Tiga minggu yang saya habiskan di ibu kota Indonesia ini membuat saya mabuk kepayang. Benar-benar membuat jantung saya berdegup kencang di setiap laju waktunya.
Mungkin beberapa orang bilang saya gila karena jatuh cinta dengan kota yang panas, highly polluted, macet, mahal dan kejam ini. Tapi, cinta memang buta. Bukannya kapok, hasrat saya malah semakin besar untuk dapat meraih cinta kota ini.
Hari pertama di Jakarta, saya sudah mengarungi belantara kota dengan angkot, yang saya tahu hanya dari pesan beberapa orang. "Nanti naek angkot ini ya, yang warna biru. Trus bilang aja turun di sini. Bla bla bla..." Untung bagi saya, pesan-pesan tersebut nggak ada yang mbleset. Alhasil, saya nggak sampai nyasar.
Hari kedua, seperti yang saya ungkapkan di postingan bawah, saya mengikuti tes reporter di Tempo. Yap, saya terjegal oleh kemampuan yang selalu mendapatkan nilai enam sejak duduk di bangku esde. Bweeeh!
Selama di sana, saya mengalami dua kali interview lagi. Yang pertama di sebuah perusahaan pialang saham. Awalnya, perusahaan ini menawarkan posisi sebagai seorang PR Officer. Tapi, di balik gemerlap kata-kata Public Relation, ternyata tugas utama saya adalah telemarketing, alias mencari klien yang bersedia menanamkan modal sebesar 100 jeti. Hah??!! PENIPUUUUUUU!!!
Hu-uh!! Padahal saya dengan naifnya sudah berdandan sok cakep, pake blazer segala! Iya..iya, itu emang blazer pinjeman, tapi tetep saja saya kelihatan cakep. ^^
Sayangnya, kecakepan saya luntur oleh keringat. Sehabis interview yang selesai jam sebelas siang, saya bingung harus kemana. Pasalnya, saya berniat nunut saudara saya yang pulang kerja jam setengah enam sore. Saya kudu nunggu selama enam setengah jam! Nunggu sambil bengong? Nggak lah yaw!
Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke Blok M Plasa. Dasar saya nggak tahu jalan, saya nyasar ke Pasaraya Grande yang berada di kutub berlawanan dengan Blok M Plasa. Saya pun muter-muter nggak karuan di bawah terik matahari. Alhasil, kaki lecet, baju basah oleh keringat, bau menyengat, wajah saya pun pekat.
Meski demikian, saya nggak kapok datang ke Blok M Plasa. Malah, plasa itu jadi tempat favorit saya untuk menghabiskan waktu. Sekarang, saya nyaris mengenal semua sudut terminal, plasa dan mal Blok M. Malah, saya sudah hapal beberapa trayek metromini. Huahahaha...nggak penting ya?
Speaking of metromini, saya jadi ingat satu kejadian mengerikan. Ceritanya, karena sebuah sebab saya harus pulang sedikit malam dari terminal Blok M. Jam sembilan, tepatnya. Waktu itu arus metromini dan kopaja memang sudah mulai sepi.
Ketika saya mendapatkan metromini 57 jurusan Kampung Rambutan, hanya ada tiga orang di dalamnya, termasuk saya. Saya kemudian menghempaskan pantat di kursi tengah dekat jendela kanan, tempat favorit saya. Ketika sedang asyik-asyiknya memelototi jalanan, seorang pria tiba-tiba duduk di sebelah saya.
Saya memandang berkeliling dan mendapati pemandangan bahwa masih banyak bangku yang kosong. Tapi, saya yang berhati seputih kapas (huueekk!) nggak berpikiran macam-macam.
Hanya satu hal yang membuat saya sedikit sebal. Pria di sebelah saya itu duduk sangat dekat sehingga membuat saya tergencet. Apalagi di dinding metromini ada sebuah paku berkarat yang menonjol. Alhasil, saya pindahkan tas yang tadinya saya letakkan di paha ke sisi kanan tubuh saya untuk melindungi diri dari baku berkarat tadi.
Ketika berusaha untuk tidak memikirkan gencetan itu, saya merasa ada sesuatu menggesek-gesek paha saya. Saya menoleh pada pria di sebelah. Tangan kanannya sedang memegang map yang ditempelkan erat di dada. Namun, saya yakin seratus persen kalau di balik map itu, ada tangan kiri yang sedang menggerayangi paha saya.
Dia balas memandang dengan pandangan sok tak bersalah. Kesal, saya angkat satu kaki supaya pria itu tidak bisa lagi grayang-grayang. Tangan itu kemudian diam. Namun, tak berapa lama ia beraksi lagi. Astaganjing!! Saya langsung mengangkat kedua kaki saya lebih tinggi. Maksudnya jelas, supaya ia tidak bisa menjangkau paha saya.
Ternyata, tangannya masih terus beraksi! Saya sumpahin pria itu mandul tujuh turunan!! Nggak tahan, saya bangkit berdiri, sambil melotot dan berteriak "Permisi!", saya kemudian segera berpindah ke bangku lain jauh di depan si mesum gila itu.
Saya nggak habis pikir bahwa kejadian seperti itu bisa terjadi pada saya. Saya kira hal tersebut hanya terjadi di film atau novel. Aaarrgh!!! Jijay abis deh! Saya sebenarnya kepingin mengeluarkan segala sumpah serapah andalan plus tonjokan maut saya. Tapi saya berusaha menahan diri. Pasalnya, itu bukan daerah yang saya kenal. Sedikit saja berbuat salah, bisa jadi saya berakhir termutilasi dengan serpihan tubuh yang menyebar di seluruh sungai di pelosok Jakarta. Hiiii....
Huhuhu...kekejaman Jakarta yang paling menyebalkan menurut saya. Saya nggak keberatan dengan jauhnya jarak, panasnya kota atau macetnya lalu lintas. Toh, kemana-mana saya sudah bisa sendiri. Tinggal bertanya, beres! Selama di Jakarta, saya jarang banget dianter-anterin. Mau kemana-mana pun saya selalu naek angkot sendiri. Dan saya selalu sampai di tujuan.
Nggak masalah juga meski rumah saudara-saudara saya jauhnya naudzubilah. Untuk bisa ke kota saya harus menempuh perjalanan selama dua jam! Itu lama perjalanan Surabaya-Malang! Jadi, setiap hari sama saja saya bolak-balik Malang-Surabaya.
Interview kedua saya dapatkan dari Detikcom. Ini perusahaan termasuk kurang ajar juga lho. Masak di saat saya sudah mau pulang ke Surabaya, mereka menelpon dan menyuruh saya untuk datang keesokan harinya untuk mengikuti interview. Walhasil, tiket kereta saya hangus. Huhuhu... 180 ribu melayang sudah. Mana ternyata setelah proses interview saya mendapat kabar bahwa saya nggak keterima bekerja di sana. Hu-uh! Sia-sia 180 ribuku...
Yayaya...nggak apa-apa, saya berusaha bertahan dari kegagalan. Yes, I screwed this time. So what, many people did. That's life. This failures did not mean that my life is ruined, didn't it? One, two or three failures didn't mean that I'll have to fail all my life, rite?
Saya memang jatuh cinta dengan Jakarta. Saya jatuh cinta dengan gegap waktunya, dengan cara Jakarta menghabiskan hari-harinya, dengan cara Jakarta memperlakukan kekasih-kekasihnya. Namun, cinta saya memang harus dipendam dahulu. Saat ini, saya tidak bisa meraih Jakarta. Saya harus dihadapkan pada sebuah mimpi lain. Yang lebih mendesak untuk diwujudkan. Yang lebih dekat pada kenyataan.
Saya tidak gagal meraih cinta saya. Saya hanya menundanya. ***
4 Cara Cepat Mengarang Dialog Yang Realistik
1 week ago






No comments:
Post a Comment