Subject : Graduation Day
Whom Involved : I, my egoism and someone I love
I've been thinking. About how selfish I become. It's really not something new that I realize myself as a selfish freak. Yes, I do know about that quality I owned. Back then, I hardly never try to do something about my attribute that all my friends have notice. This time, I just thought that maybe I need to reduce it.
Yesterday, I had a conversation with someone I love. He said that he might not able to come in my graduation day. I was so surprised by what he uttered. Can u imagine that, my graduation day, one of my most important day, day I achieved with so much efforts, the day that I really want to share with him, and he turned me down? Well, it's not so hard to understand why I am being so upset, rite?
So, I said to him, "I don't wanna know, u have to be there!"
...
After those conversation, saya tidak bisa berhenti berpikir. Benarkah apa yang baru saja saya katakan kepada seseorang itu? Memangnya apa hak saya mengharuskan dia datang hari itu? Memang, itu adalah hari bahagia saya. Dan bukan sesuatu yang salah juga jika saya ingin berbagi momen itu dengannya.
Tapi, apakah dengan memaksakan dia datang dan menemani saya ke momen itu, juga akan membuatnya bahagia? Siapa saya sehingga dia harus mengorbankan waktunya, bahkan mungkin mimpi-mimpi dan masa depannya hanya untuk saya seorang? Padahal, my graduation day is just a graduation day. It's not a day yang menentukan masa depan saya. Bukan juga hari yang akan menentukan kemana saya harus melangkah ke depannya. Sedangkan dia, alasan kenapa seseorang itu mungkin tidak bisa datang ke my graduation day adalah hal-hal yang saya sebutkan di atas. Bahwa yang menghalanginya adalah kewajiban-kewajiban yang mungkin menentukan masa depannya, menentukan salah satu peraihan mimpi-mimpinya.
Saya, adalah orang yang sangat berupaya mewujudkan mimpi-mimpi yang saya miliki. Prioritas terdepan saya saat ini adalah mewujudkan mimpi yang saya bangun sejak saya menginjakkan kaki di kampus saya, empat tahun lalu. Dan saya adalah orang yang akan melakukan apa saja untuk menjaga agar jalur untuk meraih mimpi itu tetap terbentang di depan mata.
Lalu, bagaimana mungkin saya tega menghalanginya mewujudkan masa depan, menjaga mimpi-mimpinya tetap hidup? Bukankah saya akan menjadi orang yang paling egois dan tidak punya hati kalau saya melakukan hal itu?
Saya, sama sekali tidak ingin menjadi seseorang yang tidak punya hati. Saya kan menyayanginya, dan saya butuh hati untuk melakukannya. Maka, saya jadi berpikir bahwa saya nggak mengharuskannya untuk berada di samping saya ketika saya diwisuda. Yang penting, hati seseorang itu ada bersama saya.
Saya nggak lagi keberatan dengannya yang harus melakukan kewajiban-kewajibannya dalam mewujudkan mimpi-mimpi yang ia miliki. Saya nggak akan memaksanya mengorbankan masa depannya demi saya. Karena tanpa itu pun saya masih menyayanginya. Dan saya tahu dia menyayangi saya juga...
4 Cara Cepat Mengarang Dialog Yang Realistik
1 week ago






3 comments:
Egois. Sikap yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Termasuk aku sendiri pun terkadang menjadi orang yang egois. Egois itu memang perlu. apalagi, kita mengharapkan suatu pencapaian. Tapi, itu semua ada batasannya. Kalau memang tidak bisa, kenapa harus dipaksakan. Iya gak?
Kemudian, dalam konteks wisuda. Kamu pingin tahu apa yang ada di pikiranku sekarang? Aku pingin sekali bisa menghadiri wisuda orang yang aku sayangi. Dan, aku akan berusaha untuk bisa menghadirinya. Kendati hanya satu menit atau satu jam.
From someone that you luv. GBU.
Saat saya menulis postingan tersebut, saya sangat sadar bahwa kamu bukannya tidak ingin menghadiri wisuda saya. Saya tahu kamu ingin menghadirinya. Sayangnya, karena alasan-alasan tertentu kamu berhalangan datang.
Saya sangat menghargai keinginan dan usahamu untuk datang ke wisuda saya. Tapi, saya sangat tidak ingin kamu memaksakan diri dan mengorbankan waktu serta fisik hanya untuk datang ke wisuda saya. Seperti yang kamu bilang, kalau memang tidak bisa, kenapa harus dipaksakan... Mungkin memang pada saat itu kamu tidak bekerja. Tapi ingat, kamu dan saya terpisah jarak yang tidak sedikit. Untuk mengalahkan rintangan tersebut, banyak hal yang kudu kamu korbankan. Diantaranya uang, waktu dan tenaga. Kalau apa yang kamu usahakan malah merugikanmu, itu yang tidak saya inginkan.
Jadi, berpikirlah matang-matang sebelum membuat keputusan yang nantinya malah akan mengacaukanmu. Tenang saja, nanti foto saya berkebaya pasti bakal saya kirimkan...
bagaimanapun jg, wisuda hanyalah sebuah ritual yg menurutku gak begitu penting,toh gak bakal kehilangan gelar S.Sos nya.
ada yg lebih pentingkan?
akirnya tak isi jg, sory aq gaptek, gak tau caranya
Post a Comment