rss
email
twitter
facebook

Monday, June 29, 2009

KING vs GDD

Liburan sekolah memang waktu yang tepat untuk mengeksploitasi keinginan anak akan hiburan. Walhasil, banyak sekali produk-produk yang mendompleng kesempatan liburan untuk mengeruk keuntungan. Tak ketinggalan juga dunia perfilman.

Tahun ini praktis ada dua film anak yang muncul menghiasi koleksi perfilman Indonesia. Sebuah prestasi besar menurutku, setelah setan-setan yang tak jua lelah menghantui layar lebar. Setan yang tak lagi memiliki unsur menakutkan seperti film "Jelangkung", namun malah bikin eneg.

Meski sudah tidak lagi menyandang status anak sekolahan, ternyata aku masih ikut menikmati momen liburan sekolah itu. Kemarin aku resmi melakukan tindak pidana nonton terusan. Tindakan yang tak saja membuat dompetku lantas kerontang, namun juga membuat jantungku tak tenang saking semangatnya.


Film pertama yang kunikmati adalah Garuda di Dadaku, sebuah film besutan Ifa Isfansyah yang menggambarkan perjuangan seorang pesepakbola cilik berbakat untuk menjadi pemain timnas U-13. 45 menit setelah Garuda di Dadaku berakhir, aku kembali nongkrong di bangku studio 21. Kali ini, studio itu memutar King, film karya Ari Sihasale yang memaparkan tentang perjuangan Guntur untuk menjadi seorang juara badminton seperti Liem Swie King.

Aku tidak hendak memaparkan cerita lebih lanjut mengenai kedua film tersebut. Toh Anda-Anda sekalian dapat melihat sinopsisnya di mana saja. Aku hanya ingin mencerewetinya saja kok.

Diputar pada saat yang nyaris bersamaan, kedua film ini memiliki cukup banyak kesamaan yang lebih dari sekedar waktu pemutaran. Kisah yang bertutur seputar olahraga—bulutangkis dan sepakbola, lakon utama seorang anak lelaki berusia 12 tahun yang diasuh oleh orangtua tunggal (single parent), kesulitan finansial keluarga lakon utama, dua orang teman dekat laki-laki dan perempuan, obsesi orangtua akan kesuksesan (meski yang satu cenderung memaksakan kehendak, sementara yang lainnya memiliki kecenderungan menghukum), rivalry dengan kawan sesama klub, serta nuansa nasionalisme yang kental.

Bangunan cerita pun memiliki fondasi yang nyaris sama. Dari sebuah keinginan untuk menjadi salah satu entitas nasional pengemban nama bangsa (dan desa, hahahahaha... You will understand kalau udah nonton KING), menjelma sebuah kesempatan yang membutuhkan usaha keras untuk mewujudkannya.

Meski memiliki kesamaan di berbagai sudut, GDD dan KING memiliki perbedaan yang cukup menonjol. Salah satunya adalah setting. GDD bersetting di Jakarta dengan segala rumusan ke-kota-annya. Sementara itu, KING mengambil setting di Bondowoso, di sebuah desa kecil dengan segala rumusan ke-ndeso-annya.

Mungkin pemilihan setting inilah yang membuat aku lebih menaruh hati dengan KING. Proximity effect, istilahnya. Wajar juga sih, karena dalam KING bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Timur kasar yang lekat dengan penggunaan bahasaku sehari-hari. Perhatikan saja omongan Guntur kala ia menghardik Raden saat sang kawan melontarkan ide-ide aneh. "Ngawur koen!" Hahahaha, hanya mendengar kata itu saja aku sudah tertawa terbahak-bahak. Atau saat Mbah Su, nenek Raden, memaki-maki dengan rentetan bahasa Jawa Timuran yang kasar itu. Sepanjang pemutaran KING, aku tak pernah berhenti mesam-mesem mendengar kalimat-kalimat Jawa Timur yang terlontar.

Lebih dari sekedar kedekatan, buat aku KING juga nampak lebih riil dengan permasalahan-permasalahannya. Di GDD, Bayu sangat beruntung memiliki sahabat yang kaya dan mampu menangani semua kesulitannya yang berhubungan dengan masalah finansial. Sampai-sampai, saat film masih diputar, aku sempat berbisik pada Eka, "Enak bener ya punya temen kaya. Lo kaya deh Ka, gw ntar temenan ama elo". Bedakan dengan KING, yang meskipun Michelle boleh dipandang cukup berada, permasalahan keuangan tidak sekonyong-konyong terselesaikan. Instead of asking for Michelle's mother's money, Michelle bersama Raden harus mengamen demi mengumpulkan rupiah untuk biaya pendaftaran klub badminton Guntur.

Dalam GDD, perjuangan juga nampak tak riil dengan berbagai kemudahan yang didapat Bayu. Hanya karena melihat tendangan Bayu yang tepat sasaran, ia lantas dicap berbakat dan mendapatkan semua perhatian dari sang pelatih. Bedakan dengan Guntur, yang tak mendapatkan perhatian dari sang pelatih sampai setelah ia beberapa kali bertanding. Itupun bukan perhatian yang lantas membuatnya mendapatkan perlakuan ekstra.


Klimaks GDD pun terasa hambar, dilihat dari betapa gampang sang kakek berubah pikiran mengenai what's best for his grandson. Padahal, sepanjang film terlihat betapa kolotnya sang kakek, betapa ia sangat membenci sepakbola. Yeah, accident sometimes do change one's brain composition. But come on... Really???

Hal ini lah yang membuatku menjatuhkan vonis tentang penokohan GDD yang kurang kuat. Setiap tokoh tidak memiliki karakter yang kuat dan membuat kita memahami apa yang sebenarnya ada dalam otak mereka. Ya persis seperti sang Kakek itu, yang dapat berubah pikiran semudah membalikkan telapak tangan. Padahal kita tahu persis, perasaan dan pikiran susah untuk dirubah. Alasan-alasan emosional hanya ditunjukkan dalam dialog romantis menye-menye. Seperti dialog antara Bayu dan Heri saat mereka berada di rumah sakit. "Aku ingin bisa bangga sama kamu , blablabla..." Nggg...emang sih anak kecil terkadang suka mendramatisir sesuatu, tapi kok sinetron sekali ya?

Tokoh Zahra pun buatku nampak tidak riil, berusaha menjelma sebagai sosok misterius, namun jatuhnya corny. Apalagi ayahnya, yang sebelumnya dikabarkan sakit keras, eh ternyata pada saat pertandingan bisa datang ke stadion dan nampak sangat segar bugar. Ngggg... *krikrikrik*

Sebaliknya, penokohan KING digarap dengan lebih apik dan realis. Aku merasakan bahwa Guntur sangat kehilangan ibunya dan tersiksa dengan kerasnya sang ayah dalam mendidik. Yang lantas membentuknya menjadi sosok yang angkuh dan pemarah. Aku juga paham apa yang dirasakan oleh Tedjo, sang ayah, yang mendidik Guntur dengan keras. Aku bisa memahami kenapa ia melakukan ini dan itu. Dan oh ya, aku harus angkat jempol untuk akting Mamik Prakoso. Menurutku ia bermain sangat apik di film ini. Ia berhasil menampilkan ekspresi seorang bapak yang helpless karena himpitan ekonomi. Di adegan lain, ia berhasil menampilkan ekspresi bangga atas kesuksesan anaknya. Benar-benar mantap.

KING pun kulihat sangat memperhatikan detil-detil dalam film ini, membuatnya nampak makin riil dimataku. Sepeda yang dikendarai oleh Guntur dan Raden mengingatkanku pada hari-hari sekolah dulu. Pigura yang menjadi rumah bagi foto sang ibu pun nampak sangat ndeso, yang tentunya cocok dengan setting pedesaan itu. Dan coba perhatikan adegan dimana pak pos datang ke desa Guntur, latar belakang aktivitas yang saat itu terjadi adalah rombongan perempuan desa yang tengah mandi dan mencuci di pemandian terbuka. Pemandangan yang sangat membumi di desa-desa di daerah jawa timur.

Tidak hanya segi konten yang menawan, sisi teknikal KING pun amat membuai mata. Sekali lagi applause untuk Yudi Datau sebagai DoP (Director of Photography) yang telah meramu alam Indonesia dan menyajikannya dengan sangat indah, seperti dalam Denias. Aku sampai terharu dan sangat ingin kembali menyusuri alam. Meski aku agak ragu apakah di daerah Bondowoso sana kita bisa menjumpai kijang berlarian amat dekat dengan pemukiman masyarakat. Namun demikian, sepulang dari menonton KING, aku jadi berpendapat bahwa kita memang harus mengeksplor alam Indonesia dahulu sebelum berkata seenak hati ingin menjelajahi negara tetangga.


Dipandang secara keseluruhan, aku menganggap bahwa KING sebenarnya bukan ditujukan untuk anak-anak. KING justru ditujukan bagi orang dewasa yang telah mampu memahami emosi, karena memang emosi yang ditampilkan dalam KING cukup implisit namun justru membuat film ini lebih hidup. Mungkin dengan lakon anak-anak, seorang dewasa dapat lebih tergugah rasa nasionalisme dan perjuangannya.

Sementara itu, GDD aku anggap sebagai film yang memang ditujukan khusus bagi anak-anak, hanya cukup menghibur dan less emotion.

Bagaimanapun juga, keduanya adalah film Indonesia, yang sangat aku hargai keberadaannya diantara puluhan film-film tak berkualitas bernuansa setan dan komedi seks gak jelas. GDD juga nggak jelek-jelek amat untuk ukuran karya pertama sutradara Ifa Isfansyah. Terus berjuang ya Ifa, dan terus munculkan karya-karya berkualitas. Awas kalau kamu sampai ketahuan menyutradarai film horor ya!!

Dan untuk Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, aku memberikan standing applause untuk keduanya. Mereka adalah pejuang film nasional. Meski Merantau yang merupakan film pencak silat itu harus disutradarai oleh orang asing, untungnya Indonesia tidak lagi kecolongan dengan bulutangkis, salah satu olahraga yang pernah mengangkat nama Indonesia di kancah internasional. Bravo Indonesia!! Bravo KING!!!

6 comments:

ekalong said...

nontonnya ma sapa ja, poe??
kenalan dong..ama temen lo yg namanya eka... xixixixi...

pOe said...

eh jangan, si eka mah orangnya aneh, lo ntar nyesel deh kenalan ama dia, wekekekkekekek....

Hamster Copo said...

mbak sebelumnya aku mintak maaf yaa karena aku habis nyontek jawaban mbak di kompetisi-nya mbak fenty hehehe..maaf yaak??*kabuur*

duniaputri said...

poe... si aku malah pingin sua dengan dirimu...
howkeeeh, semoga suatu saat yah poe...
sebagai yang namanya mirip : aku kadang pun dipanggil poe eh...

Brahm said...

"Kita memang harus mengeksplor alam Indonesia dahulu"

You've got my vote, sist! Aku lbh bangga jalan2 ke Papua daripada ke Singapura. Lbh suka nabung buat ke Bunaken ketimbang buat ke Malaysia.

pOe said...

@ brahm : ahahahha...iyolah mas, lapo mengunjungi malaysia kalau kita masih belum menjelajah indonesia sendiri. lagian, keindahan alam apa yang dimiliki malaysia??? kita memiliki yang lebih kok...

yuk kapan2 backpack bareng!!