rss
email
twitter
facebook

Sunday, October 29, 2006

Dewasa Itu Menyakitkan


Yap, saya sudah berumur 22 tahun sekarang. Tanggal 22 yang lalu, tepatnya. Pas bukan, antara tanggal lahir saya dengan usia saya sekarang. Kalau menurut pandangan umum sih harusnya saya merasakan sukacita. Namun, rupanya saya tidak cukup umum karena nyatanya saya tidak merasakan apapun. Hanya kehampaan yang datang menyapa dan memberikan senyum manisnya..

Memang, hari itu cukup menyenangkan. Ups, sori, akhir hari tepatnya. Coz, sesiangan saya nggak melakukan apapun selain mengantarkan nyokap tercinta ke pasar berburu bahan-bahan makanan untuk menyambut Lebaran. Yah, meski nggak bisa dipungkiri sih bahwa ketokan sms dan dering telepon kerap kali membuat saya senyam senyum sendiri.

Baru malam harinya, sepulang dari gereja, saya merasakan sedikit kenyamanan. Saya berkumpul bersama dengan teman-teman lama dari SMA. Ngoceh bareng, nyemil bareng, bilyat bareng (meski hanya seorang yang mampu menyodok dengan mantaph), foto-foto nggak jelas tengah malem di depan museum Brawijaya jalan Ijen bareng, bener-bener bikin mood jadi enak.

Tapi, ketika saya kembali ke rumah, yang ada di otak saya tetap saja: hampa.

Orang-orang bilang, bahwa pada umur segini saya sudah mulai dituntut untuk bersikap dewasa. Seandainya mereka tahu betapa beratnya hal itu. Tidak perlu berumur 22 untuk menyadari bahwa jadi dewasa itu nggak enak. Baik itu dewasa beneran atau pura-pura dewasa, yang jelas konsekuensi dua-duanya sama sekali nggak menyenangkan.

Beberapa waktu terakhir, saya dihadapkan dengan kondisi menyadari bahwa dewasa itu berarti berani meninggalkan mimpi-mimpi yang melayang indah di depan pelupuk mata. Padahal, mimpi itu sudah begitu dekat dan hanya tinggal menjulurkan tangan untuk meraihnya. Sayang, tanganmu terikat, mulutmu terbekap. Dan kamu hanya bisa memandang mimpi itu merangkak menjauhimu. Satu-satunya yang bisa kamu lakukan hanyalah memandangnya dengan nanar. Dengan tangis di hati. Dengan jerit di jiwa.

Hhhhh..... (see, sakit jiwa saya kambuh lagi)

Unfortunately, it happens to me. It happens to (some of) my friends. Mimpi itu direnggut secara paksa dari kami. Yaaah...ada beberapa yang melakukannya secara sukarela berdasar pilihan. Namun, pilihan yang sangat menyiksa jiwa dan moral. Jika memilih untuk mempertahankan mimpi, stempel EGOIS bakal langsung nongol di jidat.

Saya? Sayangnya lagi, saya seperti membelah diri dan berada di dua kubu tersebut. Saya nggak (atau belum) bisa mewujudkan mimpi karena keadaan dan juga pilihan. Saya nggak mau jadi seorang yang EGOIS. Saya nggak mau menjadi orang yang berkeliaran dengan bungkus itu. Meskipun orang lain tidak melihatnya, saya tahu dalam diri saya sendiri bahwa saya mengorbankan orang lain untuk mimpi saya.

Keadaan saya juga tidak (atau belum) memungkinkan untuk mewujudkan mimpi tersebut. Ini yang sama sekali nggak bisa saya paksakan. Karena, jika saya memaksakan diri pun, akan bertambah lagi satu stempel yang saya bawa ke mana-mana, TIDAK TAHU DIRI.

Maka, saya pun berkompromi dengan diri saya sendiri. Dengan keegoisan saya, sekaligus dengan kedewasaan saya. Saya berkompromi untuk menunda mimpi sampai saya benar-benar tidak mengorbankan siapapun kecuali diri saya sendiri untuk mewujudkannya.

Berat memang. Sakit memang. Tapi, itu satu-satunya yang bisa saya lakukan. Namun, bukan berarti saya akan melakukan pilihan saya itu setengah-setengah. Saya telah memilih, dengan segala resiko dan konsekuensinya. Dan saya akan menjalaninya dengan sungguh-sungguh.

Ok, there you go kan?! Sudah kan? Nah, sekarang, biarkan saya menikmati kehampaan ini untuk sesaat. Hanya sesaat... ***

3 comments:

Anonymous said...

yup! aq jg pernah ngerasain kaya' gitu. Twice...! on my 21th and 22nd birthday. I was d oldest child and i feel like i was carrying a heavy load on my back. A sandbag fulled with 2 tons of responsibilty. 2 lead my lil bro's, 2 live independently, 2 make my own money, and sort of...

Ngerasa HARUS udah bisa idup mandiri, HARUS melalui taraf kedewasaan yg nilai ukurnya jg nggak jelas (msh ngeraba-raba), HARUS lbh baik dr orangtua waktu mereka seumur qt (21 n 22 taon), feelin lonely.. n it doesn't had any relation w/ gurls at all!?!?! ngerasa udah tua pdhl seperempat abad aja blom :) ngerasa klo masih banyak target yg harus diraih, ngerasa klo masa senang2 itu udah berlalu (tlalu cepat malahan!) n nggak bs ngelakuinnya lg... Seiring waktu sih, rasa itu ilang dg sendirinya. ngerasa klo slama 21 ato 22 taon ini, aq nggak ngelakuin sesuatu yg berguna, ngerasa nggak dapet 'ilmu' sama skali. Seiring waktu sih, rasa itu ilang dg sendirinya.

PS: prasaan postinganmu kok didominasi dg 'rasa sakit' trus sih? senang = 1 ; sakit = 9
yah, tp itu khan hak asasi km boz... tul nggak?!?! :)

pOe said...

hahahaha...kata2nya yang nggak pernah sama gurls itu lho rek, yang menggugah hari nurani. ternyata ada yang lebih menderita daripada saya!!

ya nggak lah mas. idupku menyenangkan kok. cuman apa salahnya menumpahkan kekesalan dan segala keluhan hidup di blog ini. ini salah satu cara juga menghilangkan ampeg. tapi, anehnya, kata dokter aku harusnya meninggikan skala keluhanku....

wih, jadi bingung... emang aku gila kali yaaa....

Anonymous said...

khan aq udah ngomong nggak ada hubungannya sm skali dg cewek... jd emang nggak ada hubungannya bozzz... feelin lonely dlm artian "sepi dlm keramaian"... bnyk teman tp kdg ttp ngerasa qt itu idup sendirian...