rss
email
twitter
facebook

Thursday, June 11, 2009

Black and White

The world is not black and white. Itulah mengapa aku merutuki sinetron-sinetron Indonesia, ataupun telenovela-telenovela yang selalu menampilkan gambaran manusia yang terkotakkan dikotomi hitam dan putih. Seorang tokoh protagonis digambarkan bak manusia suci yang tak pernah sekalipun berpikiran buruk, tak memiliki paranoia apapun dan menganggap orang lain sesuci dirinya. Sementara itu, tokoh antagonis dideskripsikan dengan perbedaan yang sangat mencolok. Serakah, sombong, iri hati, dan …yah tujuh dosa utama seakan lengkap menempel di atribut tokoh tersebut.

Oh come on...

Setiap manusia memiliki sisi hitam dan putih, yang tergabung menjadi sebuah entitas jiwa. Memungkinkan manusia tersebut memiliki kesombongan di satu sisi jiwanya namun juga ketulusan hati di sisi yang lain. Tidak hanya satu sisi yang terendap dan menjadi titik tolak kehidupan seorang manusia. Pun, apa asiknya hanya memandang satu warna saja? Lagi-lagi, manusia tidak sesimpel itu, manusia itu kompleks, thanks to the Almighty. Why can’t the creator of s(h)i(t)netron or telenovela understand this? Geez...

Lihat deh serial-serial buatan luar negeri, seperti Desperate Housewives, Boston Legal, Gilmore Girls, One Tree Hill, dll. Serial-serial tersebut bisa memberikan alur cerita yang menarik, tanpa harus mengkotakkan persona seseorang ke satu sudut, hitam atau putih. Daya tarik cerita tak sekedar tentang si A yang teraniaya, yang terus menerus menangis, atau tentang si B yang membuat pemirsa geregetan kepingin membunuhnya saking jahatnya ia.

Justru daya tarik yang diberikan oleh serial-serial besutan luar negeri ada pada perpaduan antara hitam dan putih. Gray area, people said. Di balik kekejaman dan kelicikan seorang Lex Luthor (Smallville), ia adalah sosok yang penuh dengan cinta. Edie Brit (Desperate Housewives) yang genit dan selalu disangka sebagai perebut suami orang, adalah sosok perempuan kuat dan mandiri.

Terkadang aku merasa sedih saban melihat s(h)i(t)netron yang beredar dengan bebasnya di setiap stasiun-stasiun televisi Indonesia. Apa ya nggak ada pekerja kreatif yang mampu membuat tayangan fiksi bermutu? Memangnya Indonesia semiskin itu ya akan kreativitas? Sampai-sampai film tentang budaya Indonesia—pencak silat—harus digarap di tangan sineas asing? I am talking about Merantau, pilem yang disutradarai oleh Gareth Evans, sineas asal Inggris. *sigh*

Ah, yah, the world is not black and white, Put. Instead of men-judge bahwa Indonesia tidak memiliki kreativitas, tidakkah kamu yang seharusnya berusaha memunculkan insan-insan kreatif itu? Atau menjadi salah satu di antaranya?

*sigh*

Ah yah, dunia memang tidak hanya hitam dan putih.

6 comments:

mbun said...

mencari hitam menemukan putih....mencari putih menemukan hitam sighhhhhhh

duniaputri said...

ciiin, gwa demen dah ama nyang inih. numpang bagi-bagi di beberapa jejaring so(K)sial sayah yaaa...

Guri Ridola said...

Setuju banget...
Gw juga anti sinetron...
MAmpus aja tuch..tuan-tuan sutradara, penulis skenario, dan antek2nya...yang membodohi publik untuk materi semata.
Hidup tidak hanya soal hitam dan puti..tp lebih banyak warna yang akan membuat hidup lebih baik.

ariez said...

blum baca sepenuhnya tapi dah tau maksudnya...

i like this post!!!

Ms. Grey said...

I like this posting...
Grey is a color too right???

Cause of that I choose Grey for color of my life...

pOe said...

terima kasih temans...

warna warni emang dibutuhkan di dunia ini, nggak hanya dikotomi hitam putih aja yang harus ada...

merah biru ijo grey, jika kita bisa menangkap semua warna itu di mata kita, ckckck...itu baru bener2 idup kali yaaa....