rss
email
twitter
facebook

Tuesday, July 28, 2009

Menelusur Perpustakaan Masa Lalu : Ujian itu Akan Berakhir

Clak...clak...clak...

Kakiku menapak di trotoar yang masih tergenang air di sana sini, bekas hujan sore tadi. Tumben hari ini Jakarta basah. Biasanya kan panas kering kerontang dan berpolusi.

Ah, hujan... Selalu menjadi alasan untuk berhenti beraktivitas, untuk menunda perjalanan, untuk kembali bermanja pada tempat tidur. Hujan kini tak lagi dinikmati, namun dimaki. Padahal, saat masih berseragam putih merah, hujan menjelma salah satu kawan terbaikku, disamping lumpur dan sawah tentunya.

Setiap hujan turun, putri kecil akan menyambutnya dengan penuh sukacita, bak menyambut seorang raja agung yang selalu dinanti khalayak ramai. Berlarian keluar rumah, berpacu di antara tetesan air, memecah genangan air dengan kaki-kaki mungilku.

Bergaul dengan hujan, tak butuh waktu lama untuk mengubah penampakanku sehingga menyerupai tikus yang baru saja tercemplung got. Lihatlah senyum itu, begitu bahagia dan tanpa beban. Bahkan telinga yang mendadak memerah hasil jeweran ibu pun hanya mampu menghapus sedikit senyum di wajahku. Hahahahaha...

Tersenyum aku mengingat masa kecil. Sampai-sampai abang-abang ojek di perempatan jalan itu memandangku keheranan. Lima belas tahun yang lalu aku pun aku mendapatkan tatapan keheranan yang nyaris serupa, saat putri kecil berjalan menyusuri jalan malam Malang di tengah hujan. Things do look easy when we were a little boy/girl, rite?

Aku terus melangkah dengan mode auto-pilot menyusuri jalan yang telah kuakrabi selama satu setengah tahun ini. Sementara itu, otakku berpetualang menyusuri perpustakaan masa lalu.

Aku menyisir deretan rak bertanda "SMA", yang menyimpan peristiwa-peristiwa semasa rok abu-abu masih melekat longgar di tubuhku. Ah ya, masa-masa di mana yang terpeta di benak hanyalah teman dan sekolah. Jemari otakku lantas meraih sebuah buku. "Ujian", begitu judul yang tercetak timbul di sampul coklatnya. Kutiup debu yang menyelimuti buku itu, sebelum membuka dan mulai membacanya.

Arus ingatan seketika membanjir. Tentang rasa dan pikiran yang melanda ketika masa ujian menghadang. Mata pelajaran yang menumpuk, hapalan-hapalan yang harus diingat (tanpa dihayati, hahahaha....). Gelas demi gelas kopi yang menemani malam-malam penuh dengan buku dan kesunyian.

Aku ingat bagaimana paniknya setiap kali minggu ujian tiba. Kepanikan yang begitu mengkonsumsi, yang membuatku bukannya menghayati belajar, namun justru menghayati kepanikan itu sendiri. Ah, kebodohan masa muda.

Hingga suatu saat aku mendengar khotbah romo di gereja, yang intinya mengatakan bahwa Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan yang terlalu berat bagi umatNya. Bahwa Tuhan hanya akan memberikan cobaan yang Ia tahu mampu kita hadapi. Bahwa segala macam ujian yang Ia berikan akan berujung.

Entah mengapa, kata-kata sang romo terus terngiang di telingaku. Hingga dalam sebuah sesi kontemplasi pribadi, otakku yang kala itu masih level beginner menterjemahkannya demikian : apapun yang terjadi ujian ini suatu saat akan berakhir. Saat itu aku bisa menarik napas lega, dan tak lagi harus belajar dengan keras. Aku pun akan mengganti kerja kerasku dengan bersenang-senang, berlibur, dan berbagai hal menyenangkan lainnya.

Berbekal pemikiran ini, berkali-kali aku menekankan pada diri sendiri bahwa aku tak lagi harus berpanik ria saat menghadapi ujian. Aku harus tenang dan harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyongsong semua ujian itu. Karena apapun yang kulakukan, toh waktu akan berjalan dan menghantarkan kita ke gerbang garis finish.

Walhasil, setiap kepanikan menghampiri, aku berkata keras-keras pada diri sendiri, "Ini semua akan berakhir, ini pasti akan berakhir." Dan aku pun mulai menghitung mundur akhir waktu ujian. 10 hari lagi, 9 hari, 7 hari, dan seterusnya. Hanya untuk mengingatkan bahwa garis finish itu sudah semakin dekat.

Tanpa dapat kutahan bibirku menyunggingkan senyum lebar. Ah, lucunya caraku berpikir jaman kuda dulu. Untung saja aku sudah memasuki gang sempit sepi yang merupakan jalan pintas menuju kos, sehingga tak ada yang melihat seorang perempuan gila sedang senyam senyum sendirian.

Bunyi panggilan Power Ranger memecah lamunan berjalanku. Sms dari lelakiku. Bah. Malas-malasan kubalas sms itu. Singkat, standar, emotionless. Tanda aku masih kesal padanya.

Di ujung gang aku berbelok ke arah kanan. Hanya tinggal dua ratus meter jarak dengan kasur tercinta. Auto-pilot kembali mengambil alih. Sementara itu, otakku melayang menuju lounge kontemplasi.

Aku memikirkan tentang kehidupan. Apa bedanya ujian sekolah dengan ujian kehidupan? Seiring pertambahan usia, mata pelajaran yang diujikan semakin bertambah. Saat masih mengenyam sekolah dasar aku hanya mengalami 5 atau 7 mata pelajaran. Jumlah ini bertambah menjadi 9 saat duduk di bangku SMP. Dan bertambah lagi saat duduk di bangku SMA.

Materi ujian bertambah berat, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan ujian pun semakin panjang. Penambahan volume ujian sekolah ini berbanding lurus dengan pertambahan volume otak manusia, perkembangan akal, sudut pandang, dan juga melebarnya dunia seseorang.

Dan meski seseorang tersebut tidak lagi berada di bangku sekolah, kehidupan beralih menjadi lembaga sekolah informal. Dengan demikian, ujian yang ia dapatkan pun tidak sekadar hapalan, perhitungan ataupun nalar semata. Ujian yang dihadapi merupakan hasil pengembaraan tahun demi tahun yang telah dijalani. Bukan lagi sekedar teori namun telah menjurus ke arah implementasi atau praktek kehidupan.

Tak berbeda dengan ujian sekolah, ujian kehidupan pun memiliki prinsip yang serupa. Jika materi ujian sekolah disesuaikan dengan kapasitas kemampuan otak seseorang di usia tertentu, materi ujian kehidupan juga telah disesuaikan dengan kapasitas seseorang. Ini meliputi semua segi, baik mental, fisik, psikis, dan lain-lainnya.

Dan jika garis finish dari ujian sekolah dapat diketahui, ujian kehidupan sedikit memiliki aturan yang berbeda. Kapan ujian kehidupan akan berakhir, tidak ada satu manusia pun yang tahu. Bisa saja ujian kehidupan diselesaikan dalam satu hari, satu minggu, atau satu bulan. Dan sangat mungkin ujian tersebut merupakan ujian jangka panjang yang tak akan berakhir dalam satu tahun atau bahkan satu dasawarsa.

Namun, menganut prinsip yang sama, suatu saat ujian kehidupan pasti akan berakhir. Dan saat itu kamu bisa menarik nafas lega dan tersenyum senang. Meskipun mungkin akan kembali disusul dengan ujian yang lain.

Ah, sudah sampai di depan pintu kamar. Tanganku merogoh tas, mencari kunci kamar yang terselip entah di mana. Kebiasaan yang tak pernah hilang, ceroboh!

Ah ya, ujung jemariku menyentuh lempengan besi itu. Dengan cepat kutarik keluar kunci itu untuk segera memasukkan ujungnya ke lubang kunci. Bau khas langsung menyambut. Bau kasur! Senangnyaaaa...

Setelah berganti pakaian, tanpa ba-bi-bu kulemparkan tubuh ke kasur tercinta. Pikiranku kembali menerawang.

Ya, aku ingat sekarang. Tuhan tidak akan pernah memberikan ujian yang melebihi kemampuan umatNya. Oleh karena itu, jika ujian itu datang, aku hanya harus menekankan pada diriku : "Aku bisa menjalani ini. Ini semua akan berakhir, ini pasti akan berakhir." Dan aku pun hanya harus menjalani semua ujian itu dengan tenang. Tak perlu panik. Yang diperlukan hanyalah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Karena apa pun yang aku lakukan, toh waktu akan berjalan dan menghantarkanku ke gerbang finish.

Dan aku pun tersenyum di atas kasurku. ^^



Ah sial, cucianku basah terkena hujan!! Uuuuuughhh....

5 comments:

Ms Mushroom said...

nice writing poe, always :)

lagi sedih ya bu ? inget2 masa lalu

pOe said...

ahahahah...nggak juga kok fen. hanya sedang berkontemplasi aja, dan berbagi...

biar temen2 inget, bahwa apapun masalah yang lagi dihadapi, you can face it..

btw, makasih yaw....

Embunbantal said...

Aku suka tulisan ini :))

cemputh said...

hasil kontemplasi yang rapi poe. jd enak bacanya..
masa lalu,, bagaikan kilau cahaya dari bintang supeeeer jauuuu (milyaran tahun cahaya) sehingga nampaknya mustahil kembali ke masa itu - mustahil mencapai si bintang yang mungkin telah mati dan cahaya itu berasal dari masa lalu..

Unknown said...

its remind me too Poe,

Thanks for beautiful share