rss
email
twitter
facebook

Friday, May 15, 2009

Adrenaline Trip part 2

Langit telah gelap saat aku kembali ke pinggir danau. Kawan-kawan dari trip pertama dan kedua telah berganti pakaian dan menghangatkan diri dengan segelas bandrek panas dan sepiring nasi. Sebelumnya, Roy telah berjanji akan membawa kami menuju kolam air panas dan berendam di sana setelah pengarungan. Why would I change my clothes if it would soaked again? Untuk mengurangi rasa dingin, aku lantas berbagi kehangatan handuk lebar milik Bobi dengan Mayang. Layaknya kembar siam, kami menyantap makanan warung pinggir danau dan menikmati kehangatan bandrek susu bersama.

Setelah perut kenyang, perjalanan menuju kolam air panas dimulai. Kali ini aku yang ketiban giliran nyetir. Dinginnya udara, pakaian yang kuyup, dan jalanan bertipe off-road, perjalanan malam itu benar-benar tantangan. Lewat 8 kilometer dan tak jua sampai di tujuan, kesabaranku menipis. Pasalnya, hasrat buang air kecilku meletup-letup menunggu meledak.

Cok! Cok! Cok! COOOOOOOOKKKKKK!!!

Tepat 11 kilometer dari danau Palayangan, mobil Panji berhenti. Tanpa ba-bi-bi, aku langsung melesat menuju kamar mandi.

Legaaaa…

Kelar memuaskan hasrat alam, aku menyusul teman-teman yang telah terlebih dahulu masuk ke kolam air panas. Kumasukkan ujung kakiku ke dalam kolam segi empat itu. Begitu yakin bahwa air di kolam itu benar-benar hangat, buru-buru kulemparkan tubuh ke dalamnya.

Aaaaahhh….hangat-hangat kuku… Enaknya…

Merem melek aku menikmati kehangatan kolam. Dengan kepala tersembul di atas air dan menyandar pada dinding kolam, mataku terpaku memandang langit. Bulan yang sedang purnama tertutup pepohonan pinus nan lebat yang menjulang di sekeliling kolam. Ditambah dengan uap air yang mengudara, adegan hidupku saat itu terlihat seperti salah satu scene pilem. Hahahaha…ngayal.

Mendapatkan kehangatan, entah mengapa tiba-tiba aku jadi sok ingin berenang. Tanpa pikir panjang, aku meluncur ke ujung kolam yang memiliki kedalaman 2,4 meter.

Kecipak…kecipuk…kecipak…kecipuk…

Aku mengangkat kepala dari air saat ujung jemariku merasakan dinding kolam. Fiuh, cukup menguras tenaga juga rupanya untuk berenang dari ujung ke ujung. Sambil beristirahat, aku menyipitkan mata, berusaha melihat ke ujung seberang diantara uap air. Sejentik kesadaran menguasaiku. Aku sendirian di sisi ini. Suara kawan-kawan memang masih terdengar samar-samar, namun siluet mereka tak lagi tertangkap olehku. Entah karena malam yang gelap, atau karena uap air yang menghalangi.

Hatiku sedikit mencelos. Aku lantas menarik napas dalam-dalam dan mengambil ancang-ancang untuk berenang kembali ke ujung sana.

Satu…dua…tiga…

Kuat-kuat kujejakkan kaki ke dinding, berharap tenaga dorongnya dapat mempercepat luncuran tubuhku di air. Entah mengapa, sekelebat pikiran melintas di otak. Tentang tangan-tangan yang tiba-tiba menangkap kakiku dan menariknya ke kedalaman air. Tentang bagaimana aku meronta namun tak jua dapat melepaskan cengkeraman tangan itu. Tentang aku yang berusaha berteriak namun air telah memenuhi rongga mulutku, sehingga suara itu tertelan dan tak terdengar oleh kawan-kawanku. Hiiii…

Semakin ganas kini kukayuh tangan dan kaki, sembari menyuruh otak untuk memikirkan sesuatu yang menyenangkan. Tentang aku dan lelakiku, misalnya. Namun, bayangan yang berkelebat malahan lelakiku yang sedang memandangi nisan dengan tulisan namaku. Siyaaaaalll… Duh ujung, cepatlah datang….

Lamat-lamat telingaku menangkap suara Roy dan Riani yang sedang beradu mulut. Aaahh…betapa senangnya aku mendengar suara mereka, tanda aku sudah dekat dan tangan-tangan itu tak akan mungkin mencelakaiku. Tak terkirakan betapa leganya aku ketika jemariku berhasil menyentuh dinding kolam seberang. Terlebih saat menangkap siluet manusia-manusia yang kukenal itu. Alhamdulillah, halleluya puji tuhan. Perjalanan yang hanya kurang lebih 10 meter, namun ketegangannya seperti 10 km. Hiks…

Baru saja sukses menenangkan debaran jantung, aku mendengar suara seorang kawan yang berasal dari arah punggungku. Aku menoleh dan melihat beberapa kepala di sana. Ternyata, ada sebuah kolam bulat kecil di belakang. Yang airnya hanya setinggi kurang dari 20 cm. Namun, ketika kujejakkan jemari kakiku di sana, aku merasakan panas yang menyengat. Ah, air di sini jauh lebih panas dibanding di kolam besar.

Setelah membiasakan jari jemari kakiku dengan suhunya, perlahan-lahan aku membaringkan tubuhku di dalam genangan air itu. Setiap dua menit, aku membalikkan posisi badan dari telentang menjadi telungkup. Begitu seterusnya. Persis seperti ikan yang sedang dibakar. Tingkat kenyamanannya? Jangan ditanya! Superb!

Puas berendam, satu persatu dari kami mulai beranjak ke kamar mandi. Entah untuk sekedar berganti pakaian, buang air kecil, ataupun untuk mandi. Eits, nggak ding. Option terakhir sepertinya hanya aku yang melakukannya. Maklum, dari kemarin aku masih belum jua melakukan ritual cuci badan. Mau rafting dan basah-basah kok pake mandi dulu. Nanti kan basah dan kotor lagi, begitu dalihku selalu.

Setelah berendam dan mandi air panas, secara ajaib suhu tubuh jadi ikutan hangat. Tak lagi tersisa dingin yang menusuk seperti saat baru keluar dari pengarungan. Badan pun segar. Meski perut kembali melantunkan orchestra keroncongnya. Loud and clear.

No comments: