Refleks, tanganku berusaha meraih bantal untuk menutup daun telinga. Eh, lho, mana bantalnya? Alih-alih bantal, tanganku hanya menemukan selarik kain cukup tebal mengalasi kepala. Spontan aku terduduk, dengan mata nyalang memandang sekeliling.
Eh, oh, ini bukan kamarku. Kok ada rupa-rupa manusia lain disini? Aku dimana?
Butuh waktu sepersekian detik untuk menyadari bahwa manusia-manusia itu tak lain adalah kawan-kawan sekantorku. Ah ya, semalam kan kami menginap di rumah seorang kawan kantor, Panji, di Bandung. Dan hari ini kami akan melanjutkan perjalanan ke Pangalengan untuk berarung jeram.
What, arung jeram? Rafting?? Hari ini?? Yaaaayyy!!! Aku akan bersenang-senang hari ini!! Yaaaayyyy!!

Make long story short, dari kediaman Panji rombongan pengarung jeram yang terdiri dari kurang lebih 25 manusia ini meneruskan perjalanan ke Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kawan-kawan sekumpeni ada 15 orang, ditambah seorang GM lengkap dengan keluarganya. Sisanya adalah teman-teman sang empunya rumah, Panji.
Berkendara kurang lebih selama satu setengah jam menembus hutan pinus, kebun teh dan sayuran, akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Udara dingin seketika menyambut saat aku turun dari mobil. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 12.30. Brrr...dingin! Tapi segar. Sudah lama hidungku tidak dimanjakan oleh segarnya udara pegunungan seperti ini. Walhasil, aku pun mulai melangkahkan kaki menjelajahi sekeliling. Karena ada kawan-kawan yang tidak bisa stay sampai malam, aku dan beberapa teman yang memang berniat menginap harus mengalah dan mengambil trip ke 2 atau 3.
Kaki-kaki inilah yang lantas membawaku ke hadapan sebuah danau buatan, Situ Cileunca namanya. Luasnya lebih dari 14.000 m2. Kata om gugel sih air dari danau ini sebenarnya diperuntukkan bagi PLTA PLN Pangalengan. Nah, menurut penjelasan Roy, air dari danau ini jugalah yang menjadi sumber air sungai Palayangan, tempat aku nanti berarung jeram.

Bosan bersosialisasi, aku pun menggeser pantat untuk menyendiri. Hhh...akhir-akhir ini aku memang terkena sindrom “me-time”, yang lebih memilih sendirian menikmati waktu daripada bersosialisasi. Kurebahkan diri di atas rerumputan hijau, cukup jauh dari jangkauan teman-temanku. Kupandangi awan biru yang hari itu cukup kelam. Habis menangis ia, dan nampaknya masih belum puas memuntahkan tangisnya. Ah langit, kemarilah, menyampahlah padaku. Kan kudengarkan jeritan hatimu. Kan kudengarkan semua keluh kesahmu. Ah, langit...
Belum sempat langit menjawab pertanyaanku, rombongan pengarung jeram dari trip 1 telah kembali, tanda giliranku tiba. Lupalah aku dengan si langit, terganti dengan rompi pelapung dayung serta helm yang langsung kusambar dan kukenakan.
Sebelum pengarungan sebenarnya dilakukan, terlebih dahulu dilakukan simulasi di danau. Demi memuaskan adrenalin, aku mengambil tempat di bagian depan perahu. Saat simulasi, Panji mengajari kami petunjuk-petunjuk dasar seperti “Dayung Maju”, “Dayung Mundur”, “Stop” dan “BOOM”.
Setelah menyeret perahu ke seberang danau, dimana sungai Palayangan bermula, pengarungan dimulai. Jeram pertama yang berjarak tidak terlalu jauh dari lokasi start ternyata mampu memberi efek kejut yang membuat bibirku merekah kesenangan. Jeram kedua sukses membuatku tertawa lebar-lebar.
Mendekati jeram ketiga, ketegangan mulai menampakkan wujudnya. Dari kejauhan aku melihat perahu pertama tak jua bergeming dari jeram yang dinamai jeram domba itu. Nampak jelas wajah-wajah kebingungan di sana demi melihat perahuku semakin mendekat. Alhasil, tabrakan pun tak terelakkan, menyebabkan beberapa manusia mencelat ke berbagai arah, termasuk aku. Megap-megap kegirangan karena berada di dekapan air, seseorang kemudian menarikku kembali ke atas perahu.
Ekspresi girangku berubah panik saat melihat wajah seorang kawan yang masih berada di air bersimbah darah. Astaganagagunaganasyalala. Cepat-cepat sang kawan ditarik ke perahu terdekat, perahuku. Setelah menyeka darah dan berkumur, sang kawan menyatakan kesanggupannya untuk meneruskan perjalanan. Wooow, what a spirit!!
Beberapa jeram setelah jeram domba, tingkat ekstrem pengarungan mulai menurun. Adrenalin yang tadi sempat meninggi perlahan mulai sirna, berganti decak kagum yang didapat dari pemandangan alam hutan pinus serta kebun-kebun penduduk.
Kurang lebih satu setengah jam pengarungan berlangsung. Perasaanku masih membuncah akibat adrenalin yang tadi sempat naik. Maka, ketika trip ketiga direncanakan, dengan senang hati aku mengikutsertakanku kembali. Tak kupedulikan gigi yang terus bergemeretuk tanpa henti. Tak kupedulikan kulit yang sudah mulai keriput kedinginan. Otakku membeku. Yang tersisa di sana hanyalah kegembiraan. Adrenalin memang candu yang memabukkan.
Maka, trip ketiga pun dilakukan, kali ini tanpa simulasi karena langit telah beranjak gelap. Adrenalin kembali terpacu, dan terpuaskan karena sekali lagi badanku terlempar keluar dari perahu. Tubuhku disambut dengan riang gembira oleh gerombolan air sungai Palayangan, yang langsung memelukku erat. Duuuuhhh...dingiiiinn... Dan aku tak sanggup menyembunyikan gelak tawa saat kepalaku menyembul dari permukaan air. THIS IS GREAAAATTT!!
Yang lebih menyenangkan lagi, di tengah pengarungan hujan mulai turun. Beberapa kali aku menengadah, hanya untuk melihat titik-titik air itu turun menghujam bumi. Merasakannya membasahi wajahku dan mengalir menuruni lekuk-lekuknya. Benar-benar kenikmatan tiada tara.
Duh Tuhan, aku bahagia...






No comments:
Post a Comment