rss
email
twitter
facebook
Showing posts with label laki-laki. Show all posts
Showing posts with label laki-laki. Show all posts

Wednesday, October 12, 2011

Gotcha!




Yaaay, aku mendapatkan kembali rasaku!

Menakjubkan rasanya bagaimana seseorang bisa sebegitu cepat berubah dari patah hati kronis menjadi jatuh cinta kronis hanya dalam kurun waktu dua bulan. But shit like that happens! You have to ask dr. House what’s the cure for that, if they ever have one.

This past year, I’d been trying to fill my broken heart with another color of love. Which I always failed miserably. It wasn’t that I don’t try hard enough. Oh, I tried. And I tried hard. But it was never felt right. It was always like I force something that I shouldn’t have done in the first place, but I’m too stubborn to acknowledge that
.

Lalu akhirnya aku menyerah. Tidak lagi berusaha untuk menjejali kehampaan itu dengan warna cinta yang lain. Dan aku menjalani hidupku sebaik mungkin; di dalam pekerjaan, kehidupan sosial bersama dengan beberapa teman dan sahabat serta keluarga. Tak lagi terganggu dengan keinginan untuk menyingkirkan sosok itu dan menggantikannya dengan sosok lain. Bahkan aku sudah berdamai dengan diri sendiri untuk membiarkan rasa cinta itu mengendap tanpa aku dapat menggapainya. Yah, paling tidak dia akan tetap mengisi salah satu bagian dari kotak hatiku.

Hingga si babi itu menemukanku.

And just like that, I’m having a blast that I never had in this past year.

Bersama si babi aku merasa cantik, seksi, pintar, dan yang paling penting : dicintai dan diinginkan. Dan dia melakukannya tanpa membuatku menjadi orang lain. I’m simply me.

Sumpah, aku nggak pernah mengira bahwa jatuh cinta akan semudah ini. Dan the best thing is, it feels so natural, like it is supposed to be like this. Entah aku yang sedang dimabuk asmara sehingga semuanya terasa seperti dunia sedang dilapisi permen yupi, ataukah memang ketika semua endorfin ini mengendap semua rasa ini akan hilang, aku juga nggak tahu.

Yang aku tahu, aku sangat menikmati saat-saat ini. Melakukan segala hal bersama, melakukan hal-hal yang tidak pernah bisa aku lakukan dalam hubungan-hubungan sebelumnya, serta tentunya saling mengenal satu sama lain.

Dan dengan demikian, aku mencinta lagi. Dan kali ini aku akan melakukannya dengan benar. Love like you were never hurt before, stop dwelling in the past, do not dream of the future, and concentrate the mind in the present moment!

Hey you babi jelek! Welcome to my life! :*



Picture taken from here

Monday, February 01, 2010

Hoi, Pulang Hoi!!

Huh! Lihatlah dirimu, terus saja berbicara, dengan kepulan asap menguar dari bibir, dengan satu tangan tertelungkup di telinga kiri.
Kukira kau berbicara pada kami yang sedang menunggumu
Halah, ternyata kau berbicara dengan batang hitammu itu
Sudahkah kau akhiri pertemuan ini? Kalau sudah, tolonglah, biarkan kami pulang
Oh plis
Aku ingin menikmati waktu dengan lelakiku
Aku ingin memeluknya, menggenggam tangannya, merasakan jari jemarinya menelusup dan meremas jari jemariku
Ah, akhirnya batang hitam itu kaulepaskan dari genggaman telingamu
Kusangka kau akan segera mengakhiri pertemuan ini
Lha koooookk...kenapa kau teruskan dengan pembicaraan yang tak ada hubungannya dengan inti pertemuan ini?
Ah ya, di lain waktu aku akan dengan senang hati mendengarkan kata demi kata yang meluncur dari bibirmu
Tapi tak bisakah kau tahan untuk lain hari? Asal jangan hari ini?
Hari ini aku ingin bersenang-senang dengan lelakiku
Hhhhhh....
Kenapa kau masih saja berkata-kata???
Kenapa???
KENAPAAAA????!!!!


*sebel di kantor, meeting ndak selesai2

Wednesday, July 01, 2009

Kertas Putih itulah Jenis Kelamin

Yang paling penting itu kasih sayang. Jenis kelamin itu nomor kesekian.

Begitu seringkali canda yang terlontar dari bibir teman-teman jika pembicaraan kami mulai mengambil jalur ke kampung cinta dan hubungan. Dari sindiran pada seorang kawan yang tak jua memiliki tambatan hati berbeda jenis kelamin, kemudian menjurus mempertanyakan kecenderungan seksualitasnya yang hanya memiliki kawan dekat sesama jenis. Maksud hati ingin menghindari ejekan yang sudah kadung terlontar, mengalirlah dua kalimat tersebut dari bibir sang kawan.

Sejujurnya, jauh di dalam hatiku aku selalu memiliki keyakinan terhadap kalimat tersebut. Alih-alih kosong belaka, kata-kata tersebut memiliki makna yang merepresentasikan bahwa tidak ada faktor selain biologis yang membedakan laki-laki dan perempuan.

Aku percaya bahwa setiap manusia terlahir dengan secarik kertas putih dalam dirinya. Akan menjadi sosok manusia seperti apa ia nanti, itu tergantung bagaimana kertas itu ditulis, digambar ataupun diremas. Konsep inilah yang mendasari keyakinanku bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan itu hanya sebuah ilusi semata. Ilusi yang tertanam dalam otak dan benak masyarakat sehingga mewujud sebagai sebuah kebenaran absolut.

Faktor biologis yang aku maksud di sini adalah struktur tubuh manusia, dimana laki-laki memiliki penis dan sperma, sedangkan perempuan memiliki payudara, vagina, sel telur dan ovarium. Perbedaan secara biologis itu pada dasarnya tidak mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak, berpikir maupun mengambil keputusan.

Tindakan, pikiran dan pengambilan keputusan seseorang buatku lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Kertas putih itulah yang menjadi rekam jejak peninggalan faktor lingkungan. Saat seorang bayi lahir, ia tidak memiliki kecenderungan apapun, ia tidak memiliki sifat apapun. Maka, aku tak pernah tak ragu dengan prasangka seorang perempuan hamil yang ketika merasakan tendangan begitu kuat dari perutnya, ia meyakini sangat bahwa sang calon anak nantinya akan menjadi laki-laki aktif. Really?

Faktor lingkungan yang aku bicarakan adalah bagaimana perlakuan orangtua terhadap seorang anak, bagaimana orangtua dan lingkungan membentuk sudut pandang sang anak, nilai-nilai baik dan buruk yang ia peroleh, dan lain sebagainya. Lingkungan lah yang kemudian menorehkan kalimat di atas kertas putih itu, memberikan warna di sudut-sudutnya, menggunting sisi-sisinya, meremas, membakar, intinya : membentuk personality manusia itu.


Maka, menjadi sangat masuk akal ketika seorang bayi dibesarkan dengan segala atribut "perempuan", ia menjadi perempuan dengan segala keterbatasannya. Bahwa perempuan tidak sekuat laki-laki dalam permasalahan fisik, bahwa perempuan tidak bisa memanjat pohon, perempuan itu cerewet, perempuan itu selalu hanya mempedulikan hal-hal detail dan mikro tanpa mampu melihat secara makro, blah blah blah. Demikian pula sebaliknya, bayi yang dibesarkan dengan segala atribut "laki-laki", ia akan menjadi laki-laki dengan segala keterbatasannya. Bahwa laki-laki pantang menunjukkan kelemahan, pantang bertanya di jalan, selalu berantakan, tak bisa melihat barang-barang yang berserakan di dalam rumah, sekali lagi blah blah blah.

Kenapa semua perbedaan itu bisa nampak nyata? Bukan, bukan karena laki-laki dan perempuan memang berbeda dari sononya. Hal ini simply karena sedari kecil manusia telah dijejali dengan nilai-nilai yang menjadikannya mengemban atribut laki-laki dan perempuan itu. Perempuan menjadi seorang yang detail karena sejak jaman dahulu mereka selalu kebagian peran sebagai penjaga gua yang terbiasa menggunakan pandangan jarak jauh. Sebaliknya, laki-laki kesulitan menemukan barang-barang disekitar mereka kebiasaan mencermati jejak binatang yang membuat jarak pandang mereka terbatas.

Kebiasaan turun temurun dari nenek moyang ini lantas mendarah daging sehingga melahirkan apa yang sudah aku sebut di atas, ilusi sosial yang menjadikan perbedaan ini sebagai sebuah kebenaran absolut. Coba saja jika seorang bayi dibesarkan sebagai seorang perempuan dengan segala atributnya, ia akan menjelma menjadi semua atribut perempuan tanpa mempedulikan bahwa ternyata ia mungkin memiliki penis. Seperti yang terjadi dalam Middlesex, buku karya Jeffrey Eugenides yang menjadi pemenang penghargaan Pulitser di tahun 2003.

Pemikiran inilah yang kemudian menjadi dasar pemikiranku bahwa memang jenis kelamin hanyalah persoalan kesekian dalam sebuah hubungan. Aku percaya bahwa pada dasarnya manusia dapat jatuh cinta pada siapapun di dunia ini, tak peduli ia memiliki penis atau buah dada, sepanjang manusia itu merasakan perasaan kasih dan nyaman.

Hal yang sama juga berlaku pada atribut lain, seperti ras atau agama. Lha kalau sudah merasakan cinta dan kenyamanan, memangnya kita akan melihat atribut-atribut yang nggak penting itu? Hehehehe...curcol... =p

Jadi, dari pemikiran ini, aku menarik dua buah kesimpulan. Yang pertama, laki-laki dan perempuan itu sama. Tidak ada yang membedakan kedua spesies ini, kecuali akar budaya yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Maka, perempuan harus bisa melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki. Demikian sebaliknya.

Kesimpulan kedua adalah bahwa tidak ada yang salah dengan homoseksual. Jika seseorang merasakan kenyamanan bersama dengan seseorang, meskipun toh orang tersebut memiliki atribut biologis yang sama, itu hak dia. Karena semua orang sama. So, I declare right now in this blog that I am supporting homosexuality. =)

Photo taken from here.