Yang paling penting itu kasih sayang. Jenis kelamin itu nomor kesekian.
Begitu seringkali canda yang terlontar dari bibir teman-teman jika pembicaraan kami mulai mengambil jalur ke kampung cinta dan hubungan. Dari sindiran pada seorang kawan yang tak jua memiliki tambatan hati berbeda jenis kelamin, kemudian menjurus mempertanyakan kecenderungan seksualitasnya yang hanya memiliki kawan dekat sesama jenis. Maksud hati ingin menghindari ejekan yang sudah kadung terlontar, mengalirlah dua kalimat tersebut dari bibir sang kawan.
Sejujurnya, jauh di dalam hatiku aku selalu memiliki keyakinan terhadap kalimat tersebut. Alih-alih kosong belaka, kata-kata tersebut memiliki makna yang merepresentasikan bahwa tidak ada faktor selain biologis yang membedakan laki-laki dan perempuan.
Aku percaya bahwa setiap manusia terlahir dengan secarik kertas putih dalam dirinya. Akan menjadi sosok manusia seperti apa ia nanti, itu tergantung bagaimana kertas itu ditulis, digambar ataupun diremas. Konsep inilah yang mendasari keyakinanku bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan itu hanya sebuah ilusi semata. Ilusi yang tertanam dalam otak dan benak masyarakat sehingga mewujud sebagai sebuah kebenaran absolut.
Faktor biologis yang aku maksud di sini adalah struktur tubuh manusia, dimana laki-laki memiliki penis dan sperma, sedangkan perempuan memiliki payudara, vagina, sel telur dan ovarium. Perbedaan secara biologis itu pada dasarnya tidak mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak, berpikir maupun mengambil keputusan.
Tindakan, pikiran dan pengambilan keputusan seseorang buatku lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Kertas putih itulah yang menjadi rekam jejak peninggalan faktor lingkungan. Saat seorang bayi lahir, ia tidak memiliki kecenderungan apapun, ia tidak memiliki sifat apapun. Maka, aku tak pernah tak ragu dengan prasangka seorang perempuan hamil yang ketika merasakan tendangan begitu kuat dari perutnya, ia meyakini sangat bahwa sang calon anak nantinya akan menjadi laki-laki aktif.
Really?
Faktor lingkungan yang aku bicarakan adalah bagaimana perlakuan orangtua terhadap seorang anak, bagaimana orangtua dan lingkungan membentuk sudut pandang sang anak, nilai-nilai baik dan buruk yang ia peroleh, dan lain sebagainya. Lingkungan lah yang kemudian menorehkan kalimat di atas kertas putih itu, memberikan warna di sudut-sudutnya, menggunting sisi-sisinya, meremas, membakar, intinya : membentuk
personality manusia itu.

Maka, menjadi sangat masuk akal ketika seorang bayi dibesarkan dengan segala atribut "perempuan", ia menjadi perempuan dengan segala keterbatasannya. Bahwa perempuan tidak sekuat laki-laki dalam permasalahan fisik, bahwa perempuan tidak bisa memanjat pohon, perempuan itu cerewet, perempuan itu selalu hanya mempedulikan hal-hal detail dan mikro tanpa mampu melihat secara makro, blah blah blah. Demikian pula sebaliknya, bayi yang dibesarkan dengan segala atribut "laki-laki", ia akan menjadi laki-laki dengan segala keterbatasannya. Bahwa laki-laki pantang menunjukkan kelemahan, pantang bertanya di jalan, selalu berantakan, tak bisa melihat barang-barang yang berserakan di dalam rumah, sekali lagi blah blah blah.
Kenapa semua perbedaan itu bisa nampak nyata? Bukan, bukan karena laki-laki dan perempuan memang berbeda dari sononya. Hal ini
simply karena sedari kecil manusia telah dijejali dengan nilai-nilai yang menjadikannya mengemban atribut laki-laki dan perempuan itu. Perempuan menjadi seorang yang detail karena sejak jaman dahulu mereka selalu kebagian peran sebagai penjaga gua yang terbiasa menggunakan pandangan jarak jauh. Sebaliknya, laki-laki kesulitan menemukan barang-barang disekitar mereka kebiasaan mencermati jejak binatang yang membuat jarak pandang mereka terbatas.
Kebiasaan turun temurun dari nenek moyang ini lantas mendarah daging sehingga melahirkan apa yang sudah aku sebut di atas, ilusi sosial yang menjadikan perbedaan ini sebagai sebuah kebenaran absolut. Coba saja jika seorang bayi dibesarkan sebagai seorang perempuan dengan segala atributnya, ia akan menjelma menjadi semua atribut perempuan tanpa mempedulikan bahwa ternyata ia mungkin memiliki penis. Seperti yang terjadi dalam Middlesex, buku karya Jeffrey Eugenides yang menjadi pemenang penghargaan Pulitser di tahun 2003.
Pemikiran inilah yang kemudian menjadi dasar pemikiranku bahwa memang jenis kelamin hanyalah persoalan kesekian dalam sebuah hubungan. Aku percaya bahwa pada dasarnya manusia dapat jatuh cinta pada siapapun di dunia ini, tak peduli ia memiliki penis atau buah dada, sepanjang manusia itu merasakan perasaan kasih dan nyaman.
Hal yang sama juga berlaku pada atribut lain, seperti ras atau agama. Lha kalau sudah merasakan cinta dan kenyamanan, memangnya kita akan melihat atribut-atribut yang nggak penting itu? Hehehehe...curcol... =p
Jadi, dari pemikiran ini, aku menarik dua buah kesimpulan. Yang pertama, laki-laki dan perempuan itu sama. Tidak ada yang membedakan kedua spesies ini, kecuali akar budaya yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Maka, perempuan harus bisa melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki. Demikian sebaliknya.
Kesimpulan kedua adalah bahwa tidak ada yang salah dengan homoseksual. Jika seseorang merasakan kenyamanan bersama dengan seseorang, meskipun toh orang tersebut memiliki atribut biologis yang sama, itu hak dia. Karena semua orang sama.
So, I declare right now in this blog that I am supporting homosexuality. =)
Photo taken from
here.