rss
email
twitter
facebook

Thursday, July 16, 2009

Ya ya ya... Teman

Teman.

Konco.

Amigo.

φίλος

Friend.

Friend : n.
1. A person whom one knows, likes, and trusts.
2. A person whom one knows; an acquaintance.
3. A person with whom one is allied in a struggle or cause; a comrade.
4. One who supports, sympathizes with, or patronizes a group, cause, or movement: friends of the clean air movement.
5. Friend A member of the Society of Friends; a Quaker.

Kalau penjelasan diatas berasal dari kitab Oxford, Wikipedia memberikan penjelasan yang lebih bertele-tele :
Friendship is co-operative and supportive behavior between two or more people. In this sense, the term connotes a relationship which involves mutual knowledge, esteem, and affection and respect along with a degree of rendering service to friends in times of need or crisis. Friends will welcome each other's company and exhibit loyalty towards each other, often to the point of altruism. Their tastes will usually be similar and may converge, and they will share enjoyable activities. They will also engage in mutually helping behavior, such as exchange of advice and the sharing of hardship. A friend is someone who may often demonstrate reciprocating and reflective behaviors. Yet for many, friendship is nothing more than the trust that someone or something will not harm them.

Value that is found in friendships is often the result of a friend demonstrating the following on a consistent basis:

- the tendency to desire what is best for the other,
- sympathy and empathy,
- honesty, perhaps in situations where it may be difficult for others to speak the truth, especially in terms of pointing out the perceived faults of one's counterpart,
- mutual understanding.


Ya, seorang teman pun cenderung untuk berkata keras terhadap si teman lainnya. Hanya untuk mengingatkan otaknya yang bebal berkat racun hati yang telah menghitam. Salahkah?

Ya, seorang teman memang terkadang sok tahu tentang apa yang terbaik bagi si teman lainnya. Pun ia melakukannya hanya demi mencegah sang teman untuk terperosok ke dalam jurang yang sama. Bukan hanya dua kali, namun bahkan 3 atau 4 kali. Salahkah?

Terkadang aku kesal dengan diriku sendiri. Yang dalam ranah personal relationship selalu saja terbentur masalah. Gara-garanya tentu sifatku yang meledak-ledak. Walhasil, aku tak sungkan menghajar seseorang dengan kata-kata frontal. Belum lagi tambahan pitch tone yang suka ikut-ikutan meninggi. Kuakui, aku tak pandai merangkai kata-kata manis, terutama di depan seseorang yang memiliki kedekatan denganku. Buatku itu adalah sebuah topeng kepura-puraan. Dan apalah artinya jika di depan orang yang kuanggap dekat aku malah mengenakan topeng?

Akibatnya, tuduhan tidak sensitif seringkali dialamatkan kepadaku, bahwa aku tak mengerti apa yang sedang bergejolak di hatinya, apa yang sedang ia rasakan saat ini.

Yah, aku memang tak mengerti apa yang kau rasakan. Namun, aku mengerti apa yang aku rasakan jika nanti aku melihatmu datang kepadaku bersimbah tangis. Dan aku tak ingin kau menangis. Aku tak ingin kau bersedih. Aku lebih memilih melihatmu marah padaku daripada menangis gara-gara kesalahanmu sendiri. Ya, aku bilang itu kesalahanmu, bukan laki-laki itu. Kenapa? Karena sudah berulang kali kau mengalami hal serupa, dan tak pula kau belajar darinya. Tahukah kau kawanku, bahkan kambing pun cukup pintar untuk tidak jatuh terperosok di lubang yang sama.

Ah ya, memangnya siapa aku ini hendak mengatur hidupmu? Kau lah satu-satunya individu yang memiliki kuasa untuk mengatur kemana kakimu akan melangkah. Aku hanya bisa berdoa, semoga kali ini pilihanmu tepat.

Orang bilang seorang teman haruslah menjadi seorang yang suportif. Tapi maaf, aku tidak mensupport keputusanmu. Apakah itu menjadikanku terhapus dari list teman mu? Ah, tak apa. Yang jelas aku akan tetap ada di sini jika suatu saat kau membutuhkanku, teman.

1 comment:

cemputh said...

i get your ideas since i do had te same one before..

poe, atur aja semua yang penting tertib *_*