rss
email
twitter
facebook

Tuesday, October 10, 2006

Salah Siapa? Salah Saya? Salah Kamu?

Beberapa malam yang lalu saya menonton sebuah film yang membuat puluhan shuriken serasa menghantam tepat di dada saya. Habisnya, saya ketohok oleh beberapa adegan yang (dengan ge-ernya) kayaknya kok ditujukan kepada saya. Yang udah nonton The Break Up mungkin ngerti maksud saya.

Saya (yup, mending pakai kata SAYA daripada kata KEBANYAKAN CEWEK) merasa cukup terwakili oleh Brooke (Jennifer Anniston) dalam menjalin suatu hubungan. Brooke (dan saya) Nggak pernah mnejlentrehkan secara langsung apa yang ada dalam hati ke pacar. Kepengin A, yang keluar dari mulut malah C. Alasannya, "Masak kamu nggak ngerti sih, kamu kan pacarku. Harusnya kamu yang paling mengerti aku!"

Alasan yang dikeluarkan Brooke setali tiga uang, bahwa ia telah memberikan isyarat kepada sang pacar tentang apa yang diinginkannya. ISYARAT. Hhmmm... If you give it a second thought, emangnya si pacar bisa bahasa isyarat?! Emangnya dia udah dapat sertifikat tentang bahasa isyarat yang dikeluarkan oleh Brooke High School?! Maka, nggak salah juga kalau Vince Vaugh kemudian bilang, "Well, I'm not a mind reader," ketika Brooke mengatakan tentang bahasa isyarat itu padanya.

Saya, sedihnya, juga seringkali mengalami hal yang sama. Saya selalu punya kesulitan untuk mengungkapkan apa yang ada di hati kepada pacar tercinta. Saya kepenginnya C, yang keluar dari mulut sialan ini malah G.

Kadangkala saya kepingin pacar melakukan C tanpa saya harus mengatakannya. Saya menganggap bahwa sebagai pacar yang baik tentulah dia menyadari bahwa C akan membuat saya bahagia setengah mati. Hah...sebagai orang komunikasi saya harusnya sadar bahwa itu sulit terjadi. Hellow...dimana letak komunikasinya?! Emangnya field of experience dan frame of refence saya dengan pacar sama? Knock...knock...anybody inside the head??!

Sebenarnya, saya lebih sering berdiam diri daripada membicarakan suatu hal dengan pacar. Tapi, buntut-buntutnya saya malah ngambek sendiri karena pacar nggak kunjung mengerti apa yang saya rasakan sebagai masalah. Saya yang memendam kekacauan dalam hati akhirnya meledak hanya karena hal kecil. Alhasil, pacar jadi sasaran kemarahan, tanpa tahu dimana letak kesalahan yang dilakukannya. Kacau kan? Kalaupun dia bersalah, bukankah dia juga berhak mengetahui kesalahan dan hak-haknya (seperti yang selalu dibacakan polisi luar negeri saat berhasil menangkap buronannya).

Saya juga heran kenapa kok saya seperti itu. Padahal, saya bisa dengan mudah berkomunikasi (baca: curhat) ke teman saya yang berjenis kelamin cowok. Jadi, masalahnya jelas bukan dari jenis kelaminnya kan?

Ketika saya membahas "penyakit" ini dengan teman saya itu (yang kemudian dijadikan bahan blog juga olehnya, coba cari deh di blog sebelah), dia bilang, "Kenapa nggak kamu coba omongin aja sih yang kamu omongin ke aku ini?". Aaargh...kalau saya bisa ngomongin hal beginian ke pacar, ngapain juga saya curhat ke kamu?!

Masalahnya adalah, saya nggak bisa. Sangat sangat sulit untuk membuka mulut dan membiarkan apa yang ada di hati terburai keluar. Apalagi diketahui oleh orang yang saya sayangi.

Bingo!! Itu dia jawabannya! Saya kesulitan membuka retsleting bibir hanya di depan orang yang sayangi. Alasannya, karena dia orang yang saya sayangi. Nah lho, aneh juga ya. Padahal dengan orang yang disayangi harusnya saling terbuka kan? Aaah...saya memang aneh!

Tapi-percaya atau nggak-kebiasaan ini sudah sangat berkurang dari terdahulu. Memang, sampai sekarang saya masih kesulitan mengutarakan keinginan atau perasaan saya, tapi saya sudah mulai belajar untuk mengatakannya, meski selalu terlambat (baru ngomong setelah beberapa hari, jadi nggak hangat-hangat tahi kebo lagi).

Dulu? Boro-boro ngomong, saya selaaaaalu meretsleting bibir selama berhari-hari yang buntut-buntutnya menyulut bertengkar, nyenggol masalah lain hingga akhirnya putus. Nista sekali kan? Hhh...

Tapi...nggak adil ah kalau saya hanya menyalahkan Brooke dan diri sendiri. Saya juga mau menyalahkan Vince Vaughn, plus cowok-cowok yang pernah merasakan jadi pacar saya (kalau bisa si sama sekalian cowok-cowok yang ngerasa, ehehehe...). Kenapa sih kalian nggak peka sama perasaan cewek??! Masak sih kalian sedemikian nggak ngehnya sama apa yang dipenginin cewek?

Jangan-jangan kata-kata "I'm not a mind reader" adalah alasan sempurna untuk menutupi keegoisan kalian yang sedemikian membludak. Yap, sebenarnya kalian yang terlalu egois dan tidak pernah berusaha untuk mengerti pacar kalian. Kalian tidak benar-benar mendengarkannya saat ia berbicara, baik dengan bibirnya maupun dengan tingkah lakunya.

Jadi, karena kalian terlalu disibukkan dengan keegoisan kalian, apa yang sebenarnya sudah ada di depan kalian untuk dilihat, tidak lagi terbaca. Dan kalian kemudian menyalahkan kami (Brooke dan saya, bukan semua cewek) yang menurut kalian tidak pernah mengatakannya langsung. Ah, saya jadi ingat sebuah film berjudul "You Stupid Man". Dasar cowok geblek!

Yah, menyalahkan orang lain memang menyenangkan. Tapi, jika semua pihak saling menyalahkan, emangnya masalah bisa selesai? Mending kedua pihak saling introspeksi. Saya dan Brooke harus mempertimbangkan untuk lebih terbuka dan nggak lagi bermain dengan bahasa isyarat. Sedangkan Vince Vaugh dan pacar (plus mantan) saya harus lebih keras lagi berusaha memahami kami dan keinginan-keinginan kami.

Jadi, salah siapa? Saya? Atau kamu? ***

1 comment:

Anonymous said...

kalo ga salah,kamu cuma ga bisa ngomong langsung ama dia.
tapi kalo nulis bisa.
ada ide neh,
knp kalian ga blajar telepati ajah
lumayan kan, slain ga perlu ngomong, bisa skalian hemat pulsa fren...
maklum, kan LDR...
:D