Truthfully, sulit banget untuk nulis postingan ini. Membagi kejadian dan perasaan ini untuk dinikmati oleh ruang publik-atau paling nggak orang-orang yang rajin saya suruh membaca blog ini-sungguh bukan sesuatu yang gampang. Sebelumnya, saya harus menghadapi diri saya sendiri. Ataukah sebenarnya saya hanya sedang mencari bantuan? Aaah, saya sungguh nggak tahu...
Sekitar sepuluh hari lalu, saya iseng-iseng ikut ibuku ke dokter langganannya, yang seorang psikiater. Sebenarnya, saya juga disuruh bokap untuk memeriksakan perut yang sedari kemarin membuat saya meringkuk lemas di tempat tidur.
Tebak apa yang saya dapat. Bukan hanya obat untuk perut, saya juga mendapatkan satu jawaban yang sedari dahulu menghantui. Tahu tidak, saya divonis mengalami mentally disturbed (istilah ini saya ciptakan sendiri). Hiks... T_T
Kenapa sang psikiater sampai memvonis saya demikian? Baiklah, mari saya ceritakan sebabnya...
Beberapa teman pasti telah sering mendengar keluhan tentang betapa saya seringkali merasa tidak puas dalam bernafas. Akibatnya, saya jadi sering menarik nafas panjang, yang itupun tetap tidak bisa memuaskan volume paru-paru saya. Aaahh....sengsaranya.
Keadaan itu pertama kali saya alami waktu duduk di kelas tiga SMP. Awalnya, saya nggak terlalu terganggu dengan hal itu. Pasalnya, keadaan itu datangnya tidak tentu. Kadang muncul, setelah beberapa waktu kadang saya bisa bernafas dengan lega lagi. Dan setelah pertama kali penyakit itu muncul, butuh beberapa tahun untuk kambuh.
Sayangnya, akhir-akhir ini-yah paling nggak tiga tahun belakangan-penyakit itu suka sekali menampakkan dirinya. Dan yang paling menyebalkan, kadang dada saya jadi sakit sewaktu menarik nafas panjang. For heaven's sake, it hurts!
Intinya, si psikiater menyatakan bahwa keadaan saya itu bukan disebabkan karena kelainan fisik. Namun, lebih karena pengaruh psikologis. Apalagi beliau mengetahui bahwa saya mengalaminya hanya di saat-saat tertentu saja, which is saat sedang stress.
Ia menjelaskan bahwa cara kerja tubuh adalah seperti di bawah ini:
(sori, upload gambarnya nyusul yaaa....)
Jadi, setiap kali problem menghampiri seseorang, problem tersebut diolah di otak yang merupakan bagian dari tubuh. Output positif akan terjadi jika seseorang bisa meng-handle masalahnya dengan baik. Misalnya, ia tidak membebani dirinya sendiri, ia bisa dengan gampang melangkah maju dan menjadikan masalah itu sebagai hal yang biasa. Alhasil, output positif ini tidak akan berakibat apapun pada tubuh.
Sebaliknya, output negatif akan terjadi jika seseorang ini tidak bisa me-maintain stress itu dengan baik. Misalnya nih (ini asli yang dicontohkan si psikiater), ia mengalami suatu kekecewaan parah dan kemudian tidak bisa mengatasinya. Kekecewaan itu ia simpan terus di dalam dirinya. Itulah yang kemudian membuat hal tersebut berbalik ke keadaan fisiknya. Salah satunya ya keadaanku ini, susah bernafas, atau yang disebut ampeg sama si psikiater. Kasus lain, misalnya sakit perut dan dada berdebar-debar terus.
Penjelasanku di atas ring a bell nggak? Berarti kan ada yang salah dengan diri saya, atau tepatnya pada pengendalian psikologis saya dalam mengatasi sebuah masalah. Sampai-sampai hal itu berakibat pada tubuh saya sendiri.
Saya terpana dengan penjelasan si psikiater. Terus terang, saya sama sekali nggak menyangka bahwa saya bisa mengalami hal tersebut. Bagaimana mungkin saya menghadapi suatu masalah lalu menghasilkan output negatif. Perasaan saya bahkan jarang sekali memikirkan suatu masalah. Saya kan orangnya easy going, apa yang terjadi ya terjadilah. Saya nggak pernah memikirkan suatu masalah sampai sebegitunya.
Harga diri saya mulai terusik. Saya katakan itu pada si psikiater. Bahwa saya bukan seorang pemikir, bagaimana mungkin ada yang salah di diri saya.
Seandainya saya membawa sebilah pedang, sudah pasti saya mengayunkannya ke wajah si psikiater, yang memandang saya dengan pandangan penuh rasa kasihan. Saya nggak perlu dikasihani, BANGSAT!!!
Untung bagi si psikiater, yang juga penolong bapak saya, saya sedang tidak membawa satu bilah pun benda tajam. Alhasil, saya pun harus mendengar penjelasannya. "Tuhan memberikan otak kepada tiap manusia untuk berpikir. Jadi, kamu berpikir itu sesuatu hal yang pasti. Masalahnya bukan di situ. Tapi pada bagaimana kamu mengatasi perasaanmu sendiri. Contohnya begini, ini yang lazim saja ya pada anak muda. Putus cinta misalnya. Seseorang ditinggal oleh pacarnya. Kalau dia nggak terima, dan terus menerus memendam kekecewaannya di dalam hati, bisa jadi hal itu kemudian berakibat ke fisiknya. Ia jadi nggak bisa makan, nggak bisa berpikir. Ujung-ujungnya dia malah bunuh diri," ujar si psikiater panjang lebar.
Saya terdiam sebentar. Pikir...pikir...pikir... Satu jawaban yang saya temukan. Berarti selama ini saya memendam kekecewaan, tidak bisa menyalurkannya dengan cara yang positif yang kemudian berakibat ke fisik saya. Tapi, kekecewaan apa? Sejauh otak saya berputar di waktu yang sempit itu, saya nggak bisa menemukan kekecewaan yang begitu besar yang bisa membuat saya limbung nggak karuan.
Saya akui, saya memang suka ekstrim. Kadang, kalau saya kecewa berat, saya bisa berhari-hari menyesalinya. Tapi, ya cukup sampai di situ kekesalan saya. Perasaan, selama ini saya selalu bisa menyalurkannya menjadi sebuah lecutan bagi diri sendiri untuk berjuang lebih baik demi mendapatkan hasil yang lebih baik pula. Saya tidak merasa pernah terpuruk ke dalam jurang kekecewaan yang membuat saya tidak bisa merangkak keluar dari dalamnya. Lalu, apa yang salah di diri saya?
Si psikiater mengatakan, itulah yang harus saya cari dan hadapi sendiri. Dengan demikian, mungkin permasalahan ampeg ini akan hilang dengan sendirinya. Psikiater itu juga bilang, bisa jadi ampeg ini adalah salah satu defend mechanism saat saya sedang menghadapi masalah atau kekecewaan tertentu. Jadi, saat saya sedang menghadapi masalah, dengan otomatis tubuh saya meresponnya.
Saya kemudian diberi resep pil yang harus saya minum dua kali sehari selama dua minggu. Saya juga sangat dilarang untuk meminum segala sesuatu yang berkandungan kafein (it's hard, since i love coffee). Kemudian, saya harus kembali dan melaporkan hasilnya kepada si psikiater itu lagi (jangan berpikiran yang tidak-tidak, si psikiater ini teman baik bapak saya, saya ke sana nggak mbayar biaya periksa serupiahpun).
Sepulangnya dari psikiater tersebut sampai detik saya menulis postingan ini, saya masih rada syok. Saya nggak normal. Saya sakit jiwa. Uugghh...mengatakannya saja saya sudah merinding. Saya jadi tahu bagaimana perasaan orang yang datang ke psikiater. Coba dengar : sakit jiwa. SAKIT JIWA. S-A-K-I-T-J-I-W-A. (terus terang, ampegnya jadi tambah parah setelah itu). It really devastating.
Ada yang salah di diri saya, yang saya nggak tahu apa itu. Apakah saya benar-benar memendam kekecewaan yang saya sendiri nggak sadar? Apakah saya memang tipe pemendam perasaan? Karena setahu saya, saya orang yang cukup ekstrovert, bagaimana mungkin saya mengalami hal ini? Kalaupun iya, masalah apa yang sebenarnya membuat saya kecewa begitu dalam?
Saya sudah memutar otak dan mengubek-ubek perpustakaan memori yang saya miliki. Tapi, saya nggak menemukannya, saya benar-benar nggak bisa menemukan apa yang membuat saya menjadi salah satu tervonis gila ini.
Saya merasa kalah. Oleh diri saya sendiri. Ternyata saya nggak bisa mengatasi diri sendiri. Kenapa saya musti mengalami hal ini? Sama saja artinya saya nggak becus mengurus diri saya sendiri kan, nggak bisa mengendalikan diri untuk menjadi manusia seutuhnya.
Tak tahan, saya kemudian bertanya kepada beberapa orang yang saya anggap mengenal saya dengan baik. Ada satu pendapat menarik yang terpaksa saya kutip dari message nya di FS (secara kami memang nggak bisa tuntas membicarakannya).
"Satu hal yg aq amati. Kmu selalu berusaha untuk tampak kuat. Sama sekali tdk ingin telihat lemah. Mandiri? Itu hanya pembenaran saja (walau akhirnya kmu mmg tumbuh menajdi seorang yg sangat mandiri). Semua ingin kmu selesaikan sendiri, kmu ingin semua dlm kontrol n wilayah kekuasaanmu. Menjadi lemah itu tdk slh kok. Berilah ruang bwt orang2 di sekitarmu untuk membantu. Mereka juga ingin berguna n berbuat sesuatu bwt kmu. Terlebih orang2 yg menyayangi kmu."
Benarkah? Apakah ini berarti saya memang lemah? Bahwa saya ternyata memang nggak sekuat yang saya bayangkan? Aaarrghh...saya nggak tahu. Saya benar-benar nggak tahu.... If somebody could help me, please, just do....
4 Cara Cepat Mengarang Dialog Yang Realistik
1 week ago






No comments:
Post a Comment