rss
email
twitter
facebook

Thursday, November 09, 2006

My Blue Day

Today, I'm blue. Dunno, I guess sometimes we really sucks at things and do make mistakes, rite? And it so damn good to blame that on something else.

Mulai kemarin, saya berada di tanah impian saya, Jakarta. Meski dari awal tahu bahwa tidak akan bisa mewujudkan impian dalam beberapa waktu mendatang, saya tetap exciting datang ke tempat ini. Ceritanya, saya mendapatkan panggilan dari koran Tempo untuk menjalani tes di Jakarta.

Dengan semangat menggebu, dibarengi dengan kekuatan finansial yang dipaksakan, saya pun berangkat.

Sayangnya, kemenggebuan itu terhempaskan dengan sukses. Baru tes tahap pertama, saya sudah kandas. Padahal, tes tahap pertama cukup simpel, saya hanya diharuskan untuk menggambar!

Masalahnya, saya sama sekali nggak bisa menggambar. Ketika kemudian saya yang penasaran membuka sebuah buku psikologi pun, saya melihat bahwa gambaran yang diinginkan pun adalah sebuah gambar yang detail. Ugh....nggak adil!

Ah, itu kan hanya pembelaan kamu saja. Sebenarnya, kamu itu memang nggak mampu, Put. Akui saja!

Hhhh...benar. Mungkin saya memang harus menerima kenyataan bahwa saya memang nggak mampu. Nggak perlu mangkir.

Sebenarnya, yang paling membuat saya sakit hati adalah bahwa saya tidak berhasil membuktikan apapun juga. Saya kemari untuk membuktikan ego saya. Dengan mengorbankan beberapa orang. Tapi, hasilnya, NOL!

Lebih sedih lagi jika mengingat pengorbanan beberapa orang supaya saya bisa kemari. Duuuhh...kalau tahu kejadiannya seperti ini, saya nggak bakal kesini! Saya benar-benar hanya membuang uang di sini. Pasalnya, dari tempat sepupu, untuk bisa kemana-mana saya harus menaiki bus yang tiketnya seharga lima belas ribu perak. 15 rebu! Buhsyeeed!!! Dari Malang untuk ke Surabaya saja saya hanya menghabiskan duit 8 rebu perak (saya nggak pernah naek bis Malang-Surabaya vice versa, selaen ekonomi yang hujan keringet itu). Ini dalam sehari saya bisa menghabiskan 40 rebu hanya untuk transportasi saja!. Suwer, saya langsung jantungan! Hiks...

Upss...enak saja, saya nggak menangis yaaa. Saya masih cukup punya harga diri untuk tidak menangis di muka umum. Jadinya, saya pun seorang diri memasuki bioskop sebuah mal, menonton film itu sambil sesekali sesenggukan sendiri. Jadilah WTC film ketiga yang bisa membuat saya menangis (yang pertama Lion King, yang kedua The Passion Of The Christ).

Yah, itu pelem emang menyedihkan sih, tapi... There's got to be another reason to make me cry that way. Maybe, karena pacar saya juga terlihat tidak sebegitu peduli sama saya? Padahal saya sudah jauh-jauh kesini, ternyata nggak dipeduliin? Well, that hurts!

Well, eniwei, saya memang masih biru, tapi nggak apa-apa. Saya mendapatkan satu pelajaran berharga, bahwa nanti anak saya harus bisa menggambar!! ***

2 comments:

pOe said...

haven't i told you from the very first, that i am an egocentric person? well, you just never listened, are you?

eniwei, it's really not the point.

aku bukannya nggak ngerti dengan kondisimu. aku ngerti, hanya saja aku bukan tipe orang yang kemudian bisa tersenyum manis dan bilang, "nggak apa-apa kok". Sebaliknya, aku tipe orang yang menekuk muka jadi 17 lekukan, ngomel-ngomel dalam ati, nonton pelem sendiri. yah, biasalah, sakit jiwa.

meskipun aku sakit jiwa, toh aku enggak teriak-teriak di tengah jalan minta kamu untuk nganterin aku sampai rumah, atau nyeret kamu dari kantormu untuk nemenin aku nonton kan? aku cukup mengerti, atau paling tidak terpaksa mengerti atas semua kesibukanmu itu.

dan kalau kamu bertanya tentang semua hal tentang parameter peduli, jawabnya NGGAK. kamu nggak harus setiap hari nemenin, telepon, menghibur aku. kamu hanya harus pintar-pintar membaca situasi di mana pasanganmu membutuhkan itu semua. kalau kamu harus setiap hari melakukannya, kamu bakal kudu menghibur aku sehari dua kali, karena sebanyak itulah aku merasa sedih setiap kali. kamu nggak pernah tahu kan? karena aku nggak pernah bilang sama kamu, katamu. iya, bener. kenapa? karena aku nggak mau membebani kamu dengan semua keluh kesahku.

kamu selalu bilang tentang kondisimu, apa kamu tahu kondisiku? oh iya, aku lupa, aku nggak pernah bilang ya. kenapa? karena aku sakit jiwa.

Anonymous said...

aku jadi terinspirasi.
ceritamu bener-bener bikin aku sadar.
tq bgt yo bozz,
tapi aku punya satu pertanyaan berkaitan dg inspirasi yg kau berikan.
emg usia brp anak kecil sebaiknya mulai dimasukin les gambar.
ato ada rekomendasi kenalanmu yang berprofesi pemilik les menggambar, biar aku bisa tanya-tanya sendiri.
skali lagi, thx banget yo. mungkin ceritamu berguna buat masa depan anakku...
{asep}