
Akhir-akhir ini aku jadi cengeng. Tukang mewek. Lemah.
Bah.
Cuih.
Saat aku merasa bahwa pernikahan tak ada artinya buatku, toh nyatanya aku menangis juga melihat kakakku dan istrinya sungkem di hadapan kedua orangtuaku setelah mereka mengucap janji nikah di gereja. Entah apa yang aku pikirkan.
Terus terang, aku menganggap pernikahan hanya sebuah legalisasi hubungan intim saja. Legalisasi untuk beranak pinak. Sebuah hubungan tak harus diakhiri dengan sebuah pernikahan. Pernikahan justru hanya akan membuat seseorang merasa terikat dan terjebak dalam sebuah hubungan, which he/she couldn’t get out. Perasaan terikat dan terjebak itulah yang lantas tidak membuat pasangan tidak lagi berusaha menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi. Ujung-ujungnya: ya munculnya perselingkuhan, hadirnya ketidakbahagiaan.
So, aku tidak pernah ingin menikah. Well, idealnya sih aku ingin begitu. Tapi aku sadar bahwa aku hidup di Indonesia. Bahwa aku memiliki orang-orang yang aku sayangi yang akan terluka dengan keputusan itu. Orangtuaku.
Ya iyalah, mereka hidup di masyarakat, yang bisa sangat menekan dengan pertanyaan –pertanyaan : ”Lho kenapa dia nggak menikah? Nggak laku ya? Buruan lho, keburu dikejar umur! Nanti jadi perawan tua loh! Nanti susah punya anak loh!” etc, etc. Lo kira gw babi pake dikejar dan diburu segala? Mending elo yang gw jadiin babi guling! :p
Walhasil, meski aku tidak menyukai pernikahan, aku sadar bahwa suatu saat nanti aku harus menikah. Demi kedua orangtuaku. Demi membahagiakan mereka.
Ternyata aku salah.
Setelah acara pernikahan, bapakku sempat menggeretku ke kamar untuk berbicara empat mata. Awalnya ia membicarakan tentang rencanaku mencari beasiswa untuk sekolah lagi. Ia berkata bahwa jika aku hendak mencari beasiswa, sekaranglah saatnya.
Ia beranggapan bahwa suatu saat nanti aku akan menikah (kesimpulan ini diambil karena aku membawa lelaki masa depan ke acara pernikahan kakakku) dan tentunya proses itu diakui atau tidak pasti akan menjegal obsesiku itu.
“Kalau aku tidak menikah?” pancingku.
“Ya itu terserah kamu. Orangtua manapun pasti akan ikut bahagia kalau anaknya juga merasa bahagia. Kalau kamu tidak menikah atau lebih memilih mengejar sekolah dan karir, sepanjang itu membuat kamu bahagia, ya Papa juga pasti akan bahagia.”
Akupun speechlesh untuk beberapa saat.
“Jadi Papa nggak apa-apa meski aku nggak menikah? Asal aku bahagia, Papa juga bahagia?” tanyaku lagi, memastikan.
“Iya. Papa hanya menyayangkan aja kalau kamu ndak menikah kamu ndak bisa merasakan kebahagiaan seperti yang Papa rasakan. Punya anak-anak seperti kalian,” kalem beliau berkata sambil menatapku lurus.
Dueeeeeenggg!!
Dan aku meleleh. Lagi.
I love you, Papa.
Huhuhuhu… T___T
Ah, dasar cengeng!






5 comment(s):
ih..cengeng :p
really, i hv to agree with your Dad.. marriage is not about making your parents happy. marriage kyk gt yg in the end will bring disaster.
nikah itu ga kyk pacaran put, its not about legalisasi hubungan intim. its about moving forward from a relationship. marriage is different than being boyfriend/girlfriend.
true, hubungan ga harus diakhiri dgn menikah. tp klo lo smpe ada org yg mikir ketika dia nikah dia ngerasa terikat/terjebak.. then he/she got married for the wrong reasons.
tp emang, you wouldnt know until you try it for yourself.. thats the scary part :p
nyahahahaha sorry klo komennya kepanjangan. intinya, things can always be solved with a heart-to-heart talk and being honest with each other (jd curhat)
ya entar kmu jg ngerasain put, ure the only one who knows kmu siap/engga buat nikah (or not at all :) )
xoxo
kamu kok sekarang jadi kayak konselor pernikahan ulm? :p
there is so much going on in my head about this marriage thing. one time i feel exactly like what i wrote. next time, i'm completely different person. how you explain that?
i don't want to get married for a wrong reason, like you said. but i don't even know if i'm right to even thinking about marriage.
hah!
emboh kah.
ini abang yg tau Hall D apa bukan, pOe?
=D
siap g siap hadapilah penghulumu....hahahahha...
ace said:
aku siap kalo mo konsultasi put
kalo ga ada nangisnya gratis
tapi kalo pake nangis, ada charge
hehehehe...
Post a Comment