan. Jadi, dia tahu betul seluk beluk dunia persekolahan dan bagaimana bisa menyiasati usaha kami ini menjadi menguntungkan.

Saking semangatnya, saya sampek bela-belain menunda mimpi saya yang lain untuk mewujudkan mimpi bersama ini. Nyaris 100% effort saya keluarkan untuk majalah yang sedianya akan diberi nama ZigZag Magazine ini. Kenapa nggak 100%? Hhh...hard to say this...karena di dalam hati sebenernya saya tahu mimpi ini akan susah direalisasikan. Kenapa sih saya sedemikian pesimisnya? Bukannya pesimis, tapi ada satu hal yang kurang dari rencana kami, D-U-I-T! Usaha sebesar bikin majalah, emangnya butuh duit 5 or 10 jeti? Kagak lah! Untuk bikin majalah itu, kamu harus siap-siap rugi paling nggak 6 edisi awal, which means not a small amount of money. Emang kamu kira berapa ongkos cetaknya, pekerjanya, lobinya, dll?

Iya, bapak saya memang menjanjikan akan mengusahakan sejumlah uang yang dibutuhkan. Dengan catatan, rumah saya yang mayan besar itu kejual. Namun buktinya, udah nyaris 4 taon nih, tuh rumah masih aja setia sama majikan lamanya. Padahal kami sekeluarga sudah mengikhlaskannya untuk diasuh orangtua lain. Dengan iming-iming 1,2 M tepatnya. Iya, saya akui, my family have some financial problem. Biasalah, namanya juga wiraswasta, ada masa di bawah ada masa di atas. To overcome the situation, we decided to sell our house. Tapi herannya, sudah 4 taon kami sekeluarga berusaha ngejual si rumah, kok ya ndak laku-laku juga. Alhasil, selama empat tahun terakhir hidup keluarga kami lumayan getir. Setelah empat semester kuliah dibayarin, saya mulai membiasakan diri membayar semua pengeluaran sendiri. Padahal gaji saya sebagai buruh part-time sama sekali ndak besar (waktu itu cuman 500 rebu sebulan).

Ndak apa-apa. Yang penting keluarga kami masih rukun. Ya, memang ada banyak perselisihan di sana-sini, tapi kami masih bisa bersama-sama bergandengan tangan kok. Itu yang saya bangga sama keluarga saya. Sama bapak saya, sama ibu saya dan juga sama kedua kakak saya.

Iiihh...kok jadi ngomongin masalah itu sih? Back to topic deh. Intinya, saya rada ndak yakin juga sama keberlangsungan rencana ZigZag ini. Saya bertahan karena itu adalah mimpi bersama saya dan bapak saya. Saya ingin menyenangkannya dengan tinggal dan berusaha mewujudkan mimpi itu. Dan akhirnya, ketika deadline tiba, ternyata lubuk hati saya benar. Mimpi saya tertunda (saya ndak bilang ndak terwujud loh ya). Rumah masih ndak terjual, usaha sampingan bapak saya yang di Kalbar juga belum menunjukkan hasil. Jadi, mangkraklah itu majalah. Padahal, artikelnya banyak yang sudah jadi. Banyak halaman-halaman yang sudah terlayout dengan indah. Padahal, saya sudah punya ikon-ikon khas ZigZag untuk halaman Zodiak (hehehe...).

Hhh...ya sudahlah, mau digimanain lagi. Saya nelangsa terus juga ndak bakal nyelesaiin masalah kan. Satu yang saya sadari, mimpi itu ternyata juga butuh duit ya? Enak aja orang yang bisa mewujudkan mimpi wiraswasta mereka karena ketersediaan sarana satu ini.

Occho, salah satu karakter di 20th Century Boys pernah bilang, "Satu-satunya jalan untuk mengatasi depresi adalah dengan terus berjalan". Saya ndak depresi kok, saya hanya berusaha untuk terus berjalan. Mimpi ZigZag nggak saya buang. Masih ada kok, cuman sekarang lagi saya simpan di suatu tempat, menanti untuk diwujudkan.

Sekarang, saya sedang memupuk mimpi baru. Dan saya berjanji sama diri saya sendiri untuk mengusahakannya sekeras mungkin. Apa sih mimpi itu? Er-ha-es!! Kata orang, pamali kalau dibilangin sekarang. Nanti ya, kalau mimpinya udah kewujud. Masih lama tapi...