Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan email dari seorang kawan, tentang betapa beruntungnya kita berada di Indonesia. Email itu disertai dengan gambar-gambar berbagai lokasi di Indonesia yang memiliki “hawa” serupa dengan Prancis, Amerika, Singapur, dan beberapa negara maju lainnya.
Memang sih, sekilas gambar-gambar tersebut memang terlihat cukup keren sebagai perwujudan sebuah Indonesia. Namun entah mengapa aku tak sedikitpun merasa demikian ya? Rasanya bego saja membandingkan diri dengan negara-negara berkembang itu hanya dari sekilas foto. Sedangkan apa yang ada di dalamnya sama sekali berbeda. Seperti apa yang terpampang di depan mataku beberapa malam lalu.
Seperti biasa aku menjalankan auto pilot mode ON saat mengarungi perjalanan kantor-kos. Di bawah kolong jembatan penghubung wisma BII dan EX plasa, tak sengaja mataku menatap sesosok tubuh. Postur laki-laki bertubuh gempal itu membelakangiku, menghadap sangat rapat ke sudut tembok pagar keramik wisma BII. Butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa lelaki itu sedang menunaikan hasratnya. Alias buang air kecil.
Saat menyadari hal ini, aku buru-buru mencabut pandanganku dari punggungnya, dan langsung menyalurkan tenaga ke kaki untuk membuatnya berjalan lebih cepat. WTF!! Ini belum juga jam 8 malam! Apa sih susahnya masuk ke gedung BII dan buang hajat disana??? Instead of mengencingi jalanan umum!! Emang lo kira lo nggak buang polusi di situ??
Di lain kesempatan, saat aku berjalan di trotoar untuk pejalan kaki (masih di daerah Thamrin juga), tiba-tiba di depanku muncul motor yang nyelonong begitu saja. Dengan tak merasa berdosa sedikitpun membunyikan klakson nya dengan keras. Emang mbok kiro jalanan mbahmu opo???? Gak ngerti tah kalau jalan ini khusus untuk pejalan kaki??? Buhseeeeeeettt!!!
Hal-hal seperti inilah yang tak nampak dari gambar-gambar ilusi di email yang kuterima itu. Ketidaktertiban dan ketidakdisiplinan manusia-manusia penghuninya. Pantesan jalanan jadi pesing banget. Pantesan macet dimana-mana. Pantesan tingkat kecelakaan kendaraan bermotor masih tinggi. Pantes…pantes…pantes…
Makanya, jangan sok membanding-bandingkan dengan negara-negara lain ah. Bikin malu.






No comments:
Post a Comment