rss
email
twitter
facebook

Friday, June 27, 2008

*(*&^%#$#^&()$#!!!!!

Ntah kenapa hari ini rasanya semua salah. Mulai dari kepala agency keparat itu yang berusaha ngakalin aku dengan tingkahnya yang bikin eneg. Masa sih, sebuah agency yang ngakunya besar bikin narasi untuk produksi sebuah video profile nggak terlebih dahulu membuat konsep dan storyline?? Yang bener aje boz! Kepengin gw tendang keras-keras ujung idung itu orang. Kesel gw!

Menjelang sore, kembali kejadian demi kejadian membuat emosiku kembali limbung. Kerjaan yang bertumpuk lah, divisi yang tidak bisa diajak bekerja sama lah. Ibu yang terus menerus menelepon dan mencurhatiku tentang suaminya (which is my father), anaknya (of course my brother) dan segala keluh kesahnya. Belum lagi kelakuan pacar yang membuatku geleng-geleng kepala.

Akibatnya? Handphone kerenku yang udah bulukan itu terancam semakin buluk lagi karena keseringan kubanting hari ini. Heran, akhir-akhir ini aku kalau lagi emosi suka nggak karuan deh, destruktif! Belum lagi teriakan-teriakan yang menggema di seluruh penjuru lantai kantor. Untungnya, semua orang di lantai ini udah pada pulang saat aku mulai berteriak. Tapi, yang paling parah ya mood dan emosiku. Semuanya berasa nggak bener. Semuanya tidak pada tempatnya.

What did i do wrong? For heaven's sake!! Apa aku cuman kebawa emosi temen-temen yang laennya ya? Dasar putri, si tukang ikut arus! Bah! Grrr...


Tuesday, 24 June 2008, 22.01


Monday, June 09, 2008

Lajang Bahagia

Forward an dari email anak-anak kantor neh. I found it very me...


Doa Para Lajang


Thank God, untuk ...
Kemerdekaan menjalani hidup
Keleluasaan mengejar karier
Waktu melimpah untuk hang-out
Masa yang panjang untuk bersenang-senang
Tidur yang nyenyak tanpa dengkuran
Kemewahan untuk menikmati kesendirian
dan banyak lagi yang terlalu panjang untuk kami sebut semua dalam doa kami

Beri kami kesabaran untuk ...
Tidak kurang ajar menghadapi tuntutan orang tua
Selalu tersenyum bila ditanya mengapa keenakan melajang
Tidak tertawa atas curhat tentang urusan rumah tangga

Beri kami kekuatan untuk ...
Tidak melepas masa lajang karena everybody does
Tidak melepas masa lajang karena dianggap menghalangi jalan adik kami
Tidak melepas masa lajang karena terlanjur berbadan dua ...
Tidak melepas masa lajang untuk bayar utang

Dear God,
Biarkan kami menikmati kesendirian kami
Dan merelakannya pergi pada waktunya
Atau bila kau anggap kami terlalu egois bersenang-senang sendiri
Berikan kami teman terbaik untuk berbagi kesenangan

The good one, of course, if You dont mind .....Amin

Tuesday, April 15, 2008

Antara New Job, Kubikel dan Komputer Lemot

Today is my first day at my new office for the next six months (if I were able to pass the probation, who knows for how long?). Well, it's kinda weird, you know, starting to know people again. Learning about the company, the business, and else. For starter, I have to remember app. 300 employees of this company. Quite a number, huh? Yes, I work in a national company, which growing so fast in the past few years. And the great thing about it is, I have a subjectively good income. ^0^

Kubikelku berada persis di luar ruangan manager divisi Industrial Influence. Jadi, ruangan kantor di lantai tempat aku bekerja terdiri dari kubikel-kubikel yang saling menyatu membentuk 3 deretan huruf U. Satu deret huruf U diisi oleh 8 kubikel yang bersebelahan dengan kubikel deret U lainnya. Kemudian, di depan kubikel tersebut terdapat ruangan-ruangan yang diisi oleh GM dari setiap divisi. Aku menempati kubikel ketiga persis di depan ruangan GM Industrial Influence. Well, saat ini deret kubikel U yang kutempati masih lengang. Hanya aku yang mengisinya. Wajar sih, di divisi ini, aku adalah pioneer nya. Huumm...aku nggak mau bayangin betapa repotnya aku tanpa rekan kerja saat peak time nanti.

Eniwe, aku bahagia sekali dengan pembagian kubikel ini. Kubikelku besar sekaliiii.... Luas, lebar dan nyamaaaaannn.... kakiku bisa bergerak ke mana saja tanpa harus nabrak sana sini. Posisi tangan untuk mengetik pun terasa pas sekali. Kemanapun aku bergerak, aku tidak merasakan keberadaan orang lain. Dan itu berarti, BEBAAAAAASS.... Ugh, I'm starting to love this company.

But, kebahagiaan memang hanya berjarak sehelai benang tipis dengan kebetean. Entah mengapa, sepertinya ada kesalahpahaman antara GM ku dengan bagian finance, sehingga PO untuk komputerku masih nyangkut. Alhasil, sepaket computer lemot lah yang saat ini menghiasi mejaku. Dan ya ampun, ini bukan lemod aja, tapi super duper lemooooddd!!! Ampun kakak... Untuk membuka explorer aja aku harus terus menekan F5, yang juga seringkali nggak berfungsi dengan baik. Uuughh....apa sih salah dan dosaku mendapatkan komputer lemod begini? Untuk menulis postingan ini aja, kadang dia suka nggak ngeh dengan tulisan yang kuketik. Hang beberapa detik, untuk kemudian mengetikkan huruf demi huruf yang kupencet. Set dah!! Aku ingin komputer baruuuu!!! T_T

But eniwe, akhir kerja hari ini cukup menyenangkan dengan kedatangan GM divisi MMO yang dengan antusias memintaku membuatkannya sebuah media internal bagi para MMO yang tersebar di berbagai pelosok daerah di Indonesia. What?! Hiphiphurray, akhirnya aku ada pekerjaan!! Yah, setelah seharian hanya membaca berita tentang tower dan kebijakan pemerintah, dan harus bergaul dengan komputer busuk nan lemod ini (yang bikin aku nggak bisa membaca kumpulan berita-berita terdahulu), akhirnya aku dapet kerjaan juga!!

Siyap pak, akan saya kerjakan permintaan Anda! Tapi...besok ya pak. Sekarang saya mau pulang dulu. Saya mau bercinta dengan kekasih neh, udah lama nggak ketemu! Huehehehehe... C u tomorrow!!

Monday, April 14, 2008

My Rainbow


Sender : +62817434xxx
Received : 11:33:17 ; 10-04-2008



Kamu tahu pelangi kan? Aku gak suka warna kuning, tapi itu ada di pelangi. Dan
pelangi tanpa kuning itu bukan pelangi. Aku suka pelangi karena dia pelangi. Got
my point?



Cukup lama aku termenung memandangi pesan yang nyangkut ke handphone ku itu. Awalnya aku nggak yakin bahwa sms itu ditujukan untukku. Bolak-balik jempolku memencet tuts hape, keluar masuk folder sent item dan inbox, hanya untuk memastikan konteks pembicaraan via sms dengan si pengirim sms.

Entah karena tingkat kelemotan udah sampe level 99, atau karena hasrat denial makin menggembung, aku tetep aja nggak bisa mencerna isi sms itu. Terus, point nya di mana? Posisiku ada di mana?

Hhh...aku benci diriku saat sedang jatuh cinta.

Wait...what u said? Jatuh cinta? Are u?

Hummm...maybe.

Well, that’s interesting. 5 W + 1 H dooooongg...

Ng...what can I tell? He's someone I met sometime in the past. I know him from other friend I accidentally met while doing a job interview. And right now I think I fall in love with him...

And?

And?! That's a big problem, darling! It's been so long since my last relationship. I don't know if I'm ready for another one. I don't even know if I'm able to handle relationship issues. Huhuhu...

Kamu ketakutan?


Mungkin.

That is so pathetic of you!

Well, what do you know, judging me like that? Huh? Do you think you know me well enough??!!

Oh yes I do, you stubborn! I am your inner self! Of course I know you very well!! You are a pathetic little creature whom not eager to take chances in your own life. U fell in love, so what? That's a great thing!!

Tapi...aku takut...

Apa yang kamu takutkan?

Aku takut aku berubah menjadi orang lain. Aku berubah dari diriku yang seperti ini menjadi seorang yang kubenci. Seorang yang penuntut, memiliki ketergantungan dan kecanduan cinta, tidak mandiri, sok perhatian. Itu bukan aku!! Aku membenci diriku yang seperti itu. Tapi aku tidak pernah bisa menghindari perubahan itu setiap aku jatuh cinta. Aku takut perubahanku akan membuat nya melarikan diri. Aku takut ia merasa tertipu dan tidak mendapatkan apa yang dulu ia lihat di diriku.

Oh sayang... *speechless*

Kalau aku bisa, aku nggak mau jatuh cinta. Aku nggak mau mencintai. Aku mending dicintai aja, seperti beberapa waktu terakhir ini. Aku nggak perlu pusing-pusing berpikir apakah dia akan membalas perasaanku. Aku juga tidak perlu membalas perasaannya. Nggak suka ya menjauhlah, toh aku tidak pernah meminta mereka-mereka itu untuk mencintaiku.

*getok kepala*

Aduhhh!! Hei, apa yang kamu lakukan?? Sakit, tauk!!

Otakmu emang perlu digetok, rada nggak beres! Memangnya dengan dicintai kamu bisa mendapatkan kebahagiaan? Memangnya kamu bisa mendapatkan kepuasan hanya dengan dicintai, tanpa kamu mencintai balik? Kemana putri yang kukenal? Yang sedari dulu selalu mengagung-agungkan MENcintai dan bukan DIcintai. Yang mau berjuang demi CINTA, apapun resikonya? What happened to you my dear?

Well, people change. So am I.

Ggrrrhhh...dasar perempuan bodoh! Kamu tidak berubah sedrastis ini. Kemana putri yang selalu percaya pada diri sendiri? Kemana putri yang menyukai spontanitas, tidak pernah takut terhadap tantangan, apapun resiko yang menghadang di depan? Kembalikan putri yang itu padaku!!

Maaf, terimalah kenyataan bahwa saat ini dia sedang menghilang. Terimalah kenyataan bahwa aku yang sekarang berada di sini. Aku yang penakut, aku yang lemah dan tidak lagi berani mengambil resiko.

But, kamu bilang kalau saat ini kamu sedang jatuh cinta. Artinya, kamu sedang MENcintai seseorang. Ha! What would you do?

Itulah. Aku nggak tahu. Aku nggak bisa menghindari bahwa aku memang sedang menyayangi seseorang. Dan perasaan yang kumiliki ini cukup memusingkan. Aku nggak mengantisipasi bahwa aku akan mengalami perasaan seperti ini lagi, dalam waktu yang sangat singkat pula. Sudah beberapa tahun ini hatiku nggak pernah tersentuh perasaan seperti ini. Dan yang paling aku benci, saat perasaan itu muncul, beberapa paranoia ikut bermunculan. Ada harapan, yang juga diikuti dengan perasaan was-was akan kehilangan. Aaarrrrgghhhh... Huhuhuhu...

Hei Putri Respati!! Bangun!! Jangan sok cemen begini! Kamu hanya punya dua pilihan. Kamu bisa menyambar kesempatan yang datang saat ini dengan resiko-resiko yang sudah menjadi satu paket dengannya. Pilihan kedua, kamu bisa melewatkan kesempatan ini dan menikmati kesendirianmu yang tanpa resiko. Tidak ada yang salah dengan kedua pilihan itu, tergantung prioritas kamu saat ini. Ayo pikir, gunakan akal sehatmu, gunakan perasaanmu!



Hhh...lelah aku bertarung dengan kedalaman hatiku sendiri. Seorang teman memperingatkanku untuk tidak terlalu sering melakukannya. Ia ketakutan bahwa aku nanti akan menciptakan kepribadian lain di ruang jiwaku. And...aku nggak tahu akan jadi serepot apa menghadapiku dengan dua kepribadian. Padahal menghadapi satu aku saja aku yakin beberapa orang sudah kelabakan.

Dan ya, I already make up my mind. I choose to be my old self. I choose to LOVE and BEING LOVED. I choose to be spontaneous. I choose to take the chance, whatever risk may occur. I choose to deal with my weak-self. I choose to be strong. I choose to stand on my own feet. I choose to held my head up high. I choose to run, chasing the happiness. I choose to be with him, my rainbow.


Tuesday, February 12, 2008

HATRED

Lihatlah hei kawan,
Di kedalaman hati yang paling dalam, terendam rasa yang hendak kau retas
Meneteskan darah merah kelam laksana racun gigitan sepasang ular
Yang terhisap tak sempurna terlanjur menjangkiti alirah darahku

Lihatlah hei kawan,
Ke kedalaman malam di mana kau hapuskan kehangatan hari yang membentang
Satu tetes noda kautuangkan menghantarkan hati yang dingin dan membeku
Hembusan sang bayu tak sepoi menekan jiwa, membuatku hendak memuntahkan segala rasa jijik yang muncul tanpa segan

Wahai langit hitam yang berbaring di atas sana,
Terlihatkah olehmu salah satu makhluk kesayanganmu menuang susu basi dalam baskom berisi telor busuk penuh belatung?
Mencampurnya dengan penuh kebahagiaan bagai seonggok daging serupa anak kecil yang beroleh mainan anyar
Terasakah olehmu aroma tengik mencekik panca indera?
Terdengarkah olehmu pekak kebohongan menghantam gendang telinga meluncurkan pembelaan yang tak sempurna?

Lihatlah hei kawan,
Secungkil kebencian yang telah kau bangkitkan dari sudut gelapku…



Soerabaia, 11 Februari 2008

Friday, February 01, 2008

Dreams

How far will you go for your dreams?

"Mimpi" bukan melulu sesuatu yang indah atau sekedar menjadi kawan tidur. Dream, for some people, is what keeps them sane and insane at the same time. Saat seseorang sedang limbung, mimpilah yang menjadi dopping untuk membuat ia kembali bangun dan terjaga dari limbungnya. Namun, mimpi juga dapat menghajar babak belur kesadaran seseorang. Sebegitu terhajarnya oleh impian tersebut, ada beberapa orang yang tidak lagi bisa bangkit dari rubuhnya.

Bagaimanapun juga, mimpi adalah sebuah rancangan masa depan yang menjadi patokan dan tolok ukur seseorang untuk menjalani hidup. At least, that is what dreams means for me. Dan kemudian, saat mimpi masih melayang-layang menggoda dalam lipitan harapan, semua orang pasti akan berusaha untuk membawa si mimpi ke dalam dunia nyata. Pertanyaannya, sampai seberapa jauh kamu akan berusaha untuk menggapai sang mimpi, menggengamnya dan tidak membiarkannya lepas dari himpitan jari jemarimu?

Ok, taruhlah bahwa kamu melakukan semua yang kamu bisa untuk menggapai mimpimu. And I believe that everyone would do exactly the same thing, put some effort to their dreams. But, what if you have put full effort to it and what you get in return is nothing than a failure? Bagaimana jika seluruh usaha yang kamu lakukan terhempaskan?

Sakit, pasti. Semangat yang kemudian menguap, jelas. But, does giving up an option? Akankah kamu menyerah, mengubur mimpi dan menguak mimpi yang baru? Yang aku tahu, mimpi tidak bisa dimusnahkan. Mimpi akan terus mengekor, menyelinap dalam sela-sela otak, dan pada saatnya akan meledak sehingga sekali lagi menyeruak ke dalam kehidupan. You can't erase a dream before you make it come true. You just can't.

All I know is that holding to dreams can be either miserably good or badly bad. It's hard to keep on dreaming on the same subject when we have tried and failed. Namun, apakah itu menjadi penghalang bagimu untuk terus berusaha? Bukankah kegagalan merupakan satu langkah lebih dekat pada kesuksesan? Ok, kamu mengambil langkah yang salah di masa lalu. So what? You can always learn from your mistake. Jadi? Kamu tidak hanya akan terus bermimpi kan? Berjuanglah kawan, and you will find your glory! Fly, fly away so high my friend!!

(for a friend and his dreams)

Note : picture taken from deviantart.com (Exodus by Mizhak)

Thursday, January 24, 2008

Women MovemenT

Terus terang, aku sedikit terkejut (in a positive way) dengan penampakan yang terlihat beberapa waktu lalu. Saat itu, aku baru saja melangkahkan kaki memasuki busway koridor 6, trayek Dukuh Atas-Pulogadung. Setelah menghempaskan pantat di kursi busway, aku refleks menoleh ke depan. Tebak pemandangan apa yang terpampang di depanku? Aku baru sadar bahwa sosok di balik kemudi busway itu adalah seorang perempuan!! Halleluya!! Awalnya, aku hanya terlongong memandangi punggung supir perempuan itu. Kemudian, untuk memuaskan rasa penasaranku, aku pun beranjak ke tempat duduk yang berseberangan dengan punggungnya.

Sewaktu mataku bergerilya meneliti sosok perempuan itu dari atas sampai bawah, aku menyadari bahwa si supir busway ini adalah seorang perempuan cantik! Rambutnya yang tergerai melebihi bahu nampak berkilau dengan warna burgundy. Kaca mata hitam bertengger manis di hidungnya yang kecil mancung, melindungi wajahnya dari sinar matahari. Hal yang sama terjadi dengan lengannya yang terhiasi sarung tangan wol warna putih.

Ketercenganganku semakin menjadi ketika busway mulai melaju. Ternyata, di balik tubuh yang kurus langsing, ia bisa memutar kemudi busway yang segedhe itu, dengan mulus dan tanpa halangan berarti. Bahkan, aku merasa bahwa cara perempuan ini membawa laju busway jauh lebih baik daripada supir laki-laki.

Hahahaha!!! Frankly, melihat menyataan ini aku merasakan adanya sedikit angin segar bagi perkembangan gender equality di Indonesia. Bagaimana tidak, ruang kerja perempuan Indonesia yang selama ini berada di daerah domestik, kini telah bergeser. Tidak hanya telah merambah area publik, perempuan kini tidak ragu untuk memilih profesi yang diidentikkan dengan laki-laki. Pekerjaan menyupir bis atau taksi yang biasanya dikuasai oleh laki-laki, kini bisa juga dikerjakan oleh perempuan. Perempuan cantik pula!

Hey, bukannya aku ingin memberikan stereotip bagi perempuan berdasarkan perbedaan fisiknya. Namun, bagaimanapun juga harus diakui bahwa ada pembenaran yang dilakukan (budaya) masyarakat bahwa perempuan (yang dianggap) berparas cantik tidak berhak melakukan pekerjaan berbau fisik. “Cantik-cantik kok maling!” (hehehe…ini bukan berbau fisik ya). “Cantik-cantik kok manjat pohon sih, pamali!!” Celetukan-celetukan yang sarat akan stereotip dan diskriminasi terhadap perempuan

Jadi, ketika melihat si perempuan cantik ini menyupiri busway, hatiku mencelos gembira. Paling tidak, hal ini adalah satu pertanda bahwa perempuan kini sudah beranjak dari posisinya yang tersingkirkan di ruang domestik. Kini perempuan telah melangkahkan kaki ke ruang publik. Mereka dapat menjadi apapun, mulai dari seorang supir bis, kuli, tukang ojek, maupun direktur sebuah perusahaan IT sekalipun.

Namun demikian, belum saatnya kaum perempuan bersenang-senang. Perjuangan masih panjang, kawan! Hal ini hanyalah permulaan saja. Masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk mencapai keadaan gender equality. Sudah benarkah sistem yang diterapkan perusahaan terhadap perempuan? Sudahkah negara menerapkan sistem yang adil terhadap perempuan? Sistem yang tanpa prasangka, tanpa stereotip, tanpa marginalisasi? Sudahkah perempuan mendapat hak-hak mereka sesuai dengan keadaan biologis perempuan? Sudahkan perempuan mendapatkan hak yang sama dan juga kesempatan yang sama dengan laki-laki sebagai manusia? Sudahkah perempuan terbebas dari budaya dan masyarakat yang mengagungkan patriarki?

Dan untuk mewujudkan semua itu, hal pertama yang menurutku paling penting adalah menyadari dan mengakui adanya praktek ketidakseimbangan gender di masyarakat. Menyadari yang kumaksudkan bukanlah untuk terbawa dan mengamini ketidakseimbangan itun loh. Namun sebaliknya, dengan menyadari adanya ketidakseimbangan, kita akan semakin waspada yang akan menumbuhkan kemauan dan niat untuk merubah ketidakseimbangan menjadi sebuah kesetaraan. Semoga...

Wednesday, January 23, 2008

UnprofessionaL!

Sudah agak lama aku kepengin menulis postinganku kali ini, berbarengan dengan postinganku tentang balas dendam kepada sebuah media tempo hari itu. Yap, postingan ini emang nggak jauh-jauh kok dari media itu. Cuman, sekarang temanya bukan tentang balas dendam, melainkan tentang ketidakprofesionalan.

Well, u all know kan kalu aku pernah tes di media itu yang menghabiskan waktu mulai jam 6 aku berangkat dari kos sampai jam 10.30 aku baru bisa merebahkan badan di kasur tercinta. Bayangkan, 16 jam lebih aku berada di luar hanya untuk urusan tes di media itu! Ya, nggak semuanya untuk urusan tes sih. Yang jelas, tes dimulai pukul 07.00 dan berakhir pada pada tahap interview pukul 20.00. 13 jam!!

Yang paling kuanggap tidak professional adalah permasalahan waktu. Sebelum memutuskan untuk mengikuti prosesi tes, aku pernah menelepon kantor media itu dan bertanya tentang alokasi waktu. Jawaban yang kuterima adalah, jika lulus sampai tahap interview, tes akan berakhir sekitar pukul 16.00 atau maksimal pukul 17.00.

Kenyataannya? Bullshit!!

Tes dimulai pukul 7 untuk gelombang pertama dan pukul 8 untuk gelombang kedua. Setelah tes yang berlangsung kurang dari 15 menit itu, para peserta disuruh menunggu sampai pukul 9. Oke, akupun menunggu bersama oom Bobi dalam kegersangan bersama dengan asap-asap rokok dari bibir kami. Tidak ada air mineral, tidak ada roti ataupun snack. Oke…

Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 09.30, masih belum ada tanda-tanda akan ada pengumuman. Tik…tok…tik…tok…

Baru pada pukul 10.15 embak pengujinya menyuruh semua peserta untuk masuk dan membacakan siapa-siapa saja yang bisa lanjut ke babak selanjutnya. Aku sih udah pasang tampang nggak yakin dan berharap akan melanjutkan perjalanan ke tempat tes lainnya. Niat tinggal niat, namaku kepanggil. Buhsyeeeeedddd!!! Di sinilah awal kebetean bermula…

Yayaya…tes selesai dikerjakan dengan perasaan ingin muntah melihat deretan angka yang ngerjainnya naudzubilah lamanya. Tahap kedua selesai kurang lebih pukul 11.30. Sebelum meninggalkan TKP, si embak yang tadi bercuap bahwa para peserta diharap menunggu sampai pukul 12.30.

Oke… Aku pun berinisiatip untuk buang hajat dan makan siang di kantin di belakang TKP. Pukul 12.30 aku dan oom Bobi sudah nongkrong di depan ruang tes. Tunggu punya tunggu…sambil entah sudah berapa batang rokok yang terbuang, masih tak terlihat tanda-tanda penyebutan nama siapa saja yang berhak maju ke tes selanjutnya. Dan masih tidak ada segelas pun air mineral yang dikeluarkan untuk peserta. Mulai geram….

Baru pukul 15.00 si embak yang sama (uuuugh…pengen deh menghadiahinya sumpah serapah kalau aku melihatnya lagi) menyuruh kami untuk masuk dan mengumumkan hasil selanjutnya. Can u imagine that? They late by two and a half hours!! What a shameeeeeeee!!!!!!!!!!! F**k!!!

Dan yang lebih siyal, aku lulus lagi! Alhasil, tes menggambar pun dimulai (tahu kan betapa bencinya aku akan tes yang satu ini???!!!)… Yayaya, akhirnya tes selesai kurang lebih pukul 16.00. Dan seperti yang sudah diduga, babak menunggu pun terulang (lagi).

Aaaaaaarrrrghhhh…..

Dengan pengalaman nggak pernah lulus psikotes bagian menggambar, aku sudah membayangkan indahnya kasurku yang empuk. Ternyata, ketika pengumuman keluar, namaku kepanggil lagi! Bah! Parahnya, karena tes terakhir adalah interview, tentu saja tidak bisa dilakukan berbarengan. Aku nggak tahu pasti berapa orang yang lulus sampai tahap interview ini, tapi dari keterangan blog sebelah, kayaknya sekiatr 100an orang deh. Kebayang kan berapa lamanya menggilir interview 100 orang hanya bersenjatakan kurang lebih 5 atau 6 orang interviewer??

Dari jam 17.00 sampai jam 19.30 aku menunggu dalam kesal. Dan ketika jarum jam menunjukkan pukul 19.45, si embak yang tadi keluar dan dengan enaknya dia bilang, “Karena para redaktur harus kembali ke kantor redaksi, untuk yang berbasis di Jakarta dan belum mendapatkan kesempatan interview, interview akan dijadwal ulang besok pukul 13.00 di kantor kami!”

Hah?! Otak si embak itu ditaruh di dengkuL kali ya?? Enak aja bilang begitu, emang dikira para peserta tes itu nggak nungguin sampe jamuran apa? Emang dikira waktu mereka hanya milik kalian apa? U%$&*^$*%$^%&*

Oom Bobi yang melihat jidatku sudah mulai berkerut hanya bisa diam sambil terus berada di dekatku. Kayaknya dia khawatir aku bakal ngelabrak itu embak sambil maki-maki nggak karuan. Untungnya aku masih bisa bersopansantun, meski sedikit. Aku masih bersabar menunggui si embak diprotes beberapa peserta yang namanya nggak kepanggil untuk reschedule. Kata mereka, sewaktu pengumuman siapa saja yang lolos untuk interview, nama mereka terpanggil, kok sekarang nama mereka tidak ada. Tau nggak apa jawaban si embak? “Itu mungkin memang nama-nama yang kami siapkan untuk cadangan” WadeheL!!! Cadangan?? Enak aja mempermainkan harapan orang? Lu kate gile?

Akhirnya, mereka-mereka yang tidak tersebut namanya itu mendapatkan hak mereka kembali untuk interview keesokan harinya. Kemudian, sebelum si embak berbalik masuk ke TKP, aku memanggilnya dan menjelaskan keadaanku. Mungkin karena melihat tampangku yang sudah seperti mau makan orang, si embak akhirnya mengijinkan aku untuk interview malam itu.

Dan aku pun akhirnya beranjak menuju shelter busway bersama oom Bobi dengan gondok di hati.

Gggrrrrrhhhh…… Aku bukan piss off karena aku nggak lolos tahap interview pada akhirnya, wong aku memang nggak niat interview kok. Aku bilang terus terang sama si interviewer bahwa aku tidak berminat menjadi reporter, tapi lebih ke vacancy mereka yang lain, Community Relations.

Aku hanya kesal karena perusahaan sebesar media itu tidak bisa mengorganisir sebuah event dengan lebih professional. Minuman tidak disediakan. Tidak ada snack atau cemilan. Bukan apa-apa sih, dengan proses tes yang sedemikian panjang dan peserta yang massal, rasanya nggak pantas aja kalau perusahaan tidak menyediakan apapun. Kesannya seperti mereka tidak menghargai para pelamar yang datang. Bahwa para pelamar lah yang membutuhkan media itu, dan bukan sebaliknya. Hey, it goes vice versa! Kami membutuhkan pekerjaan, dan Anda membutuhkan sumber daya manusia.

Bukan hanya permasalahan air minum saja yang membuat aku menuduh itu media tidak professional. Mereka itu ya, managemen waktunya gimana sih???!!! Ngaret nya itu loh bikin eneg. Kalau mereka sudah merencanakan proses berlangsung satu hari, ya wujudkan dong. Kalau mereka tahu jam 8 para redaktur sudah harus kembali ke pabrik, ya pikirkan dong dari awal bagaimana menyiasatinya. Jangan menyuruh para peserta untuk datang kembali keesokan hari, padahal mereka sudah menunggu cukup lama. Emang dikira mereka nggak punya kegiatan atau aktivitas lain? Dan yang bikin aku melongo untuk terakhir kali adalah alasan CADANGAN yang dikemukakan si embak. Duoh, unprofessional kok parah!! Omigosh…

Friday, January 11, 2008

Sweet Revenge


Ternyata benar juga ya yang bilang bahwa balas dendam itu manis... Yah, nggak sepenuhnya terasa manis sih, ada rasa kecutnya juga, dehidrasi, bodoh, dan beberapa hal lain yang mengikuti manis nya balas dendam itu.

Masih ingat nggak cerita jaman dulu ketika aku baru lulus kuliah dan sempat melarikan diri ke Jakarta untuk mengikuti tes wartawan yang diadakan Tempo? Yang untuk datang saja harus penuh pengorbanan dan perjuangan, tapi nyatanya di tahap pertama langsung KO dihajar tes menggambar sialan itu? Ingat kan?

Well, hohoho... *ketawapuasmodeON* beberapa waktu yang lalu aku sempat mengirimkan lamaran ke Tempo (lagi). Hanya saja, waktu itu aku memasukkan lamaran untuk posisi Community Relations. Nah, ketika melakukan lamaran online via web Tempo, aku dihadapkan pada pilihan untuk mencoba melamar beberapa posisi yang tersedia. Karena kupikir nggak ada salahnya, aku pun memilih beberapa posisi lain, salah satunya adalah Reporter.

Dan beberapa waktu yang lalu, aku mendapat telepon dari pihak Tempo yang mengundangku untuk mengikuti tes seleksi calon Reporter. Well, sempat bimbang juga sih, karena saat ini aku nggak lagi tertarik untuk menjalani profesi sebagai wartawan. Aku masih sangat menikmati profesi sebagai Public Relations ataupun CopyWriter. Apalagi, setelah aku konfirmasi ke pihak Tempo, tes ini memang dikhususkan untuk menyaring reporter, bukan posisi lainnya.

Setelah melewati sesi berpikir sambil telepon sana sini, aku pun memutuskan untuk berangkat. Kupikir, jika aku berhasil lolos sampai ke tahap wawancara, aku akan memberitahu pihak Tempo bahwa aku sebenarnya lebih berminat menjadi Community Relations. Alasan kedua, balas dendam! Wakakakakka...

Dan aku pun berangkat di hari yang dijanjikan. Bertemu dengan Oom Bobi yang juga mengikuti tes yang sama, dengan track record yang sama pula. Ya, dulu Oom Bobi juga sudah pernah mengikuti tes Tempo, yang gagal di tengah jalan. Lebih mending sih daripada aku yang langsung tewas di tahap pertama. Hiks... T_T

Make long story short, aku melewati tahap pertama, kedua dan ketiga dengan mulus. Dari ratusan orang, sampai hanya tersisa kurang lebih 40 orang. Dan tiga diantaranya adalah Oom Bobi, Rizky HI Unair dan aku. Huah, benar-benar tidak kuduga! Habis, aku ngerjainnya juga nggak terlalu ngoyo, meskipun nggak asal-asalan banget juga sih. Waktu pemanggilan untuk tahap terakhir, interview, aku bahkan sudah kembali mengenakan sandalku tercinta. Masa bodoh dengan yang namanya interview! Eh, nggak tahunya aku mendengar namaku dipanggil. Wikikikiki… Yah, aku pun memakai sepatuku kembali dengan sangat terpaksa... *sokmodeON*

Yang membuatku merasa paling puas adalah tes menggambar. Pasalnya, dari delapan kotak gambar yang disediakan, aku hanya mampu melengkapi 5 kotak untuk menjadikannya sebuah gambaran utuh. Jadi, ada tiga kotak gambar yang kosong melompong tanpa isi! Sedangkan dua gambar lainnya, gambar pohon dan manusia, aku hanya mampu mengerjakannya pada dua menit terakhir! Jelas, asal banget! Wong dari SD aku hanya bisa menggambar pemandangan dua gunung mengapit matahari terbit plus pemandangan sawah yang bersimbolkan centang-centang ngaco. Mau bagaimana lagi, nilai menggambarku nggak pernah lebih bagus dari angka delapan (yang hanya kudapatkan paling dua atau tiga kali, seumur hidup)! Dengan keadaan begitu aku masih lolos? Ckckck...aku jadi yakin, pemeriksa hasil tes ku waktu itu otaknya pasti lagi absen! ROFLOL

But anyway, meski dibarengi dengan berbagai perasaan lainnya, hari itu aku puas sekali. Meski nggak lulus jadi wartawan (karena waktu interview aku bener-bener menekankan bahwa aku nggak terlalu berminat jadi wartawan, melainkan Community Relations. Yang waktu kupikir-pikir lagi merupakan tindakan bodoh, karena interviewerku adalah seorang redaktur, bukan management! Silly me!!) Aku membuktikan bahwa aku bisa, aku mampu kembali bangkit berdiri dan menebus kegagalanku. Tidak ada salahnya dengan kegagalan, dan itu bukanlah suatu ukuran bahwa aku, atau kamu, akan gagal selamanya. So? This is really a sweet revenge... Thank you Tempo!


Note : Picture taken from deviantart.com by Blackeri