rss
email
twitter
facebook

Wednesday, December 27, 2006

Indonesia, The New Champion ... of Corruption

Speaking about korupsi, Political Economic Research Consultancy (PERC) melakukan survei pada tahun 2005 mengenai negara-negara di Asia. Hasilnya, Indonesia menempati posisi jawara sebagai negara paling korup di Asia. Hip...hip...hurray!

Gile, hebat ya negara kita. Di tengah keadaan yang serba sulit ini, masih sempat menorehkan prestasi "membanggakan". Ckckckck...

Korupsi memang sudah mendarah daging di tubuh bobrok negara ini. Akar-akarnya terlalu dalam mencengkeram erat setiap instansi-instansi yang mengurus hasrat hidup orang banyak. Yah, saya jelas-jelas menuduh para pelaku instansi pemerintah sebagai salah satu akar kebusukan negeri bernama korupsi.

Sewaktu berada di Jakarta, saya sempat bertukar kata dengan salah seorang kawan semasa SMA yang sekarang bekerja sebagai pegawai negeri di salah satu instansi keuangan. Berdasarkan keterangannya yang bisa dianggap sebagai saksi mata langsung, huhuhu...saya jadi kepengin menangis saking sedihnya mendengar praktek korupsi yang dilakukan di instansi pemerintah tersebut.

Di mana-mana, dari posisi paling rendah sampai paling tinggi sekalipun, korupsi terjadi. Ibaratnya, kegiatan para "abdi negara" ini sudah membudaya. Dari apa yang saya dengar dari kawan saya, sejak pertama kali bekerja di instansi cukup "basah" itu, ia sudah diajari untuk melakukan korupsi secara kecil-kecilan. Tanpa melakukan apa-apa, atau hanya melakukan apa yang menjadi tugasnya saja, ia sudah bisa mendapat "amplop" yang tidak jelas untuk apa.

Terkadang, ia juga menjadi sasaran dari tindak korupsi itu sendiri. Misalnya, saat kawan saya ini hendak mencairkan uang bonus Lebaran. Petugas yang seharusnya mencairkan dana tersebut menolak untuk melakukannya (yang mana sudah menjadi tugasnya, dan ia digaji juga untuk itu) jika tidak ada uang pelicin. Coba deh pakai sedikit akal, untuk apa coba ia digaji kalau tidak mau melakukan pekerjaannya? Grrrr... Benar-benar bikin empet.

Bukan hanya itu, banyak hal-hal yang ia ceritakan pada saya yang menunjukkan betapa bernanahnya kondisi instansi pemerintah sekarang ini. Betapa budaya korupsi ini sudah melewati tahap yang menjijikkan. Yang paling atas meminta duit segini, di bawahnya masih meminta lagi. Hingga, begitu sampai ke rakyat biaya tersebut pun menggunung. Yang sengsara, jelas rakyat lagi!

Repotnya, bagi insan yang merasa tidak nyaman dengan keadaan ini, pasti dihadapkan pada situasi yang mirip judul film Warkop DKI, maju kena mundur kena. Pasalnya, jika menolak budaya itu, tindakan pengucilan pasti akan terjadi. Yang paling parah, seseorang ini bisa dimutasi ke tempat yang tidak menyenangkan. Hari ini melakukan sesuatu yang ekstrim, besok surat mutasi sudah nangkring di meja kerjanya.

Namun, jika mengikuti budaya tersebut, hati nurani pasti akan terluka. Bweeehh...Indonesia ini aneh ya, semua serba terbalik. Yang baik tersingkir, yang salah bertahan.

Pemerintah sih bukannya tidak berusaha memberantas korupsi. Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 dengan Taufiequrachman Ruki selaku ketuanya, adalah tindak nyata pemerintah dalam memberantas korupsi. Meski bagi saya pembentukan ini hanya sekedar resmi-resmian saja. Biar kelihatannya pemerintah menentang korupsi. Padahal, saya yakin di tingkatan pemerintah saja korupsi pasti terjadi. Dalam skala yang lebih besar, malah.

Salah satu kebijakan KPK yang hendak diberlakukan adalah Statutory Declaration (SD). SD adalah sebuah sistem atau perangkat hukum yang mewajibkan setiap pejabat negara dan pegawai negeri melaporkan harta kekayaannya, baik yang atas nama sendiri maupun yang dimiliki atas nama kerabat atau keluarganya, sepanjang perolehannya, baik sebagian maupun seluruhnya, berasal dari harta kekayaan pegawai negeri dan pejabat negara yang bersangkutan. Keluarga atau kerabat yang dimaksud mencakup orang tua/mertua, istri/suami, anak/menantu, dan cucu.

Well, saya rasa pelaksanaan SD nggak bakal menjaring banyak koruptor. Pertama, yakinkah kita akan sumpah yang dilakukan oleh para insan yang sudah dibutakan oleh kekayaan duniawi itu? Lagipula, bagaimana kita yakin bahwa apa yang dilaporkan itu benar. Bagaimana kita tahu bahwa harta benda hasil korupsi tidak disembunyikan di tempat lain? Dengan nama lain? Misalnya, diinvestasikan di sebuah perusahaan bursa saham, yang mana nama-nama kliennya sangat dirahasiakan.

Meski sudah dibentuk sebuah lembaga bernama KPK, nyatanya masih banyak koruptor yang lenggang kangkung di Indonesia. Masih banyak orang yang tidak sungkan-sungkan melakukan tindak korupsi. Gimana mau sungkan, wong sudah mendarah daging. Sudah biasa, sudah lazim. Menurut saya sih, kalau mau menghilangkan yang namanya korupsi, berantas dong dari akar-akarnya.

Yang saya maksud akar di sini adalah sistem. Coba deh telaah lebih dalam lagi sistem-sistem yang ada di kalangan pegawai negeri. Sistem itu dibuat sedemikian buruk sehingga mewujudkan celah yang membuat tindakan korupsi dapat dilakukan. Misalnya nih, adanya bukti-bukti nyata yang menyebutkan adanya PNS yang memiliki pekerjaan ganda. Maksudnya, PNS ini memiliki keanggotaan sebagai pegawai negeri di dua atau lebih instansi.

Selain itu, ada pula pegawai negeri yang sudah meninggal atau sudah memasuki masa pensiun namun gajinya masih tetap dibayarkan. Banyak pula yang tidak pernah masuk kantor selama bertahun-tahun namun tetap memperoleh gaji. Bukti-bukti ini dibeberkan sendiri oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Taufiq Effendi. Alhasil, negara mengeluarkan uang puluhan triliun untuk membayar gaji semu tadi. Boros banget kan? Coba bayangkan kalau uang sebanyak itu digunakan untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat miskin. Huhuhu...kenapa sih banyak orang egois di dunia ini? Pikirin dong keadaan orang lain, yang berada jauh di bawah!

Alhasil, saya sependapat sekali dengan adanya pemikiran untuk mengurangi jumlah pegawai negeri sipil. Menurut saya, tindakan ini dapat sedikit menyelamatkan negara kita. Dengan demikian pengeluaran negara dapat diminimalisir, atau paling nggak pos pengeluaran dapat dialihkan menjadi subsidi untuk rakyat kecil (asal nggak dikorupsi lagi yaaa....).

Untuk rekrutmen pegawai negeri, saya rasa pemerintah benar-benar harus mengawasinya. Jangan lagi ada titipan, nepotisme atau apapun itu yang menghalangi negara untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas, baik dari segi otak maupun akhlak.

Dengan adanya kebijakan seperti ini, saya yakin negara kita akan sedikit membaik. Pengurangan pegawai negeri akan memaksimalkan kinerja. Well, kita tahu sendiri kan bagaimana pekerjaan pegawai negeri itu. Banyak yang hanya cangkruk-cangkruk nggak jelas, menemani istri para bos belanja atau malah hanya melakukan studi banding ke luar negeri dan berbelanja daripada mengurus kehidupan orang banyak.

Jadi, kapan ya kebijakan seperti ini benar-benar direalisasikan? ***

5 comments:

Anonymous said...

salut sama tulisanmu jup, emang bener korupsi di Indonesia sudah jadi budaya yang susah diberantas. menurutku untuk memberantasnya harus dimulai dari pendidikan ya.. sebab meskipun gaji PNS sudah dinaikkan dengan asumsi untuk mencegah mereka tidak korupsi, toh tetap gak berdampak, semua itu bersumber pada pendidikan atau budaya mereka dalam melihat diri dan masyarakatnya. dalam kultur jawa misalnya, kita sejak kecil dibiasakan atau dikenalkan dengan budaya "duwe isin" atau punya malu, dan pada tahap tertentu menumbuhkan rasa sungkan untuk bisa "bertoleransi". Ini dari buku yang aku baca: Etika Jawa, karangan Romo F.Magnis Suseno. akibatnya ketika kita hendak bertindak apapun, maka kita diharapkan untuk "bertoleransi" atau punya rasa sungkan, termasuk ketika kita berhubungan atau minta pertologan seseorang. nah rasa sungkan atau "toleransi" tersebut diwujudkan dalam bentuk "balas jasa" atau yang sekarang kita kenal dengan uang pelicin atau uang administrasi. jadi pendek kata, toleransi dalam kultur yang disalahartikan ini bermakna untuk "untung sama untung". Lebih-lebih pepatah Jawa mengatakan "Jer Besuki Mawa Beya" artinya segala sesuatu itu ada biaya atau upayanya. Nah dari sinilah budaya high cost itu timbul. Suap dan korupsi menjalar sebagai suatu bentuk budaya dan susah untuk dihilangkan. cara satu-satunya ialah dengan merubah cara pandang masyarakat Indonesia mengenai diri, orang lain, dan lingkungannya. melalui pendidikan seharusnya ditumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab terhadap tugas. Semua orang mesti kerja sesuai jobnya, tidak perlu menunggu upah "toleransi" dari orang lain. Bahwasanya hal itu justru bukan penghargaan kepadanya, melainkan pelecehan, sebab dia dan pekerjaannya bisa dibeli dan dinilai dengan uang.
barangkali harapanku ini terlalu muluk, sebab di institusi pendidikan pun korupsi dan uang pelicin merajalela. contohnya seperti yang akan aku hadapi di FISIP. minggu depan akan sidang skripsi, dan aku mulai berpikir untuk mengalokasikan sebagian honor tulisanku untuk operator LCD. Meskipun tidak besar tapi itu adalah contoh dari "uang toleransi' alias uang pelicin. sebenarnya aku bisa memilih untuk tidak memberinya "uang toleransi", tapi sayang budaya "sungkan" belum sepenuhnya lepas dari kepalaku, dan itu artinya masih ada benih-benih korupsi dan suap-menyuap di kepalaku. jika aku jadi PNS, barangkali benih itu makin subur dan aku akan jadi koruptor selanjutnya.

pOe said...

hahaha, aku juga kaget sama balesanmu yang nggak kalah panjang ternyata...

iya rin, makanya aku bilang sebenernya korupsi itu sudah membudaya. tapi kamu juga bener, bahwa budaya itu akarnya juga dari kita sendiri yaaa...

huh, lalu kapankah kita bisa lepas dari korupsi? apa kita perlu membunuh dulu semua orang indonesia lalu membangun indonesia yang baru???

Anonymous said...

seorang temen pernah bercerita
aku tidak tau ini bener or cuma karangannya
ceritanya dia pernah jd panitia sejenis seminar, yg pembicaranya orang jepang
trus di sela-sela acara, dia ngobrol ama tuh japanese

temen:Ksh saran dong, gmn biar indonesia bisa maju kayak negara kamu
jap:Hmmm, itu susah. kamu ga ush mikirin itu dulu. kamu mikir buat diri kamu aja sendiri.

tapi dasar si temen agak suka asal, dia maksa2 gitu.

temen:ayo dong, kasih tau tips and tricks nya....
jap:kamu maksa banget sih!
ok, aku kasih tau. ini satu-satunya cara.
bunuh semua orang yang berusia di atas 6 taon.
trus, sisanya, anak2kecil yg usianya dibawah 6 taon, kirim ke jepang.
biar kita yg didik.
kl ud gede, balikin ke indonesia.
pasti negara ini maju. bahkan melebihi jepang.
temen:#@!@##%$#^%^&*%^&*

gosip ato fakta? entahlah...

ace

pOe said...

hahahaha....aku sih setuju banget sama pemusnahan massal itu. cuman kalau masalah pengiriman ke jepang, aku nggak tahu ya. tinggal cari aja negara mana yang paling keren sebagai pendidikan umat manusia.
tapi, kita bukan TUHAN kan, yang bisa mengambil nyawa orang seenaknya?
cep, ada rekomendasi komik keren, judulnya MONSTER, karya Urasawa Naoki. Keren abizz deh!
Sama sebuah anime yang judulnya HONEY&CLOVER. Dijamin kamu bakal menyukainya!!

Anonymous said...

klo urawa naoki, aku baca semua bukunya (yg terbit di indonesia). malah yg monster, aku selese baca sblm komiknya tamat di sini. ada temen yang ngasih scanlationnya.
another work from urusawa sensei : master keaton, 20th century boys, pluto(yg ini kolaborasi ama osamu tezuka, bapaknya atom)
kl honey and clover, aku pernah liat di animax. tp sekilas gitu.
gmn death notenya?