Ternyata aku terlalu arogan dengan menuduh bahwa kebanyakan perempuan hanya ingin untuk dicintai. Sedemikian antinya dengan ide itu, sampai-sampai aku menutup mata dengan kenyataan bahwa perempuan juga memiliki keinginan untuk mencintai. Ya, mencintai. Aktif, bukan pasif. Memiliki rasa menggebu-gebu, dan bukan hanya menerima perasaan orang lain dengan pasrah. Tanpa mempedulikan apa yang dirasakan oleh orang yang ia cintai tersebut.
Dan saking tidak pekanya akan keinginan dan kebutuhan itu, aku membuat seorang sahabat menangis dengan pedasnya kata-kata yang kulontarkan. Walhasil, ia membenciku dan tak mau menghubungiku selama beberapa minggu.
Padahal, yang diinginkannya hanya satu, ia ingin merasakan kembali perasaan mencintai seseorang. Bahwa dalam gelapnya malam, ia dapat berbisik : “Aku merindukanmu, Xxxx”, “Aku mencintaimu, XXX”. Ia tidak peduli dengan banyaknya lelaki yang menghampiri, mengucapkan janji-janji cinta untuknya. Ia justru mendapatkan perasaan itu dari seseorang yang tak bisa memberikan cinta padanya. Dan karena itulah aku merutuknya, membunuh asanya. Maafkan aku, sahabat.
Aaaahh…justru di balik semua arogansiku, ternyata aku masih saja terbelit stereotip. Strereotip yang mengatakan bahwa perempuan hanya butuh dicintai. Harusnya aku menyadari bahwa keinginan untuk mencintai tidak berbanding lurus dengan dicintai. Seberapa pun banyaknya cinta yang datang, bukan berarti semakin banyak pula cinta yang dapat kita berikan. Cinta dalam diri hanya satu. Dan jika ia ingin menikmatinya, maka ia harus menikmatinya. Meski akan berakhir perih. Well, bukankah aku sendiri yang berkata bahwa cinta memiliki resikonya sendiri?
Maafkan aku, sahabat. Terima kasih telah kembali melanjutkan sesi nongkrong kita. Dengan kopi, asap, tawa dan kata-kata.






2 comments:
Hancock, dia menjadi seorang yang lemah ktk dia mencintai,
Dan aku juga tidak sekuat dirinya saat dia berjalan sendiri
Thanks untuk berusaha mengerti ini :)
you are welcome, sahabat... :)
Post a Comment