Buat yang pengin melihat keindahan alam dengan biaya yang nggak mahal, Pulau Sempu-lah jawabannya. Kemaren saya kesana hanya berbekal 30 ribu, dan yang saya alami sama sekali nggak senilai dengan duit yang saya keluarin. Duuuhhh...meski kaki kudu lecet-lecet, njarem nggak karuan, rambut penuh pasir, asinnya bibir nggah henti-henti terjilat, saya nggak bakalan kapok mampir ke sana lagi. Diajak nginep pun saya bakal angguk-angguk antusias.
Awalnya, Aswin-salah seorang sahabat jaman SMA-iseng-iseng menawarkan untuk mengajak saya ke sana, bersama dengan para kolega di tempat dia mengajar (yang mana adalah mantan SMAnya yang juga SMA saya). Berhubung status saya lagi pengangguran penuh masalah yang butuh pelampiasan berbau alam, saya langsung okeh-okeh saja.
Senin 30 Oktober yang lalu, sekitar pukul 06.00 pagi Aswin sudah nongkrong di depan rumah, nungguin saya selesai berberes. Sebuah rekor sebenarnya, mengingat jam segitu biasanya saya masih ngorok babi sambil sibuk bikin benua Australia di bantal.
Alhasil, virus ngantuk masih mengguncang dunia saya pagi itu. Mending kalau naik libom*, ini saya dibonceng dengan adapes rotom** yang full angin! Jadilah saya merem melek sambil cubit-cubit diri sendiri supaya tetap terjaga sepanjang perjalanan.
Sesampainya di Sendang Biru, rombongan kami yang jumlahnya 26 orang langsung menyeberang ke pulau Sempu. Bersama rombongan kami, ada pula seorang bule Belanda bernama Cees (baca: Cis) yang kira-kira berusia 40 tahunan. Begitu dia memulai perjalanan ke pantai di pulau Sempu, saya langsung ngintil di belakang si bule dan pemandunya, meninggalkan rombongan saya sendiri.
Untuk mencapai pulau, kita memang harus berjalan menyeberangi hutan yang medannya cukup menyengsarakan selama kurang lebih 45 menit. Itu pun kalau hutannya lagi kering. Kalau kemarin baru dilanda hujan, bisa satu setengah jam perjalanan saking licinnya dan saking seringnya terjerembab.
Baru beberapa menit sampai di pantai Sempu, saya nggak bisa menahan diri untuk langsung nyebur ke air yang punya kadar salinitas tinggi itu. Meski lidah saya terus menerus mengecap asin, saya tetap menikmati tubuh saya yang bisa mengapung tanpa perlu banyak usaha. Sayangnya, keadaan pantai sedang surut, jadi tidak banyak deep water yang bisa didatangi.
Beberapa kali saya sempat mengobrol dengan Cees. Dia memberitahu saya bahwa di beberapa bagian pulau, banyak ikan-ikan yang sangat indah. Bahkan, ada ikan yang menurut penjelasannya—yang lebih mirip kumur-kumur itu—sebesar ikan hiu. Buhsyeeed, ikan hiu coy! Siapa yang nggak ngeri? Tapi, saya juga sangat penasaran. Dia sih enak, bisa melihat semua itu karena dia membawa kacamata renang besar lengkap dengan pipa pernapasan itu loh. Jadinya dia bisa bersnorkling ria. Lha saya? Bawa badan aja sudah syukur-syukur...
Saya kemudian menginformasikan padanya bahwa di sebelah kiri pulau, di balik karang-karang, ada open ocean yang sangat indah. "You should go there, it's beautiful," bujuk saya.
"Oh yeah? Well, maybe I really should see it," katanya dengan mata berbinar.
Saya tersenyum dalam hati. Kena kau! Katika ia sudah bersiap-siap, saya melontarkan permintaan itu, "Meanwhile, can I borrow your goggle?"
"Yes, sure!" jawab si bule mantaph. Persis seperti perkiraan saya. Hehehehe…pinter kan saya?
Akhirnya saya snorkling juga, meski kudu bergantian dengan Ivan, cowok brondong yang masih ngendon di bangku kelas 3 SMA.
But, saya nggak pernah menyesal ngerjain si bule. Karena...dia benar, pemandangan underwater itu benar-benar indah! Saya seperti melihat Finding Nemo versi natural, bukan sekedar animasi. Ada ikan yang persis banget kawannya bapaknya Nemo, dengan warna biru terang dan garis kuning.
Ada juga ikan berwarna silver yang indah banget, karena setiap kali dia bergerak, sisiknya seperti mengeluarkan warna pelangi. Saya bahkan melihat gerombolan ikan yang berenang menuju tempat kawan-kawan saya, yang kemudian (mungkin karena melihat kaki-kaki manusia) berputar haluan dan kemudian melintas tepat di bawah saya.
Belum lagi coralnya. Setiap saya melewati terumbu karang itu, ada satu atau dua ekor ikan yang melintas, menuju terumbu karang lain. Huhuhu...indah banget! Nggak terlukiskan dengan kata-kata deh. Meski hidung saya harus terus menerus kemasukan air karena nggak terbiasa dengan peralatan snorkling milik si bule, saya nggak mau berhenti.
Saya terus menerus berenang, melihat kedalaman, siapa tahu saya menemukan ikan mirip hiu seperti yang dimaksud Mr. Cees. Meski saya tidak menemukannya, saya tetap saja terkesima dengan pemandangan di bawah laut yang saya temukan. Hhh...ampeg saya jadi nggak kerasa lagi. Saya hanya bisa berdecak-decak kagum. "Oh, indahnya dunia!"
Jadi, kalau kalian memang ingin menikmati keindahan yang tidak hanya berupa air dan karang, namun juga makhluk-makhluk di dalamnya, kalau kalian sempat mengunjungi pulau Sempu, jangan lupa membawa peralatan snorkling. Nggak usah tabung udara, cukup kacamata renang gedhe itu aja, plus pipa pernapasannya, jadi kalian bisa berada di dalam air cukup lama dan menikmati ciptaan Tuhan itu. ***
* : mobil
** : sepeda motor
*** : end of story
4 Cara Cepat Mengarang Dialog Yang Realistik
1 week ago






3 comments:
Mana gambarnya ?? maaf harus ada bukti otentik duoongg .... hehehe
Kapan2 ajak'en aku nang kono, aku yo nganggur jeh ...
Damn!
kamu melakukannya lagi.
seperti yg sudah pernah kamu lakukan ketika kamu nyritain puncak semeru.
eh, komen yg di atas dari asep loh
Post a Comment