Salah satu hal paling menyebalkan di usia-usia kepala dua nanggung mengarah ke kepala 3 adalah mulai menguatnya tekanan untuk “menikah”. Kayaknya nggak ada hari yang terlalui tanpa ada yang nyerempet ke pertanyaan andalan : “kapan”.
Pas lagi pacaran udah dua tahun lebih, ditanya “Kapan, kan udah lama pacarannya. Nunggu apa lagi sih?”. Nunggu bisa numbuhin pohon duid di halaman belakang rumah!
Pas lagi jomblo, ditanya “Mana teman dekatmu? Sana ikut aktivitas gereja biar dapet jodoh yang seiman!” Gubrag!
Aku nggak habis pikir kenapa sih orang-orang di Indonesia ini begitu terobsesinya dengan pernikahan? Saat aku berkata bahwa aku nggak mau menikah, atau paling tidak tidak ingin memikirkan tentang pernikahan terlebih dahulu, mereka mengernyitkan dahi. Saat aku bilang bahwa aku hendak fokus ke pekerjaan dan karirku dahulu, mereka menyalahkanku. Hoooiii...kalo aku nggak meletakkan pekerjaan di prioritas teratas, karirku nggak akan seperti sekarang kaleeee!!! Dan ternyata, meski nggak nyari-nyari juga, toh akhirnya aku mendapatkan seseorang juga kok. Kecup basah buat si babi dulu aaaahhh.... *smooch
Nah pas barusan dapet pacar baru, tetep aja pertanyaan yang sama muncul : “Kapan? Sudah ada calonnya kan sekarang?” Calon...calon...gundulmu peyang! Kenapa sih mereka tidak bisa memperlakukanku seperti saat aku masih kuliah? Aku mau pacaran dengan siapapun, nggak ada tuh yang melontarkan that fucking annoying word, kapan.
Salah satu teman di kantor berkata bahwa sebuah budaya pasti membawa garis-garis tegas mengenai tahapan kehidupan masyarakatnya. Usia 25 tahun dianggap pintu gerbang bagi seseorang untuk memasuki tahapan pernikahan. Karena ini adalah budaya, walhasil sebagian besar masyarakat mengamini asumsi ini. Walhasil, nyaris semua teman-temanku yang seumuran saat ini sudah pada menikah dan menggendong anak. Atau kalau nggak, ya lagi pada ribut INGIN menikah, meskipun BELUM ada pasangan yang tepat.
Khusus buat yang terakhir, keinginan yang sedemikian menggebu itu hanyalah sebuah efek psikologis dari peer pressure. Efek yang sama yang menimpa kita ketika sedang menghadapi ujian sekolah. Oleh guru kita diberi waktu 2 jam untuk mengerjakan ujian. Tak sampai setengah jam, seorang murid berdiri, mengumpulkan soal dan lembar jawaban kemudian keluar dari kelas. Alhasil, hal ini membuat siswa yang lain menjadi grasa-grusu ingin segera menyelesaikan ujian dan menyusul teman tersebut. Karena mengerjakan dengan terburu-buru, mereka menjadi kurang teliti yang menyebabkan banyak jawaban yang salah. Hal yang sangat disayangkan, terutama mengingat bahwa sebenarnya waktu yang mereka miliki masih panjang.
Ironisnya, yang tidak mereka sadari adalah alasan sebenarnya dari si teman yang paling pertama keluar dari kelas. Apakah ia benar-benar telah mengerjakan soal ujian tersebut? Ataukah justru tidak ada yang bisa ia kerjakan sehingga akhirnya ia menyerah dan keluar dari kelas? No one know. Hal yang sama juga berlaku untuk pernikahan. Siapa yang tahu alasan sebenarnya seseorang menikahi seseorang lain? Bisa jadi karena sudah hamil duluan. Bisa jadi karena masalah harta. Atau alasan-alasan lainnya.
What I’m trying to say here is : mind your own business, people! Berhentilah menjadi seseorang yang seakan-akan tahu yang terbaik bagi orang lain. You are not in else’s shoes, you’re not the one who life his/her life. You won’t understand his/her priority in life. Biarkanlah seseorang memutuskan sendiri apa yang ingin ia lakukan dalam hidup, tanpa judgement dari orang lain, tanpa tekanan untuk melakukan ini itu. Biarkan seseorang memutuskan ia akan menikah karena ia simply ingin menghabiskan hidup bersama dengan pasangannya dan bukannya karena orangtua sudah kebelet pengen punya cucu.
Well anyway, despite my great desire to change the culture, sebenarnya ada cara yang lebih simpel dan tidak muluk-muluk : CUEK BEBEK. Masih menurut si teman tadi, posisi kita di umur-umur rawan ini seperti sedang berada di sebuah panggung sandiwara. Kita adalah lakon yang sedang tampil di atas panggung. Dan sekeras apapun komentar yang muncul dari penonton, kitalah yang memegang kendali atas semua kata yang kita ucapkan. Just go with the scenario, and you will be fine.
Ya ya ya...ini berarti aku harus berhenti mengomel tentang orang-orang yang tidak bisa berhenti bertanya “kapan”. Daripada menyuruh mereka berhenti, mending aku yang berhenti mengomel dan tidak mempedulikan mereka. Just like my fave quote “ I AM THE MASTER OF MY FATE, I AM THE CAPTAIN OF MY SOUL”.
STOP GRUMBLING!
On Long-Form Journalism
1 day ago






3 comment(s):
pengen banget nulis apa yang kamu tulis di blog, hfttthh ....
A really inspiring post :) Let's meet again some times and talk about life shall we :D?
@Fenty : tulis aja jeung. the hell with what people say!
@alief : ayo! kapan?
Post a Comment