rss
email
twitter
facebook

Tuesday, July 14, 2009

Menua

Mataku terpaku pada layar di aula GoetheHaus, yang saat itu tengah memutar sebuah film Jerman. Tertangkap oleh mataku adegan seorang pria tua tengah merunduk di depan wastafel. Tangan kanannya memegang sebuah sikat, yang ia pergunakan untuk menyikat gigi perlahan-lahan, seolah takut jika ia menggosok terlalu kuat gigi-gigi itu akan langsung berjatuhan.

Bersandar di daun pintu yang berada di samping wastafel, seorang pria muda memperhatikannya. Wajahnya nampak bosan, menyaksikan ritual yang entah telah terjadi untuk keberapa kalinya. Setelah ritual berakhir, si pria muda lantas menyuruh ayahnya itu untuk segera berbaring dan beristirahat.

Melihat adegan itu, tanpa dapat kuantisipasi secuil kegamangan tiba-tiba menyelinap di rongga jiwaku.

Menua.

Apa yang akan terjadi jika momen itu menampakkan diri di hadapanku? Saat keriput telah menjadi aksesoris permanen permukaan kulit, gigi yang tak lagi lengkap, kekuatan fisik yang menurun drastis. Akankah aku mampu mengurus diriku sendiri? Atau haruskah ada seseorang yang harus berada di sampingku, mengurusku dan memastikan aku baik-baik saja?

Aku teringat ketika aku masih kecil dahulu, dimana aku selalu mendongak melihat manusia-manusia yang lebih besar dariku. Penuh kekaguman aku berharap dapat segera tumbuh menjadi mereka. Saat aku masih mengenakan rok merah, dan di depanku melintas gerombolan gadis dengan rok biru, dapat dipastikan mataku akan terus mengekor mereka, berharap seandainya rok biru itulah yang melekat di badanku. Begitu pula saat aku telah mengenakan rok biru, atau rok abu-abu. Keinginan untuk segera tumbuh menjadi manusia-manusia yang kuanggap lebih dewasa tak pernah menyingkir dari benakku.

Walhasil, aku versi cilik tak pernah mampu memahami seseorang yang berharap dirinya dapat kembali ke masa kecil. Sama halnya aku tak mampu memahami perkataan "takut menua". Yang saking takutnya lantas melakukan operasi plastik di berbagai sudut wajahnya. Yang bahkan saat aku masih bocah pun terdengar seperti sebuah hal yang semu. Sungguh, aku tak mengerti.

Aku selalu berpendapat kala itu, apa enaknya menjadi anak kecil? Tidak bebas melakukan segala sesuatu sesuka hati, tidak bisa tidur malam, selalu dianggap anak kecil yang tak tahu apa pun, dan segala keterbatasan lainnya yang otomatis mengikuti seorang bocah.

Bahkan, di antara kepura-puraan tak ingin meninggalkan usia 21 (yang selalu dikeluhkan remaja-remaja usia tersebut), aku masih selalu exciting menyambut usia yang baru. Ah, satu langkah lagi menuju kedewasaan. Menuju tanggungjawab penuh akan diri. Menuju masa depan yang akan kurajut dengan tangan sendiri. Meskipun saat kemudian aku mengalaminya, hal itu benar-benar tak mudah.

Namun, tak pernah sekalipun aku memproyeksikan saat-saat aku telah menua. Sampai aku memandang sang pria tua dalam film Jerman itu.

Dan aku terpukul.

Membayangkan bahwa diriku akan sedemikian ringkihnya, tak lagi mampu menopang tubuh dengan kedua kakiku sendiri, atau melakukan sesuatu dengan kecepatan maksimal, hati ini seakan menciut. Apalagi jika memikirkan jika nanti aku tak lagi mampu mengingat, atau mengalami kesulitan berpikir. Otakku memang bukan yang terhebat, namun otakku pulalah yang membuatku bisa berpikir. Dan kehilangan fungsi organ itu mungkin akan kuartikan sebagai kehilangan makna hidup.
Selama ini pula aku selalu membanggakan dayaku yang mampu hidup sendiri, tanpa bantuan orang lain. Mendapatkan bantuan untuk membantuku sekedar berjalan, atau menyiapkan makanan untukku, bahkan aku pun sudah merasa helpless membayangkannya saat ini.

Ya, menua ternyata memang menakutkan.

Namun demikian, apakah ketakutan akan usia yang terus bertambah harus disembuhkan dengan tambalan plastik di sana-sini? Bukankah tambalan tersebut hanyalah sesuatu yang semu?

Tidakkah lebih baik jika kita menyembuhkan ketakutan itu dengan menikmati hari muda sepuas mungkin? Sehingga ketika saat itu datang, kita bisa menyambutnya dengan senyum, karena kita telah menikmati cukup kemudaan dengan segala keindahannya.

So, aku akan mulai menikmati hidup. To the fullest!

2 comments:

ariez said...

sangat inspiratif...
makasih

sperti kata Dream theater
"if i die tomorrow. i'll be all right. because i belive. that when we are gone. the spirit carries on"

cemputh said...

benar poe.. sungguh menginspirasi. akankah kedamaian itu menenangkan ketika saatnya tiba? *sigh..*