rss
email
twitter
facebook

Wednesday, October 04, 2006

In Differencies We Live

Beberapa waktu yang lalu, saya dan seorang teman shopping ke sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya. Maklumlah, saat itu kami baru saja gajian.

Di tengah petualangan, saya nyasar di salah satu counter khusus pakaian dalam perempuan. Setelah mencari-cari, pilihan saya jatuh pada sebuah bra hitam. Sekeluarnya dari counter tersebut, teman saya ngedumel, "Semono iku nek aku iso tuku sepuluh, Jup." Maksudnya, harga yang saya bayarkan demi sebuah bra dinilai teman saya terlalu mahal. Dengan harga satu bra itu, dia bisa mendapatkan 5 buah bra.

Hmmm...gimana ya, saya ini memang orang yang punya prioritas berlebih untuk pakaian dalam. Buat saya, pakaian dalam mestilah indah dan nyaman. Nyaman, karena pakaian dalam menunjang bagian-bagian vital tubuh seseorang. Indah, karena meski tidak ada yang melihat, pakaian dalam bisa membuat saya lebih percaya diri.

You might say it was just a sugesty, but it works for me. Kalau pakaian dalam saya bolong-bolong misalnya, setengah harian itu saya pasti merasa nggak pede. Sedangkan kalau saya sedang memakai pakaian dalam yang indah, terlebih lagi matching atas dan bawah, saya pasti merasa lebih cantik.

Alhasil, untuk mendapatkan itu semua, saya nggak segan-segan merogoh kocek lebih dalam demi sebuah pakaian dalam. Saya anggap itu wajar-wajar saja. Toh, saya juga nggak membabi buta membeli yang sangatlah mahal. Saya nggak mampu tuh membeli Victoria's Secret yang harganya hanya bisa dicapai dengan menumpang pesawat terbang, alias kelewat tinggi. Saya hanya mampu membeli apa yang saya anggap pantas bagi saya, dan kocek saya.

Kali lain, teman saya itu memandangi deretan parfum-parfum mahal di etalase sebuah swalayan elit. Sorot matanya terlihat begitu bernafsu memelototi parfum-parfum dari berbagai ukuran, bentuk dan merek itu.

Sekarang, gantian saya yang nggak mengerti. Saya bertanya kepada teman saya itu, "Ngapain sih orang punya parfum mahal-mahal kayak gitu?". Saya pribadi sih nggak peduli dengan parfum seharga duaratus ribu perak ke atas itu. Memakai rexona plus mini cologne seharga tiga ribu lima ratus perak pun bukan masalah buat saya. Yang penting, saya nggak menyebarkan bau macam Pepe Le Pew.

Saya juga heran kepada orang-orang yang bisa membedakan antara bau satu merek parfum dengan yang lain. Tengok deh novel-novel yang seringkali memuat penggalan adegan seperti, "...sekelebatan, Bvlgari -nya yang sangat maskulin menyerang hidungku..."

Weleh...weleh...hebat banget ya penciumannya, kayak anjing polisi aja. Ckckckc...salut deh saya! Katakan bahwa hidung saya mampet, hanya bisa membedakan bau kentut Kotaro dengan bau kencing Kyoshiro (baca komik Kotaro, Red.), saya juga nggak peduli.

Dari situ saya jadi sadar, bahwa manusia memang memiliki prioritas yang berbeda-beda dalam hidupnya. Ada yang lebih memilih C di atas S, ada yang lebih memilih G daripada A, B dan Z. Dan itu adalah hak asasi dari setiap orang. Tidak ada yang berhak mencemooh orang lain atas pilihan dan prioritas hidupnya. Resiko kan ditanggung oleh si pembuat keputusan, bukan oleh si pencemooh.

Lagipula, dengan demikian tidak akan ada pasar monopoli kan? Setiap orang punya prioritas, punya standar kualitas sendiri-sendiri. Paling tidak, prioritas yang berbeda itu bisa menjadi keuntungan bagi orang lain kan? Perbedaan dengan caranya sendiri menciptakan keseimbangan.

Saya makin percaya bahwa perbedaan itu memang ada untuk dipelihara dan dikembangkan. Kalau nggak begitu, mungkin dunia ini nggak akan indah lagi. Yang ada hanya warna hitam atau putih. Nggak akan yang bisa merasakan keindahan pelangi dengan campuran warnanya yang beraneka macam.

Tanpa perbedaan, hidup akan berjalan monoton dan tidak memiliki gairah. Duuhh…mati bosan kali ya dengan adanya keseragaman universal. Maleshyeee... Maka dari itu, guys and gals, marilah kita hargai setiap perbedaan yang ada. Tanpa kecenderungan untuk menilai, untuk menghakimi. Anggaplah perbedaan hanya sebagai...warna pelangi dalam hidup. ***

Ps : penulis adalah salah satu produk dari perbedaan.

No comments: