Seumur-umur, saya nggak bakalan jadi PNS. Mungkin banyak yang mempertanyakan pernyataan saya ini. Statemen-statemen yang mengatakan bahwa PNS adalah pekerjaan yang diimpi-impikan banyak orang karena kesejahteraannya terjamin, terus terang saya sama sekali nggak peduli.
Emang, saya akui menjadi seorang PNS itu kehidupannya sedikit banyak pasti terjamin. Apalagi kalau ada kejadian tidak diinginkan seperti keluarga yang sakit, misalnya. Seorang PNS pasti mendapatkan asuransi dan bantuan dana, yang artinya bebannya sedikit banyak ditanggung oleh negara.
Dan seorang PNS sudah pasti akan terjamin kehidupannya sampai ia meninggal. Yep, PNS kan punya dana pensiun. Meskipun ia sudah tidak bekerja lagi, kehidupannya masih dijamin oleh pemerintah.
Meskipun dengan iming-iming semua itu, saya tetap menganggap bahwa PNS bukan pekerjaan yang cocok untuk saya. Kenapa?
Pertama, karena saya menganggap pekerjaan PNS sangat tidak menantang. Seringkali saya melihat PNS bekerja dengan rutinitas yang itu-itu saja. Mengerjakan sedikit pekerjaan, kemudian nongkrong-nongkrong nggak jelas dengan teman sejawat lainnya. Hhh…so boring! Dan MGB (Makan Gaji Buta) banget!
Masih ingat nggak kejadian ada razia PNS di mal-mal dulu? Lha ya kayak gitu itu, duuuh...males banget nggak shyeeeh?!
Oke...oke...mungkin banyak pihak yang nggak setuju sama saya, kesannya saya kok terlalu menggeneralisir. Iya deh, saya akui, nggak semua PNS seperti itu kok. Salah seorang kerabat saya yang menjabat sebagai kepala dinas kesehatan juga nggak seperti itu. Saya tahu sekali betapa sibuknya beliau setiap hari. Tapi, kerabat saya yang lain ya seperti judgment saya itu kok. Dan akui saja, kebanyakan juga seperti itu kan?!
Terus terang, pekerjaan yang seperti itulah yang nggak saya sukai, sudah makan gaji buta, pekerjaan yang dilakukan sama sekali tidak menantang dan sama sekali nggak membuat kita bisa mengembangkan diri sendiri. Kecuali, kalau di sela-sela pekerjaan kita sebagai PNS, kita bisa membuka usaha sendiri. Yah, kalu saya sih, mending milih buka usaha sendiri aja daripada jadi PNS.
Alasan kedua, karena di dalam instansi pemerintah itu banyak sekali aksi dan tindakan yang berlawanan dengan hati nurani saya (halah, mosyok seee???!!), yaitu semacam korupsi, kolusi dan nepotisme. Kalau yang satu ini, sudah deh, nggak usah mungkir, ini memang sudah lazim terjadi dimana-mana, baik dari tingkat yang paling rendah maupun yang sampai yang tertinggi.
Tingkat paling rendah kayak begini contohnya. Beberapa waktu yang lalu, saya hendak pulang ke Malang dengan menggunakan jasa bis umum. Di peron terminal, saya menyodorkan selembar uang seribu rupiah (biaya peron Rp 200,00). Sang penjaga peron dengan kemudian memberikan kembalian tiga keping uang logam seratus rupiah dan sekeping uang logam yang memiliki ukuran lebih besar ketimbang uang seratus rupiah tadi.
Sekilas, orang akan menyangka bahwa kembalian yang mereka terima sudah pas, dengan menganggap bahwa uang logam yang lebih besar itu adalah uang Rp 500,00. Tapi, saya nggak semudah itu tertipu. Waktu saya periksa, ternyata sekeping uang logam itu bukan Rp 500,00 melainkan Rp 200,00. Belum sempat saya mengeluarkan suatu untuk protes, si penjaga peron sudah mengulurkan tiga keping uang seratus rupiah. Saya pun terdiam.
Tapi, saya jadi menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh si penjaga peron tadi adalah sesuatu hal yang lazim dilakukan (juga mengingat bahwa saya sering mengalami kejadian yang sama). Nah, berapa orang coba yang melintasi peron tiap harinya? Berapa orang yang menyodorkan uang seribu rupiah seperti saya? Berapa orang yang kena tipu dengan modus seperti itu? 300 rupiah x 300 orang, kalikan dengan 30 hari, sama dengan 2.700.000. Lumayan juga kan? Padahal saya yakin ada ribuan orang yang melintasi gerbang peron itu setiap harinya.
Itu masih yang tingkat ecek-ecek. Kebayang kan yang terjadi di tingkat yang lebih tinggi?
Jadi, mengingat bahwa saya adalah orang yang gampang terbawa arus, saya merasa akan lebih baik kalau saya nggak pernah berusaha mengukuhkan diri saya menjadi seorang PNS. Yah, karena saya sendiri sadar bahwa kalau saya nyemplung, saya pasti ikutan ternoda. Daripada dicuci nggak bisa ilang, mending kan nggak sekalian, hehehe...
But, buat temen-temen yang memang punya keyakinan kuat terhadap diri sendiri dan tidak akan menjadi salah satu aktor pelaku korupsi, MGB dan lain sebagainya itu, saya ucapkan selamat mencoba. Semoga kalian berhasil!! GBU, guys and gals!! ***






7 comments:
podo poe....aku yo apatis ambek pns...gak minat blas!!! tapi nek wayae nganggur koyok ngene trus onok seng nawari mlebu pns gratis, aku gak bakal mikir pindo hehehe...
to greg: iyo, setuju! berarti pensiun iku mek iming2 thok yo?
to qee: halah cong, nek koen ae lak kabeh ditompo.. wes, yoopo penawaranku mlebu zigzag? eh, musik perdana ne profil FOX. engko interviewne bareng ambek aku, piye? gelem ora?
emg bener sih, smua yg kamu bilang.
tapi kalo yg udah terlanjur masuk, gimana???
aku msh menaruh sedikit harapan, (ingat, cuma sedikit).
bukan berharap menjadi pns, tapi berharap pns bisa jadi lebih baik. karena seorang sahabat yg kebetulan terjerumus di dalamnya, ternyata punya idealisme yg (buat saya) cukup untuk tidak terbawa arus itu. setidaknya tidak separah yg kamu gambarkan..
semoga idealisme teman-teman yg lain dapat dipertahankan.......
sep
dulu banyak teman2 yang berkata,"satu-satunya solusi buat bangsa ini adalah pemotongan generasi!", yang kemudian pekataan yang sama itu aq dengar kembali dari "teman" lain yang dari segi usia jauh lebih tua.
pada saat itu aq hanya berfikir, "alah bullshit apa lagi ini!"
namun akhirnya aq mulai merasakan bahwa itu benar.
bangsa ini emg bener2 sdh rusak, tidak hanya pns alias pemakan uang rakyat itu saja, tp sdh k sndi2 yg lain.
mental koruptor, budaya instant, dan penerapan2 prinsip ekonomi yg slh (meraih hasil semaksimal mungkin dengan pengorbanan yg minimal)
yaya, semoga kita bs segera merdeka
(sory, numpak lewat mbak)
(nyuwun sewu...)
bejo
mbakyu piye kabare..?? hehe
Sugeng Natal 2006 lan sugeng Warsa Enggal 2007 GBU!
U know what?
My thought is just same as u...
Kerja kurang tantangan, gaji buta..
Ada satu lagi, mengutip kata koncoku...Sabetan! hehe.
You go, girl... ;)
Post a Comment