Beberapa waktu yang lalu, seorang teman mengirimkan sebuah message kepada saya, via Friendster. Dia bertanya, "Arti cinta menurutmu apa ya Put?" Katanya, saat itu dia sedang mendefinisikan ulang arti cinta dalam hidupnya. Di akhir usahanya, teman saya itu berkata bahwa yang tersisa ternyata malah sebuah tanda tanya besar menggelayut di otaknya.
Cinta? Pertanyaan yang gampang memang. Tapi, jawaban dari pertanyaan itu lho yang susahnya amit-amit! Hmmm... Buat saya, nggak ada definisi yang benar tentang arti cinta sebenarnya. Pasalnya, setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda mengenai cinta. Jadi, pemahaman tentang cinta pun akan berbeda-beda, karena setiap orang pun memiliki field of experience dan frame of reference yang berbeda-beda mengenai cinta. Terlebih lagi, cinta adalah sesuatu yang abstrak, tidak memiliki wujud nyata dan hanya bisa dirasakan dalam hati oleh si empunya raga.
Namun, (ini berdasarkan pengamatan dan juga apa yang saya alami) cinta itu adalah sebuah perasaan yang muncul pada diri seseorang kepada individu lain diluar dirinya. Bagaimana perasaan ini muncul, tidak ada seorang pun yang tahu secara pasti. Ibaratnya, cinta itu setali tiga uang dengan jelangkung. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Nggak ada yang bisa merumuskan kapan cinta datang dan menyerbu hati seseorang. Sama seperti tidak akan ada yang tahu kapan dan bagaimana sebuah perasaan cinta menguap tanpa tahu kemana.
Saat cinta menyeruak, banyak hal yang akan mengubah seseorang yang sedang dilanda cinta. Otak misalnya. Saat kejatuhan cinta, otak berubah menjadi karatan dan tidak lagi bisa digunakan secara semestinya. Alhasil, banyak keputusan-keputusan tidak masuk akan dilakukan atas nama cinta.
Mata. Cinta membuat seseorang terlihat begitu cantik ataupun tampan. Peduli setan dengan pendapat orang lain. Di mata seorang pencinta, sosok yang sedang dicumbuinya merupakan sosok yang indah dan menarik.
Cinta, seringkali mendatangkan energi besar yang entah berasal dari mana. Cinta mampu memberikan kekuatan kepada seseorang untuk berbuat sesuatu. Coba ingat-ingat kisah cinta Shancai dan Dao Ming Tse (gak penting banget ya percontohannya? Hehehe...). Saat mencintai Dao Ming Tse, Shancai jadi memiliki kekuatan luar biasa untuk berdiri di bawah hujan deras. Atas nama cinta jualah Adam Sandler rela terus mengingatkan Drew Barrymore yang mengalami short memory lost akan cinta mereka (liat pilemnya 50 First Dates kan?). Setiap hari! Damn!
Cinta juga membuat seseorang rela mengorbankan kepentingannya demi orang yang dicintainya. Tanpa adanya pengorbanan, cinta terasa hambar. Seperti pizza tanpa keju. Pengorbananlah yang membuat cinta terasa sebagai sesuatu yang penting dan patut dipertahankan.
Jargon "Cinta tak harus memiliki" buat saya hanyalah tipuan semata. Itu merupakan akal-akalan seseorang yang tidak bisa memiliki cinta. Supaya dia tidak terlihat sedemikian menyedihkan. Supaya dia tidak dikasihani oleh orang lain. Bagi saya, cinta jelas dikuasai oleh keinginan untuk memiliki. Hanya orang-orang munafik dan sok suci saja yang tidak mau mengakui hal tersebut.
Ketika mencintai seseorang, jelas saya ingin memilikinya. Saya ingin dia mencintai saya sama seperti saya mencintainya. Saya ingin berada di pelukannya. Saya ingin menciumnya. Saya ingin melihat dia bahagia. Semua itu saya inginkan terjadi dengan saya, bukan dengan manusia lain.
Saat cinta datang, seseorang biasanya akan mengupayakan apapun untuk memiliki sang cinta. Perjuangan sekuat tenaga sangat diperlukan untuk meraih dan mempertahankan seseorang yang dicintai.
Upaya dan perjuangan inilah yang bagi sebagian besar manusia menjadi salah satu tolok ukur seberapa besar kadar cinta seseorang. Persis seperti apa yang diungkapkan oleh Brooke kepada Lucas dalam serial favorit saya, One Tree Hill, "I want you to fight for me! Telling the whole world that you are the one for me!"
Ibaratnya begini, ketika mencintai seseorang, saya juga kepingin tahu dong seberapa besar orang yang saya cintai mencintai saya. Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan melihat seberapa besar perjuangan seseorang itu untuk meraih dan mempertahankan saya.
Sebagian besar individu di dunia ini (termasuk saya) membutuhkan perasaan aman. Bahwa dirinya cukup dicintai. Bahwa dirinya berhak mendapatkan cinta sebanyak ia memberikan cinta. Oleh karena itu, saya menghimbau kepada siapa saja supaya dalam hidup ini jangan sungkan-sungkan berjuang demi cinta.
Itulah yang saya ingin sampaikan kepada teman yang membuat saya memposting tulisan ini. Wahai kawan, sudahkah kamu berjuang demi cintamu? Sepenglihatan saya, teman saya ini menyisakan tanda tanya besar tentang cinta di otaknya karena dia tidak pernah cukup berjuang demi orang yang dicintainya. Saya mengenalnya cukup baik. Cukup baik untuk bisa mengendus bahwa dirinya seringkali takut untuk melangkah, terlalu takut untuk mengambil resiko. Resiko mencintai.
Cinta itu sangat penuh resiko. Memang benar cinta itu tak lepas dari keinginan untuk memiliki, untuk berupaya mendapatkan dan mempertahankannya. Namun, seorang pejuang cinta juga harus tahu kemampuannya. Jika memang cinta itu tidak dapat tumbuh di pihak lain, janganlah jua terlalu memaksakan. Ketika tiba saatnya mengalah, terimalah kekalahan dengan lapang dada. Akuilah kekalahan yang menimpa, toh tidak selamanya manusia mengalami kemenangan, bukan?
Cinta itu indah, kawan! Cintalah yang membuat kita hidup, yang mengisi warna warni, pahit dan manisnya kehidupan. Jadi, janganlah takut untuk mencintai. Temukan cintamu dan pertahankan dengan seluruh kekuatanmu!






3 comments:
Hiks...hiks.... Itz true, Waktu q baca ga krasa ada yang netes, (tapi bkan ngiler lho. Hehe..) :) Itz so nice Poet. Erin Bangetz. Domo Arigatou ... Gambatte !!!
ini buat erin?
bukan buat aq???
lho, ini buat semuanya kok. tapi yang terutama ya jawaban buat yang pernah nanyain masalah ini sama aku. ini siapa sih? oi, kalu ngasi komen itu mbok ya dikasi nama gitu loh. jadi kan nggak bingung....
Post a Comment