rss
email
twitter
facebook

Monday, October 24, 2011

Thank You 26, Hello 27!

People are evolving.
Lucu rasanya saat memandang ke belakang dan melihat diri kita sendiri bergumul dengan kehidupan. Bagaimana kita menyikapi sebuah permasalahan, sudut pandang yang kita miliki, kenaifan serta seringkali kebodohan yang kita lakukan.

Lucky for me (or unlucky), aku memiliki sebuah blog yang seakan merekam setiap momen kedangkalan cara berpikir serta ketidakmatangan perilaku yang pernah dilakukan. Akibatnya, seharian ini aku bolak balik dipaksa tersenyum pahit saat membaca ulang postingan-postingan lama di blog-ku itu. Owalah...ternyata dulu itu aku benar-benar naif, irrasional, kekanak-kanakan dan memiliki emosi yang benar-benar tak terkontrol.

But, aside from all that, aku mampu melihat dengan jelas perjalanan hidupku, apa yang menjadi harapan, keinginan serta mimpiku, dan apa yang telah aku raih. Dan aku menyadari bahwa despite everything that happen, aku ini termasuk manusia yang sangat sangat beruntung. Tentunya, itu semua membuatku bahagia. :)

Satu tahun terakhir adalah saat-saat yang sangat magical untukku. Usia 26 tahun memberikan kejutan-kejutan tak terkira dalam hidup seorang putri respati.

Tepat satu tahun lalu, kado pertama yang dihadiahkan kepadaku oleh usia 26 adalah berakhirnya sebuah hubungan yang telah terjalin selama 2,5 tahun. Well, harus kuakui, kado yang satu ini sangat telak menghantam dan membuatku cukup limbung karena aku pernah sangat menaruh harapan akan masa depan dalam hubungan ini.

Tidak mudah menghadapi efek yang timbul dari tercabutnya salah satu harapan tersebut. Namun beberapa hal positif yang bisa aku syukuri adalah munculnya keberanianku untuk sedikit keluar dari zona nyaman. I curled my hair. I dyed my hair. I tattooed my back. Semua ini adalah hal-hal yang selalu ingin aku lakukan tapi tidak pernah benar-benar mendapatkan keberanian untuk mewujudkannya.

Dan ternyata, aku menyukai semua hal yang aku lakukan. I love my semi blonde curled hair. And I definitely proud of my tattoo. Change is indeed good.

Menginjak usia 26 aku mulai mencurahkan semua tenaga yang aku miliki dalam pekerjaan. Well, its all I have, anyway. Of course I pour all my energy on that. I work my ass off. Meski bukan yang paling pagi, seringkali aku menjadi yang terakhir bertahan di kantor. Pulang jam 10, 11, bahkan jam 12 malam dari kantor merupakan rutinitas yang biasa untukku. Sampai-sampai aku dianugerahi kunci kantor oleh pak Sarmili, salah satu OB kantor, hanya supaya dia tak harus menungguiku pulang sebelum dia bisa mengunci kantor dan pulang dan bertemu anak istrinya. Jadi, ternyata aku juga merangkap pekerjaan sebagai Office Girl selain seorang Business Development. Hahahaha... But truthfully, I enjoy all that. And I love my job.

Dan karena aku tergolong orang yang suka ngeyel, kegagalan di usia 25 tahun dalam mendapatkan beasiswa tidak menyurutkan langkahku untuk terus mencoba. Meski sempat tersendat-sendat karena aku begitu terfokus pada pekerjaanku, aku berhasil mendapatkan LoA dari beberapa Universitas yang cukup ternama di Belanda, Utrecht dan Maastricht University, both for New Media and Digital Culture Master Degree. Maka, akupun hanya tinggal mencari institusi yang akan membiayai sekolahku tersebut.

Klimaks usia 26 terjadi pada tanggal 12 Juli 2011. This is definitely on of the most important moment of my life. Aku masih bisa mengingat dengan jelas momen demi momen yang terjadi hari itu.

Singkat kata, sore itu aku mendapatkan email dari Depkominfo yang membuatku tercengang untuk sesaat, membaca email tersebut berulang-ulang ,sebelum akhirnya berteriak dan meloncat kesana kemari dengan kegembiraan level 157. Ya, aku diterima sebagai salah satu calon penerima beasiswa luar negeri Depkominfo tahun 2011.

Tidak terkira rasanya kegembiraan yang meliputiku saat itu. I mean, after all this year, after all of my effort, after all rejections that I received, I made it. I got the scholarship. Even though I’m not a public bureaucrat, or a lecturer, or an NGO officer. I’m just an ordinary private company employee. But I got the scholarship.

But things didn’t end only at that. 20 minutes after my crazy jumping celebration, my director called me to his chamber. Before I had the chance to tell him about the scholarship, he handed me a folder. Inside that folder, lies my promotion letter and the nominal of my salary adjustment. I was just appointed as Business and Marketing Manager.


Dan aku pun terbang ke langit keduapuluh enam.

I can’t even begin to describe my feeling at that time. Yang aku tahu, aku merasa sedang ketiban durian runtuh. Bukan hanya satu, tapi 3 sekaligus, dan duriannya jenis montong semua. It’s like, all that I’ve been working on is now being paid. All that efforts, all that hard work.

Malam itu aku langsung menghadap ke bos besarku, pak Trenggono, untuk berterima kasih kepada beliau atas kepercayaannya padaku serta menginformasikan tentang kondisi yang aku hadapi.

Tanpa kusangka-sangka sebelumnya, he made a counter offer. He told me to turn down the scholarship and in return he will pay for my master degree in 2013, to ANYWHERE I want. Doesn’t matter where, what subject I wish to take and how much it costs. Pertimbangan mengenai kapan aku berangkat adalah karena saat ini project yang sedang aku jalankan masih belum berjalan. Beliau ingin aku mewujudkan project itu terlebih dahulu, memastikan sistem berjalan dengan baik, barulah aku bisa mengambil Master Degree-ku.

Well, pilihan yang cukup sulit buatku. Di satu sisi, kurang lebih telah 10 tahun aku menginginkan sekolah di luar negeri. Dan saat ini aku memilikinya tepat di depan batang hidungku. Di sisi lain, aku mencintai pekerjaanku, dan aku juga mendapatkan kesempatan sekolah di luar negeri untuk tahun 2013. Antara mimpi lama dan mimpi baru. Antara kepastian hari ini dan possibilities in the future.

Usia 26 membuat aku terombang-ambing dalam proses pengambilan keputusan. Aku harus banyak melakukan penimbangan terhadap segala faktor, opportunity dan resiko yang akan aku temui. Hingga akhirnya aku sampai pada sebuah keputusan yang mantap kuambil setelah 3 bulan bertapa. Aku akan mengambil resiko dan menerima tawaran bosku. I will work my ass off (again), make the project takeoff, and then I will go to Stanford taking MBA and learn all about Silicon Valley. I know all the consequences, the possibilities that none of that will ever come true. But I’m ready to take that risk.

There’s a whole lot thing that the age of 26 has taught me, about family, about friendship, and life. Bakal terlalu panjang untuk menceritakan semuanya dalam satu postingan ini. Yang jelas, usia 26 is my most magical age so far.

Oh, and the last but probably the most exciting part, in the age of 26 I met si babi. :) :) :) No need to tell how happy I am that I found him in my life.

Maka, aku melepas usia 26 dengan penuh sukacita. Terima kasih telah mendampingiku selama setahun ini. Terima kasih telah memberi ledakan-ledakan kecil dan besar di dalam kehidupanku. Terima kasih telah bertambah dewasa bersamaku.

Selamat datang usia 27. Mari berjabat tangan dan melangkah bersama. Aku tak sabar menanti ledakan apa yang akan kau berikan padaku. :)

0 comment(s):