rss
email
twitter
facebook

Monday, May 11, 2009

Perubahan Ini Tidak Fair?

Jumat lalu tiba-tiba seorang kolega nongkrong di kubikel kosong sebelah kubikelku. Usut punya usut, ia sedang menanti staff HRD yang saat itu sedang meng-interview seorang kandidat korban. Dari situ pula aku tahu bahwa hari itu adalah hari terakhirnya bekerja di perusahaan ini. Ya, dia adalah salah satu korban lay off yang belakangan menjadi tren di kumpeni ini.


Hidup ini tidak adil. Indeed.

Yang membuat aku terpana, ternyata sang kolega ini baru mendapatkan kabar tentang terminasi hubungan kerjanya dua hari sebelumnya. Yang artinya, ia tidak diberi kesempatan untuk mengolah rasa shock, me-manage nya dengan baik dan mencari pegangan baru. Padahal, kawan ini memiliki seorang istri dan seorang anak yang harus dinafkahi. Bagaimana ia akan bertahan? Apalagi mengingat bahwa mencari pekerjaan sekarang ini susahnya minta ampun.

Tidak adil. Kata itulah yang langsung terpatri di benakku. Bagaimana tidak, jikalau karyawan hendak mengundurkan diri dari perusahaan, ia harus memberikan pemberitahuan minimal sebulan sebelumnya ke pihak perusahaan. Kenapa hal tersebut tidak berlaku kebalikan? Tidakkah akan lebih adil jika perusahaan memberikan waktu sedikitnya satu bulan setelah memberikan vonis mematikan itu?

*sigh*

Well, ok, aku cukup mengerti dengan keadaan perusahaan yang kembang kempis. Yang harus pontang panting kesana-kemari untuk mendapatkan investor. Yang untuk mempersiapkan kedatangan pembaharuan itu terus berusaha keras menata diri. Dengan merubah semuanya.

Aku bukan orang yang anti dengan perubahan. Justru aku meng-encourage perubahan itu untuk terjadi. Namun, bukan perubahan membabi buta yang aku maksud. Yang hanya bisa menitikberatkan kepada speed, dan bukannya kualitas. Yang hanya mementingkan kepentingan para petingginya, dan bukannya mementingkan kepentingan perusahaan sebagai sebuah organisasi, termasuk di dalamnya adalah karyawan.

Buat aku, perubahan tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat. Berubah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan perubahan sebuah organisasi juga harus melibatkan segenap jajaran organisasi, bukan hanya segelintir orang saja. Bagaimana mungkin mengharapkan perubahan berjalan dengan mulus jika tidak bisa membuat seluruh sendi organisasi untuk turut berkomitmen secara sukarela? Dan bagaimana berharap seseorang akan berkomitmen jika ia tidak mengerti sama sekali tentang perubahan yang hendak dilaksanakan?

Itulah yang aku rasa hilang dalam proses perubahan di perusahaan ini. Tidak ada komunikasi dan penyamaan visi dan misi ke arah perubahan. Semua dilakukan dengan sewenang-wenang. Yang pada akhirnya mengakibatkan chaos.

Well, jadi curhat colongan nih. Weeeewww… Yah, aku jadi belajar bahwa segala sesuatu tidak ada yang pasti dalam hidup ini. Dan apapun itu, kita harus siap sedia menghadapinya. Jangan tenggelam dalam penyesalan, kekecewaan atau amarah. Sebisa mungkin segala energi itu harus bisa kita transformasikan menjadi kekuatan untuk move on, dan terus berusaha.

Ganbatte!!

PS. Selama berada di kubikel sebelah, sang kawan tak henti-hentinya mengutuk penuh dendam dan kemarahan. Membuatku berpikir betapa tak bersyukurnya aku, yang masih berada di tempat ini sekarang. So, aku akan berusaha untuk mengurangi keluhan-keluhan dan mulai mengambil tindakan nyata. Amin.

2 comments:

Anonymous said...

Kalau di perusahaan asing lebih parah poe. Saat hari itu juga di umumin, saat hari itu juga di eksekusi...

duniaputri said...

yeah, sometimes life could be unfair. dan yah, betapa susah menjadi manusia yang berada di level bawahan alias babu. kenapa? kenapa? tidak berhakkah manusia atas dirinya sendiri...

NB : poe, si sayah ikut berempati nih. si sayah yang masih adem ayem gemah ripah loh jinawi bekerja di (semacam)kantor... *sigh*